The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Dua Rumah


__ADS_3

💖


💖


"Dengar, Nna. Bukan maksudku untuk berkata buruk tentangmu atau keluargamu. Karena kita sudah sama-sama tahu bagaimana keadaannya. Kamu bahkan lebih tahu dari aku. Coba, menurutmu apa aku salah jika ingin istriku baik-baik saja?" Daryl duduk di sofa, di mana Nania tengah mengenakan hoodienya.


"Aku takut sesuatu terjadi kepadamu, karena yang kamu hadapi bukan orang normal. Melainkan orang gila." 


Ucapannya membuat Nania menoleh dengan tatapan nanar.


"Aku tidak sedang mengatai ibumu, tapi suaminya." Daryl menjelaskan maksudnya.


"Jadi aku mohon, mengertilah Malyshka!" Pria itu meraih tangannya kemudian menarik Nania ke pelukan.


Hal ini harus secepatnya diselesaikan agar tidak berlarut-larut dan mengacaukan rumah tangga mereka, karena pada kenyataannya tidak ada masalah serius yang menjadi ganjalan dalam hubungan suami istri ini selain gangguan keluarga Nania.


"Tapi itu kan ibu aku." Nania dengan suara parau dan dia hampir kembali menangis.


Sebenci-bencinya dia, dan semarah-marahnya Nania kepada Mirna, tapi dia adalah ibunya. Perempuan yang telah mengandung dan melahirkannya dan merawatnya meski tak sebaik ibu lainnya. Tapi berkat dia lah dirinya bisa lahir ke dunia.


Siapa pun tidak bisa memilih untuk menjadi anak siapa atau lahir di keluarga mana, karena segalanya telah ada yang mengatur. Dialah Sang Maha Pencipta itu sendiri yang telah mengatur bagaimana manusia diciptakan dan seperti apa perjalanan hidupnya.


"Tidak ada yang mengatakan jika dia bukan ibumu, begitupun aku." Daryl menjawab.


"Terus kenapa kamu nggak ngerti-ngerti?"


"Aku mengerti, tapi lihat siapa yang ada di belakangnya? Jika ibumu hanya sendiri maka aku akan membebaskanmu untuk melakukan apa saja dengannya. Memberikan apa yang dia butuhkan tanpa memberikan batasan kepadamu. Tapi ini?"


"Perempuan seperti dia sudah tidak bisa diselamatkan jika dirinya memang tidak ingin. Dia sudah terbiasa hidup seperti itu. Melakukan pemerasan lalu memberikan hasilnya kepada mereka dan seperti itu seterusnya. Jika ibumu berpikir benar, maka dia akan berusaha melepaskan diri dari suaminya apapun caranya. Tapi otaknya sudah dicuci habis-habisan dan dia mungkin tak bisa berubah lagi."


"Makanya kita harus selamatin ibu." Lalu Nania berujar.


"Aku harus sering ketemu ibu untuk bicara soal ini. Aku yakin ibu akan berubah, tadi aja bicaranya udah nggak sekeras dulu. Ibu punya sedikit rasa malu untuk minta tolong makanya aku nggak tega. Kalau aja Om Hendrik nggak ambil uangnya, ibu nggak bakalan berani minta sama aku." Buliran bening meluncur begitu saja dari netranya.


Membuat hati Daryl yang semula merasa kesal luluh seketika. Dia menghembuskan napas pelan lalu menariknya ke pelukan.


"Come …." Pria itu lantas memeluknya.


"Berarti masalahnya memang dari pria itu, benar?" Dia berusaha untuk tetap objektif.


"Iya. Sebelum nikah sama Om Hendrik ibu nggak sekeras ini. Ibu emang kadang galak dan pilih kasih, tapi nggak sekejam itu." Nania ingat ketika Mirna sebelum bersama Hendrik.


"I see." Daryl mengangguk-anggukkan kepala.


"Jadi kalau dijauhin dari Om Hendrik, ibu pasti berubah lagi." Nania mulai melunak. Dia bahkan seperti anak kecil yang sedang mengadu kepada ayahnya.


