The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Sebuah Keributan


__ADS_3

💖


💖


"Mereka pindah ke rumah susun di sisi selatan, Pak." Pagi-pagi sekali Regan sudah datang dan memberikan laporan. 


"Cepat sekali kau datang? bukankah baru kemarin aku memberikan perintah? Waktu luangmu banyak ya?" Sementara Daryl sudah berada di ruang olahraganya.


Dia meletakkan dua barbel kecil yang semula digenggamnya lalu beralih pada alat lainnya.


"Kebetulan sedang tidak ada acara, Pak." Regan menjawab.


"Memangnya setiap hari Minggu kau punya acara?" Daryl melirik kepada bawahannya tersebut.


"Sesekali, Pak."


"Pantas aku sulit menghubungimu jika sedang libur." Daryl masih melatih otot lengannya dengan alat yang diberi pemberat di belakang, sementara Regan hanya berdiri di sampingnya memperhatikan.


"Regan udah ke sini ya?" Tiba-tiba saja Nania muncul begitu mengetahui kedatangan bawahan suaminya itu.


"Hah, baru saja aku mau bilang jangan beri tahu dulu tapi dia sudah muncul. Pendengarannya super sonik atau apa?" Daryl mengumam pelan.


"Gimana, udah ketemu?" Lalu Nania menghampiri dan segera bertanya kepada Regan.


"Pelan-pelan kenapa?" Daryl menjawab karena perempuan itu tampak tidak sabar.


"Regan, Ibu aku udah ketemu?" tanya Nania kepada pria di samping suaminya yang belum merespon, menunggu isyarat.


"Regan!!"


"Sudah, mereka memang pindah ke tempat lain dan ibumu baik-baik saja." Dengan terpaksa Daryl menjawab.


"Masa? Ke mana?" Dan perempuan itu memang benar-benar merasa tidak sabar.


"Regan, ke mana?" Nania mengulang pertanyaan.


"Malyshka!! Sabar sedikit. Yang penting kita tahu ibumu ada di mana!"


"Tapi aku mau ketemu ibu, aku mau tahu gimana keadaannya dan gimana …."


"Dia baik-baik saja, dan sekarang sedang bekerja. Lagipula ini masih cukup pagi, kenapa kamu ini, astaga!!!" Daryl meninggikan suaranya, dan dia menghentikan latihannya.


"Bersabarlah sedikit. Aku menyelesaikan latihanku dulu, lalu kamu juga harus makan dan minum obatmu. Ingat kondisimu kemarin?" Pria itu menatapnya dengan raut sedikit kesal.


"Diamlah dulu, yang penting dia sudah ditemukan!" Lalu Daryl menurunkan nada suaranya.


"Sekarang kembali ke rumah, dan diamlah di sana. Tunggu sampai aku selesai!" katanya lagi, kemudian Nania menurut.


"Kesabaranku benar-benar diuji." Daryl kemudian menyandarkan punggungnya pada alat berat di belakang.

__ADS_1


"Kau siap-siap saja, siapa tahu dia meminta menemui ibunya di belakangku. Kesabarannya pun berkurang akhir-akhir ini." Lalu dia beralih kepada Regan.


"Baik Pak."


"Tunggu saja diluar sampai aku selesai, atau kau mau ikut olahraga denganku?" tawar Daryl yang kembali pada alat olah raganya.


"Eee … sepertinya tidak bisa, Pak. Saya mengenakan jeans yang tidak bisa dipakai olar raga." tolak Regan sambil menunjukkan celananya.


"Hmm …."


Lalu sang bawahan benar-benar keluar seperti apa yang dia katakan.


"Kak Ann!! Jangan ih!!" teriakan dua anak remaja menginterupsi pagi yang sepi di halaman belakang kediaman Nikolai.


Siapa lagi kalau bukan Anandita dan Asha yang entah sedang memperebutkan apa.


Regan yang baru saja keluar dari ruang olah raga pun menoleh namun dia tersentak ketika salah satu dari mereka sudah mendekat.


"Awas Om!!" Dan dengan begitu cepat Anandita berlari ke arahnya sehingga tanpa bisa dihindari tabrakan pun terjadi.


"Ugh!!" Dia kehilangan keseimbangan dan tak mampu mempertahankan dirinya sendiri sehingga terjengkang ke belakang, dan secara refleks mencari pegangan.


Namun celakanya, Anandita pun tak mampu mengendalikan tubuhnya, sehingga mereka berdua sama-sama terjatuh dengan posisi gadis itu yang berada di atas tubuh Regan. 


Dan benturan memang tak dapat terelakan lagi ketika wajah mereka pun hampir saja bertabrakan, membuat dua pandangan itu sama-sama memindai bagai kilatan cahaya. 


