
💖
💖
"Yeah, but you let them go!!" Daryl mencak-mencak dengan ponsel menempel di telinga.
Setelah mengomeli dua keponakannya, dia segera menelfon sang kakak.
"Maar Der, kami tidak menyadarinya. Aku kira Anya dan Zenya ikut Mama dan Papi." jawab Dimitri dari ujung telfon.
Dia terdengar menyesal karena tak menyadari keberadaan kedua anaknya yang dikiranya pergi ke mobil bersama Sofia dan Satria.
"Apa sih kerjaan pengasuhnya? Mereka selalu lepas dari pengawasan?" Daryl semakin kesal, dan dia bicara sambil mondar-mandir di ruangan depan.
"Mereka juga kelelahan, tahu sendiri bagaimana Anya dan Zenya." Dimitri menjawab.
"Seharusnya tidak boleh begitu? Ini tanggung jawab mereka. Kalau aku jadi kau, aku pecat sekarang juga." Daryl terdengar kesal.
"No! Ini tanggung jawabku, pengasuh hanya bekerja, dan kelakuan anak-anak diluar kendali mereka." bela Dimitri.
"There's no excuse!! Pekerjaan adalah tanggung jawab mereka, jadi sudah seharusnya ditangani dengan baik."
"I know, i'm sorry. Aku akan menjemput mereka sekarang." ucap Dimitri untuk mengakhiri perdebatan. Adiknya yang satu itu tidak akan mau kalah, dan akan selalu ada hal lainnya untuk diperdebatkan.
"Oke, maka cepatlah datang kemari dan bawa mereka pergi!!" Daryl berjalan kembali ke kamar tidur.
Namun dia tertegun saat mendapati Nania dan dua keponakannya sudah terlelap sambil berpelukan. Zenya bahkan menempelkan wajahnya dengan nyaman di dada istrinya itu.
"Ck! Astaga!!!!" Lalu dia mengomel dalam bahasa yang tidak jelas.
"Halo Kak?" Pria itu kembali menelpon sang kakak.
"Ya?"
"Tidak usah, mereka sudah tidur."
"Apa?"
"Anak-anakmu sudah tidur!" Lalu dia mematikan sambungan.
"Mana ada malam pengantin seperti ini? Malam-malam di masa lajangku bahkan lebih baik! Astaga!!" Pria itu menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan rasa kesal bercampur hasrat yang harus dia tahan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kirana memastikan penampilannya sempurna malam itu. Setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian dengan sesuatu yang menggoda, dirinya bersiap untuk keluar dari ruang ganti dan mendatangi suaminya.
Suami.
Perempuan itu terkekeh sambil menepuk kepalanya sendiri. Rasa-rasanya ini seperti mimpi dan dia tak menyangka sama sekali akan tiba pada titik ini.
Pada awalnya dia tak meyakini apa hubungan ini akan berhasil hingga ke jenjang pernikahan karena perbedaan usia yang mencolok antara Darren dengan dirinya, dengan pria itu yang usianya beberapa tahun lebih muda. Tapi pada kenyataannya mereka sampai juga pada jenjang yang begitu serius.
Dan inilah yang seumur hidup dia impikan. Menikah dengan pria yang pertama kali membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, dan itu adalah putra pemilik Nikolai Grup, dan adik dari pemilik rumah sakit tempatnya bekerja.
Sekali lagi dia memeriksa penampilannya. Pakaian yang menggoda, sedikit make up dan tentu saja wewangian memikat yang dia semprotkan di beberapa bagian tubuh. Malam pertama ini harus benar-benar mengesankan untuk mereka berdua.
__ADS_1
"Ehhmm …." Perempuan itu berdehem sambil melenggang pelan ke arah tempat tidur di mana Darren duduk bersandar dengan ponsel menyala di tangannya.
"Malam-malam begini sudah memeriksa pekerjaan? Padahal ini malam setelah pernikahan?" Kirana berdiri di ujung tempat tidur.
"Hmm … hanya melihat pergerakan saham." Darren tak memalingkan pandangan dari layar ponsel.
"Ini hari libur."
"Tapi pasar saham tidak libur."
"Lalu apa yang akan kamu lakukan dengan ini?" Kirana mencoba menarik perhatian suaminya.
Darren melirik, dan seketika dia terdiam melihat pemandangan indah di depan mata.
Perempuan dengan tubuh semampai itu berdiri di depannya mengenakan pakaian yang cukup transparan, menampilkan apa yang ada dibaliknya.
Darren menelan ludahnya dengan susah payah dan tiba-tiba saja tenggorokkannya terasa mengering.
"Apa … kamu akan membiarkanku di malam pengantin kita?" Walau gugup tapi Kirana memberanikan diri.
"Umm … sebenarnya … aku …." Lalu Darren meletakkan ponselnya di atas nakas setelah memastikan saham yang dimilikinya bergerak naik dan semakin baik.
"Come." katanya, dan tatapannya tidak dialihkan dari istrinya.
