The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Sebuah Nyawa


__ADS_3

💖


💖


"Apa?" Wajah Regan memucat ketika dia mendengar jawaban guru saat menjemput Nania, dan mereka tak menemukannya di sana.


"Betul, Pak. Tadi sekitar pukul sembilan lebih Nania memutuskan untuk pulang. Katanya tidak enak badan." Perempuan berkerudung itu memperjelas jawabannya.


"Maaf, Bu?" Lalu seorang cleaning service datang menginterupsi.


"Ya?" 


"Apa ada siswa yang ketinggalan tas? Saya menemukan ini di toilet barusan." Pria itu menenteng tas gendong hitam yang sekilas saja Regan kenali sebagai milik Nania.


Dan benar saja, ketika dia memeriksanya ada rok hitam dan buku juga tumbler dan kotak makanan milik perempuan itu.


"Sial!" Regan bergegas keluar dari gedung sambil melakukan panggilan.


"Mana Nania?" Daryl keluar dari mobil bermaksud untuk memberikan kejutan kepada istrinya yang kepulangannya hari itu sengaja dirahasiakan.


"Maaf Pak. Ini kesalahan saya." Regan berujar sambilenyerahkan tas milik Nania.


"Apa maksudmu?" Daryl menatap nanar tas yang dibawa oleh bawahannya itu, lalu menerimanya dengan raut heran.


"Sepertinya Nania kabur. Dia meninggalkan tasnya di toilet." lanjut Regan meski dengan takut-takut. Dia tahu setelah ini mungkin tidak akan ada kesempatan baginya untuk bekerja atau melihat dunia. Juga beberapa orang rekannya yang ditugaskan untuk berjaga di sekitar sekolah.


"Regan!!" Daryl berteriak.


Pria itu menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sebelas siang.


"Nania pergi dari sekolah pukul sembilan." Mereka membelah jalanan ibu kota pada hampir tengah hari yang sangat terik. 


Mereka segera menuju ke tempat tinggal Mirna yang diperkirakan di sanalah Nania berada.


"Tidak ada yang berjaga? Kenapa kalian ini?" ujat Daryl dengan nada marah.


"Kemungkinan Nania berganti pakaian dengan yang lain sehingga tak dikenali, Pak." Regan dengan asumsinya sendiri. 


"Pakaian lain?" Daryl memeriksa tas yang dia pegangi dan menemukan rok pendek milik Nania.


"Dia menemui ibunya?" ujar Daryl sambil meremat kain hitam itu dengan kuat.


"Bisa dipastikan." Regan memacu mobilnya dengan kencang dan dia hampir melanggar beberapa lampu lalu lintas.


Pikirannya sudah diliputi hal buruk yang mungkin terjadi akibat keteledorannya dan kenekatan Nania.

__ADS_1


"Lalu apa yang kau lakukan? Kenapa tidak menghubungi orang-orang?" Daryl berteriak lagi, sementara Regan menutup mulutnya rapat-rapat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dua mobil lain tiba bersamaan dengan Regan dan Daryl di depan rumah susun tempat Mirna tinggal. Dan empat orang pria dari masing-masing mobil seger turun mengikuti Daryl yang melesat ke dalam.


Mereka menaiki tangga hingga ke lantai lima dan berhenti ketika Daryl juga berhenti tepat di tangga terakhir paling atas. Bersamaan dengan suara benturan dari kayu yang menghantam perut Nania.


"Binatang!" Mata Daryl membelalak kemudian dia berteriak, dan dalam hitungan se per sekian detik dia melesat ke arah Hendrik. Sementara Regan memeriksa keadaan Nania dan Mirna.


Pria itu seperti kilat yang menyambar, melompat dengan tendangan kerasnya menghantam dada Hendrik, membuatnya terpelanting ke belakang membentur dinding.


Pukulan langsung bersarang di tubuhnya bahkan sebelum dia ambruk dan Daryl menjadikannya sebagai samsak hidup. Dan kakinya tidak ketinggalan untuk kembali menendang dan menjejak apa yang bisa dia capai sehingga tak ada kesempatan untuk Hendrik meloloskan diri.


Tangannya bahkan sudah berlumuran darah tapi dia belum berhenti menghajarnya meski pria itu kini sudah ambruk dan tak dapat melakukan apa-apa.


