
💖
💖
Lembaran kertas bergambar pakaian Daryl masukkan ke dalam map khusus yang dia bawa dari rumah. Sengaja, pria itu menyediakannya untuk Nania yang sudah beberapa hari menjalani terapi, dan gambar-gambar desain tersebut adalah hasilnya.
"Oh, crayon aku habis!" Zenya menunjukkan alat pewarnanya kepada perempuan itu.
"Nanti minta Om Der beliin." sahut Anya yang melirik kepada pamannya.
"Iya, nanti beli dengan toko-tokonya sekalian biar kalian bebas mau ambil seberapa banyak juga." Pria itu pun menjawab.
"Kenapa nggak sama pabriknya? Kalau Papi pasti beli sama pabriknya lho, Om?" Anya menjawab ucapan sang paman.
Daryl memutar bola matanya, lalu dia menutup laptop setelah menyelesaikan pekerjaan.Â
Sudah beberapa hari ini, setiap tengah hari sebelum istirahat dia sengaja menjemput Anya dan Zenya di sekolah untuk kemudian dibawa ke klinik tempat Nania menjalani perawatan kejiwaannya.
Dan itu memang berhasil, kemajuan mulai terlihat setelah beberapa hari proses dan Nania mulai membuka diri. Apalagi hari Sabtu begini Daryl bersama dua keponakannya sengaja berkunjung sejak pagi dan seharian ada di sana.
"Ayo, kalau sudah selesai alat tulis dan gambarnya dibereskan. Sudah sore." Daryl melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul empat sore.
"Yah, kirain masih siang?" Zenya dengan raut kecewa.
"Sebentar lagi ya?" Anya menambahi.
"Sudah sore. Nanti papi kalian marah kalau pulang terlalu sore, dan akhirnya tidak diberi izin pergi lagi." Daryl menjawab.
"Hmm …." Namun Zenya mengerucutkan mulutnya.
"Jangan begitu, kamu kelihatan jelek." Pria itu tertawa.
"Ayo, Malyshka. Aku antar kamu ke kamar?" Lalu dia bangkit dan membereskan alat gambar milik Nania. Dan perempuan itu pun bangkit seperti biasa.
"Kalian tunggu di sini, dan jangan ke mana-mana oke? Om antar Tante Nna dulu."
"Bye Anya, bye Zen?" Nania melambaikan tangan, namun kedua bocah itu malah turun dan memeluknya secara bersamaan.
"Bye Tante, cepet sembuh ya biar bisa pulang? Nanti kita menggambarnya di rumah." Mereka mendongak.
Nania hanya tersenyum sambil mengangguk. Lalu dia berjalan ke arah unit di mana ruang perawatannya berada, sementara Daryl berjalan mensejajarinya.
***
"Permisi, Pak? Kalau sudah selesai bisa lapor seperti biasa agar kami memastikan semuanya aman." Perawat hampir keluar setelah dia memeriksa keadaan Nania.
"Baik, Suster." Daryl mengangguk, lalu dia beralih kepada Nania setelah perawat pergi.
"Yakin belum mau pulang sekarang?" Kemudian dia bertanya.
Nania menggelengkan kepala.
"Kamu belum merasa lebih baik?"
"Iya."
"Baiklah kalau begitu." Daryl menatapnya setelah mendapat jawaban yang sama seperti sebelum-sebelumnya.
"Kamu baik-baik aja, kan?" Lalu kini Nania yang bertanya.
"Ya, aku baik." Dan pria itu menjawab.
"Kerjaan kamu gimana? kan lebih sering ke sini sekarang?" Perempuan itu mulai lebih banyak bicara sekarang. Dan hal tersebut membuat Daryl merasa lega. Setidaknya ada kemajuan setelah mengusahakan segala hal.
"Itu bisa diatur. Ada beberapa orang yang bekerja, dan jangan lupakan juga Regan." Daryl pun tersenyum.
"Regan?"
"Ya." Pria itu mengangguk.
"Aku udah lama nggak ketemu Regan."
__ADS_1
"Yeah, dia sibuk mengurus pekerjaan ku kan?"
"Hmm …."
"Baik, kamu harus istirahat kan? Jadi aku akan pergi saja sekarang."
Nania mengangguk lagi.
"Kamu janji akan baik-baik saja, bukan?" Pria itu mendekat kepadanya yang sudah duduk di tepi ranjang.
"Iya."
"Baik, cepatlah pulih agar bisa pulang. Rumah sepi tanpamu." Lalu dia meraup wajah Nania dan membingkainya seperti biasa.Â
Daryl mengecup pipinya dengan lembut, kemudian merangkul tubuhnya begitu erat. Nyatanya, rasa rindu itu semakin hari malah semakin bertambah besar saja padahal mereka bertemu setiap hari. Namun perpisahan seperti ini rasanya cukup berat juga.
