The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Pengalihan Perhatian


__ADS_3

πŸ’–


πŸ’–


Mirna menatap wajah putranya yang babak belur. Perempuan itu tiba tepat sebelum jam besuk berakhir.


"Waktu ibu tidak banyak." Dia menyerahkan bungkusan yang dibawanya ditambah beberapa uang yang didapatkan dari Nania.


"Ke sini seminggu sekali kenapa sih Bu? Nggak tahu ya kalau Sandi mengalami kesulitan?"


"Ibu juga sama. Rumah kita dirampas debt kolektor dan sekarang ibu tinggal di rumah susun."


"Kok bisa?"


"Om Hendrik berhutang lagi dan kali ini sangat besar. Dia kalah judi."


"Huh, apa sih gunanya suami ibu itu? Udah numpang bikin susah lagi?" Sandi menggerutu.


"Iya sama seperti kamu. Dua laki-laki tidak ada gunanya."


Sang anak mendengus keras.


"Ini uangnya ibu beri lebih. Simpan baik-baik siapa tahu minggu depan tidak bisa ke sini."


"Kenapa?"


"Ibu harus bekerja dan minggu depan kebagian shift siang. Sudah pasti tidak bisa mengunjungimu karena pulang malam. Gajinya kecil tapi ibu terpaksa ambil pekerjaannya karena sangat membutuhkannya kan."


"Kok ini banyak Bu? Katanya gaji Ibu kecil?" Sandi menatap lembaran uang berwarna merah di tangannya.


"Itu juga dari Nania. Hari ini terpaksa ibu meminta bantuannya karena uang gaji ibu habis diambil Om Hendrik."


"Dia sudah kaya sekarang bu?" Pria muda itu menatapnya dengan mata berbinar.


"Uang suaminya."


"Tetap saja dia kaya. Ibu gampag kalau mau minta apa-apa."


"Tidak semudah itu, Sandi. Kamu sudah merasakan sendiri bagaimana kemarahan suaminya, bukan?"


"Ya, Ibu benar. Dan dia yang menyebabkan aku ada di tempat sialan ini!"


"Itu salahmu! Mengapa menjual adikmu ke bandar judi. Kamu kira dia akan diam saja?"


"Sandi nggak tahu kalau Nania punya dia, Bu. Hebat sekali anak perempuan Ibu itu?"


"Diamlah! Ingat, jangan berulah. Kalau tidak, bisa habis kamu dihajar yang lain." Mirna meraih tasnya dan bersiap untuk pergi.


"Minggu depan ibu ke sini lagi?" Sandi mengikuti ibunya dengan pandangan.


"Tidak tahu. Kalau punya uang ibu datang, tapi kalau ibu tidak datang berarti ibu tidak punya uang. Baik-baik di sini ya?" Perempuan itu berujar. Sesaat kemudian memutuskan untuk pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Eh … kenapa sih kamu ini?" Daryl membingkai wajah Nania yang berada di atasnya dan terus berusaha mencumbunya sejak tadi.


"Nggak apa-apa, cuma mau mesra-mesraan." Dan perempuan itu kembali mendaratkan bibirnya untuk mendapatkan ciuman yang selanjutnya meningkat menjadi cumbuan.


"Wait wait wait! Sepertinya ada yang aneh?" Dan setelah beberapa saat Daryl menahan bahunya untuk menghentikan apa yang Nania lakukan.


"Apaan?"


"Tidak biasanya kamu begini? Apa ada sesuatu?" Pria itu menyipitkan matanya, curiga.


"Nggak ih kamu negatif thingking deh. Ahahahha …." Nania tertawa lalu dia kembali menundukkan wajahnya. Dan kedua tangannya sudah merayap menyentuh apa yang sudah mengeras dibalik celana suaminya.


"Malyshka!!" Daryl menahan tangannya yang mulai tidak bisa dikendalikan.


"Apaan sih bukannya ini yang kamu suka ya? Kenapa sekarang malah menolak?"


"Masalahnya ini tidak seperti kamu yang biasanya!" jawab pria itu yang bangkit sambil mendorong Nania sehingga perempuan itu turun dari tubuhnya.


"Emangnya aku kayak gimana?" Nania tertawa.Β 


Kenyataannya ini memang aneh karena dia selalu ingin bersentuhan dengan suaminya. Padahal biasanya dia tidak seperti ini.


