The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Pulang ( The Ending )


__ADS_3

💖


💖


Daryl tengah berada di balkon rumahnya, mengawasi para pekerja yang sedang memasang kanopi dan atap pada galeri mini yang disiapkannya untuk Nania.


Tempat itu sudah terpasang setengahnya karena menggunakan bahan jadi yang siap pasang tanpa harus bersusah-susah membuat bangunan baru. Hanya mengatur, mengukur lalu memesan dan memasangnya setelah barang-barang tiba.


Lalu pandangannya teralihkan ketika seseorang yang sepertinya dia kenal berjalan ke arah rumah dengan menarik koper.


Tentu saja membuat Daryl bagkit dengan perasaan terkejut ketika dia benar-benar mengenali orang tersebut.


Daryl memastikan pandangannya, lalu setelah yakin dia segera berlari keluar dari rumahnya.


"Apa yang kamu lakukan disini?" katanya setelah jarak mereka cukup dekat.


"Aku pulang." Nania menghentikan langkah.


"Pulang dengan siapa? Mengapa kamu tidak menghubungiku? Bukankah aku …." Daryl merasa tenggorokannya seperti tercekat.


Banyak hal yang ingin dia katakan namun semuanya tertahan di dalam dada. Menjadikannya hanya bisa terdiam menatap Nania.


"Oh Tuhan!!" ujar pria itu yang kemudian menarik Nania ke dalam pelukan dan membenamkan wajahnya di dada.


Dia merangkul tubuh perempuan itu erat-erat dengan segenap rasa yang memenuhi rongga hati. Betapa perasaannya bercampur aduk. Ada sedih, duka, senang, dan terharu. Tapi yang mendominasi adalah rasa bahagia.


Ya, Daryl yakin bahwa kebahagiaanlah yang sedang dia rasakan karena kepulangan Nania adalah apa yang dia inginkan.


Terlepas dari segala yang telah terjadi di antara mereka, pada akhirnya dia ingin tetap bersama perempuan yang telah menjadi istrinya itu.


"Aku mencintaimu, maafkan aku!" Daryl memeluk Nania semakin erat. Dan dari sekian banyak hal yang ingin dia ucapkan hanya kalimat itulah yang keluar dari mulutnya.


"Aku mencintaimu, maafkan aku!" katanya lagi seraya mengecupi kepala Nania.


"Sorry i can't fix you." Dia terus berbisik, dan diantara helaan nafas dan isak tangis keduanya tetap saling merasakan.


"Maaf sudah memperlakukanmu dengan tidak baik." Dia mengecupi wajahnya seolah itu tidak pernah cukup, dan dia tak peduli dengan apa pun yang terjadi di sekitarnya.


Bahkan dua pekerja yang tengah menyelesaikan tugas mereka sempat berhenti karena terkejut.


Dan tak ada yang mampu Nania lakukan selain diam saja dan menerima segala perlakuan dan curahan perasaan dari suaminya.


"Eh … mau ke mana?" Satria meraih tangan Sofia untuk menahannya ketika dia hampir keluar dari rumah mereka.


"Aku mau menemui anak dan menantuku." Perempuan itu menyeka matanya yang basah. Rasa haru memenuhi dada sehingga dia tak bisa menahan tangis. Dan kali ini merupakan tangis bahagia.


"Tidak usah." Satria berujar.


"Kenapa? Sudah aku katakan aku ingin menemui anak dan menantuku."


"Sudah aku katakan tidak usah. Biarkan saja mereka menikmati momen ini hanya berdua saja." Pria itu benar-benar menghalanginya.


"Begitu? Apa aku tidak perlu mengatakan apa-apa mengenai mereka?"


"Tidak. Kepulangan Nania sudah cukup dan memang tidak seharusnya kita ikut campur. Hanya sampai disini saja campur tangan kita untuk anak-anak, selebihnya biar mereka yang menentukan."


"Oh, tapi aku …."


"Sudah. Hari ini kamu sudah cukup bekerja keras dengan berhasil membawa Nania pulang. Jadi biarkan saja mereka seperti itu."