Perempuan itu naik ke tempat tidur kemudian merangkak melewati kakinya yang terlentang, kemudian berhenti ketika dia sudah sampai di pahanya.
Kirana duduk lalu dia tersenyum.
"Ini pertama bagiku." ucap Darren, dan dia memberanikan diri menyentuh pinggang istrinya.
Pria itu pun tersenyum.
"Aku gugup."
"Sama."
"Apa aku boleh melakukan semuanya?" tanya nya, yang Kirana jawab dengan anggukkan.
"Really?"
"Kita sudah sah, bukan?"
"I'm just …."
Perempuan itu terkekeh kemudian menundukkan wajah dan segera membuat bibir mereka bertemu.
Mereka saling berpagutan dengan begitu mesra, dan untuk pertama kalinya saling bersentuhan.
Kedua tangan Darren mengusap pahanya, lalu merayap ke pinggul. Dan Kirana membiarkannya menyentuh seluruh tubuhnya.
Dia bahkan membiarkan Darren melepaskan kain tipis yang menempel di tubuhnya.
Darren mengerjap. Meski melihat tubuh perempuan bukanlah hal besar baginya, namun menatap Kirana dalam keadaan seperti itu sungguh membuatnya berdebar-debar.
Dia kembali menatap wajahnya, lalu melanjutkan cumbuan yang sempat terjeda.
__ADS_1
"Ahhhh …." des*han pelan keluar dari mulut perempuan itu ketika Darren menyentuh dada, sementara bibirnya menelusuri leher jenjangnya.
Lalu kedua tangan Darren mengusap punggungnya, dan turun menyentuh bokongnya yang menggoda.
Cumbuan itu berlanjut, dan setelah beberapa lama dia mendorong sehingga Kirana turun dari pangkuan.
Darren segera melucuti pakaiannya, lalu dia kembali mendekat seraya melepaskan kain terakhir yang menutupi bagian bawah tubuh Kirana yang sudah terlentang dibawahnya, sehingga kini mereka sama-sama telanjang.
Perempuan itu menggigit bibir bawahnya dengan keras, dan rasa gugup sama-sama melanda keduanya. Dan mereka saling pandang untuk beberapa saat.
Darren memastikan posisinya sudah nyaman dan dia sudah mengarahkan alat tempurnya pada Kirana.
"Apa sudah boleh?" Pria itu bertanya terlebih dahulu.
Kirana terkekeh dengan kedua pipinya yang merona, kemudian dia menganggukkan kepala.
Darren mendorong pinggulnya perlahan, dan mereka sama-sma menahan napas kala benda itu terbenam sedikit demi sedikit.
Senjatanya menabrak sesuatu di dalam sana dan dia sedikit kesulitan. Namun Darren tak menyerah. Sementara dibawahnya, Kirana berusaha menyiapkan diri dari rasa sakit yang mulai dia rasakan.
Dan di usahanya yang terakhir pria itu mendorongnya dengan keras sehingga masuklah seluruh senjatanya ke dalam sana.
"Ugh!!"
Napas Kirana tersengal-sengal saat pria itu memenuhi dirinya. Dan dia mengerjap dengan mulut yang terbuka.
Sementara Darren terdiam untuk menyesuaikan dirinya sendiri dengan perasaan asing ini. Luar biasa, indah dan rasanya menyenangkan. Dan mereka saling menatap untuk beberapa saat.
Pria itu menarik pinggulnya perlahan, lalu mendorongnya kembali, yang menimbulkan rintihan pelan saat Kirana merasakan sakit yang luar biasa.
"Eeggghh!" Dan matanya terpejam dengan kedua alisnya yang saling bertautan. Lalu Darren mengulangi hal tersebut.
Dia merasakan hasratnya terus menanjak dan muncul keinginan untuk kembali melakukannya, sehingga insting alaminya segera bekerja menguasai semua indra di tubuhnya.
Darren mulai menghentak, dan rintihan kembali keluar dari mulut Kirana.
"Ah, Darren!" Perempuan itu meremat lengan kekarnya dengan erat. Namun itu tak menghentikannya sama sekali.
Semakin lama hentakannya menjadi semakin cepat dan dia hampir kehilangan akal. Apalagi suara Kirana malah membuatnya merasa semakin bersemangat.
"Oohh ….!" Yang lama-kelamaan menjadi des*han erotis yang begitu menggoda.
Darren membiarkan dirinya sendiri terbawa suasana sehingga setelah beberapa saat ada perasaan lain yang menguasai tubuhnya.
Dia terus berpacu, dan Kirana pun mulai menggeliat di bawah sana. Dan mereka merasakan hal yang sama ketika sesuatu terus mendesak dan pada akhirnya sudah tidak tertahankan.
Darren menghujam keras, sementara tubuh Kirana mengejang ketika pelepasan menyerang keduanya di saat yang bersamaan. Diikuti erangan yang cukup keras dari mulut keduanya.
💖
💖
💖
Bersambung ...
__ADS_1
Kok yang ini berhasil ya?😁😁😁