The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Rekreasi


__ADS_3

💖


💖


"Senang sekali ya kamu hari ini?" Regan melajukan mobilnya keluar dari gerbang kediaman Nikolai.


Pagi-pagi sekali dia sudah menjemput Anandita yang juga sudah siap untuk pergi ke taman hiburan Dufan bersama anak-anak dari Rumah Baca Nania.


"Oo iya dong. Siapa juga yang nggak seneng kalau dibolehin keluar sendirian?" Gadis itu maju sehingga dia bisa berbicara lebih dekat dengan Regan yang berada di balik kemudi.


"Siapa bilang sendirian? Kan ada saya?" Dia menjawab.


"Eh, iya berduaan."


"Eh, tidak tidak!" Regan menoleh kepadanya. "Tidak berduaan juga. Kita kan pergi dengan anak-anak dan relawan?" katanya dengan raut canggung.


"Ya, maksudnya gitu Om, kenapa sih gugup? Kan Papa di rumah nggak di sini." ucap Anandita yang kembali bersandar pada kursi.


"Siapa bilang saya gugup? Biasa saja."


"Biasa aja tapi sewot?"


"Sudah diam, nanti kamu malah merusak konsentrasi saya!" 


"Dih? Orang nggak ngapa-ngapain juga?" Gadis itu bergumam.


***


Dan setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu lama, mobil yang dikendarai Regan akhirnya sampai juga di Rumah Baca Nania. 


Mobil-mobil lain milik para pengajar pun sudah siap dan sebagian telah diisi oleh anak-anak. 


"Ada yang belum kebagian mobil?" Anandita turun disambut anak-anak yang riang gembira karena gadis itu memang menjadi salah satu guru yang diidolakan karena cara mengajarnya yang menyenangkan.


Dan anak-anak itu berteriak kegirangan sambil berebut masuk ke mobil Regan.


"Ah, kenapa sih kita tidak memesan mini bus saja? Kan simpel karena tidak terlalu banyak kendaraan?" Pria itu bergumam.


"Sesekali lah ngajak mereka naik mobil bagus. Kan kalau beramal itu jangan tanggung-tanggung?" Anandita menyahut.


"Pakai bus lebih efisien karena semua orang bisa sama-sama. Dan lebih seru."


"Tapi pakai mobil pribadi ngasih mereka pengalaman yang lain."


Dua orang itu masih saling berdebat soal kendaraan apa yang seharusnya dipakai untuk acara rekreasi tersebut sehingga membuat anak-anak yang sudah masuk pun terdiam. 


"Stop!!" Lalu Regan menghentikan hal tersebut ketika menyadarinya, dan membuat Anandita menutup mulutnya.


"Jangan banyak berdebat, cepat masuk!"  ujar pria itu yang membukakan pintu untuknya.


"Ish, lagi kesel juga tetep baik. Manis deh." Gadis itu tertawa, sementara Regan memutar bola matanya.


Kenapa gadis ini jadi sedikit menyebalkan? Batinnya.


Dan perjalanan pun dimulai dengan riang. Anandita memandu anak-anak yang ada bersamanya untuk bernyanyi sepanjang perjalanan.


Wajah-wajah sumringah begitu tampak jelas pada anak-anak yang mungkin baru pertama kali pergi, atau entah mungkin ada yang sudah pernah tapi tidak tahu kapan.


Hal tersebut membuat Anandita, terutama merasa bahagia melihatnya. Ini merupakan hal yang langka dan dia sangat senang melakukannya.


Dan tibanya mereka di Dufan menjadi hal yang paling menyenanhkan ketika anak-anak itu bersorak gembira.


"Berbaris!" Anandita bersama yang lainnya mengatur sekitar tiga puluh orang anak yang hari itu ikut rekreasi.


Lalu mereka masuk satu persatu setelah mendapatkan tiket juga tanda dan kembali berbaris di tempat yang sudah ditentukan.


Masing-masing dua orang relawan bertanggung jawab atas setidaknya enam anak sehingga mereka tidak terlalu kewalahan mengawasi. Dan Anandita juga Regan menjadi pengawas di belakang.