"Umm …."


"Mereka sudah dewasa, jadi kita tidak perlu terlibat terlalu jauh."


"Jadi usahaku sudah cukup?"


"Ya, cukup."


"Baiklah kalau begitu."


Satria tersenyum bangga kepada istrinya yang telah berhasil menyelesaikan misinya kali ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Beberapa bulan kemudian ….


Hari-hari berlalu tanpa ada masalah berarti. Semuanya bergulir normal dan mereka memulai kembali segalanya dari awal. Dan tak ada yang lebih menyenangkan dari itu semua selain melewatinya bersama-sama.


Seperti juga Nania dan Daryl yang memilih untuk membuka lembaran baru dalam kehidupan rumah tangga mereka, setelah beberapa bulan yang lalu sempat terpisah.


Meski tidak terlalu jauh namun keadaan hati dan jiwa yang tak terarah membuat keduanya sempat menepi masing-masing.


"Bagaimana? Sudah lebih nyaman?" Daryl menyalakan AC yang baru saja dia pasang di galeri mini milik Nania.


"Udah." Perempuan itu menganggukkan kepala lalu dia melanjutkan kegiatannya dengan buku gambar dan alat tulis. Meneruskan gambar-gambar dan pola baru pada rancangannya yang entah ke berapa ratus lembar.


"Gambarmu semakin halus saja? Good job, Malyshka!" Daryl berdiri di dekat Nania yang sibuk di meja kerjanya.


"Belum. Ini tuh masih ada gradasi kasarnya." Perempuan itu menunjuk hasil gambarnya yang tengah dia perbaiki.


"Tidak usah terlalu sempurna. Karena gaya kontemporer lebih bagus." Daryl sedikit menunduk untuk melihat gambar itu lebih jelas. "Begini juga sudah terlihat seperti cetakan komputer." katanya lagi yang memang selalu membesarkan hati istrinya.


"Menurut kamu begitu?" Nania mendongak, dan bersamaan dengan itu Daryl mendaratkan ciuman di bibir semerah cherry nya.


"Ya." Lalu dia terkekeh.


"Aku pikir ini tuh harus sempurna biar nanti jadinya kelihatan benar-benar bagus." Lalu Nania kembali pada gambarnya.


"Sudah aku katakan jika ini sempurna, kenapa kamu tidak mudah puas?"


"Bukan masalah puas atau nggak, tapi aku ngerasa ada yang kurang."


"But this is good, can't you see it?"


Nania sedikit menjengit.


"Terlalu perfeksionis juga tidak baik, Malyshka. Kamu hanya akan menghambat ide-ide lain yang sama bagusnya."


"Aku nggak perfeksionis, Dad."


"Yes you are."


"Hmm …." Perempuan itu mengerucutkan mulutnya.


"Oh iya, aku lupa." Dan Nania segera meletakkan alat tulisnya di meja.


"Nah kan, menggambar selalu membuatmu lupa segalanya, sama seperti memasak."


Nania tertawa.


"Rumputnya udah Regan antar belum?" Lalu dia bangkit dari kursinya.


"Sudah tadi pagi. Dan tadinya mau sekalian aku suruh Pak Maman untuk menanamnya, tapi aku rasa kamu tidak akan mengizinkan?"


"Jangan, kan mau aku yang nanam?"


"Iya, makanya."


"Ya udah, ayo cepetan!" Dan Nania menarik suaminya keluar dari rumah.


***


Hutan buatan di belakang rumah menjadi tempat favorit mereka sejak beberapa bulan belakangan. Alasannya apa lagi kalau bukan karena di sanalah jasad calon anak mereka bersemayam.


Diberi bonsai milik Satria sebagai penanda, lalu diberi batu nisan bertuliskan nama Sunny serta ditanami beberapa macam bunga di sekelilingnya. Ditambah rumput yang terakhir ditanam di atas pusara kecil itu sehingga membuatnya menjadi terlihat indah.


"Nah, begini lebih bagus kan? Enak dipandang." Nania membersihkan tangannya yang baru saja menanamkan rumput tersebut.