"Pak!!" Regan menghentikannya yang seperti kehilangan kendali atas kesadarannya.


"Nania, Pak!" katanya, namun itu sukses menghentikan Daryl.


Mereka menoleh ke belakang di mana Nania berada dalam pelukan ibunya dan tampak setengah sadar.


Daryl menyeka percikan darah di wajahnya sebelum dia bangkit dan menghampiri perempuan itu.


"Malyshka!!" Lalu dia segera merebutnya dari Mirna.


"Malyshka! Posmotri na menya! (lihatlah aku!)." Daryl menyentuh wajah Nania.


"Nania!!" Dia berteriak saat perempuan itu tidak merespon.


"Nania!!" Lalu dia mengguncangkan tubuhnya yang melemah.


Nania beralih menatapnya saat dia tersadar, lalu menangis.


Tanpa banyak bicara Daryl mengangkatnya dan membawanya berlari ke dalam mobil. Lalu memeluknya saat kendaraan itu segera melaju.


"Dad-daddy maaf." Nania mulai bersuara saat rasa takut terus menguasai dada. 


Namun Daryl tak merespon dan dia hanya memeluknya erat-erat seolah tak ingin melepaskannya.


"Daddy, perut aku sakit." ucap Nania lagi, dan Daryl hanya membenahi posisinya.


Dan pria itu membeku ketika dia merasakan tangannya basah saat menyentuh bokong Nania. Lalu cairan merah yang tampak masih baru menempel di telapak tangannya.


"Daddy, sakit!" Nania merintih dan darah terus membasahi pangkuan Daryl.

__ADS_1


Pria itu tak mampu berbuat apa-apa selain mengeratkan pelukannya pada tubuh Nania. Segera saja pikiran buruk juga menguasai kepalanya dan segalanya jadi terasa menakutkan baginya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nikolai Medical Center menjadi sangat sibuk siang itu. Dan semua orang sudah siap ketika mobil dari kerabat pemilik pusat kesehatan itu tiba di depan gedung tempat mereka bekerja.


Blankar segera ditarik mendekat pada mobil Daryl yang terbuka ketika secara bersamaan penumpangnya turun. Dan tak ada yang dilakukan oleh pria itu selain naik ke atas ranjang beroda tersebut dan tetap memeluk Nania. Dan para petugas segera membawanya ke ruang penanganan.


Dokter segera melakukan pemeriksaan dan para perawat mempersiapkan apa yang mungkin diperlukan. Hingga setelah beberapa saat akhirnya keadaan Nania diketahui dengan pasti.


"Maaf Pak?" Dokter menatap ke arah Daryl yang sama sekali tidak melepaskan istrinya.


"Ya?" Pria itu tetap memeluknya erat-erat.


"Harus dilakukan tindakan segera." ucap dokter.


"Lakukanlah, selamatkan mereka." Daryl menjawab.


"Tapi …."


"Apalagi? Cepat lakukan sesuatu!!" Pria itu setengah berteriak.


"Janinnya harus dikeluarkan karena …."


"Apa?"


"Sudah tidak bisa diselamatkan, Pak."


"Apa? Nggak mungkin!!" Nania bereaksi, semetara Daryl membeku.


Dunianya bagai runtuh seketika dan pandangannya seperti menggelap. Tubuhnya bagai kehilangan kekuatan dan dia tak mampu bergerak.


"Maaf Pak, kami turut berduka. Tapi tindakan harus disegerakan. Jika tidak, maka akan membahayakan ibu dan …."


"Lakukan … Dokter." Pria itu akhirnya buka suara.


"Nggak! Nggak mungkin! Jangan lakukan itu, Daddy! Nggak mau!!" Nania berontak namun Daryl semakin mengeratkan pelukan.


"Kalian tidak dengar? Lakukan sekarang juga!!" Daryl berteriak lagi dengan air mata yang berderai dari kedua netranya. Sementara Nania terus meronta dan menangis juga memohon agar mereka tidak melakukan apa-apa pada bayinya.


Namun sayang, sesuatu telah terjadi dan dokter tak punya pilihan selain mengeluarkan janin dalam kandungannya yang sudah tak memiliki harapan untuk bertahan, karena keadaannya sudah tak bernyawa sejak beberapa saat yang lalu.


💖


💖

__ADS_1


💖


Bersambung ...


__ADS_2