"Oke, setelah makan kalian boleh pergi ke mana aja tapi jangan sampai lepas dari pengawasan kakak-kakak ya?" Lisa memberikan instruksi kepada rekan-rekannya.


"Iya Kak." Anak-anak menjawab serentak.


"Silahkan ikuti kakak-kakkanya dan tetap hati-hati."


Kemudian anak-anak dan para pengawasnya membubarkan diri.


Ada setidaknya 34 wahana di Dunia Fantasi yang menarik untuk dicoba. Sebagian dengan level biasa dan menyenangkan, sementara sebagian lagi merupakan wahana yang cukup ekstrim. Namun anak-anak tampak menikmati hal tersebut, begitu juga dengan para pengawas mereka tidak terkecuali Anandita. 


"Kamu pertama kali ke Dufan ya?" Regan menatap aneh kepada gadis itu karena saking semangatnya.


"Nggak, udah beberapa kali."


"Tapi semangat sekali?"


"Ya, karena ini pertama kalinya aku pergi tanpa Papa."


"Duh?"


"Bukannya nggak seneng pergi sama Papa, tapi kalau pergi sendiri tuh vibenya beda, Om."


"Memangnya dengan kesibukan seperti itu  Pak Arfan masih bisa menemani anak-anaknya?" Regan tampak penasaran.

__ADS_1


"Oh, iya dong. Keluarga selalu jadi nomer satu."


"Sering membawa anak istri jalan ya?" Pria itu tersenyum membayangkan Arfan yang selalu tampak dingin dan kaku itu bersama keluarganya, dan bagaimana dia memperlakukan mereka.


Pasti sama galaknya seperti kepada bawahan. Hahaha. Hatinya tertawa.


"Sering bawa aku sama adik-adik jalan biar Mommy bisa me time sama Oma."


"Wah? Sendiri?"


"Ya."


"Bisa?"


"Bisa lah."


"Dan kalian tidak berpencar ke mana-mana?"


"Nggak."


"Kok bisa?"


"Udah aku bilang bisa."


"Apa sih yang papamu tidak bisa? Sepertinya semua hal tidak ada yang tidak bisa Pak Arfan lakukan?"


"Coba tebak?"


"Memangnya ada ya?"


"Ada."


"Apa?"


"Ramah sama orang. Ahahahah." Gadis itu tertawa.


"Ah, sepertinya itu sudah bakat yang tidak bisa dihilangkan."


"Udah wataknya gitu."


"Dan sebagai anaknya, apa kamu pernah merasa kalau papamu itu galak?"


"Nggak kok, Papa nggak galak."


"Masa?"


"Serius. Cuma tampangnya aja yang gitu. Aslinya baik."


"Whoaaaaaa … aku belum pernah naik rollercoaster ini." Katanya.


"Katanya sering ke sini?" Regan mengingatkan ucapannya barusan.


"Memang. Tapi papa nggak pernah izinin aku naik ini. Katanya bahaya."


"Masa?" Regan tertawa.


"Asli, Om."


"Terus apa saja yang kalian lakukan?"


"Paling ke Ice Age world atau naik yang aman-aman aja."


"Tidak bisa dipercaya."


"Ayo Om, aku mau naik itu!" Anandita meraih tangan Regan dan menariknya ke antrian.


"Eh, kamu mau naik ini?" Pria itu bertanya dengan panik.


"Iya."


"Katanya belum pernah?"


"Iya  makanya mau naik."


"Tapi papamu melarang lho?"


"Kan sekarang lagi nggak sama papa."


"Tapi kan?"


Gadis itu menunjukkan cap khusus di tangan mereka kepada petugas sehingga keduanya bisa masuk ke dalam wahana roller coaster tersebut.


"Tapi Ann … seharusnya kamu tidak ke sini. Kata Pak Arfan ini berbahaya, ingat?" Regan mulai panik.


"Emangnya wahana ini bahaya?" 


"Ya tidak juga sih."


"Makanya."


"Tapi kan papamu …."

__ADS_1


"Papa tuh cuma takut anak-anaknya kecelakaan atau semacamnya. Padahal nggak apa-apa."


