The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Cherrish


__ADS_3

💖


💖


"Are you okay?" Daryl duduk di pinggiran tempat tidur setelah dia selesai merapikan diri.


"Hu'um, cuma ngantuk aja." jawab Nania yang malah kembali meringkuk di tempat tidur padahal dia sudah mengenakan seragam hitam putihnya.


"Bisa-bisanya kamu ngantuk pagi-pagi begini?" Pria itu terkekeh sambil menundukkan kepala, dan sebelah tangannya mengusap-usap punggung Nania.


"Kamu sih semalaman ganggu aku terus. Tiap mau tidur ada aja alasannya!" Nania yang suaranya mulai melemah dan matanya yang perlahan tertutup.


"Itu salahmu." Daryl berbisik kemudian mengusap telinganya.


"Apaan? Kamunya aja yang baperan. Eh, Eragon yang baperan." Nania masih bisa tertawa meski dia hampir saja tertidur.


"Yeah, it's because you are too cute." bisik pria itu lagi, dan dia segera merangkul tubuh Nania. 


"Apa kamu tidak akan pergi sekolah?" Lalu dia bertanya.


"Hmm …." Nania hanya menggumam.


"Baiklah, itu bagus sekali karena aku juga kan libur. Hehehe."


Kedua mata Nania tiba-tiba saja terbuka lebar.


"Ehh … aku baru ingat kalau hari ini ada ulangan bahasa Inggris." Lalu dia bangkit sambil mendorong dada suaminya.


"Ayo Dadd, kita sarapan. Kamu antar aku kan?" Dia mengenakan sepatu dan meraih tas sekolahnya di sofa kemudian melenggang ke arah pintu.


"Yeah, who else?" Daryl mengikutinya ketika Nania melenggang keluar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Please!! Kamu belum berhenti makan dari tadi?" protes Daryl ketika Nania masih mengunyah potongan buah yang dibawanya dari rumah.


Sengaja, dia meminta kepada asisten rumah tangga untuk membuatkannya bekal berupa potongan dari beberapa jenis buah untuk dibawanya ke sekolah. Yang ternyata malah Nania habiskan dalam perjalanan.


"Udah abis." Perempuan itu menunjukkan kotak makannya sambil menyesap minuman dari tumbler seperti biasa.


"Curiga aku juga harus memberimu uang bekal lebih?" gumam Daryl yang menghentikan laju mobilnya di depan gedung.


"Kamu setelah dari sini terus ke mana?" Nania hampir saja turun dari mobil.


"Ya pulang lah, ke mana lagi?" Pria itu turun lebih dulu kemudian berjalan memutar untuk membuka kan pintu.


"Pulang?"


"Yeah. Pulang saja."


"Oke kalau gitu." Nania tersenyum lebar sambil menengadahkan tangannya.


"Baik." Lalu Daryl merogoh dompetnya di saku celana dan mengambil selembar uang lima puluh ribu seperti biasanya.


"Minta tambahin boleh nggak?" ucap Nania sebelum menerima uang tersebut.


"Tambah?"


Perempuan itu mengangguk.


"Tambah berapa?"


"Berapa aja. Dua puluh ribu juga boleh." Nania menatap dompet suaminya yang terisi penuh.


"Untuk apa?"


"Beli coklat."


"Memangnya lima puluh ribu kurang untuk beli coklat?"


"Mm … nanti mau aku bagiin kalau ketemu anak-anak pas pulang sekolah. Hehe …."

__ADS_1


Daryl terdiam sebentar.


"Ayo, … mana sini uangnya?" Nania menggerak-gerakan jari tangannya.


Lalu pria itu menarik beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribu dan memberikannya kepada Nania.


"Banyak amat?" Dan dia menerimanya dengan mata berbinar.


"Beli coklatnya yang banyak agar lebih banyak anak yang bisa kamu beri. Atau kalau perlu nanti kita beli pabrik coklatnya sekalian biar kamu bebas memberi siapapun yang kamu mau." Pria itu berujar.


"Jangan beli pabriknya … hahaha …." Nania tergelak.


"Kenapa? Kan bagus kamu tidak perlu repot-repot membeli satu atau dua kresek coklat. Tinggal menelpon orang pabrik dan satu atau dua mobil coklat akan dikirim ke rumah lalu kita bisa berkeliling membagikannya."


Nania tertawa lagi.


"Kalau gitu nanti aku nggak ada alasan belanja di mini market. Kamu tahu senangnya apa? Karena kita yang melakukanya sendiri. Kita belanja sendiri, Tuhan yang menggerakkan kita kemanapun untuk mereka yang butuh."


"Hmm …." Pria itu menggumam.


"Nggak usah sekaligus banyak, Dadd. Sedikit-sedikit aja dulu."


"Oh, baiklah. Terserah padamu saja." Lalu Daryl merangkul dan mencium pelipis Nania seperti biasa.


"Nanti tetep Regan yang jemput?" Nania bertanya sebelum mereka berpisah.


"Sepertinya ya. Aku harus mengatur beberapa hal di rumah."


"Ngatur apa?"


"Sepertinya aku butuh ruang kerja. Tidak apa kan jika satu kamar aku gunakan untuk ruang kerjaku?"


"Kan dibawah udah ada?"


"Aku butuh satu ruangan agar jika ada pekerjaan di akhir pekan aku bisa tetap mengerjakannya tanpa gangguan. Keponakan-keponakan sangat betah di rumah kita kan?"


