The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Pasar Part 2


__ADS_3

💖


💖


"Pak, seminggu ini aku nggak bisa antar makan siang. Nggak apa-apa ya? Kerjaan aku banyak ini." Nania mengirimkan pesan kepada Daryl.


Lalu pria itu segera melakukan panggilan telfon.


"Kenapa?" Dia bertanya dari seberang sana.


"Kan udah dibilangin kalau akunya banyak kerjaan." Nania menjawab.


"Bukankah di sana ada banyak orang? Apa sih kerjaan mereka?" Daryl menggerutu kesal.


"Kan ini udah banyak yang harus disiapin untuk nikahannya Pak Darren. Belum lagi lusa pesta di rumah besar kan? Berapa banyak orang yang ngumpul di sana?"


"I don't know, maybe 50 atau seratus?"


"Tuh kan, banyak? Kan semua makanan ngambilnya dari sini."


"So you busy this week?"


"Iya."


"Benar-benar nggak bisa antar makan walau hanya sebentar?"


"Nggak bisa."


"Aku juga nggak bisa ke sana, harus menyelesaikan banyak hal."


"Iya, makanya. Atau mau pakai ojek online aja ya? Biar cepet."


"Tunggu! Tidak usah. Aku suruh Regan saja, dia ada di sana. Kamu siapkan saja makanannya." ujar Daryl.


"Regan?"


"Iya. Orangku."


"Hmm …."


Lalu sekitar satu jam kemudian seorang pria masuk ke kedai.


"Permisi? Saya mau ambil pesanan Pak Daryl?" Dia mendekat ke pantry.


"Dengan Regan?" Nania muncul lalu meletakkan sebuah tote bag di meja pantry.


"Ya, saya sendiri."


Nania mengerutkan dahi. Sepertinya dia pernah melihat pria ini di sekitar? 


Bukankah dia yang sering ada di depan setiap malam? Batinnya mengingat.


"Permisi." Pria itu segera keluar.


"Sejak kapan kita punya kurir?" Ardi mendekat dan dia menatap ke arah pandangan Nania.


"Keren amat kurirnya?" Nindy menimpali.


"Aku kayaknya pernah lihat dia sering ada di sekitar sini deh?" Nania masih berdiri di sana.


"Masa?"


"Iya. Kadang bolak-balik. Kadang diem di mobilnya." Gadis itu menatap mobil yang berlalu.


"Halu, kamu ah!" Lalu Nindy dan Ardi kembali pada pekerjaan mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Jangan ke sini ah, akunya mau istirahat!" Panggilan telfon kembali berlangsung ketika Nania hendak pergi tidur.


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam tapi pria itu belum menyudahi percakapan.


"Tapi kita sudah tiga hari tidak bertemu. Apa kamu tidak merindukan aku?" Pria itu tertawa.


"Aku nggak sempet mikirin rindu. Kerjaan aku banyak."


"Hmm …." Daryl terdengar menggumam.


"Kalau diingat-ingat terus nantinya pengen ketemu." lanjutnya, kemudian Nania terkikik geli.


"Ya tinggal bertemu, apa susahnya?"


"Jangan keseringan, apa lagi malam-malam. Bahaya."


"Bahaya apa?"


"Kalau sering berduaan apalagi malam-malam, nanti yang ketiganya setan." Nania tertawa, seperti halnya juga Daryl.


"Nanti Eragon demam, Pak." Gadis itu menutup mulut dengan tangannya agar tawanya tidak terdengar saat mengingat kebersamaan mereka yang terakhir tigs malam lalu.


"Ah, iya. Dia sedang dalam mode sombong sekarang. Hahaha." Pria itu tergelak.


"Dih? Sombong apanya?"


"Tegak terus kalau ketemu kamu."


"Dih?"


"Stop it! Jangan bahas soal itu lah."


"Makanya, nelfonnya udahan. Jangan dikit-dikit nelfon, dikit-dikit nelfon?"


"But i miss you. Setiap hari rasanya mau datang ke kedai terus."


"Jangan, nanti aku cuekin. Kan kerjaan akunya banyak. Beresin segala macam, bikin stok sama nyiap-nyiapin buat menu pesta."


