The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Banyak Rencana


__ADS_3

💖


💖


"Sayang?" Suara mendayu-dayu itu menjadi yang paling sering Darren dengar akhir-akhir ini. Dan pada saat dia membuka mata, wajah cantik Kirana lah yang mendominasi pandangannya.


Pria itu tersenyum.


Maladewa menjadi saksi betapa dua sejoli ini menjalani hari-hari bulan madunya dengan begitu bahagia. Seperti tak ada hal lainnya yang mereka rasakan selain itu.


"What? Sekarang kamu mulai bosan?" Darren merangkul pundaknya yang tampak berkilauan tertimpa cahaya matahari Pantai Fulhadhoo yang mulai menghangat.


Hampir setiap hari mereka berjemur untuk menikmati suasana dan menghabiskan waktu yang tak akan mereka dapatkan di Jakarta.


Cuaca menjelang siang di salah satu pantai terkenal di Maladewa itu cukup bersahabat dan suasananya terasa menyenangkan. Sepi, sunyi dan tenang jauh dari hiruk pikuk kota.


Dengan air laut jernih biru kehijauan yang benar-benar memanjakan mata. Membuat siapa saja betah untuk berada di sana.


"Tidak, tapi dua minggu apa tidak terlalu lama?" Kirana yang menelungkupkan tubuh indahnya yang hanya berbalut bikini hampir merapat kepada Darren.


"Oh ya? Memangnya sudah dua minggu?" Pria itu membuka kaca mata hitamnya sedikit.


"Ya." Kirana tergelak.


"Oh, mengapa aku merasa jika kita baru dua hari di sini ya?" ujar Darren yang lagi-lagi membuat istrinya itu tertawa.


"Sepertinya aku sangat betah, dan bukankah di sini sangat menyenangkan?"


"Ya ya ya, benar sekali." Kirana menganggukkan kepala.


"Jadi kamu mau pulang sekarang? Padahal aku masih betah di sini." tawar pria itu kepadanya, dan dia perlahan bangkit.


"Aku akan senang sekali jika kita berlama-lama di sini. Tapi dunia nyata membutuhkanku. Dan aku rasa kamu juga." ujar Kirana.


"Hmm … kamu berbicara begitu seperti kita hidup di dunia mimpi?" Darren terkekeh, kemudian dia beranjak.


Pria itu menuruni tangga kemudian masuk ke dalam air yang membentang di sepanjang resort hingga berakhir di anjungan yang menghadap ke laut biru.


"Kirana, come!" katanya, meminta perempuan itu untuk datang kepadanya.


Kirana pun turun mengikutinya masuk ke dalam air laut yang menyegarkan, kemudian menyambut uluran tangan suaminya.


"Jika saja kita bisa selamanya seperti ini, maka aku akan menyerahkan apa pun agar bisa mewujudkannya, kamu tahu?" Darren menatap wajah cantiknya yang selalu mempesona.


Kirana tersenyum sambil mengangguk pelan.


"Dan Maldives akan menjadi salah satu tempat favoritku karena aku melewati hari-hari yang menyenangkan bersamamu." Lalu mereka bercumbu.


Udara kian menghangat seiring interaksi dua manusia yang tak pernah bosan untuk saling bersentuhan. Di mana sejak pertama kali mereka memang tidak bisa berhenti melakukannya.


Keduanya saling memagut dengan menggebu-gebu, dan perasaan yang selalu tidak terkendali. Dan mereka membiarkan gairah menguasai dengan segera.


Darren mengangkat Kirana dengan mudah, dan dia membawanya keluar dari air. Dan hanya membutuhkan beberapa langkah saja dari kolam mereka sudah tiba di dalam villa di mana mereka tinggal selama hampir dua minggu.


Pria itu membaringkannya di tempat tidur yang masih berantakan sisa pergumulan beberapa saat sebelumnya, dan dia segera mengungkung tubuh indahnya.


Darren kemudian melepaskan kain terakhir yang masih melekat di tubuh mereka, kemudian melanjutkan cumbuan yang sempat terjeda.


"Ah, Darren!" Kirana mengerang ketika alat tempur pria itu memasuki tubuhnya. Dan segera saja kedua kakinya melingkar di pinggang pria itu.


Hentakan pun berlangsung intens, dan keduanya segera terhanyut dalam suasana panas nan menggairahkan yang selalu tercipta setiap kali mereka bersentuhan.


"Oohhh!!" Tubuh Kirana menggeliat-geliat tak karuan dengan kedua matanya yang terus tertutup dan terbuka. Dia tak tahu lagi bagaimana harus berekspresi, karena ini rasanya memang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

__ADS_1


"Ohh, sayang!!!" Erangan itu menjadi semakin keras saja setiap kali Darren menambah tempo hentakannya.


Hingga setelah beberapa lama, dan ketika mereka sudah merasa hampir tak terkendali, maka hal yang selanjutnya terjadi adalah hentakan itu semakin cepat, dan keduanya sama-sama berpacu untuk mencapai pelepasan bersama. 


Dan yang mereka inginkan pun terjadi juga. Ketika hasrat sudah di ujung dan segalanya terus memaksa keluar, maka tak ada lagi yang keduanya lakukan selain membiarkan perasaan luar biasa itu meledak bersamaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ini daftar beberapa sekolah khusus kejar paket A, B dan C, juga beberapa sekolah di Jakarta yang mengadakan program yang sama, Pak." Regan menyerahkan beberapa lembar berisi nama sekolah, program, dan akreditasi khusu yang telah didatanginya selama satu minggu ini.


