
π
π
"Hari ini Regan yang menjemputmu ya? Aku ada pertemuan dengan staffnya Kak Dim." Pesan dari Daryl.
"Ada masalah?" Nania mengirim balasan.
"Tidak. Hanya membahas masalah regulasi saham yang baru. Ada Kak Dygta, Om Arfan dan Darren juga."
"Oh, oke."
"Langsung pulang ya? Jangan ke mana-mana dulu." Pria itu mewanti-wanti.
"Emangnya aku mau ke mana? Orang ada yang jemput kok?"
Daryl hanya membalasnya dengan emot tertawa.
"Itu Regannya udah dateng." Nania mengambil gambar pria yang turun dari Pajero hitam yang berhenti di pelataran parkir.
"Oke."
"Berarti kita nggak makan siang sama-sama ya?" Dia masih mengirimkan pesan ketika pria yang dipercaya Daryl untuk menjemputnya itu sudah dekat.
"Tidak. Dan kemungkinan aku pulang malam juga." Daryl membalas.
"Kenapa malam?"
"Di Fia's Secret ada pemotretan perdana untuk model baru."
"Ooooo β¦."
"Kenapa begitu?"
"Apanya?"
"Pesanmu."
"Pesan yang mana?"
"Itu huruf O nya banyak sekali."
Nania tertawa sendiri.
"Mari Bu?" Regan menginterupsi aktifitas berkirim pesannya.
"Ayo." Nania berjalan di depan sementara pria itu di belakangnya.
"Eh tunggu!" Namun dia berhenti sebentar.
"Ada yang tertinggal?" Regan bertanya.
"Kamu bilang apa tadi? Bu? Aku ini lebih muda dari kamu. Nggak usah lah kayak gitu."
"Maaf, itu namanya profesionalitas. Kamu istri atasan saya, dan saya ini adalah kepercayaan Pak Daryl. Tidak ada hubungannya dengan umur."
"Hah, berasa jadi ibu-ibu, padahal kan aku baru 20 tahun?" Nania menggerutu.
"Tetap saja kamu istri atasan saya. Bisa dihajar nanti kalau saya memanggilmu dengan nama saja."
"Apa-apaan sih? Tapi jangan terlalu formal lah. Rasanya jadi aneh." Lalu mereka melanjutkan langkah menuju mobil.
"Hey Nania? Kamu beneran mau pulang?" Zayn berhenti di dekatnya.
"Ya."
"Pulang ke rumah?" Dia bertanya.
"Ke mana lagi? Masa ke gunung?" Dan Nania menjawab.
Pemuda itu terkekeh sambil menggelengkan kepala.
"Tidak mau jalan-jalan dulu denganku?"
"Nggak tertarik." Nania kemudian masuk ke dalam mobil setelah Regan mebukakan pintu.
"Kenapa? Karena aku hanya mengendarai motor?"
Regan memutar tubuh, lalu dia masuk ke kursi pengemudi sambil menatap teman sekelasnya Nania.
"Apa dia sering mengganggumu?" tanya nya kepada perempuan itu.
"Nggak usah di dengerin, anggap aja kaleng rombeng." Nania menjawab.
"Serius?" Regan sempat menoleh dulu sekilas.
"Udah, ayo pulang?" ucap Nania lagi, lalu dia kembali pada layar ponselnya.
__ADS_1
"Hey, kamu baik-baik saja?" Regan menatap lewat kaca spion ketika perempuan itu tampak merebahkan tubuhnya pada sandaran kursi.
"Hu'um. Aku cuma lagi datang bulan jadi rasanya agak nggak enak." Nania menjawab.
"Datang bulan?"
"Iya. Ini hari pertama, jadi banyak banget. Saking banyaknya tadi aja sampai ganti dua kali pas lagi belajar." Tiba-tiba saja dia jadi banyak bicara.
"Ada yang bisa saya lakukan untuk membuatmu merasa lebih baik?" Regan mencoba menawarkan bantuan.
"Nggak usah. Cuma mau cepet pulang aja biar bisa tiduran. Rasanya lemes banget." Perempuan itu tampak memejamkan mata.