"Aku pergi." ucap Daryl lagi setelah melepaskan Nania dari dekapannya. Dan dia mengusap pipi perempuan itu sebelum akhirnya buru-buru pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Emang itu seriusan anak-anak mau dibawa jalan-jalan?" Anandita mengalihkan perhatiannya sejenak dari layar ponsel.
Mereka kini dalam perjalanan pulang dari rumah baca dan Regan seperti biasa mengantarnya pulang ke kediaman Satria.
"Rencananya sih begitu." Regan yang berada di balik kemudi pun menjawab.Â
"Anggarannya Tante Nania tahu?" Gadis itu maju sehingga dia bisa melihat Regan yang fokus pada lalu lintas yang padat itu.
"Tidak ada hubungannya dengan Nania. Ini murni idenya Lisa dan teman-temannya." Mobil berhenti ketika lampu lalu lintas berubah merah.
"Oohh … jadi Tante Nna nggak tahu?"
"Tidak kalau saya tidak lapor."
"Emang harus lapor juga ya? Ka Tante Nna nya juga lagi dirawat."
"Pertanggungjawaban itu harus ada karena semua dia serahkan kepada saya."
"Itu urusannya dengan Pak Daryl karena hapenya Pak Daryl yang pegang kan?"
"Oh … iya juga. Eh, aku boleh ikut nggak?" Anandita kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Tidak tahu, kenapa tanya saya?" Mobil kembali bergerak setelah lampu lalu lintas berubah hijau.
"Kan Om yang atur kegiatannya?"
"Lisa dan teman-temannya."
"Tapi Om ikut?"
"Ikutlah untuk mengawasi kegiatan itu kan."
"Tuh, kalau Om ikut aku juga mau ikut."
"Ya ikut saja."
"Emang boleh?"
"Tidak tahu, tanya saja Pak Arfan."
"Lho, kok tanya Papa?"
"Pak Arfan kan Papa kamu?"
"Apa hubungannya sama acara rumah baca?"
"Tidak ada."
"Terus kenapa aku harus tanya sama Papa?"
"Ya tanya, Pak Arfan mengizinkan kamu untuk ikut atau tidak?"
__ADS_1
Anandita terdiam.
"Pasti tidak. Ahahaha." Ragam tertawa.
"Ish, nyebelin."
"Sudah bisa diprediksi kalau Pak Arfan tidak akan mengizinkan kamu mengikuti kegiatan rumah baca. Dia tidak akan percaya kamu untuk pergi." jelas Regan kepada gadis itu.
Anandita mengerucutkan mulutnya sementara pria itu tertawa lagi.
"Kalau gitu bantu bilangin." ucap Anandita kemudian yang membuat tawa Regan terhenti seketika.
"Apa?" Dia melirik gadis itu lewat kaca spion di atas kemudi.
"Om yang bilang biar Papa percaya dan bolehin aku ikut."
"Tidak mungkin!"
"Kenapa nggak mungkin?"
"Kepadamu saja Pak Arfa tidak akan percaya apalagi kepada saya?"
"Om kan bawahannya Om Daryl, kerja di Nikolai Grup juga. Masa sih papa nggak akan percaya?"
"Kamu tidak tahu saja papamu itu seperti apa?"
"Ya makanya aku minta Om yang bilang, Om kan tahu gimana Papa?"
"Ah, tidak bisa."
"Kenapa nggak bisa?"
"Ya tidak bisa saja. Ini seperti sedang mengumpankanmu pada singa yang kelaparan."
"Hah? Apaan sih nggak ngerti?"
"Sebaiknya kamu tidak usah ikut lah. Lagipula jalan-jalanya tidak terlalu jauh kok. Cuma ke Dufan."
"Tuh kan? Ke sana asik tahu?"
"Iya, memang. Tapi sebaiknya jangan lah."
"Kenapa ih, kan aku mau ikut?" Anandita mulai merengek.
"Jangan lah, sudah pasti Pak Arfan tidak akan mengizinkan."
"Iya makanya Om bilangin biar diizinin sama Papa!"
"Sudah saya katakan tidak mungkin, Ann."
"Ya mungkin aja kalau Om yang bilang kan?"
Regan mendengus sambil memutar bola matanya.
"Om, bilangin sama Papa!" Gadis itu terus merengek, dan kini dia bahkan menarik-narik ujung jas Regan.
"Om!!" katanya lagi, sehingga pria itu akhirnya menyerah.
"Baiklah, baik. Tapi kalau setelah ini tidak mendapat izin kamu jangan merengek lagi ya?" katanya dengan raut kesal.
"Yeayy!! Oke oke." Gadis itu mengangguk sambil menepuk-nepukan kedua tangannya dengan riang.Â
Astaga, apa yang akan aku katakan kepada Pak Arfan ya? Batinnya saat dia menatap gerbang rumah Satria Nikolai di kejauhan.
💖
💖
💖
Bersambung ....
__ADS_1