"Yang mana yang bagus?" Daryl menerima benda tersebut.


"Ini yang menurut saya paling bagus, Pak." jawab Regan.


"Kau yakin?" Daryl menoleh ke arah suruhannya itu.


"Yakin Pak."


"Aku mempercayakan ini kepadamu, jangan sampai mengalami kegagalan lagi." Pria itu memperingatkan.


"Kali ini saya pastikan tidak, Pak."


Lalu Daryl melihat foto beberapa bangunan sekolah dan keterangan di dalamnya.


"Bisa online kan?" Kemudian dia bertanya.


"Bisa Pak, offline juga bisa kalau Nania mau …."


Pria itu kembali menoleh dengan kilat mata yang berbeda.


"Ee … maksud saya, Bu Nania mau." Regan meralat sapaannya. Dia lupa jika gadis itu kini telah menjadi istri atasannya.


"Tidak mungkin aku membiarkan istriku keluar dari rumah." Daryl bergumam.


"Kau daftarkan saja, dan katakan kepada mereka jika Nania hanya bisa sekolah secara online."


"Baik Pak."


"Dan katakan juga kepada mereka untuk tidak memberikannya materi yang sulit."


"Umm … menurut saya di sana memang mudah-mudah Pak. Tidak seperti sekolah pada umumnya yang …."


"Katakan saja seperti itu, tidak usah mendikteku! Mau kuhajar lagi ya?" Daryl melipat salah satu lembaran kertas berisi gambar dan nama sekolah, lalu dia menunjukkannya kepada Regan.


"Daftarkan dia ke sini saja. Dari rincian harganya yang cukup mahal aku kira disini Nania akan mendapatkan ilmu yang sangat baik." Daryl mengetuk-ngetukkan jarinya di atas kertas tersebut.


"Baik Pak. Sekolah itu memang bernaung di bawah lembaga terkenal."


"Aku tidak peduli lembaga mana yang menaunginya, tapi pastikan Naniaku mendapatkan yang terbaik, kau faham?"


"Faham Pak." Regan menganggukan kepala.


"Ya sudah, cepat daftarkan. Nanti kabari aku setelah ini. Data Nania sudah ada padamu kan?" Daryl berujar.


"Sudah Pak."


"Baik, cepat kerjakan! Aku mau sore ini kau sudah mengirimkan laporannya kepadaku!"


"Baik Pak, saya pamit."


"Hmm …." Lalu Daryl kembali pada pekerjaannya, sementara Regan segera keluar dari ruangan tersebut.


"Permisi Pak?" Dinna masuk beberapa saat kemudian.

__ADS_1


"Ya?"  Dan Daryl kembali menjeda pekerjaannya.


"Semua agensi yang kita hubungi sudah menyepakati perjanjian kontrak yang kita kirim, Pak."


"Ya, lalu?"


"Kita hanya perlu bertemu dengan mereka untuk proses penandatanganannya."


"Begitu? Kapan?"


"Kalau bisa secepatnya, Pak."


"Aku tanya kapan, Dinna? Jangan membuatku pusing dengan mengatakan hal tidak pasti seperti itu!!" Daryl berujar.


"Eee … saya aturkan mulai besok, Pak? Karena hari ini tidak mungkin, kecuali jika Bapak bersedia pulang malam?"


"Tidak mungkin! Kau mau membuatku terlambat pulang ya? Enak saja!"


"Eee … itu maksud saya, Pak. Kita mulai besok saja agar selesai tepat waktu."


"Memangnya pernah aku terlambat menyelesaikan pekerjaan? Yang ada mereka yang selalu terlambat memberikan jawaban!" ucapan pria itu tak terbantahkan.


"Eee … memang benar begitu, Pak."


"Tahu sendiri kan bagaimana pekerjaanku selama ini?"


"Ya Pak." Dinna memilih mengaminkan ucapan atasannya saja demi menyelamatkan harinya. Karena jika terlalu lama mendebatnya, maka sudah dipastikan pria itu tidak akan mengalah.


"Ada berapa model yang akan kita kontrak?" Daryl kemudian bertanya.


"Sepuluh, Pak."


"Wow, banyak juga ya?"


"Itu yang sudah Bapak perkecil lagi dari awalnya dua puluh." Dinna mengingatkan.


"Kau benar. Aku rasa sepuluh sudah cukup untuk menggantikan yang pindah dan mengundurkan diri." Pria itu tergelak.


"Ya Pak, betul."


"Oh iya, mengenai perjalanan ke Moscow juga sudah saya jadwalkan. Apa Bapak tidak akan merubahnya lagi?" Dinna meneruskan pembicaraan.


"Tidak, sebelum Nania masuk sekolah kami sudah harus pergi kan?"


"Kira-kira kapan sekolahnya dimulai, Pak?"


"Belum tahu, kan Regan baru saja akan mendaftar siang ini."


"Baik kalau begitu, jadi kita hanya perlu menunggu mereka menyelesaikan penandatanganan kontrak besok. Sehingga Bapak bisa pergi setelahnya?"


"Ya, kalau tidak ada lagi yang harus aku kerjakan, maka aku akan segera pergi."


"Tidak Pak, hanya itu saja."


"Hmm … baiklah kalau begitu."


💖


💖


💖


Bersambung ...

__ADS_1


Mau apa ya ke Moscow?😂😂😂


__ADS_2