"Baik, kita akan menangani dari akar masalahnya saja ya?" Pria itu semakin mengeratkan pelukannya ketika Nania melilitkan tangan pada tubuhnya.


"Hu'um." Nania mengangguk.


"Baik, kalau begitu besok kita lihat ke rumah ibumu ya?" ujar Daryl yang membuat Nania mendongak.


"Ke rumah ibu?" Perempuan itu membeo.


"Ya, berkunjung ke rumah ibumu."


"Kamu mau?" Mata nania berubah binarnya mendengar ucapan pria itu.


"Ya, tentu saja. Ibumu juga ibuku, kan? Kita lihat keadaannya agar bisa memutuskan langkah apa yang bisa diambil untuk menyelamatkannya."


Bibir perempuan itu melengkung membentuk sebuah senyuman.


"Doakan saja aku tidak emosi jika nanti berbicara dengannya." lanjut Daryl yang membuat Nania menepuk dadanya cukup keras.


"Aww! Sakit, Malyshka!" Pria itu berlagak kesakitan.


"Kamu nyebelin!"

__ADS_1


"Nyebelin begini juga sangat mencintaimu." Daryl semakin mengeratkan pelukannya. 


"Dasar gombal!"


"Hanya kepadamu aku berani gombal."


"Ya awas saja kalau berani sama orang lain." ancam Nania dan dia mencubit dada suaminya.


"Tidak berani, Mommy. Bisa kiamat duniaku jika aku begitu. Karena bukan hanya kamu yang aku hadapi." Daryl meraih tangan Nania dan menautkan jari mereka, kemudian mengecupnya dengan lembut.


"Siapa lagi? Aku kan cuma sendiri?"


"Tidak sadar ya? Ada Mama, Papi, Rania, Ara dan yang lainnya."


"Tapi mereka kan keluarga kamu."


"Tetap saja, jika aku yang menyakitimu, maka mereka akan jadi pasukan terdepan yang menghajarku."


"Masa?"


"Believe me."


Nania menatap wajah suaminya kemudian tersenyum.


"Tidak sedih lagi sekarang?" Pria itu mendekatkan wajahnya.


"Sedikit."


"Jadi, apa aku boleh menciummu?"


"Emangnya sejak kapan kamu butuh izin? Sebelum jadian aja udah berani cium-cium aku apalagi sekarang." Daryl terkekeh lalu dia benar-benar mendaratkan ciuman pada bibir perempuan itu.


Dia merasa lega karena mampu menyelesaikan masalah ini tanpa drama pertengkaran berarti.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Semangat bener?" Asha menatap Anandita yang baru turun dari kamarnya. Sabtu pagi gadis itu sudah siap dengan kegiatan akhir pekannya. Apalagi kalau bukan mengajar bahasa di Rumah Baca Nania.


"Apa yang kamu bawa?" Arfan bertanya.


"Buku-buku cerita, alat tulis yang nggak kalau pakai, penggaris, sama yang lain-lainnya." Gadis itu duduk di kursinya setelah sang ibu mengisi piringnya dengan makanan.


"Kamu serius ya ikut kegiatan di rumah bacanya Nania?" Dygta ikut berbicara.


"Serius lah, Mom. Masa nggak serius? Anak-anaknya setiap minggu nambah terus."


"Di lingkungan itu banyak yang tidak sekolah?" Arfan antusias.


"Nggak juga sih. Tapi dari lingkungan lain. Malah, ada anak jalanan juga yang mau ikut. Jadi, ada yang sebelum ngamen mereka tuh belajar dulu. Seneng deh lihatnya." Anandita menjelaskan.


"Ngamen?" Dygta yang hampir memulai kegiatan makannya berhenti sejenak.


"Iya, ngamen. Sambil bawa gitar kecil gitu, atau kecrekan. Malah ada yang sambil bawa kostum badut. Tapi semangat belajarnya mereka tuh tinggi banget, biarpun nggak sekolah mereka tetep mau bisa baca tulis sama berhitung. Keren kan?"


Arfa dan Dygta saling melirik.


"Jadi kegiatan itu bukan hanya taman bacaan?" Arfan bertanya lagi.


