The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Sekolah #2


__ADS_3

πŸ’–


πŸ’–


"Hey, aku mencarimu ke mana-mana?" Daryl menemukan Nania berada di rumah bermain, padahal biasanya menyambut kepulangannya di kamar mereka.


Memang sudah beberapa hari ini dia kehilangan sedikit keceriaan dari istrinya teritama jika membahas masalah sekolah dan semacamnya.


"Memangnya aku mau ke mana? Nggak bisa ke mana-mana kan?" Perempuan itu menggunting tunas succulent yang sudah berkembang di dalam potnya, lalu menjajarkannya di atas meja.


"What are you doing?" Daryl mendekat.


"Menyelamatkan kehidupan yang tersisa agar tumbuh lagi kehidupan yang lainnya." Lalu dia memindahkan tunas-tunas tersebut ke dalam pot baru yang sudah diisi media tanam.


"Kamu menanam bunga?" Daryl terkekeh pelan.


"Ini bukan bunga, tapi succulent." jawab Nania.


"Bagiku itu terlihat seperti bunga. Lihat, ada daunnya dan yang berwarna pink ini seperti bunga." Pria itu menunjuk benda tersebut.


"Iyalah, terserah. Kalau menurut kamu ini bunga, ya sebut aja begitu. Orang batu aja bisa jadi anggur kalau kamu bilang anggur." Dania dengan malas.Β 


"Hey, ada apa? Kamu sedang pms lagi jadi mood mu tidak bagus sekarang ini?" Daryl lebih mendekat lagi.


"Nggak apa-apa, cuma lagi bosen aja." Nania masih meletakkan tunas yang sudah dia potong ke dalam pot-pot lainnya.


Menambahkan media tanam yang dia temukan di sekitar taman milik mertuanya tadi siang, yang kemudian membuatnya memiliki ide untuk menghabiskan waktu beberapa hari belakangan.


"Kemarilah!" Pria itu menariknya ke pelukan.


"Nggak mau, akunya lagi ini." Nania menolak.


"No, just hugg me!" Namun Daryl memaksa.


"Nggak mau, akunya lagi nanam ini. Tanganku juga kotor." Nania menunjukkan kedua tangannya.


"It's oke, just hugg me. Kata dokter pelukan itu bisa membuat perasaan menjadi lebih baik. Lagi pula, memang sudah seharusnya kamu menyambut suamimu yang baru pulang kerja ini kan?"


Nania tidak merespon.


"Ayolah!!" Seperti biasa, pria itu sedikit melakukan pemaksaan agar keinginannya dituruti. Dan akhirnya, Nania pun menyerah juga.


"That's nice, good girl!!" Daryl menepuk-nepuk punggungnya ketika Nania membenamkan tubuhnya dalam pelukan.


"Oh, ini rasanya nyaman sekali. Seharian aku lelah bekerja, tapi ketika sampai di rumah rasa lelah itu hilang seketika. You do have a positive healing vibe!!" Dia memeluknya erat-erat sambil mencium puncak kepalanya.


Nania menghembuskan napasnya dengan keras. Entah mengapa dia tiba-tiba merasa tidak baik-baik saja padahal kini keadaannya sangat jauh berbeda.Β 

__ADS_1


Dia dikelilingi orang-orang baik dan berada di lingkungan yang sangat aman. Suaminya bahkan selalu memperlakukannya dengan begitu penuh kasih sayang. Tapi ini rasanya dia menjadi kurang bersyukur.


"Better now?" Daryl masih mengusap-usap punggungnya.


Nania mengangguk, dan pria itu baru mau melepaskannya.


"Coba tebak hari ini aku bawa apa?" Daryl dengan senyum manisnya.


"Apaan?" Nania beralih ke sisi lain di mana wastafel berada untuk membersihkan kedua tangannya.


"Tebak!"


"Nggak tahu, kan kamu baru pulang? Lagian mana? Kamu nggak bawa apa-apa?" Dia menatap suaminya.


Pria itu terkekeh, kemudian merogoh saku bagian dalam jasnya. Dia mengeluarkan sebuah amplop lalu memberikannya kepada Nania.


"Apa ini?" Dia segera menerimanya.


"Buka saja. Aku jamin kamu akan sangat senang dengan itu." ucap Daryl yang tidak sabar ingin melihat ekspresi istrinya.


Nania sedikit tersenyum, lalu dia membuka amplop tersebut. Matanya membulat dengan penuh saat membaca tulisan di dalam kertas tersebut dan wajahnya berubah sumringah.