"Naniaku benar-benar sibuk ya?"


"Hu'um. Tapi kan nanti setelah nikahannya Pak Darren nggak. Normal lagi."


"Tapi seminggu itu lama." Daryl terdengar Frustasi.


"Jangan diingat-ingat, nanti nggak kerasa. Tahu-tahu beres aja."


"Kenapa sih kalau bicara denganmu aku merasa seperti sedang bicara dengan guru TK?"


"Masa?"


"Aku merasa seperti Zen yang sedang kamu nasehati?"


"Mana ada Zen segede Bapak? Suka ngaco deh?"


"Hey, kita ini pacaran, bukan pegawai dengan bos. Jadi, bisakah kamu berhenti memanggilku Bapak?" protes Daryl untuk ke sekian kalinya.


"Nggak bisa." Dan Nania langsung menjawab.


"Kenapa nggak bisa?"


"Udah kebiasaan."


"Huuh, masa kekasihmu memanggil Bapak? Nggak romantis!" Dia menggerutu lagi, namun membuat Nania tertawa.


"Suara tawamu terdengar menyenangkan. Aku jadi semakin rindu."


"Dih … lebay!" Dan gadis itu masih tertawa.


"Pak, udahan ya? Aku mau tidur. Kan besok harus ke pasar." Nania kembali berbicara.


"Ke pasar lagi? Kenapa?"


"Ya banyak bahan yang harus dibeli. Kan lusa pesta di rumah besar."


"Apa banyak?"

__ADS_1


"Lumayan. Mungkin kayak kemarin. Kan plus stok kedai juga."


"Pergi dengan siapa?"


"Tadi sih udah janjian sama Ardi."


"Ardi lagi!"


"Kenapa? Kan biar nggak sendirian."


"Jangan dengan Ardi lah." ujar Daryl.


"Siapa? Nindy? Aku belum janjian kalau sama Nindy."


"Aku saja."


"Nggak usah lah, kasihan." tolak Nania.


"Kasihan kenapa?"


"Nanti capek kayak kemarin."


"Tidak akan."


"Serius, belanja keliling pasar itu capek."


"Besok tidak akan, aku janji."


"Udahlah, sama Ardi aja. Kan udah biasa."


"Tidak, besok aku datang. Tunggu saja. Jam tiga pagi lagi kan? Jangan dulu pergi sebelum aku datang ya?"


"Nggak usah deh, nggak enak lihatnya."


"Kalau nggak enak kasih kucing." Daryl tertawa.


"Udah bisa ngomong kayak gitu, Pak?"


"Katularan kamu." Pria itu tertawa lagi.


"Hmm …."


"Ya sudah, sana tidur. Nanti kamu kesiangan ke pasar."


"Ya udah."


Kemudian percakapan itu berakhir.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nania menggelengkan kepalanya sambil tersenyum ketika mendapati pria itu yang sudah berdiri di dekat mobilnya pada jam tiga dini hari.


"Udah aku bilangin nggak usah, kan udah ada Ardi." Nania mendekat.


"Sudah aku katakan juga aku ikut." Daryl menjawab.


"Capek tahu?"


"Pekerjaanku juga capek."


"Ya makanya, mana paginya kerja juga iya kan?"


"Hmm …."


"Terus kenapa maksa?"


"Kamu lupa ya aku ini siapa? Aku kan tukang maksa."


"Hmm …." Nania mencebik.


"Ayo, cepat pergi mumpung masih pagi?" Pria itu membuka pintu mobil untuknya.


"Tunggu, Ardi belum datang." Gadis itu menatap layar ponselnya yang menunjukkan pukul tiga lebih sepuluh.


"Biar ada yang bantuin bawa belanjaan."


"Tidak usah."


"Kan capek?"


"Tidak akan."


"Nanti kebanyakan ngeluarin uang buat bayar kang panggul?"


"Tidak. Aku bawa orang." Daryl menoleh ke belakang di mana ada tiga orang pria menunggu di dekat sebuah mobil lainnya.


"Hah?" Naia mengikuti pandangannya.


"Tidak perlu Ardi, tidak juga perlu tukang panggul. Karena mereka yang akan mengerjakannya." Pria itu dengan cengiran khasnya.


