The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Percakapan Dua Perempuan


__ADS_3

💖


💖


"Makanannya kurang nggak?" Nania memeriksa meja tempat makanan yang dibawanya dan teman-temannya  di letakkan.


"Kayaknya cukup." Lisa membereskan wadah yang sudah kosong ke bawah meja.


"Bingkisannya?"


"Untuk sekarang cukup. Tapi nggak tahu kalau misal ada yang datang lagi." Mereka menatap anak-anak yang pergi berurutan begitu les akhir pekan dan acara makan bersama itu usai.


"Kalau gitu minggu depan kita tambahin bingkisannya gimana?" Nania mengutarakan idenya.


"Bisa. Mungkin sepuluh atau dua puluh paket sekolah cukup." ucap yang lainnya.


"Hu'um."


"Mungkin kalau beritanya menyebar seperti hari ini, bisa dipastikan yang datang minggu depan akan lebih banyak?" 


"Nggak apa-apa. Itu artinya kesempatan kita untuk berbuat baik menjadi lebih besar." Nania menjawab.


"Ya, kamu benar."


"Kenapa nggak dikasih uangnya aja sih, Tan? Kan lebih praktis. Biar mereka sendiri yang belanja. Jadinya kita nggak usah repot beli barang, ngatur sepaket-sepaketnya ada berapa item. Tenaga kita juga dihemat." Anandita menanggapi obrolan mereka.


"Bisa juga kayak gitu. Tapi kalau kita kasih uang, kemungkinan nggak dibeliin kebutuhan sekolah." Nania beralih kepada keponakannya.


"Masa?"


"Kebanyakan begitu. Jadi kalau kita memberinya begini, hal-hal prioritas yang seharusnya didahulukan bisa terpenuhi. Yang namanya uang kalau sudah di tangan pasti digunakan untuk hal lain yang menurut mereka sangat penting. Karena kebutuhan orang itu kan beda-beda. Dan akhirnya kebutuhan sekolah dilupakan lagi." Lisa menambahi.


"Oh, … gitu ya?"


"Ya. Jadi kita membantu yang memang benar-benar harus dibantu. Kalau mereka kesulitan soal urusan kebutuhan sekolah, ya di sanalah kita bantuinnya."


"Mm … bener juga sih. Terus habis ini mau langsung pulang?" Anandita membereskan peralatan mengajarnya barusan. 


Dan sejak saat itu dia sudah resmi menjadi tenaga pengajar bahasa untuk hari Sabtu setelah menyesuaikan dengan semua kegiatan sekolah dan perizinan dari sang ayah.


"Sebentar lagi, ada yang mau dirundingin lagi kan? Soal lapanga sebelah?" jawab Nania kepada teman-temannya yang hari itu hadir.


"Iya, begini …." Lalu mereka mulai berbicara, sementara Anandita beralih pada rak-rak buku di belakang untuk meletakkan semua yang hari itu dipakai agar kembali ke tempatnya semula.


"Umm …." Dia tertegun ketika wajah Regan lagi-lagi mendominasi pandangan.


Pria itu yang tengah mencari buku dibalik Rak di mana Anandita berada, dan di detik berikutnya pandangan mereka bertemu.


Regan tersenyum sekilas, lalu dia berlalu setelah menemukan buku yang dicarinya. Kemudian dia kembali ke tempat semula di ujung belakang ruangan.


***


"Om Regan?" Anandita mengintip dari balik Rak dengan dua buku dalam dekapannya.


"Ya?" Pria itu segera mendongak.


"Ensiklopedia ini naruhnya dimana sih? Di rak yang itu udah pada penuh." Gadis itu memiringkan tubuhnya sedikit.


Regan menutup buku yang tengah dia baca, kemudian bangkit.


"Ensiklopedia?" Lalu dia menghampiri Anandita.


"Hmm …." Gadis itu mengangguk sambil menyodorkan buku yang tengah dibereskannya, yang segera Regan terima.


"Sebentar. Sepertinya saya ingat," katanya, yang kemudian berbalik ke arah rak paling ujung.


"Di bagian sini." Lalu dia menunjuk rak tersebut yang memang terdapat beberapa buku tebal berukuran besar yang sama seperti dalam genggamannya.