"Baiklah." Lalu Regan menambah kecepatan mobilnya.
"Eh, berhenti dulu!!" Tiba-tiba saja Nania berteriak ketika dia melihat sesuatu di pinggir jalan.
"Kenapa?" Dan Regan segera meghentikan laju mobilnya.
"Mau beli milk tea!!!" Dia mendorong pintuΒ sendiri, kemudian turun.
"Milk tea? Tadi katanya mau langsung pulang biar bisa tiduran?" Pria itu segera mengikutinya.
Nania kembali ke belakang dia mana sebuah stand minuman berada. Jenis-jenis jus buah dan milk tea komplit dengan varian rasanya.Β
"Mau itu!" tunjuknya pada gambar cup minuman tersebut.
"Bukannya kita akan pulang?" Regan mengingatkan.
"Iya, sebentar. Beli ini dulu." jawab Nania ketika pedagangnya membuatkan apa yang dia pesan.
"Di rumah juga ada kan?"
"Aku maunya beli."
Regan tak bisa menyanggah, dan dia hanya menunggu sampai hal tersebut selesai.
"Silahkan, lima belas ribu." ucap si penjual yang menyerahkan satu cup besar berisi bongkahan es dan minuman su*u bercampur teh itu kepada Nania.
"Oke, sebentar." Tapi perempuan itu lupa jika dia tak membawa uang. Dompetnya kosong dan yang dia ingat adalah semua uangnya ada di rekening termasuk pemberian suaminya.
"Aku nggak bawa uang." Nania bergumam.
"Apa?"
Kemudian dia menoleh kepada Regan sambil tersenyum.
"Kamu bawa uang tunai nggak? Pinjem dulu nanti sampai rumah aku ganti." Lalu dia menengadahkan tangan kepada Regan.
"Hmm β¦." Pria itu mendengus pelan kemudian dia mengeluarkan dompetnya dan menarik selembar uang berwarna biru.
"Aku bilang lima belas ribu. Bukan lima puluh ribu."
"Saya tidak punya, nanti juga dapat kembalian." Regan pun menjawab.
"Oke kalau gitu." Nania menyambar uang kertas tersebut kemudian dia serahkan kepada pedagang.
"Terima kasih." Kemudian dia berlalu.
"Eh, tunggu!!" Nania berhenti lagi ketika dia melewati sebuah toko bunga di mana berbagai macam tanaman diperdagangkan.
"Oh, ayolah!!! Kenapa mampir lagi ke tempat lainnya?" protes Regan namun tak urung juga dia mengikuti perempuan itu.
"Whoaaaaaa β¦ succulentnya lucu-lucu." Dia masuk dan berada di bagian kaktus dan succulent. Tanaman padang pasir yang saat ini sedang sangat diminati pecinta tanaman hias. Terutama yang berukuran kecil dan tak memakan terlalu banyak lahan untuk menanamnya.
"Aku mau ini, ini, ini, sama ini." Empat pot yang masing-masing terdiri dari dua buah kaktus dan dua buah succulent berukuran kecil dia pilih.
"Tambah satu lagi jadi lima puluh ribu." ucap si pedagang yang memasukkan benda tersebut pada kantong kresek.
"Oh ya? Ya udah, aku tambah satu buat di kamar." Nania mengambil tanaman itu satu lagi.
"Baik."
"Regan, boleh pinjam lagi lima puluh ribu?" Perempuan itu kembali menoleh kepada sopirnya yang tanpa banyak kata langsung memberikan apa yang diminta.
"Makasih ya? Nanti aku ganti di rumah. Atau mau aku transfer?" Nania duduk di kursinya memeluk kresek tanaman dan cuo minumannya dengan raut gembira.
"Tidak usah. Itu sudah termasuk biaya operasional yang saya dapat." Regan mulai menjalankan mobilnya.
"Maksudnya?" Nania menyesap minuman dinginnya dengan semangat.
"Nanti akan saya laporkan di akhir bulan, dan perusahaan akan menggantinya."
"Masa? Jadi aku nggak usah ganti?" Perempuan itu dengan mata berbinar.