"Tapi kamu adalah tanggung jawab saya, jadi …."


"Nah, makanya Om jagain aku." Gadis itu segera menaiki kereta tersebut, begitu juga Regan.


"Ann, kamu yakin?" Dia mulai panik, apalagi ketika sabuk dan alat keamanan lainnya secara otomatis terpasang pada tubuh mereka begitu duduk di kursinya.


"Aku nggak pernah seyakin ini." Dan Anandita dengan entengnya berbicara padahal yang mereka naiki ini merupakan salah satu wahana paling ekstrim di Dufan.


"Serius Ann  ini kan …." Regan menahan napas ketika benda itu mulai melaju. 


Awalnya pelan lalu lama kelamaan bertambah kecepatannya. Apalagi ketika menemukan turunan tajam kereta itu berjalan sangat kencang.


Semua penumpang berteriak begitupun keduanya. Dan hal tersebut berlangsung cukup lama ketika beberapa turunan, tanjakan dan kelokan  tajam dilewati. Regan bahkan sempat memejamkan matanya karena merasa ngeri dengan ketinggian. Sementara Anandita berteriak kegirangan.


Gadis itu malah tertawa saking merasa senangnya, dan tak sedikitpun terlihat raut ketakutan di wajahnya. Hingga akhirnya mereka selesai dengan wahana itu Anandita masih tertawa.


"Ugh, seruuuuuuu!!" Katanya, setelah kereta itu terhenti. Sedangkan Regan masih ketakutan dengan wajahnya yang memucat. 


"Aku mau lagi!" Katanya tanpa mengeluh sedikitpun.


"Tidak mungkin!" Namun Regan segera turun begitu alat keamanannya terlepas.


"Lagi lah Om! Ini seru, tahu?" Anandita mengejarnya.


"Tidak! Sekali saja cukup!" Ujar pria itu yang melenggang keluar dari area wahana.


"Om!!" Dan Anandita segera mengejarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Hari ini anak-anak dari rumah baca pergi rekreasi." Daryl seperti biasa mengunjungi Nania di klinik. Bersama Anya dan Zenya yang memang sengaja dia bawa.


"Rekreasi ke mana?" Nania yang fokus dengan gambarnya pun merespon.


"Aku dengan ke Dufan."


"Wow. Aku selalu mau ke sana tapi belum pernah." Perempuan itu terkekeh.


"Benarkah?" Daryl kemudian mengalihkan perhatiannya sejenak dari game di ponsel.


"Hu'um. Tapi ke Moscow sama Swiss udah." Nania tertawa.


"Kenapa? Dufan kan dekat?"


"Nggak ada waktu, dulu aku kan kerja terus. Punya uang juga sayang kalau dipakai piknik. Mending dipakai untuk berobat ayah." Lalu dia berhenti sejenak. Tiba-tiba saja dia mengingat ayahnya.


"Tapi nanti kalau udah keluar dari sini mau ke sana ya?" Kemudian dia melanjutkan kegiatannya.


"Kenapa harus menunggu nanti? Sekarang juga bisa kalau kamu mau?" Daryl menjawab, namun Nania menggelengkan kepala sambil tersenyum.


"Nanti aja," katanya.


"Why? Kamu belum mau pulang?"


"Hmm …." Dia bergumam.


"Kenapa?"


"Belum cukup."


"Apanya?"


"Akunya."


"Belum cukup apa?"


Nania terdiam sebentar untuk berpikir.


"Akunya belum cukup baik."


Kini Daryl yang terdiam. 


"Mungkin dua minggu lagi?" Nania mendongak sambil tersenyum menatap wajah sendu suaminya.


"Kenapa lama sekali?"


"Nggak, itu cukup."


"Untukku ini sudah terlalu lama."


"Tapi kan kamu bisa setiap hari ke sini."


Daryl tampak menghela napas pelan. Tapi dia tak bisa melakukan apa-apa selain menerima keputusan Nania karena tak ingin juga memaksanya. Apalagi jika dia tidak merasa nyaman dengan dirinya sendiri.


💖


💖


💖

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2