
💖
💖
Satu minggu kemudian ….
PLAAKK!!
Telapak tangan pria itu kembali mendarat di bokong Nania setiap kali dia melintas di belakangnya. Membuatnya menghentikan kegiatan untuk sejenak.
Perempuan itu mendongak sambil meniupkan napas di udara dan menunggu hal itu akan kembali terjadi saat suaminya melintas lagi dengan botol minumnya di tangan.
Tangannya kembali menyentuh bokong, namun kali ini dia sedikit merem*snya sehingga tubuh Nania menegang.
"Dadd!!" Perempuan itu memekik, sementara Daryl tertawa keras.
"Eh, ada yang lupa." Lalu pria itu kembali lagi dan melakukan hal yang sama dan Nania hanya mendelik.
Dan pada saat suaminya tersebut kembali melintas, Nania pun memutar tubuh untuk mencegahnya melakukan hal sama. Dan Daryl memang tak melakukannya.
Namun, dia berhenti tepat di depannya sambil tersenyum.
"Apa Baby?" katanya dengan cengiran yang menyebalkan di mata Nania.
"Awas!" ancam perempuan itu sambil mengacungkan kepalan tengannya.
"Ugh! Galaknya …." ucap pria itu yang meraih bu*h d*da Nania dan merematnya dengan gemas. Lalu dia berlari sambil tertawa.
"Daryl!!" Membuat perempuan itu berteriak kemudian mengejarnya.
Ruangan di dalam rumah menjadi tempat dua manusia itu saling mengejar. Bantal-bantal di sofa berhamburan karena Nania lemparkan kepada suaminya yang tak mampu dia dapatkan.Â
"Stop it! What are you doing? Ingat kamu lagi hamil, Malyshka!" Daryl akhirnya menyerah.
"Kamu nyebelin!"
"Aku kan mau olahraga!"Â
"Olahraga ya olahraga. Tapi nggak gitu juga!" jawab Nania yang hampir melempar bantal terakhir di sofa.
"Apa Sayang?" Daryl tergelak.
"Sana cepat olahraga! Aku mau masak!" usir Nania kepada suaminya.
"Ya, kan ini juga mau. Tapi kamu malah mengejar-ngejar aku?"
"Kalau kamu nggak cari gara-gara juga aku nggak akan begitu!"
"Ya, baiklah. I'm sorry!" Pria itu mengatupkan kedua tangannya di depan wajah.
"Sorry sorry, tapi setiap hari pukul-pukul terus. Megang-megang terus. Sakit tahu!" Nania menggerutu.
"Because i like it!"
"Aarrgghh! Sana pergi!!" ucap Nania lagi dan dia benar-benar melempar bantal dengan kesal, bersamaan dengan pria itu yang berlari keluar dari rumah sambil tertawa, kemudian cepat melesat ke bangunan lain tempatnya biasa berolahraga.
"Ini ada apa sih, Tan? Berantakan banget. Berantem ya sama Om Daryl?" Anandita masuk ke dalam rumah begitu dia tiba di kediaman kakek neneknya.
"Nggak." Nania yang kembali disibukkan oleh kegiatan dapurnya.
Menyelesaikan acara masaknya yang memang sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari.
"Kok rumahnya berantakan?"
"Ck! Biasalah Om kamu tuh lagi rese," jawabnya yang mengambil satu sendok makanan yang sedang diolahnya, kemudian dia berikan kepada sang keponakan.
"Mmm … enak kayak biasanya." Anandita mengangguk-angguk setelah mencoba makanan tersebut.
"Banyak amat? Ini dari pagi masaknya?" Gadis itu menatap meja makan yang sudah dipenuhi wadah yang diisi berbagai jenis makanan buatan tantenya.
Ada semacam daging berbumbu merah, ayam kecap, sayuran berwarna-warni, goreng kentang, dan bahan lainnya yang diolah hingga terlihat menggugah selera. Bahkan puding dengan warna menggoda dan beberapa bungkus camilan juga sudah siap di meja.
"Iya." Nania mematikan kompor setelah masakan terakhirnya matang.
__ADS_1
"Sendiri?" Anandita mendekati meja makan.
"Ya sendiri, emangnya sama siapa lagi?" Nania memindahkan masakan barusan ke wadah kosong yang sudah tersedia.
"Ada Mbak Mima atau yang lainnya?"
"Masak sendiri lebih afdol, dan rasanya sangat menyenangkan. Apalagi nanti kamu bisa lihat ekspresi orang yang makan masakan kamu. Itu kayak lebih dari perasaan kalau kamu dapat duit banyak." Nania menjelaskan.
"Masa sih?"
"Serius. Coba aja."
"Ogah ah, capek." ujar Anandita dengan asal.
"Dih, dia belum tahu rasanya kalau apa yang kita kerjain dihargai sama orang. Bukan soal uang, tapi soal kesenangan."
Anandita tertawa.
"Serius deh, nanti kamu bakal nemu perasaan kayak gitu biar cuma ngerjain hal kecil."
Sang keponakan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Oh iya, Arkhan nggak ikut lagi?" Nania menatap ke arah rumah besar milik mertuanya.
"Nggak."
"Kirain waktu itu dia minat juga ikutan ngajar di rumah baca, tahunya cuma nganter kamu ya?"
"Gitu deh."
"Ya, kalau anak laki-laki sih emang agak susah. Rasa empatinya sulit dibangun apalagi masih seumuran Arkhan."
"Hu'um. Soalnya dia lagi anteng ngekorin Kak Galang terus."
"Masa? Minggu ini touring ke mana lagi?"
