
💖
💖
Darren memastikan penampilannya sudah sempurna. Kemudian dia bergegas mendatangi kamar saudara kembarnya.
"Kau bisa?" Pria itu masuk dan mendapati Daryl yang seperti biasa, mengalami kesulitan dengan kancing kemejanya, membuatnya yang lahir beberapa menit lebih dulu itu bersungut-sungut.
"Nanti Nania akan mengurusmu, dan dia yang akan menggantikanku melakukan ini setiap pagi. Akhirnya kau dapat pengasuh lagi!" Darren terkekeh.
"Kau jangan marah-marah terus! Nanti dia tidak mau melayanimu." katanya lagi.
"Dia sudah tahu aku bagaimana." Daryl menjawab.
"Yeah, tapi tetap saja kan?" Darren memastikan segalanya terpasang dengan benar. Begitu pun sepatunya yang talinya dia ikatkan, mungkin untuk yang terakhir kalinya.
Ada sedikit rasa tidak rela. Ketika kau akan melepas saudaramu untuk hidup bersama orang lain, dan membiarkannya mengurus dirinya sendiri. Padahal selama ini dia tak bisa hidup tanpamu.
Mengenakan seragam sekolah, mengikat tali sepatu, bahkan terkadang untuk menyisir rambutnyapun dirinya yang melakukan. Tapi mungkin mulai besok orang lain yang akan mengurusnya.
Darren menyeka sudut matanya yang basah dan memanas. Dia tak percaya mereka telah tiba pada saat ini.
"Kau ini menangis?" Daryl sedikit mendorong bahunya.
"Kau percaya kita bisa seperti ini? Karena aku masih tidak percaya." Darren menatap wajah sang kakak.
"Ya, tapi ini memang nyata."
"Kau tidak merasa terharu ya? Kita kan mau menikah?"
"Kau bercanda ya? Aku hanya merasa gugup sekarang ini. Hahaha." Namun Daryl malah tertawa.
"Sialan! Perasaanmu terbuat dari apa sih?" Lalu Darren menepuk dada sang kakak.
"Apa kalian sudah siap?" Satria dan Dimitri masuk ke ruangan itu. Mereka juga sudah siap dengan setelan jas berwarna cream seperti yang dikenakan dua calon pengantin.
"Sudah, Pih."
"Baik. Dengarkan!" Pria itu siap untuk memberikan nasehat pernikahan kepada dua putranya.
"Hidup baru akan dimulai setelah ini, dan kalian akan menjadi pemimpin bagi keluarga masing-masing. Dan tidak ada yang boleh menginterupsi itu sama-sekali."
"Perlakukan istri kalian dengan baik, dan tidak boleh membiarkan apa pun terjadi kepadanya. Ingat, dia adalah anak dari seseorang yang kalian ambil dengan cara yang paling mulia."
"Sejatinya, pernikahan itu adalah hal paling baik dan paling mulia yang merupakan puncak hubungan antar sesama manusia, dan kalian beruntung karena mendapatkan perempuan-perempuan pilihan. Jadi, jagalah itu."
Dua calon pengantin menganggukkan kepala.
"Baik, kewajiban Papi selaku orang tua sudah dijalankan. Sekarang, tinggal kalian yang menjalani. Semoga kebaikan terus mengiringi kalian."
"Iya Pih."
"Dim, any advice?" Satria beralih kepada putra pertamanya.
"Hanya … jangan pernah membantah permintaan perempuan kalau kau mau hidupmu aman dan kesejahteraanmu terjamin." ucap Dimitri yang membuat ayah dan kedua saudaranya tertawa.
"Aku serius. Pokoknya jangan berani melakukannya, atau kau dan naga ajaibmu dalam bahaya."
"Itu sih Kakak yang istrinya gladiator. Kalau aku nggak mungkin!" Daryl menjawab.
__ADS_1
"Hey, para istri akan menjadi gladiator pada waktunya. Tunggu saja!"
"Nggak mungkin!"
"Terserah kalau tidak percaya."
"Kalian sedang apa sih? Kenapa lama sekali?" Sofia masuk untuk memeriksa.
"Hanya bicara, Mom." Satria menjawab.
"Ah, jagoan-jagoanku, kalian tampan sekali!!" Perempuan itu mengarahkan kamera ponsel pada suami dan ketiga putranya. Kemudian dia mengambil gambar empat pria itu yang tampak sempurna.Â
"Ayo ayo cepat!! Kita tidak mau terlambat kan? Kasihan calon istri kalian sudah menunggu!!" Lalu dia menarik pria-pria itu keluar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nania menatap dirinya sendiri di cermin. Gaun yang sangat indah sudah menempel di tubuhnya, persis seperti yang Kirana kenakan. Riasan wajah yang sempurna, juga tatanan rambut yang tak kalah cantiknya dari perempuan di sampingnya yang sama-sama sedang mengagumi dirinya sendiri.
Pagi-pagi sekali dua calon mempelai perempuan ini sudah berada di sebuah hotel bintang lima yang berada di pusat kota Jakarta. Yang secara kebetulan merupakan milik Arfan dan Dygta.
The Spring, yang akan menjadi tempat digelarnya acara pernikahan dari dua putra Nikolai. Yang sudah disulap menjadi negeri impian bagi pengantin.
"Kamu percaya ini? Kita menikahi dua saudara di hari dan waktu yang sama?" Kirana berujar.
"Buat aku, ini kayak mimpi. Rasanya mustahil jadi nyata." Nania menyahut.