"Oh … gitu?"


Nania mengangguk lagi.


"Kalau kurang bisa minta kepada Regan."


"Nggak usah, nanti aku ambil di ATM. Sayang juga uang dari kamu nggak kepakai." Perempuan itu tertawa lagi.


"Bagaimana mau terpakai? Setiap hari kamu meminta bekal dari aku kan?"


"Iya iya, … hahaha."


"Sudah, sana masuklah. Sebentar lagi belajar dimulai."


Nania menganggukkan kepala.


"Kamu nggak mau ngasih aku semangat gitu?" Namun Nania kembali berbicara.


"Semangat untuk apa?"


"Hari ini aku kan ulangan Bahasa Inggris."


"Oh iya. SEMANGAT!!" Daryl mengacungkan kepalan tangannya di depan wajah Nania.


"Bukan gitu."


"Terus bagaimana?"


Perempuan itu maju dua langkah kemudian berjinjit. Kedua tangannya merangkul pundak Daryl dan menariknya sehingga bibir mereka bertemu, dan sebuah kecupan manis terjadi dengan cepat.


"Mm … nakal! Ini kan di sekolah." Daryl dengan pipinya yang merona.


"Ih, nggak apa-apa. Kamu kan suami aku." Dan Nania segera melepaskannya.


"Ah, kalau sudah begini aku jadi ingin membawamu pulang lagi." Pria itu tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

__ADS_1


"Nggak bisa, aku kan ada ulangan. Males kalau harus nyusul." Nania tertawa melihat suaminya yang sedikit salah tingkah.


"Justru itu."


"Hmm …."


"Nanti jangan terlalu siang ya? Setelah selesai membagi coklat langsung pulang?" Daryl berpesan.


"Oke."


"Sekarang masuklah, aku juga akan pergi." 


Nania mengangguk lagi dan dia segera mundur bersamaan dengan Daryl yang masuk ke dalam Rubicon hitamnya. Lalu dia melambaikan tangan ketika pria itu pergi.


"Hey Nania?" Lisa berlari ke arahnya begitu ia tiba.


"Ya?"


"Terima kasih, undangannya sudah aku terima." Perempuan itu menunjukkan kartu undangan dari FSH yang Nania kirim untuknya.


"Oo udah sampai?"


"Sudah, tadi pagi-pagi sekali."


"Cepat juga ya? Padahal aku mintanya baru semalam." Mereka berjalan memasuki gedung.


"Ya."


"Hu'um, bagus deh. Nanti chat aku kalau udah di sana ya?"


Lisa menganggukkan kepalanya.


"Mungkin aku akan sangat sibuk, tapi bisa lah minta mereka untuk ngasih kamu akomodasi yang baik."


"Oke."


Dan mereka pun masuk ke dalam kelas saat kegiatan belajar hari itu segera dimulai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Barang-barang yang telah usang itu dilempar ke tumpukan yang memang sudah ada sejak pagi, tak lama setelah empat orang pria berperawakan tinggi mendatangi rumah sederhana bertingkat dua milik Mirna.


Perempuan itu tak bisa melakukan apa-apa selain terdiam di pojokan dengan air mata terus bercucuran. 


Dia ingin menghentikan mereka namun merasa takut dengan intimidasi. Ini ke tiga kalinya pria-pria itu datang dan menagih utang atas uang yang dipinjamnya dari seseorang pada dua bulan sebelumnya. Yang lagi-lagi harus membuatnya mengorbankan sesuatu karena tidak bisa membayarnya. 


Sementara para tetangga hanya melihat dari luar pagar dan mereka tidak berani mendekat. Bisa terjadi keributan jika hal itu mereka lakukan.


"Makanya, kalau tidak mampu jangan berani-berani pinjam uang, Bu. Begini kan jadinya?" Pria dengan kumis tebal yang duduk di kursi berbicara.


"Jangan sebut saya kejam ya, karena kesempatan itu sudah saya berikan lebih lama dari yang seharusnya. Tapi ibu sendiri yang ingkar janji. Saya ini pebisnis, bukan yayasan sosial yang bisa dengan seenaknua dimintai bantuan." katanya lagi yang mengibas-ngibaskan sertifikat rumah yang Mirna serahkan kepadanya sebagai jaminan.


"Setidaknya tunggu suami saya dulu, Pak. Dia sudah janji akan bawa uang untuk membayar." Mirna menjawab dengan suara parau.


"Alah, kalau pun iya, dia sudah pasti muncul."


Mirna menatap layar ponselnya yang sedang melakukan panggilan kepada Hendrik suaminya, yang telah seminggu ini menghilang. Namun panggilan tetap tak tersambung seperti hari-hari sebelumnya.


Kemudian sebuah tas berisi pakaian dilemparkan ke dekat kakinya.


"Sebaiknya ibu cepat pergi. Jangan sampai pembeli rumah ini mengira kalau apa yang sudah dibelinya masih ada penghuninya. Bisa rugi saya! Awas kalau nanti siang masih di sini!" ancamnya, lalu mereka pun kemudian segera pergi setelah yakin semua barang yang ada sudah dikeluarkan.


💖


💖


💖


Bersambung ....


Like komen hadiah masih tetap ditunggu ya. Alopyu sekebon 😘

__ADS_1


__ADS_2