
💖
💖
Daryl sesekali melirik Nania yang mondar-mandir di kamar mereka. Perempuan itu mempersiapkan segala hal yang dia butuhkan untuk acara besok. Entah itu pakaian, sepatu dan aksesorisnya.Â
Dia bahkan memilih stelan jas dan kemeja untuk Daryl lengkap dengan sepatu dan dasinya. Sementara pria itu duduk di tempat tidur dengan laptop menyala.
"Aku kan tidak memakai dasi, Nna?" Daryl berujar.
"Sekali ini lah kamu pakai. Kan bagus."
"Hmm …."Â
Lalu Nania berdiri sebentar di dekat sofa menatap barang-barang yang sudah dia siapkan sebelumnya.
"Acaranya kan besok siang. Kenapa kamu repotnya sekarang?" Akhirnya Daryl tak tahan untuk bicara.
"Biar besok tinggal pakai."
"Ya besok saja, kenapa?"
"Aku takut lupa."
"Kita hanya ke acara launching lho, bukan mau pergi ke luar negri." Pria itu mematikan laptopnya kemudian meletakkannya di atas nakas.
"Untuk aku ini acara besar, jadi aku mau kita tampil sempurna." Nania terus menjawab.
"Kenapa aku merasa tidak suka ketika kamu mengucapkan kata sempurna ya? Kenapa aku tidak dibiarkan tampil seperti biasa saja?" Daryl bereaksi.
Nania kemudian beralih menatap suaminya.
"Kamu kan udah sempurna, jadi mau pakai apa aja nggak ada bedanya. Tapi aku?"
"Why are you talking like that?" Daryl sedikit menjengit.
Namun perempuan itu menyunggingkan senyum.
"Aku jarang dandan dan selalu kelihatan biasa aja. Tapi hari-hari ini kayaknya aku mau tampil beda. Se nggaknya di acara khusus kayak gini. Kalau penampilan aku baik, kan nggak malu-maluin kamu sama keluarga kamu. Bayangin kalau aku tampil biasa aja, bakal ngomong apa netizen nanti?"
"Kamu terlalu mengkhawatirkan omongan orang."
"Kalau untuk acara lain mungkin aku bisa aja gitu, tapi kan ini acara istimewa. Masa produk yang aku iklaninnya bagus tapi akunya biasa aja. Apa kata dunia?"
Daryl tertawa.
"Beneran kan?"
"Ya ya ya … baiklah. Tapi lain kali pakaiannya jangan yang seperti itu ya?" Daryl melirik gaun yang menggantung di pintu lemari.
__ADS_1
"Kenapa? Aku jelek?"
"Bukan."
"Terus?"
"Terlalu terbuka. Yang di iklan saja sudah cukup membuatku kesal apalagi ditambah yang ini."
"Hmm … lebay!"
"Bukan masalah lebay. Kamu kan istriku, enak saja mau dipamerkan semudah itu untuk konsumsi publik?"
Nania terdiam untuk beberapa saat, kemudian dia tersenyum lagi.
"Kamu manis banget sih gombalannya? Bisa-bisa aku diabetes kalau kamu gombalin terus?" Nania membingkai wajahnya sendiri yang merona. Membuat Daryl kembali tertawa karena merasa tingkah perempuan ini semakin menggemaskan saja.
Pria itu kemudian menggerakkan tangannya meminta Nania untuk mendatanginya. Dan tanpa basa-basi perempuan itu segera menurut.
"Ini yang membuatku selalu merindukanmu setiap hari. Entah sedang bekerja atau pun ada diluar, aku selalu ingin pulang untuk menemuimu." katanya saat perempuan itu duduk di pangkuannya.
Nania tertawa lagi kemudian dia menempelkan kening mereka berdua. Lalu di detik berikutnya mereka pun berciuman.
Daryl mengusap-usap punggungnya dan meremat bokongnya seperti yang biasa dia lakukan, sementara Nania memeluknya dengan erat. Membenamkan wajahnya di ceruk leher pria itu dan menghirup aroma tubuhnya yang selalu dia sukai.
Tapi Nania bereaksi saat mereka berpelukan. Dan dia segera menjauh ketika aroma yang dibirupnya tak semenyenangkan seperti sebelumnya.
"Kamu pakai apa sih bau banget?" Perempuan itu menjauh sambil menutup mulut dan hidungnya seperti tadi siang.
"Kamu nggak mandi lagi? Bau banget tahu!!" Perempuan itu turun ketika aroma yang diciumnya semakin terasa menyiksa.
