
💖
💖
"Kakaaaaakkk!!" Suara Asha menggelegar setelah terlibat perselisihan dengan Anandita.
"Cuma sedikit, Sha!"Â Anandita menjawab.
"Nggak mau, pokoknya balikin!" Asha mengejar sang kakak yang berlari keluar.
"Cuma sedikit, yaelah!"
"Kakak udah makan coklat punya aku!"
"Aku bilang cuma sedikit, nyobain doang."
"Nggak mau, pokoknya harus diganti!"
"Iya, nanti." Namun Anandita terus berlari hingga tanpa sadar ketika di saat yang bersamaan seseorang memasuki area pekarangan, dan tabrakan pun tidak bisa dihindari.
"Ughh!!" Seketika saja wajahnya membentur dada Regan yang membuatnya terpental dan hampir terjengkang ke belakang jika saja pria itu tak segera meraih tangannya, sehingga tanpa sengaja mereka berpelukan.
"Umm …."
Dan Asha pun berhenti mengejar sang kakak karena merasa terkejut.
Dua pandangan itu bertemu dan saling memindai sebelum akhirnya suara teriakan lain dari dalam rumah menginterupsi.
"Apa sih kalian ini pagi-pagi sudah bertengkar?" Daryl berjalan tergesa setelah mendengar keributan yang ditimbulkan oleh dua keponakannya. Dan hal tersebut membuat Regan melepaskan tangannya dari pinggang Anandita, sehingga gadis remaja 17 tahun itu benar-benar terjengkang ke belakang.
"Selamat pagi Pak?" Regan menyapa atasannya.
"Hey? Ada apa denganmu?" Daryl melihat keponakannya yang ambruk, kemudian Regan segera menariknya bangkit.
"Kak Ann nya rese, Om. Ngambil-ngambil coklat aku." Asha mengadu.
"Cuma gigit sedikit, Om." Anandita membela diri.
"Udah aku bilang jangan juga! Kakak rese! Nggak Kak Ar, nggak Kak Ann sama aja resenya!" Asha dengan kesal.
"Astaga, perkara coklat." Daryl menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kan bisa ambil lagi, Asha." sambungnya setelah jarak mereka cukup dekat.
"Nggak ada, Om."
"Di rumah Opa?"
"Nggak ada juga. Aku bawa dari rumah lho. Udah aku bilang Kak Ann bawa biar nggak makan punya aku. Kan bener?" Anak itu mendelik sebelum akhirnya pergi, sementara si tersangkanya malah tertawa.
"Ann, kenapa sih soal makanan saja jadi ribut?" protes Daryl kepada keponakannya.
"Nggak ih, dianya aja yang lebay. Orang cuma aku gigit sedikit, Om."
"Kan tahu kalau makanannya diganggu, Asha pasti marah?"
"Ah, udah dibilangin dia lebay juga? Perkara coklat, minta lagi aja sama papa biar dibeliin yang banyak. Atau beli sama pabriknya sekalian!" Anandita melenggang ke arah rumah besar mengikuti sang adik.
"Hah, kau percaya itu? Anak-anak membuat rumahmu menjadi sangat berisik." Daryl kemudian beralih kepada Regan yang menunggu dengan sabar.
"Sudah biasa, Pak." jawab bawahannya itu yang sekilas melirik ke arah rumah besar ketika di saat yang bersamaan Anandita juga menoleh.
"Baiklah, mari bicara di belakang?" Daryl menyentakkan kepalanya lalu mendahului Regan berjalan ke area santai di belakang rumahnya.
***
"Aku ingin kau membuatkan sampel botol seperti ini, kira-kira seratus buah." Pria itu menyerahkan kertas hasil gambar Nania kepada Regan.
"Parfum?"
__ADS_1
"Yeah. Pastikan desainnya sama persis seperti di gambar."
"Bapak benar-benar mau menggantinya?"
"Yeah, apa lagi? Aku ingin semuanya benar-benar baru. Isinya saja bahkan mau aku ganti juga karena sudah bisa dipastikan apa yang mereka curi bukan hanya merk dan ide iklan."
"Baik Pak. Masing-masing seratus buah?"
Daryl terdiam sebentar.
"Kau atur sajalah. Aku ingin parfum ini dibuat secara terbatas di peluncurannya nanti sehingga akan membuat orang penasaran."
"Baik."
"Mungkin nanti siang aku juga akan ke pabrik parfum untuk mengatur ulang kesepakatan dan segala macamnya. Termasuk komposisi dan aroma parfumnya."
"Ya Pak."
"Jika sudah selesai, maka kembalilah lagi ke sini karena aku membutuhkanmu untuk menemaniku ke pabrik."
"Baik Pak, kalau begitu saya pamit?" Regan bangkit seraya membawa kertas yang barusan diserahkan Daryl kepadanya, kemudian segera pergi untuk melaksanakan perintah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Opa kok lama banget sih ke Belandanya, kan aku jadinya kangen." Anya duduk dengan nyaman di pangkuan Satria.
Mereka berkumpul pada hampir siang setelah makan bersama.
"Hanya seminggu, Anya." Sang kakek menjawab.
"Tetep aja lama. Ngapain aja sih di sana? Mommy bilang cuma lihat bunga tulip ya? Tapi kok lama amat?"
"Ya sama liburan lah, masa cuma lihat bunga doang?" Rania menyahut.
"Emang Opa kerja ya? Masa pake liburan segala? Orang setiap hari juga di rumah kan? Emangnya aku yang sekolah dari Senin sampai Jum'at, makanya aku harus liburan."