"Ya, kamu benar." Lalu mereka berdua duduk bersisian di samping makam kecil itu.


"Aku bayangin kalau sekarang Sunny mungkin udah ketemu ayah sama Nenek."


"Ya, aku rasa juga begitu."


"Mereka udah bahagia kan?" Nania menatap wajah suaminya.


"Ya, tentu. Orang-orang baik akan ditempatkan di tempat yang menyenangkan bersama dengan yang mereka sayang." Pria itu menyelipkan helaian rambut nania yang terburai ke belakang telinganya.

__ADS_1


"Dan mereka pasti akan baik-baik aja kan?" ujar Nania lagi.


"Ya, tentu. Tuhan akan menjaga mereka dengan sangat baik."


Nania tersenyum sambil menganggukkan kepala, namun matanya tampak berkaca-kaca.


"Don't cry." Daryl mengusap matanya dengan ujung ibu jari, lalu dia menunduk untuk mengecup pipi perempuan itu.


"Kamu tidak usah khawatir untuk apa pun. Semua yang kamu sayang sudah Tuhan jaga." Dia merangkul tubuh kecil itu erat-erat.


"Sekarang hanya pikirkanlah masa depanmu. Sekolah, kuliah, lalu bekerja denganku."


Nania kini tertawa


"Besok kelulusan."


"Aku tahu."


"Kamu mau ambil surat kelulusan aku?" Nania menyurukkan kepala di dada suaminya.


"Tentu saja, memangnya siapa lagi?"


"Kamu akan bangga sama aku?"


"Ya, nilaimu pasti paling tinggi di antara teman-temanmu. Bagaimana aku tidak bangga?"


Nania tertawa lagi sambil memeluk tubuh suaminya.


"Lihat kan, Sunny? Mommy mu pasti akan sangat membanggakan kita. Bukankah itu hebat?" Daryl mengarahkan pandangannya pada pusara anak mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Benarkan kataku?" Daryl membuka amplop yang diserahkan guru Nania kepadanya.


Pagi ini mereka berada di sekolah tempat Nania mengejar pendidikan paket C nya untuk mendapatkan ijazah SMA. 


Ini sudah menghabiskan sekitar satu tahun 


untuk menyelesaikannya. Dan Nania  mendapat surat kelulusan setelah sekitar dua minggu yang lalu menjalani ujian akhirnya.


Nilai yang didapatkannya sangat memuaskan dan dia sudah membuat Daryl bangga karena menjadi siswa dengan nilai akademiknya yang paling menonjol di antara teman-temannya.


"Sudah pasti kamu akan lolos ke universitas favorit di Jakarta. Aku yakin itu. Atau mau sekolah ke luar negeri?" Mereka berjalan keluar setelah semuanya selesai.


"Nggak usah. Di Jakarta aja udah cukup."


"Yakin? Aku bisa saja mendaftarkanmu ke mana saja yang kamu mau. Tinggal sebutkan saja negara mana?"


Nania menggelengkan kepala.


"Benar-benar yakin?"


"Iya, Dadd."


"Baiklah. Jangan menyesal ya?" Daryl dan Nania tertawa. 


Lalu keduanya memutuskan untuk pergi, menyongsong hari yang lebih baik, yang akan membawa mereka pada kehidupan sesungguhnya sebagai pasangan. Dan berharap segalanya berlangsung indah untuk selamanya. Hanya berdua, atau mungkin ada anggota keluarga lain yang hadir nantinya.


💖


💖


💖


TAMAT


Oke Gaess, novel The Sweetest Feeling Season pertama hari ini udah tamat sampai di sini ya. Tapi jangan khawatir, karena Season keduanya akan segera publish.


Disana akan diceritakan kehidupan Malyshka dan Om Der selanjutnya.


Kenapa dibikin dua Season? Karena kalau dilanjut disini kepanjangan. Ditambah anu nya kurang. Wkwkwk🤭


So, stay tuned aja ya untuk buku keduanya. Mungkin publish malam ini, mungkin juga besok.

__ADS_1


Alopyu sekebon 😘😘



__ADS_2