"Tadi sore sebelum makan aku mandi. Kan kamu juga tahu?"
"Tapi bau!! Hueeekkk, hueekkk!!!" Nania berlari ke kamar mandi kemudian muntah-muntah.
"Bau apanya?" Daryl mengendusi dirinya sendiri.
Rasanya tidak ada yang aneh. Seingatnya dia mandi seperti biasa, menggunakan produk perawatannya yang digunakan sejak remaja, dan tak ada yang protes dengan itu. Bahkan semenjak menikah pun Nania tidak pernah mempermasalahkan apa-apa.
Dia mencium ketiaknya sendiri, dan tetap tak ada bau yang mengganggu karena tidak pernah absen menggunakan produk deodoran terbaik.Â
Bau mulut? Tidak mungkin juga. Baru saja dirinya menyikat gigi dan menggunakan cairan khusus untuk berkumur.
"Kamu ini kenapa sih sebenarnya? Aneh sekali?" Pria itu turun dari tempat tidur kemudian mengikuti Nania yang masih muntah-muntah di dalam kamar mandi.
"Sumpah, kamu bau banget ih! Jangan deket-deket!!" Nania mendorongnya yang hampir mendekat, lalu muntah lagi di wastafel.
Daryl mundur hingga dia berdiri di ambang pintu dan menatapnya dalam diam.
"Heeehhh, aku nggak mau tidur sama kamu!" Nania yang menerobos keluar dari kamar mandi, lalu segera menarik selimut dan bantal. Kemudian memindahkannya ke atas sofa di ujung ranjang, yang barang-barangnya dia singkirkan terlebih dahulu.
__ADS_1
"What?"
"Jangan deketin aku sebelum baunya hilang!" katanya, yang segera menyembunyikan dirinya sendiri di dalam selimut lalu duduk di sudut sofa.
"But, Malyshka?" Daryl mencoba mendekat.
"Nggak mau, bau ih!!" Perempuan itu menutup kan selimut ke setengah wajahnya. Lalu Kakinya dia julurkan agar suaminya tetap di tempatnya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Nggak tahu, pokoknya jangan dekat-dekat aku!!" Nania terlihat kesal.
Entah mengapa hal ini tiba-tiba saja membuatnya merasa sebal. Menatap wajah Daryl dan melihat dia berdiri di depannya seperti sedang mengejeknya.
"Nania …."
"Jangan deket-deket!!" ucap Nania lagi yang membuat pria di depannya cepat menjauh.
"Aneh sekali kamu ini? Setan mana yang lewat? Seingatku sekitar rumah ini tidak angker?" Daryl pun naik ke tempat tidurnya dengan perasaan kesal.
"Lah, terus wewangian apa yang kamu pakai sampai-sampai baunya nggak enak gini?" Perempuan itu menjawab.
"Tidak ada! Hanya parfumku saja!"
"Tapi baunya bikin mual! Aku nggak suka."
"Kemarin-kemarin tidak ada masalah. Sejak dulu aku memakainya dan kamu pun sudah tahu. Dan sudah enam bulan kita menikah kamu tidak pernah komplain."
Nania terdiam.
"Ada apa denganmu?" Daryl merebahkan kepalanya diatas bantal lalu mengusap wajahnya, frustasi.
"Pokoknya kamu bau, mulai sekarang jangan deket-deket sebelum baunya hilang!" ulang perempuan itu yang memilih berbaring di sofa dengan selimut menggulung tubuhnya hingga menutupi setengah wajahnya. Sengaja, agar dia tak mencium bau suaminya yang terasa menyiksa.
"Malyshka …." Daryl memanggilnya setelah beberapa saat, namun tak ada sahutan dari perempuan itu.
"Malyshka, ayolah tidurnya di sini? Masa kita tidur terpisah. Aku nggak sebau itu lho." Lalu dia bangkit dan mendekati Nania.
Namun hal itu malah memperparah keadaan, ketika jarak mereka sudah cukup dekat dan membuat perempuan itu kembali berlari ke kamar mandi dan lagi-lagi memuntahkan isi perutnya.
"Udah aku bilang jangan deket-deket. Kamu bauuuu!! Hueek, hueekkk!!"
"Astaga!!! Dia itu hamil atau apa?" Dan Daryl kembali menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur seraya meremat rambutnya ketika rasa kesal mulai melanda.
💖
💖
💖
__ADS_1
Bersambung ...
Mandi lagi, Pak. Mandi!! Biar wangi.😂😂