Nania menatap pria itu.


"Gratis?" tanya nya.


"Ya."


"Nggak usah bayar tukang panggul?"


"Tidak usah, sudah aku bilang mereka yang akan mengerjakannya. Kamu hanya tinggal berbelanja dan mereka yang membawa. Jadi kali ini kamu nggak usah titipkan aku ke tukang kerupuk lagi." Mereka tertawa.


"Ya udah, ayo pergi?" Lalu mereka berdua segera masuk ke dalam mobil.


"Eh, mereka gimana?" Nania menoleh ke belakang saat mobil yang ditumpanginya melaju.


"Biar di mobil sendiri." Dan memang benar, sebuah mobil lainnya mengikuti di belakang.


"Berasa bawa bodyguard?"


"Ya anggap saja begitu. Hahaha." Daryl tertawa.


Tak membutuhkan waktu lama mereka sudah tiba di depan pasar. Tempat yang sama di mana mereka berbelanja seperti beberapa hari sebelumnya.


Keadaannya sama saja. Terang benderang dan tentu saja ramai. Orang-orang sudah mulai berdesakan dan mereka melakukan hal yang sama.


Beberapa barang sudah didapatkan dan Nania terus melanjutkan kegiatan belanjanya. Sementara barang-barang diserahkan pada ketiga pria yang mengikuti. Tentu saja hal tersebut cukup menyita perhatian ketika seorang gadis berbelanja sepagi itu diikuti oleh empat orang pria.


Ikan, daging dan sayuran menjadi hal yang paling pertama dia beli, dan segera diangkut ke parkiran di mana mobil berada, sementara yang berbelanja terus berlanjut.


Dan buah-buahan juga hal lainnya menyusul sehingga kegiatan itu bisa selesai lebih cepat dari biasanya. Sementara Daryl terus mengikutinya ke manapun Nania pergi.


"Bapak mau itu nggak?" Nania berhenti di depan pedangan jajanan pasar.


Kue-kue tradisional berjejer rapi dan dalam bentuk yang bermacam-macam.


"Apa itu?"


"Makanan."


"Aku tahu itu makanan."


"Mau? Pernah coba yang kayak gini?" Nania mengambil satu wadah kecil terbuat dari mika bening yang berisi makanan berbentuk bulat berwarna hijau dengan taburan parutan kelapa di permukaannya.


"Aku nggak ingat, sepertinya belum? Atau mungkin lupa. Apa ini namanya?"


"Ini klepon. Makanan tradisional, tapi rasanya enak."


"Manis?"


"Iya, kayak aku."


Daryl terkekeh sambil mengusap puncak kepalanya.


"Kalau ini?" Lalu dia menunjuk hal lainnya.

__ADS_1


"Ada dodol, pia, bagelen, … banyak."


"Oo aku tahu itu, pernah dengar. Mungkin pernah makan juga tapi lupa." ucap Daryl.


"Ah, kebanyakan makan kentang goreng sama pizza ini kayaknya?" Nania bergumam.


"What?"


"Nggak, hahaha."


Lalu Nania membeli beberapa wadah makanan yang dia tunjuk.


"Mau coba?" Gadis itu menyodorkan satu buah klepon kepada Daryl. Dan dia segera melahapnya dalam satu suapan langsung dari tangan Nania.


Ada sensasi gurih dan lembut dari adonan luar, kemudian muncul rasa manis ketika dia mengunyahnya. Dan ini rasanya enak.


"Kamu benar!" katanya.


"Apaan?"


"Manis seperti kamu." Dia berbisik, membuat pipi Nania merona seketika.


Dan keduanya begitu sepanjang perjalanan dari lorong pasar yang berdesakan hingga akhirnya tiba ke area parkir. Tidak ada yang tak memperhatikan terutama tiga pria yang mengikuti mereka di belakang. Yang sama-sama memutar bola mata ketika mendengar percakapan kedua orang itu.


Orang ini sepertinya sudah gila!


"Kalian mau? Ini enak." Daryl menawarkan kepada mereka. 


Dan Nania segera menyodorkan tiga wadah makanan tradisional itu, namun Dayl segera menahannya.


"Jangan banyak-banyak." katanya.


"Kan itu tiga orang?"