"Udah didaftarin?" katanya, dan dia kembali membaca tulisan dengan setengah tidak percaya.


"Tentu saja sudah. Bukankah aku pernah mengatakan jika mimpimu akan aku wujudkan? Tapi satu persatu ya? Dan kita akan mulai dengan sekolah." Daryl menjawab, dan dia merasa senang melihat perempuan itu kembali ceria tahu dia akan sekolah lagi.


Lengkungan senyum terbit di sudut bibir Nania.


Nania menganggukkan kepala kemudianΒ  menghambur ke pelukannya. Dia bahkan sampai berjinjit untuk meraih pundak pria itu.


"Oke, oke. Itu bagus karena membuatmu tersenyum lagi. Dan aku senang akan hal itu. Jangan murung lagi ya?" ucap Daryl yang balas memeluknya, kemudian mengangkatnya dengan mudah.


"Terima kasih!" Nania berbisik.


"No, itu memang seharusnya, bukan?"


Perempuan itu menganggukkan kepala.


"Kapan sekolahnya dimulai? Aku udah nggak sabar. Eh, lupa kan belum beli buku-buku … alat tulis … seragam." Dia tertegun.


"Eh, kejar paket C pakai seragam nggak sih? Besok ya kita pergi untuk beli …." Nania terdiam lagi.


"Aku lupa. Sekolahnya online kan ya?" Dia baru ingat sesuatu.


Daryl menganggukkan kepala.


"Jadi nggak perlu seragam?"

__ADS_1


"Sepertinya tidak. Soal alat tulis kita punya di ruang kerjanya papi. Semua yang kamu butuhkan di sana ada."


"Gitu?"


"Ya. Regan bilang proses belajar mengajarnya dilakukan berbarengan dengan tahun ajaran baru mulai awal bulan depan, sama seperti Anya. Dan itu dilakukan lewat zoom meeting, karena ternyata bukan hanya kamu yang mengambil kelas online. Ada beberapa orang yang mengambil program yang sama."


Nania terdiam.


"Belajarnya lewat hape?" Lalu dia bertanya.


"Bisa. Tapi lebih enak pakai laptop kan?"


"Mungkin."


"Kamu bisa pakai punyaku, atau nanti kita Ke Nikolai Store untuk memilih yang kamu butuhkan?"


"Umm …."


"Bagaimana? Kabar yang aku bawa ini bagus bukan?" Daryl dengan riang gembira.


Nania masih terdiam dengan pikirannya yang terus berputar.


Apa enaknya sekolah tapi tetap di rumah? Ide sekolah itu muncul biar aku bisa keluar kan? Se nggaknya untuk beberapa jam. Satu sisi hatinya berbicara.


"Kenapa? Kamu tidak senang?" Daryl memiringkan kepalanya.


Ah, Nania! Betapa kamu tidak tahu bersyukur. Bukankah sekolah adalah hal yang kamu impikan? Dan suamimu mewujudkannya, bahkan lebih baik daripada khayalanmu. Lalu mau apa lagi? Jangan jadi orang yang kufur nikmat! Sisi lainnya juga ikut bersuara.


Namun, Nania memutuskan untuk menerima hal ini dengan suka cita. Hatinya benar, bahwa apa yang didapatkan kini merupakan berkah yang tidak terhingga, dan sudah sepatutnya dia bersyukur bukan?


"Masa aku nggak senang? Sekolah lagi kan mimpi aku. Makasih!!" Dia kembali memeluk suaminya.


"Uuhh, terima kasihnya bisa disimpan untuk nanti saja, Sayang." Daryl pun membalas pelukannya.


"Maksudnya?" Nania menarik diri.


"Sekarang mandikan aku dulu." Pria itu melepaskan rangkulannya, dan dia beralih meraih tangan Nania lalu menariknya keluar dari dalam rumah bermain.


"Duh, perasaan aku nggak enak ini, Pak?" Nania mengikuti langkah suaminya masuk ke dalam rumah besar lalu melenggang ke arah tangga menuju ke kamar mereka di lantai dua.


Sedangkan Daryl hanya tertawa pelan.


πŸ’–


πŸ’–


πŸ’–

__ADS_1


Bersambung ...


Cieeee yang mau sekolah lagi? Ayo, bilang terima kasih dulu sama Daddy nya biar dikasih lebih? πŸ™ˆπŸ™ˆ


__ADS_2