"Mm …." Anandita mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu dia pun mendekat ke arah sana.


"Pantesan, aku nggak ingat pernah beresin ini deh?" Dia menatap rak tersebut yang menjulang lebih tinggi dari rak-rak lainnya.


"Tentu saja, ini yang saya bereskan waktu awal rak nya di pasang. Ini kan sebagian besar bukunya yang Pak Daryl kirimkan. Makanya saya yang membereskannya langsung." jelas pria itu. 


"Oo, gitu."


"Ya, apakah sudah selesai?" Kemudian Regan menatap ke tengah ruangan yang tak seramai tadi. Hanya tersisa beberapa orang saja yang tengah berdiskusi seperti biasanya.

__ADS_1


"Kayaknya Tante Nania masih lama?" ujar Anandita.


"Ya, tantemu memang selalu seperti itu. Setiap hari ada saja yang dia bahas dengan teman-temannya. Banyak ide, banyak rencana. Seperti tak ada apa pun yang dia pikirkan selain kepentingan anak-anak di sini."


"Hmm … nggak aneh sih. Orang-orang kayak Tante Nania itu punya empati lebih besar sama orang lain karena dia sendiri pernah ngalamin."


"Ya, kamu benar." Dua orang itu menatap ke arah orang-orang yang sedang berdiskusi tersebut.


"Tapi agak aneh karena jodohnya ternyata Om Daryl yang super ngeselin. Hehehe." lanjut Anandita yang tertawa kemudian kembali ke dekat rak.


Dia melihat-lihat judul pada sampul buku, lalu mengambil salah satunya yang menarik perhatiannya.


"Kayaknya aku harus belajar banyak deh. Soalnya banyak juga yang nggak aku tahu, padahal fasilitas memadai. Semuanya aku punya, tapi pengetahuan aku gini-gini aja." Dia lantas duduk di kursi tempat semula Regan membaca bukunya.


Gadis itu membuka buku di tangannya untuk dia baca, sementara pria di dekatnya juga memperhatikan.


"Luka kamu sudah sembuh?" Regan bertanya.


"Apa?" Dan Anandita pun mendongak.


"Luka bekas jatuh dari motornya sudah sembuh?" ulang Regan sambil menatap lutut kecil gadis itu yang tertutup skinny jeans berwarna hitam.


"Oh … udah." Anandita menjawab. "Cuma luka kecil kok, nggak usah khawatir." katanya, yang membuat Regan mengerutkan dahi.


"Eh, kenapa juga harus khawatir ya? Ahahaha." Gadis itu tergelak lalu dia terdiam fokus pada bacaannya. 


Meski saat ini Anandita merasakan bahwa dadanya berdebar begitu kencang, tapi dia berusaha untuk tetap tenang.


Ugh, aneh sekali. Kenapa aku ini? Batinnya, dan dia melirik sekilas kepada pria itu.


Dia tak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Ketika jantung di dalam dadanya berdebar kencang, dan ulu hatinya juga terasa ngilu. Tapi sesuatu seperti terasa membahagiakan dan dia sangat menyukainya.


Apalagi ketika Regan duduk di salah satu kursi di dekatnya, hatinya bersorak gembira. Meski ini pertama kalinya dia berada cukup dekat dengan pria selain keluarganya, tapi Anandita merasa senang.


"Ann?" panggil pria itu yang membuyarkan lamunannya.


"Ya Om?" Anandita terkejut dan dia segera menoleh.


"Ceritanya lucu ya? Kamu senyum-senyum terus?" Pria itu yang sejak tadi merasa heran karena gadis di depannya tidak berhenti tersenyum dan sedikit salah tingkah.


"Um … i-iya. Lucu banget sampai aku pengen ketawa rasanya." Anandita menjawab.


"Ya, hehehe." Sekilas melirik lagi.


"Apa lucunya buku soal ruang angkasa dan tata surya? Atau kamu memang penggemar sains ya, jadi merasa nyaman saja saat membacanya?" Regan mencondongkan tubuh untuk melihat sampul buku bergambar planet di tata surya yang sedang gadis itu baca.


"Luar biasa. Jarang sekali perempuan menyukai hal seperti ini. Apakah kamu bercita-cita menjadi astronot?" katanya, lalu dia kembali bersandar pada kepala kursi.