"Bukan. Ada les gratisnya juga, kan aku udah kasih tahu Papa?"


"Papa pikir tidak seserius ini, Ann."


"Udah aku bilang serius, dan ini positif. Benar-benar sangat bermanfaat."


Arfan mengangguk-anggukkan kepala. Kini dia yakin bahwa putrinya memang mengikuti kegiatan yang cukup bagus, dan hal itu bermanfaat juga untuk pengembangan dirinya. Karena selain memanfaatkan waktu luang, dia juga melatih empati dan kepeduliannya terhadap sesama. Dan bergaul dengan Nania membuatnya menjadi pribadi yang lebih berempati.


"Arkhan tidak tertarik untuk ikut?" Lalu Arfan beralih kepada putranya yang juga sudah siap dengan jaket kulit da kunci motornya.

__ADS_1


"Ikut apa?" Dia meletakan benda tersebut di meja.


"Kegiatan di Rumah Baca Nania."


"Ogah. Sabtu Minggu aku sibuk." Pemuda tampan itu memulai kegiatan makannya setelah sang ibu mengisi piringnya juga.


"Sibuk apaan? Paling motor-motoran?" Saudari kembarnya mencibir.


"Bukan cuma motor-motoran, ih." tukas Arkhan.


"Terus apaan?"


"Lebih dari itu."


"Paling touring."


"Sok tahu kamu!" Arkhan menarik ujung rambut kembarannya itu dengan keras.


"Aww! Papa, Arkhan gitu lagi!" Membuat Anandita bereaksi.


"Arkhan?!" Dan Arfan pun menatapnya dengan tajam.


"Eh, maaf. Maksudnya aku mau ngelus rambut kamu. Halus deh, wangi lagi." Remaja itu tertawa.


"Jadi kamu tidak akan ikut Ann?" Arfan bertanya lagi.


"Nggak lah, aku mau ke rumah Kak Galang aja. Biasa besok pulang sore ya Pah?" jawab Arkhan.


"Hmm … ikut-ikut Kak Galang terus. Kakak kayak anak sulungnya Kak Galang kalau gitu?" Asha ikut berbicara.


"Ya biarin, daripada kamu anak bontot yang suka makan, sukanya di rumah terus. Gimana nggak gendut?" jawab Arkhan kepada Asha.


"Aku nggak gendut!" Sang adik berteriak.


"Asha?" Arfan mencoba menghentikannya.


"Eh iya lupa, kamu nggak gendut. Tapi semok!" sambung Arkhan sambil tertawa.


"Papa!!!" Asha mengadu kepada ayahnya.


Dan Arfan hampir saja membuka mulutnya untuk berbicara ketika Arkhan meralat ucapannya.


"Gemoy Sha, gemoy." katanya yang bangkit lalu mencubit pipi adiknya dengan gemas setelah dia menyekesaikan makannya dengan cepat.


"Iihhh, Kakak!!"


"Aku pergi ya Pah, Mom. Cek aja sama Kak Galang kalau takut aku bohong. Suwer." Dan Arkhan pun mencium punggung tangan kedua orang tuanya untuk berpamitan.


"Dah Aksa, asuh Asha yang bener ya? Kakak mau jalan dulu." Lalu dia mengacak rambut Aksa yang jarang ikut berbicara.


"Tunggu Ar, aku ikut." Anandita pun buru-buru menghabiskan sarapannya kemudian melakukan hal yang sama.


"Tidak mau Papa yang antar?" Arfan kembali bereaksi.


"Nggak usah, Pah. Sama Arkhan aja biar cepet." Gadis itu meraih kotak kardusnya.


"Arkhan, tunggu!!" Anandita bergegas mengikuti saudara kembarnya.


"Cepetan dong, yaelah … lelet amat sih?" Terdengar mereka berdebat diluar. Sementara Arfan menatap pintu yang sudah tertutup rapat.


Hmm … anak-anakku memang sudah besar. Batinnya berbicara.


💖


💖


💖

__ADS_1


Bersambung ...


Selamat malam Minggu 😘😘


__ADS_2