"Tapi ini benar-benar terjadi, kan?" Kirana terkekeh. "Oh, aku gugup sekali, apa kamu tidak?"
"Kakak bercanda ya? Aku lebih dari gugup. Kaki aku gemeteran ini." Nania sedikit menyingkap bagian bawah gaunnya, membuat Kirana tertawa.
"Nanti jangan panggil aku Kakak, karena kamu kan istri Kakak iparku." Kirana berujar.
Seseorang mengetuk pintu dari luar, kemudian masuk.
"Nona-nona, apa kalian sudah siap?" Seorang staff dari wedding organizer pun masuk.
"Sudah."
"Baik, mari kita mulai acara ini!" Katanya, yang diikuti beberapa staff lainnya.
"Apa mereka sudah tiba?" Kirana bertanya.
"Ya. Mereka baru saja sampai."
"Oke."
Ballroom The Sping sudah dipenuhi oleh para kerabat yang mengantar pengantin, juga undangan yang sengaja datang untuk mengikuti acara ijab kabul pada pagi itu.
Anggota keluarga utama, juga pendamping pengantin tampak seragam dengan pakaian berwarna senada. Belum lagi dekorasi ruangan yang sangat menakjubkan membuat suasana khidmat itu menjadi semakin menyenangkan.
Daryl dan Darren berdiri di sisi kanan meja di mana penghulu sudah menunggu begitu kedua mempelai perempuan keluar dari tempatnya.
Tak ada basa-basi atau sambutan terlalu lama, dan mereka segera pada acara intinya.
Darren segera maju menghampiri Kirana, dan menuntunnya ke tempat duduk. Sementara Daryl tertegun sebentar menatap Nania yang pagi itu tampak berbeda. Kemudian tersenyum. Dan dia melakukan hal sama seperti saudaranya, menuntun gadis itu ke sisi lain di mana penghulu sudah menunggu.
"Bajumu indah tapi aku tidak terlalu suka." Pria itu berbisik.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Terlalu terbuka."
Nania memutar bola matanya.
Padahal ibunya sendiri yang memilihkan ini. Batinnya.
"Tapi kamu cantik sekali!" katanya, kemudian terkekeh.
Nania menggelengkan kepala. Lalu dia menatap ke sekeliling di mana puluhan orang sudah berkumpul. Yang sebagian besar adalah kerabat dari keluarga Nikolai yang berbaur dengan keluarga besar Kirana.
Lalu dia menoleh ke arah kiri di mana ibunya berada, bersama Hendrik yang dijemput beberapa saat sebelumnya.
Nyalinya sedikit menciut ketika dia membandingkan keadaan tersebut, di mana Kirana didampingi orang tua dan semua anggota keluarga. Semetara dirinya?
Nania menoleh lagi, dan dia mendapati ketiga teman kerjanya di kedai berada di belakang ibunya. Amara bersama Galang, kemudian rombongan emak-emak reader yang sengaja datang untuk mendukungnya seperti yang mereka lakukan setiap hari.
Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman. Setidaknya ada yang menemaninya selain Mirna.
"Baik, Anda sudah siap?" Penghulu berujar setelah mengatakan beberapa hal terkait pernikahan dan hubungan antara keluarga dan suami istri.
Juga menatap beberapa saksi yang duduk di sekitar mereka. Arfan yang duduk disamping Darren, sementara Dimitri disamping Daryl.
"Karena saudari Nania selaku mempelai perempuan sudah tidak memiliki wali, maka hak perwalian itu kami ambil alih sesuai dengan persetujuan keluarga." Pria itu berujar.
"Ananda Daryl Stanislav Nikolai, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Ananda Nania Arsyad Binti Bapak Asyad dengan mas kawin sertifikat kepemilikan rumah atas nama Bapak Arsyad dibayar tunai."
Nania terhenyak, dan dia segera menoleh kepada pria itu yang tangannya berjabatan dengan penghulu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Nania binti Bapak Arsyad dengan mas kawin tersebut, tu-nai." Daryl mengucapkan akad dengam begitu lancar seolah dia sudah berlatih sebelumnya.
Lalu segera disambung oleh pendamping penghulu lainnya yang duduk bersama ayah Kirana di depan Darren.
"Anakku Darren Volodya Nikolai, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya Kirana Larasati Binti Adisatya dengan mas kawin rumah beserta isinya dan sertifikat hak milik dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Kirana Larasati Binti Bapak Adisatya dengan mas kawin tersebut, tunai." Darren pun mengucapkan hal yang sama.
"Saksi sah?"
"SAHHH!!!" Semua orang di ruangan itu berteriak nyaring, diikuti riuhnya tepukan kegembiraan.
Mereka semua bernapas lega, meski Nania masih membeku di tempat duduknya.
"Oh, … anak-anakku sudah menikah semua!!" Sofia menyeka air matanya dengan tisu untuk ke sekian kalinya. Sementara Satria tertawa begitu gembira.
"Jangan menangis, Sayang. Ingat nanti keriput di sudut matamu bertambah!" Satria berbisik.
"Oh, aku tidak peduli lagi! Anak-anakku sudah menikah sekarang. Mau bertambah berapa banyakpun tidak apa!" jawab Sofia yang kembali menyeka air matanya.
💖
💖
💖
Bersambung ....
Mau nangis, tapi bahagia. Huaaaaaa .... Akhirnya mereka nikah juga!!ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Kirim lagi hadiahnya!!
__ADS_1