"Eeee …." Dan gadis itu baru menyadari jika buku di tangannya merupakan ensiklopedia tata surya.


"Bagus Ann, lanjutkan! Negara ini akan sangat bangga jika memang kamu menjadi astronot pertama yang mungkin akan menjelajah ke luar angkasa."


"Umm …." Dan dia menatap wajah Regan lekat-lekat.


"Sekolah yang baik, belajar yang benar agar cita-citamu tercapai," ucap pria itu lagi, lalu dia tersenyum.


"Regan? Ann?" Lalu panggilan Nania menginterupsi percakapan tersebut.


Regan segera bangkit kemudian melihat ke arah suara, di mana ternyata hanya tinggal Nania saja yang berada di tempat itu, sedangkan teman-temannya sudah pergi.


"Ya? Sudah selesai?" Pria itu mendekat.


"Udah, ayo pulang?" jawab Nania.


"Baik." Lalu Regan menoleh ke arah Anandita yang sudah bersiap.


"Kita ke minimarket kayak tadi lagi nggak sih, Tan?" Gadis itu meraih tasnya di meja, lalu mengenakan sepatunya.


"Boleh kalau mau. Kita bagi makanan sambil pulang ya?" Nania pun melakukan hal sama.


"Asiik. Kayaknya aku juga mau ikutan beli ah." Mereka keluar dari dalam bangunan.


"Memangnya kamu ada uang?" Lalu keduanya berjalan ke arah mobil yang pintunya sudah Regan buka.


"Ada dong, sekarang kan udah dapat uang saku dari papa. Tapi aku malah bingung." Mereka masuk ke dalam mobil.


"Bingung kenapa?"

__ADS_1


"Makanan sama minuman dibawain, jadinya aku nggak terbiasa jajan."


"Terus?"


"Ya nggak kepake. Ahahaha."


"Duh? Emang kamu nggak pernah dibekelin uang dari kecil?"


"Nggak. Kan makan sama minum bawa dari rumah."


"Nggak pernah jajan gitu?"


"Pernah, kalau perginya sama Papa tapi. Jalan ke mana gitu."


"Jajan di sekolah?"


Anandita terdiam untuk mengingat.


"Kadang-kadang. Hahaha."


"Nggak pernah dibekelin uang untuk jajan gitu?"


"Kalau aku minta. Kalau nggak ya nggak dikasih."


"Kok bisa?"


"Kan makanan sama minum bawa dari rumah. Sama kok kayak yang ada di kantin sekolah."


"Oh … adik-adik kamu juga sama?"


"Sama. Tapi Asha sama Aksa lebih enak sih."


"Kenapa begitu?"


"Karena kelas 10 udah dapet uang saku. Aku sama Ar kan baru pas naik kelas 11."


"Bisa gitu ya?"


"Bisa. Aturan Arfan Sanjaya kan nggak boleh dilanggar?" Gadis itu tertawa.


"Papa kamu galak ya?" Percakapan terus berlanjut.


"Nggak ah, cuma aturannya aja yang mungkin beda sama orang tua lain."


"Kalian dikekang?"


"Nggak juga."


"Tapi kok apa-apa nggak boleh?"


"Boleh, asal sama Papa. Jajan, beli apa-apa sama pergi ke mana-mana juga boleh asal perginya sama Papa."


"Aduh …." Nania menempelkan punggungnya pada sandaran kursi. "Ketat ya hidup sama Papa kamu?"


"Gitu deh."


"Nggak merasa terkekang?"


"Kadang-kadang. Tante sendiri gimana rasanya hidup sama Om Der?"


Nania terdiam sebentar.


"Ah, iya kayak gitu. Hahaha. Lupa karena dulu aku bebas ke mana aja, ngelakuin apa aja dan pergi sama siapa aja.


"Sekarang nggak ya?"


"Iya. Dan kalaupun mau pergi, harus ada yang ngawasin." Dia setengah berbisik, namun masih terdengar oleh Regan.


"Iyalah, orang udah nikah masa mau kelayapan ke mana aja? Bisa ngamuk Om Der nya."


"Hmm … bener." Lalu mereka berdua tertawa.


💖


💖


💖

__ADS_1


Bersambung ....


Selamat hari minggu😘😘


__ADS_2