"Itu beda, Sayang. Hahaha."Â Satria tertawa mendengar celotehan cucunya yang satu itu.
"Duh, kamu nggemesin banget sih?" Sofia bahkan sampai mengusap puncak kepalanya saking merasa gemasnya.
"Papi aja yang kerjanya sampai malam cuma ke sini atau ke Bandung kalau liburan. Paling ngajak aku sama Zen nyusulin Mommy kalau balapannya deket."
"Memangnya Anya mau liburannya yang jauh?" Sang nenek bertanya.
"Mau dong. Nanti naik pesawatnya lamaaaaa banget. Kan asik."
"Iya iya, nanti kapan-kapan kita liburan sama-sama ya?"
"Kapan?"
"Tidak tahu, nanti kalau sudah ada waktunya. Papi Anya kan sibuk. Om Der dan Om Ren juga sama sibuknya."
"Yah, masih lama dong?"
"Anya yang sabar ya? Nanti juga ada waktunya." Satria berujar.
"Tapi perginya sama Oma sama Opa juga ya? Biar seru."
"Iya."
Kemudian Nania muncul dan ikut bergabung dengan membawa makanan yang dibuatnya, diikuti Kirana yang tadi menyusul begitu mereka tiba di rumah tersebut.
"Itu es krim?" Zenya menunjuk makanan yang Nania letakkan di meja.
"Bukan."
"Tapi kayak es krim."
"Ini namanya mile crepes." Nania mengambil satu potong besar dan meletakkannya pada piring kecil yang dibawakan oleh asisten rumah tangga, kemudian dia berikan kepada Sofia.
__ADS_1
"Makanan baru?" Sang mertua menerimanya dengan semangat.
"Sebenarnya nggak baru juga sih, tapi lagi booming di medsos." Lalu dia memberikan potongan lainnya kepada Satria dan para iparnya.
"Wahh … kayaknya enak." Rania segera melahapnya.
"Iya enak. Duh, apa sih yag nggak bisa kamu bikin? Kayaknya semua jenis masakan kamu bisa deh?" pujinya, dan memang diamini oleh semua orang.
"Kalau Rania bilang begitu pasti benar." Sofia pun melakukan hal yang sama.
Dia memotong sudut kue berlapis krim dengan toping coklat dan potongan stroberi itu lalu menyuapkan ke dalam mulutnya sendiri.
"Ah, iya enak! Cobalah Sayang, kamu pasti akan menyukainya. Ini tidak terlalu manis tapi rasa coklatnya dominan." ujar Sofia kepada suaminya.
"Sengaja bikinnya nggak pakai banyak gula. Biar Papi juga bisa makan banyak." Sahut Nania yang membawa satu piring kue tersebut untuk Daryl yang baru masuk bersama ke dua saudaranya.
"Benar." Satria tertawa setelah mengunyah satu potongan kecil, dan dia rasa makanan tersebut memang sangat cocok di lidahnya.
"Uuuh, i love coklat!" Asha malah sudah menghabiskan satu potongan dan dia memintanya lagi.
"Apa sih yang kamu nggak suka? Semua makanan kayaknya kamu suka deh? Sebentar lagi kamu jadi gendut!" Anandita menjawab ucapan adiknya.
"Iiihh, aku nggak gendut."
"Udah mulai kelihatan, tuh. Pipi kamu tembem, perut kamu maju. Lihat tangan kamu?" Anandita meraih tangan Asha.
"Udah kayak paha anak sapi!" katanya, kemudian tertawa.
"Aaaa Kakak! Opa, Kak Ann nyebut aku anak sapi terus dari kemarin!" adunya kepada Sang Kakek.
"Tidak boleh begitu, Ann." Para orang dewasa pun tertawa melihat tingkah anak remaja yang satu itu. Pasalnya Asha memang terlihat sangat lucu dengan pipi tembem dan tubuh yang terlihat lebih besar dari saudara-saudaranya.
"Lah, emang beneran dia gendut. Masa aku harus sebut langsing? Kan fitnah."
"Udah dibilangin aku nggak gendut!"
"Gendut."
"Nggak!"
"Gendut."
"Udah ih, Asha tuh emang bener. Dia nggak gendut." Rania menghentikan perdebatan.
"Tuh kan, Tante Rania juga bilang aku nggak gendut."
"Segede gini kalau nggak gendut apa namanya?" Aksa baru bersuara setelah menghabiskan makanannya.
"Semok." jawab Rania.
"Semok?"
"Seksi dan montok. Udah, jangan berantem lagi, nanti Tante anterin kalian ke Bogor kalau berisik terus." Dan ucapan itu sukses membuat kedua remaja yang usianya hanya selisih satu tahun itu terdiam.
"Ayo, Semok. Lanjutin makannya, nggak usah dengerin yang ngomong macem-macem yang penting kamu sehat dan bahagia." Perempuan itu kemudian memberikan satu potong kue lagi kepada keponakannya tersebut.
"Kamu juga, harus banyak makan biar sehat dan kuat. Sekolah SMA jaman sekarang berat." Rania juga memberikan satu potong terakhir kepada Anandita dan Aksa.
"Mau gendut, mau kurus yang penting bahagia!!!" katanya lagi, dan dia melahap potongan terakhir miliknya.
💖
💖
💖
Bersambung ...
Ini banyaaaak banget yang harus diceritakan, jadi nggak cukup satu atau dua episode deh kayaknya 🤣🤣
__ADS_1
Cus lah like komen sama hadiahnya lagi. Alopyu sekebon 😘😘