"Tidak usah. Nanti perusahaan yang ganti."
"Ohhh senang sekali ya kalau gitu? Uangku utuh. Hahaha. Baiklah, terima kasih." Nania dengan riang gembira.
__ADS_1
"Sama-sama. Sekarang, apa kita akan benar-benar pulang?" Pria itu meyakinkan Nania.
"Iya, pulang aja. Aku masih mikir besok mau apa lagi ya kalau pulangnya kamu yang jemput? Enak kan, soalnya kalau sama suami aku nggak boleh." Nania terkekeh.
"Jangan sering-sering, nanti saya yang kena masalah." Regan memperingatkan.
"Nggak akan. Kan atasan kamu nggak tahu?"
"Pasti tahu."
"Ya kalau kita nggak bilang nggak akan tahu kan?"
"Ada yang akan melapor."
"Hum?"
"Saya setiap jam melapor kalau dapat misi. Jadi tidak bisa berbohong."
"Malah, tadi pas kamu beli milk tea dan kaktus, saya lapor kepada Pak Daryl."
"Masa?"
"Ya."
"Ah, β¦ nggak asik." Nania kembali merebahkan punggungnya pada sandaran kursi. Tiba-tiba saja dia kembali merasa lemas.
***
"Bersiap untuk interogasi, Bu."Β Regan menepikan mobil yang dia kemudikan di depan teras setelah mereka tiba di kediaman Satria.
"Kok berasa cepat ya?" Nania bangkit lalu menurunkan kedua kakinya begitu pria itu membuka pintu.
Tak lupa dengan cup milk tea dengan kresek berisi tanaman yang baru saja dia beli. Namun dia menghentikan langkah ketika mendapati Daryl yang berdiri di tengah teras sambil bersedekap.
"Lebih dua jam dari yang seharusnya." ucap pria itu setelah menatap jam di tangannya.
"Eee β¦ kamu kok udah pulang?" Nania bertanya.
"Ya. Pertemuannya hanya sebentar, jadi aku memutuskan untuk pulang terlebih dahulu sebelum kembali ke Fia's Secret."
"Umm β¦."
"Regan, bukankah sudah aku katakan kepadamu untuk menjemput dan segera membawanya pulang?" Daryl beralih kepada orang suruhannya itu.
"Ya Pak."
"Lalu mengapa kau malah membawanya ke tempat yang tidak seharusnya?"
"Itu aku yang minta. Tadi beli minuman terus ke toko bunga." Nania menyela.
"Memangnya di rumah tidak ada?" ujar Daryl kepada istrinya.
"Ada, tapi tadi aku lihatnya kayak β¦."
"Itulah mengapa disediakan di rumah agar kamu tidak membeli sembarangan! Dan ini apa lagi?" Daryl maju kemudian meraih kresek hitam di dekapan Nania.
"Kaktus sama succ β¦."
"Bukankah yang seperti ini juga ada di taman belakang? Kenapa kamu membelinya?" Dia bertanya lagi.
"Kan ini bentuknya lucu, jadi biar nambah gitu β¦."
"Tanaman kita sudah banyak, kenapa ditambah lagi?"
"Aku kan lihatnya β¦."
"Mima!!!" Daryl berteriak, membuat semua orang terkejut tak terkecuali Nania.
"Iya Pak?" Sang asisten rumah tangga muncul setengah berlari.
"Bawa kreseknya ke belakang." Pria itu lantas menyerahkan benda tersebut kepadanya.
"Baik Pak." ucap Mima yang menerima kresek dan dengan cepat kembali lagi ke dalam.
"Kau kembali ke tempatmu!" perintah Daryl kepada Regan, dan pria itu segera melakukan apa yang dikatakannya.
"Dan kamu β¦. Cepat masuk!" katanya kepada Nania, lalu dia mundur untuk memberi perempuan itu jalan.
Tak ada hal lain yang bisa Nania lakukan selain menuruti apa yang suaminya katakan.
Mati kamu Nania!! Gumamnya dalam hati.
π
π
π
__ADS_1
Bersambung ....
Nah lu Nania!!! Dibilangin harus pulang kan? ππ