"Cuma ke Bandung sih sambil mudik. Nanti mereka pergi, terus Kak Ara sama anak-anak ditinggal di rumah ibunya Kak Galang."
"Ooo …." Kini Nania yang mengangguk-angguk.
"Hah? Rega?"
"Ya."
"Rega, apa Regan?" Nania bertanya.
"Rega, adiknya Tante Rania yang jadi pemain bola."
"Ooo … ada ya? Kok namanya sama kayak Regan?" Nania tertawa.
"Ada, dia main di klub sepakbola sana."
"Hmmm … udah main di klub?"
"Udah. Keren ya? Kakaknya pembalap adiknya pemain bola. Mana main di klub terkenal lagi? Tahun ini juga katanya main di timnas U23. Gimana nggak bangga orang tuanya?"
"Iya iya, bener."
Kemudian mereka berdua membereskan apa yang telah dibuat sejak pagi.
"Tunggu sebentar ya, aku mau mandi dulu, udah gerah. Nanti kalau Regan dateng minta beresin ini ke mobil, oke?" Nania menjelaskan.
"Om Regan?"
"Iya, Om Regan. Siapa lagi?" Lalu dia tertawa. "Rasanya aneh deh manggil dia Om. Emangnya kelihatan udah om-om ya?" ucapnya.
"Nggak juga sih, tapi aku manggilnya gitu."
"Hmm …."
"Dia udah nikah belum?" tanya Anandita tiba-tiba, yang menghentikan langkah Nania di tangga.
"Hah?"
__ADS_1
"Eeeee … maksud aku, dia kelihatannya kayak yang udah nikah gitu? Ahahaha … persis. Ya." Gadis itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Kenapa aku tanya soal itu ya? Batinnya.
"Nggak tahu, dan nggak pernah tanya juga. Mau aku tanyain?" ucap Nania.
"Eee … nggak usah, nggak usah. Ahaha … kenapa harus tanya juga? Kan bukan urusan aku. Hahaha." Anandita tertawa canggung.
"Ya mungkin kamu mau tahu? Nanti deh aku tanyain."
"Eh, nggak usah Tan, jangan! Nggak penting ih, nanti aku dikiranya ada apa-apa lagi kan nggak enak. Mm … lupain aja yang udah aku tanyain ya, kalau ketahuan Papa bisa salah paham lagi kayak minggu kemarin?"
"Hmm …." Nania memicingkan matanya.
"Beneran ih, udah sana cepat mandi. Anak-anak di rumah baca nungguin kita lho." Sang keponakan mengingatkan.
"Oh iya, ya ampun sampai lupa." Lalu Nania bergegas melanjutkan niatnya untuk membersihkan diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ehmm …." Terdengar dehaman dari luar ketika Anandita tengah membereskan kekacauan di ruang tengah.
Dan saat dia mengalihkan pandangan ke arah pintu yang terbuka, maka sosok Regan lah yang mendominasi.
"Ngapain berdiri di situ?" Dia meletakkan bantal terakhir lalu berjalan ke arah pintu.
"Apa … masakannya sudah selesai?" Regan menatap ke dalam rumah.
"Udah." Anandita menjawab.
Dia menatap pemandangan di depan teras di mana pria itu berdiri. Hanya mengenakan pakaian santai berupa kaus berlapis jaket bomber dan celana jeans hitam dipadukan dengan sepatu kets.
Rambut hitamnya berkilauan diterpa cahaya matahari pada hampir siang itu, membuatnya tampak seperti berpendar.
"Kalau begitu, bisakah kamu bawa kemari agar saya membereskannya ke mobil?" ucapan pria itu membuyarkan lamunannya.
"Umm … kenapa nggak ambil sendiri ke dalam?" jawab Anandita seraya bergeser ke samping untuk memberinya jalan.
Regan terdiam menatapnya sebentar.
"Pak Daryl di mana?" Lalu dia bertanya karena tak melihat keberadaan atasannya.
"Nggak tahu, kayaknya ngegym. Dari tadi nggak ada." Gadis itu menatap ke arah ruang olah raga.
"Begitu? Baiklah." Namun pria itu tak beranjak dari tempatnya berdiri. Dia sedang berpikir untuk menghindari kesalahpahaman yang mungkin akan terjadi lagi, terutama karena tak ada orang lain di sana.
"Lagi nunggu apa?" Namun tak berapa lama Nania turun dari kamarnya dalam keadaan sudah rapi.
"Makanannya udah di beresin?" Perempuan itu bertanya.
"Dari tadi dibilangin, tapi nggak masuk-masuk." Anandita menjawab sambil melenggang ke arah meja makan.Â
Dia mengambil beberapa wadah yang sudah dimasukkan ke dalam keranjang agak besar agar kemudian bisa dibawa. Sementara Regan mengikuti dari belakang.
"Ini mungkin …." Mereka hampir saja bertabrakan ketika gadis itu berbalik, namun Regan sudah siap. Dia lantas menahan keranjang berisi kotak makanan dan mengalihkan pada genggamannya.
"Saya bawa dari sini." katanya, yang segera membawa keranjang tersebut keluar rumah.
"Ehmm …." Nania berdeham untuk mengalihkan perhatian keponakannya yang tampak melamun sambil menatap punggung pria itu.
"Umm … kita mau pergi sekarang?" Anandita sedikit tergagap.
"Boleh, udah beres kok. Tunggu aku pamit sama Om Der ya?"Â
"Om Der nggak akan ikut?"
"Nggak, makanya aku minta Regan yang antar." Nania bergegas ke ruang olahraga.
"Oke." Sementara Anandita keluar dari rumah.
💖
💖
__ADS_1
💖
Bersambung ....