"Aahh, sudah. Buatkan aku makanan sana! Aku lapar!" Pria itu merubah posisinya menjadi duduk kemudian dia meraih remot untuk menyalakan televisi.

__ADS_1


"Kamu bisa memakanku dulu, biasanya kamu begitu?" Namun Nania kembali naik ke pangkuannya dan dia berusaha meraih bibir suaminya.


"Malyshka!! Jangan menggodaku terus, nanti aku tidak tahan!" protes Daryl yang sudah merasa tak karuan.


Apalagi saat dia merasakan Eragonnya yang sudah berbangun betsentuhan dengan milik Nania meski masih terhalang pakaian.


"Tapi aku suka godain kamu, soalnya kamu lucu kalau lagi tergoda." Nania merangkul pundak pria itu lalu mendekatkan bibir ke telinganya yang sudah memerah.


"Lucu kepalamu? Lalu kalau sudah tergoda kamu mau apa? Meninggalkan aku yang sudah tersiksa?" Akhirnya dia pun tergoda untuk menyentuhnya.


Tangannya merayap di paha lalu dia meremat bokongnya. Dan di saat yang bersamaan ujung lidah Nania menyapu daun telinganya.


"Ahhh!" Tubuh Daryl menegang dan dia membelalakkan mata.


Perempuan ini sedang berulah sekarang, dan itu pasti ada hubungannya dengan pertemuannya dengan Mirna tadi siang. Apalagi setelah muncul notifikasi atas penarikan uang dari akun banknya dalam jumlah yang tak biasa. Karena Nania tidak pernah mengambil uang sebanyak itu meski untuk keperluannya sendiri.


Hmm … sepertinya dia ingin mengalihkan perhatianku? Batin Daryl.


"Malyshka, stop!!" Dan Daryl menahannya yang tengah menyusuri leher serta berusaha melepaskan pakaiannya. Lalu kedua tangannya mengusap-usap dadanya.


Pria itu tertawa karena dia merasa ini menjadi hal yang cukup lucu.


"Kok ketawa? Aku nggak pandai menggoda kamu ya? Aku nggak menarik sekarang?" Nania bereaksi.


Daryl menatapnya yang sudah melepaskan pakaian bagian atasnya, dan dia juga tahu bahwa istrinya itu sedang memutar balikkan keadaan.


Dia menatapnya sambil tersenyum.


"Malah senyum-senyum." Nania memutar otaknya dengan keras. Bagaimana caranya untuk membuat pria itu tidak bertanya lagi soal ibunya yang dia temui siang tadi sepulang sekolah.


Apalagi setelah suaminya itu bertanya soal apa yang dibelinya dengan jumlah uang yang cukup banyak untuknya.


"Kamu sedang berusaha mengalihkan perhatianku ya?" Daryl berujar.


"Hum?"


"Kenapa berusaha sangat keras untuk mengalihkan perhatianku, Malyshka?"


"Aku? Nggak, aku hanya …."


Wajah Nania memucat.


"Apa ini soal pertemuan dengan ibumu?" Pria itu merebahkan punggungnya pada sandaran sofa dan pandangannya tak dia lepaskan dari Nania.


"Katakan." Lalu dia meremat paha perempuan itu sehingga dia sedikit melonjak.


"Umm … nggak, aku cuma …."


"Jangan pernah berbohong kepadaku!"


"Eee …."


Daryl kemudian bangkit menegakkan tubuhnya, lalu dia mendekatkan wajah mereka.


"Sekali berbohong maka aku tidak akan pernah mempercayaimu lagi, selamanya. Jadi berpikir ulanglah untuk menyembunyikan sesuatu dariku." Pria itu berbicara dengan suara datarnya, dan wajahnya tampak serius.


"Umm … aku … takut marah kalau bilang sama kamu." Akhirnya Nania berbicara.


"Katakan saja." Namun Daryl menunggu.


"Mm … tadi itu … bukannya aku ketemu ibu yang lagi belanja." katanya yang memutuskan untuk menyerah. Dia tahu tidak ada yang bisa disembunyikan dari suaminya meski itu hal yang menurutnya tidak penting.


"Lalu?"


"Ibu yang nemuin aku di sekolah."


"Terus?"


"Ibu minta bantuan."


"Bantuan apa?" Daryl mulai bereaksi.


"Tuh kan, jadinya kamu marah. Padahal aku baru aja mau bilang?" Nania kembali beralibi.


"Ck! Tidak, itu hanya reaksi spontan. Berapa lama kamu kenal aku?" Daryl melipat kedua tangannya di dada.