"Satu bungkus cukup. Kan isinya enam? Mereka masing-masing dapat dua kan?" jawab Daryl.


"Terus ini beli segini banyak buat siapa?" Nania menatap isis kresek di tangannya.


"Ya buat aku lah." Mereka tiba di tempat memarkirkan mobil.


"Nggak kebanyakan?"


"Tidak."


Gadis itu tertegun.


"Eh, apa tukang nasi kuningnya jam segini sudah jualan?" Daryl melihat jam tangannya yang menunjuk ke angka lima.


"Udah, kenapa?"


"Ayo, kita ke sana lagi? Kalian juga!" Daryl menarik gadis itu diikuti ketiga pria lainnya. Dan dia masih ingat tempatnya.


Sebuah lapak gerobak beratapkan tenda dengan meja kayu dan sebagian kursi plastik, sebagiannya lagi kursi kayu baru saja buka. Dan pedagangnya yang merupakan pasangan paruh baya segera menyambut.


"Aku mau nasi kuning." katanya kepada Nania.


"Kalian mau apa? Pesan saja!" lalu dia beralih kepada pengawal yang subuh itu berperan sebagai pembawa belanjaan yang duduk tenang.


"Berasa bawa anak TK jalan-jalan." Nania bergumam, lalu dia memesan makanan.


Daryl melahap makanannya dengan semangat dan riang gembira, sementara ketiga pria yang duduk di belakang saling pandang. Merasa aneh dengan atasan yang satu itu.


"Berasa lagi sahur deh, masa subuh-subuh udah makan?" Nania meneguk teh panasnya setelah kegiatan makan mereka selesai.


"Ya anggap saja begitu. Hahaha." Daryl tertawa.


"Bapak nggak mau nambah? Kemarin lusa hampir nambah kalau kita nggak kesiangan?"


"Sepertinya tidak. Stok makanan kita banyak kan?" Pria itu melirik kresek hitam berisi jajanan pasar.


"Banyak, aman kalau buat Bapak seorang."


"Ya sudah."


"Bapak suka nasi kuningnya?" Nania memperhatikan cara makannya yang lahap.


"Suka. Ini enak."


"Hmm … ketagihan ya?"


Daryl tertawa.


"Aku ingat sekarang. Dulu, kalau ke Bandung nenek pernah membuatkan nasi seperti ini. Tapi bentuknya kerucut yang besar. Di sekelilingnya ada banyak lauknya. Dan rasanya enak."


"Nasi tumpeng?"


"Oh, beda namanya?"


"Sama nasinya nasi kuning. Tapi yang kayak  gitu disebutnya nasi tumpeng. Bikinnya kalau ada selamatan."


"Waktu itu sebelum aku pergi ke Rusia kalau nggak salah." Daryl mengingat.


"Umur berapa?" Nania antusias mendengar pria itu bercerita.


"Sekitar kelas tiga atau kelas empat SD?"


"Ke Rusia mau apa?"


"Pindah sekolah."


"Kenapa pindah?"


Daryl tertegun.


"Hanya tradisi keluarga." jawabnya, dan dia menyuapkan nasi terakhirnya.


"Semua keluarga sekolah di Rusia?" Nania bertanya.


"Ya. Kak Dygta lulus SMA kuliah di sana. Kak Dim dari SMP, sedangkan aku dan Darren sejak SD."


"Dan Bapak baru pulang tahun-tahun ini?"


"Yeah."


"Pantesan."


"Kenapa?"


"Ya kayak orang asing."


"Hahaha." Pria itu tertawa lagi.


"Udah belum? Kita pulang yuk?" Nania menatap pria-pria di dekatnya.


"Sudah." Mereka menjawab.


"Tunggu! Kali ini aku yang bayar." Daryl mengeluarkan selembar uang berwarna biru dari dompetnya.


"Ini pas?" tanya nya kepada Nania.


"Pas, kan kita berlima."


"Oke." 


Kemudian gadis itu menyerahkan uang tersebut kepada pedagang, dan pergi setelahnya.


💖


💖


💖


Bersambung ....

__ADS_1


Dihh ... Ada bule doyan banget nasi kuning ? 😂😂😂


__ADS_2