
π
π
"Duh, mereka memang tidak main-main ya?" Daryl melambaikan tangannya ketika mobil milik kedua orang tuanya melaju keluar dari halaman rumah.
Rencana pergi ke negeri kincir angin pada lewat tengah hari itu segera diwujudkan dan tak ada siapa pun yang bisa menghalangi Satria. Apalagi jika hal tersebut berhubungan dengan istri tercintanya, maka tak ada yang bisa menghentikannya.
"Titah baginda raja memang tidak bisa ditolak siapa pun, ckckck." Pria itu menggelengkan kepala.
"Emangnya ucapan kamu ada yang bisa nolak? Kan nggak juga." Nania menjawab ucapan suaminya.
"Hehe β¦ tapi kan mereka sudah tua."
"Emangnya yang tua nggak butuh refreshing? Kamu pikir seharian di rumah nggak bosen? Apalagi Mama sama Papi yang mungkin di masa mudanya sangat sibuk terus pas masa pensiun full stay di rumah, pasti gabut."
"Gabut?"
"Iya gabut."
"Gabut itu apa? Bahasamu kadang tidak aku mengerti."
"Gabut itu sama aja kayak bosen, atau nggak tahu mau ngapain."
"Hah, kenapa tidak bilang bosan saja? Kenapa bahasanya harus diganti dengan kata gabut? Aneh."
"Orang gitu bahasanya."
"Oh iya, mau ujian bahasa Rusia sekarang? Mumpung aku sedang libur."
"Mana ada ujian dadakan kayak gini? Mana aku belum ngapalin lagi?"
"Tidak perlu menghafal."
"Masa? Kan soal ujianya juga belum bikin?"
"Ini juga mau sekarang."
"Dih, maksa banget yang mau ujian? Kayak mau anu aja, maksa." Nania tertawa.
"Ya sudah, kalau mau itu dulu juga boleh. Ayo?" Pria itu merangkul pundak Nania kemudian tersenyum.
"Nggak mau ah, siang-siang gini. Gerah!!" jawab Nania yang melepaskan diri kemudian bergegas melipir ke jalan di samping rumah besar yang menuju kediaman mereka di belakang.
"Katanya mau punya anak? Ya harus rajin dan tidak kenal waktu."
"Dih, itumah maunya kamu?" Perempuan itu menjawab.
"Siapa yang tidak? Sepertinya semua orang begitu?"
Namun Nania tertawa.
"Ayo?" Dan pria itu kembali merangkulnya, sambil tertawa pula.
"Nggak ah. Mana Darren sama Kak Kirana sebentar lagi ke sini kan?"
Dan di saat yang bersamaan orang yang Nania bicarakan memang datang.
"Tuh kan?" Mereka menoleh ketika mendengar suara mesin mobil memasuki pekarangan.
"Heh, mau apa mereka?" Daryl bergumam.
"Mama dan Papi sudah pergi barusan, Ren." ucap Daryl kepada saudara kembarnya.
"I know."
__ADS_1
"Terus kenapa kau ke sini?" Pria itu bertanya, yang mendapat reaksi dari Nania berupa tepukan di lengan.
"Memangnya aku tidak boleh mengunjungi rumah orang tuaku ya? Aneh sekali kau ini?" Darren menjawab.
"Hehe, iya. Saudara kamu kan memang suka aneh." sahut Nania sambil tertawa.
"Ayo masuk? Mau ke rumah besar atau ke belakang?" ajak perempuan itu kemudian.
"Ke rumah besar siapa yang mau kami temui? Pegawai?"
Nania tertawa lagi. "Kalau gitu, ayo ke belakang? Aku punya sesuatu yang spesial hari ini." katanya, yang beranjak dan segera diikuti oleh tamu yang baru saja datang itu.
"Hey hey hey, spesial apanya? Kok aku tidak tahu ada yang spesial di rumah kita?" Daryl bereaksi.
"Itu artinya kau tidak spesial, Kak. Makanya begitu kami datang istrimu langsung berkata begitu. Huh, kasihan." Darren dan Kirana melewatinya sambil tertawa.
"Apa kau bilang?" Dan Daryl segera mengikuti mereka.
***
"Jangan dibahas." ucap Daryl ketika mereka sudah berada di dalam rumah, dan Darren melihat sekeliling tempat itu yang ruangannya dipenuhi berbagai jenis tanaman.
Dari yang terkecil sampai yang terbesar. Dari yang hanya banyak daunnya hingga yang bunganya bermekaran. Dan jangan lupakan juga tumbuhan gurun yang kini mulai dia biasakan ada dalam pandangannya lagi.
Dan Darren hampir saja membuka mulutnya untuk berbicara ketika Daryl mendahului.