"Jangan begitu Ann, Asha!!" Suara Arfan terdengar mendekat dan segera saja Regan mendorong gadis itu lalu dia pun bangkit dan menjauh.


"Jangan lari-lari di dalam rumah, nanti mencelakakan orang bagaimana?" ujar sang ayah ketika jaraknya sudah dekat.


"Kak Ann tuh, gangguin aku lagi video call!" Asha menunjuk kakaknya yang tengah memegang ponsel miliknya.


"Ann?" Arfan beralih kepada putri keduanya.


"Cuma mau lihat, Pah." Dan Anandita menjawab.


"Tapi jangan begitu, kamu ini kebiasaan!" Lalu Arfan segera merebut ponsel milik Asha untuk dia kembalikan kepada putri bungsunya itu.


"Asha nya lagi telfonan sama cowok!" Arfan hampir memberikan benda pipih tersebut, namun dia berhenti.


"Apa?" Pria itu menatap anak bungsunya.


"Nggak, ih!! Tadi kan aku lagi diskusi sama temen kelompok aku, Kak Ann nggak percaya deh."


Arfan tampak memicingkan mata.


"Serius, ih. Tadi kan lagi ada panggilan grup karena harusnya aku ikut kerja kelompok tapi nggak karena akunya males. Masa hari Minggu gini harus ngumpul ngerjain tigas?" Asha beralasan.


"Sumpah, Papa telfon sendiri gih yang ada di daftar panggilan aku." Remaja itu meyakinkan sang ayah.

__ADS_1


Lalu Arfan memeriksa ponsel dan beberapa hal yang ada di dalamnya termasuk pesan dan log panggilan. Namun tidak ada yang mencurigakan selain panggilan grup di sekolahan anak bungsunya itu.


"Beneran kan? Ih, nggak percaya sih padahal udah aku bilangin juga." Kemudian Asha menerima kembali ponsel miliknya yang disodorkan ayahnya.


Arfan beralih kepada Anandita dan menunggu pernyataan darinya. Dan gadis itu tampak mendenguskan napas keras.


"Oke, i'm sorry." katanya dengan suara pelan.


"Kurang jelas, Ann." Arfan berujar.


"Maafin, Sha. Aku kan cuma main-main."


"Huh, Kakak main-mainnya keterlaluan pakai fitnah-fitnah aku lagi." Anak itu bersungut-sungut. "Lain kali kalau mau nuduh lihat dulu biar nggak jadi salah paham. Emangnya Kakak yang main nabrak-nabrak cowok sembarangan." katanya sambil berlalu.


"Apa?" Arfan kembali bereaksi seraya menoleh pada anak remajanya yang satu itu.


"Nggak ih, kan nggak sengaja! Tadi … aku mau ke rumah Tante Nna ah." Kemudian Anandita berlari ketika melihat Nania masuk ke dalam rumahnya.


Sementara Arfan beralih kepada Regan yang masih berdiri di dekat pintu ruang olahraga.


"Maaf, Pak. Saya permisi mau menemani Pak Daryl olah raga?" Dan pria itu pun segera kembali ke ruang fitnes di belakang.


"Memang bisa ya olahraga dengan memakai celana jeans?" Arfan bergumam sambil menatap regan yang benar-benar masuk ke dalam ruang olahraga tersebut sebelum akhirnya dia juga berlalu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mereka menatap bangunan tinggi yang terletak di pinggiran sepi kota Jakarta. Setelah melewati beberapa bangunan usang yang tampak tak terurus dan memasuki jalan-jalan gelap hampir tanpa penerangan, akhirnya pasangan itu yang ditemani oleh Regan dan dua orang lainnya tiba di tempat yang dimaksud.


"Seharusnya sekarang Bu Mirna sudah ada di rumah. Karena dari hasil pantauan orang kita, beliau mendapat shift pagi minggu ini." Regan menatap jam tangannya.


Mereka memasuki gedung yang lengang lalu menaiki tangga ke lantai lima di mana Mirna dikabarkan tinggal.


Dan di sana lah perempuan itu yang tampak sedang berusaha membuka kunci pintunya. Dan sepertinya dia juga baru saja tiba.


"Bu?" Nania tergesa menghampirinya.


Mirna menoleh lalu segera memutar tubuh. Kedua matanya membulat dan dia sedikit terhenyak mendapati putrinya yang datang bersama beberapa orang.


💖


💖


💖


Bersambung ....


Yang punya kuda poni ungu, boleh dong mampir dan ramaikan cerita Dokter Sebastian dan Suster Sienna.


__ADS_1


__ADS_2