"Tapi reaksi kamu menakutkan."

__ADS_1


Pria itu memutar bola matanya.


"Lalu ibumu meminta bantuan apa?" Kemudian Daryl bertanya lagi.


"Mau besuk Bang Sandi."


"Besuk?"


"Ke rumah tahanan."


"Penjara?"


"Iya."


"Terus?"


Nania ragu-ragu untuk mengatakannya, karena pria itu pasti akan marah jika mengetahui perihal uang yang dia berikan kepada ibunya. Apalagi uang itu digunakan untuk menjenguk Sandi di penjara.


"Malyshka!"


"Ibu minta uang untuk jenguk Bang Sandi, dan tadi aku ngasih sejuta. Sumpah cuma segitu aja, dan ibu janji nggak akan minta lagi!" Nania akhirnya mengatakannya juga, tapi dengan kedua tangan yang menutupi telinga karena dia takut akan mendengar kemarahan suaminya.


"What?"


"Jangan marah, kan aku udah bilang. Au nggak tega lihat ibu kayak gitu. Kerja kecapean, keadaannya juga kayaknya nggak baik apalagi Om Hendrik ngambil semua gaji ibu, kan kasihan." Nania hampir menangis karena ketakutan.


Dia tahu sebenci apa Daryl kepada keluarganya dan hal itu memang terang-terangan dia tunjukkan.


"Kasihan katamu?" katanya dengan suaranya yang terdengar dingin.


"Mereka sudah menyiksamu hingga hampir mati, tapi kamu masih merasa kasihan? Di mana pikiranmu?"


Nania menutup mulutnya rapat-rapat.


"Aneh sekali! Terbuat dari apa sih otakmu ini?" Daryl menempelkan ujung jarinya pada kening Nania.


Lalu dia menempelkan telapak tangannya di dada perempuan itu.


"Apakah hatimu baik-baik saja sampai-sampai masih bisa menaruh empati yang begitu besar untuk ibumu? Apa kamu tidak ingat dengan apa yang sudah dia dan saudaramu lakukan?"


Nania bungkam.


"It's not about the money! Tapi caramu yang akan membuatku kecewa." Daryl berujar.


"Aku tahu, selain dari pemberianku pun kamu nyatanya mampu memberi ibumu apa pun yang dia butuhkan. Kamu punya penghasilan dan itu hakmu menggunakannya untuk apa pun. Tapi dia? Aku rasa kamu sudah kehilangan akal."


"Tapi dia kan ibu aku, masa aku harus biarin ibu padahal sudah jelas lagi susah."


"None of your business! Dia yang memilih untuk seperti itu."


"Aku maunya gitu, tapi nyatanya aku nggak bisa. Hati aku kesel, marah, dan benci sama ibu kalau ingat gimana dulu. Tapi aku nggak bisa membiarkan ibu menderita di depan mata aku, Dadd. Ngerti nggak sih?"


"Ya karena kamu selalu meletakkan kepentingan orang lain diatas kepentinganmu. Makanya aku melarangmu bertemu dengannya karena setelah itu terjadi dia bisa mempengaruhimu!"


Nania kembali terdiam.


"It's not about the money! Tapi caranya memanfaatkanmu dengan menunjukkan penderitaannya. Apa kamu tidak sadar?"


"Apa kamu yakin jika ibumu se menderita itu? Bagaimana kalau ternyata itu hanya akal-akalannya saja untuk mendapatkan uangmu? Bukankah selama ini dia begitu? Tahu anaknya punya uang dia langsung mendekat." Daryl dengan segala kekesalannya. Dan hal itu membuat Nania menarik diri.


"Dan seharusnya aku nggak di sini sehingga kamu nggak terlibat dengan urusan keluargaku." katanya, dan perempuan itu turun dari pangkuannya kemudian melenggang ke arah tangga.


"Nania?" Daryl memanggilnya untuk menghentika dia. Namun Nania tak menggubrisnya sama sekali, dia tetap menaiki tangga menuju kamar mereka di lantai dua.


"Astaga, Tuhan!" Lalu Daryl menghempaskan kepalanya pada sandaran sofa ketika dia menyadari ucapannya dan apa yang terakhir istrinya itu katakan.


πŸ’–


πŸ’–


πŸ’–


Bersambung ...


Ayo like komen hadiahnya dikencengin lagi.


Alopyu sekebon😘😘

__ADS_1


__ADS_2