"Jangan katakan apa pun, jangan berkomentar apalagi soal kaktus dan segala yang berhubungan dengannya. Aku hanya sedang membiarkan istriku bahagia dengan semua yang disukainya, that's it."
"Ooo, baiklah kalau begitu, aku mengerti." Sang adik menjawab sambil sedikit tertawa.
"Aku pikir β¦."
"Ssstt! Jangan sekali-kali membahas sesuatu yang tidak penting. Atau aku akan menghajarmu." ancam Daryl.
"No! Nania yang melakukannya. Aku sempat marah karena dia begini, tapi tak ada gunanya juga. Malah ini yang membuatnya senang. Aku bisa apa?" keluh Daryl.
"Tidak apa-apa, memang seharusnya kau mengalah demi kebahagiaan istrimu. Itu bagus, bro." Dan Darren menepuk pundak kakaknya.
"Yeah, you know."
Lalu Darren tertawa lagi.
"Benar yang semua orang bilang, santai saja, memangnya mau ke mana? Tidak ada yang menuntutmu untuk cepat-cepat punya anak, kan? Lagi pula kamu masih sekolah." Sementara dua perempuan di sisi lainnya pun tengah berbincang.
Mereka menata makanan di meja yang sudah Nania siapkan sebelumnya.
"Jangan terlalu mendengarkan perkataan orang lain. Nikmati saja dulu waktu yang kalian punya. Kan bagus bisa merencanakan semua hal selagi kalian menunggu? Atau di cek saja sesekali agar tahu. Pakai alat tes kehamilan atau pergi ke dokter misalnya."
Nania mengangguk-anggukkan kepala.
"Bisakah kita makan sekarang? Sepertinya ini enak sekali." Kirana mengambil sepotong puding isi buah yang baru saja Nania keluarkan dari lemari pendingin.
"Boleh, kayaknya para suami juga sudah lapar." Dan Nania melirik kepada suami dan iparnya yang datang menghampiri mereka.
Lalu mereka memulai acara makan bersama pada siang itu dengan penuh kehangatan. Canda dan tawa segera saja menjadi pengisi rumah tersebut dan perbincangan menjadi hal yang sangat menyenangkan.
***
"Sepi lagi kan?" Mereka mengantar kepergian Darren dan Kirana sampai ke depan teras rumah besar pada sore harinya.
Setelah berbincang dan membicarakan banyak hal juga sedikit berdiskusi, akhirnya mereka berpisah juga.
"Ya masa mau ramai-ramai terus?" Daryl merangkul pundak Nania sambil menatap mobil milik saudara kembarnya hingga menghilang dibalik pintu gerbang.
"Ini kita nggak akan pergi kemana-mana gitu? Kan lagi week end?" Nania mendongak.
__ADS_1
"Ke mana? Sudah sore begini?" Daryl menariknya untuk kembali ke rumah mereka di belakang.
"Ya ke mana aja gitu, jalan-jalan."
Daryl tidak menjawab.
"Daddy?"
"Hum?"
"Nggak mau ya kalau kita pergi? Kan bosen di rumah terus?" tanya Nania.
"Kamu mau pergi?" Namun Daryl malah balik bertanya.
"Iyalah, makanya nanya. Tapi kamu malah balik tanya, dasar aneh?"Β
Pria itu malah tertawa.
"Dih, ketawa lagi."
"Baiklah."
"Hum?"
"Maunya ke mana?"
"Ke mana aja gitu, keliling Jakarta juga boleh."
"Baik."
"Emangnya kamu mau?" Nania berhenti di teras.
"Oke." Daryl menjawab dan dia pun sama-sama berhenti.
"Beneran?"
"Ya, bersiaplah."
Nania menatapnya dengan mata berbinar.
"Cepat, nanti aku berubah pikiran." ucap Daryl sambil menyentakkan kepalanya.
"Kalau gitu tunggu aku mau mandi dulu." Kemudian Nania segera berlari memasuki rumah.
"Eh, aku suruh siap-siap kenapa malah mandi?" Pria itu sedikit berteriak, namun dia tertegun setelahnya.
"Iya biar segeran dikit." Nania balas berteriak setelah dia berada di lantai atas.
Daryl berpikir.
"Baiklah, aku juga sepertinya mau ikut mandi." katanya, dan dia pun bergegas mengikuti Nania ketika hal kotor baru saja melintas di otaknya.
π
π
π
Bersambung ....
Maaf gaess upnya kesorean. Maklum, dunia nyata emak hari ini rempong banget, biasalah.
Jangan lupa klik like komen sama hadiahnya ya.
Alopyu sekebonππ
__ADS_1