The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Status


__ADS_3

💖


💖


"Kenapa makanannya ada padamu?" Daryl bertanya saat Dinna masuk membawa tote bag yang dia hafal berasal dari kedai Amara.


"Iya Pak. Barusan Raka menitipkannya kepada saya. Dia harus cepat-cepat kembali karena kedainya sangat ramai." Sang sekretaris menjawab.


"Raka?"


"Iya." Dia meletakkan benda tersebut di meja. 


"Kenapa Raka?" Daryl bertanya lagi.


"Katanya hari ini Nania libur, Pak." 


"Ck!" Pria itu berdecak. "Mengapa dia tidak memberitahuku?" Lalu dia meraih ponselnya bermaksud melakukan panggilan kepada Nania.


Ah, Daryl lupa jika dirinya tak memiliki nomer ponsel gadis itu. Selama ini kan dia selalu memesan makanan lewat nomor resmi kedai yang dipegang oleh Amara.


"Haih, proklyatyie! (sialan)." Dia setengah melempar benda pipih itu kembali ke mejanya.


"Mau saya siapkan makan siangnya Pak?" tawar Dinna kemudian.


Daryl menoleh dengan dahi berkerut.


"Memangnya siapa dirimu? Istriku? Sehingga harus menyiapkan makan siangku? Aku masih bisa melakukannya sendiri." Pria itu bangkit dari kursinya lalu mendekat ke sofa seperti biasa.


"Umm … biasanya juga kan di …."


"Keluarlah! Aku mau makan." katanya, lalu dia duduk.


Dinna menurut tanpa banyak bicara.


"Jangan biarkan siapa pun masuk selagi aku makan. Aku tidak mau diganggu! Atau akan aku makan juga kalau ada yang nekat." Daryl meninggikan suaranya.


"Ish, sukanya makan orang?" Dinna bergumam.


"Dinna!!!" Pria itu kemudian berteriak.


"Iya Pak, saya mengerti." jawab perempuan itu sambil menutup pintu.


"Perasaan setiap di antar makanan maunya langsung disiapkan? Nania juga kan bukan istrinya? Huh, dasar pria aneh." Dinna kembali ke mejanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nania mengerjapkan mata karena pandangannya yang buram. Kemudian dia memegangi kepalanya yang terasa pening dan menemukan sebuah perban melekat di pelipisnya.


"Kamu bangun, Nna?" Nenek bangkit saat mengetahui cucunya membuka mata.


"Aku pikir aku udah mati." Nania bergumam. Dia mengingat kejadian terakhir saat sebuah pukulan membuatnya terjatuh hingga tak sadarkan diri.


"Kalau kamu mati lalu Nenek dengan siapa? Jangan bicara sembarangan!" Nenek segera memeluknya.


"Aku mending mati aja kalau kayak gini. Aku udah nggak punya apa-apa. Semuanya udah ibu ambil." Nania hampir menangis.


"Sabar, Nduk."


"Kalau yang lain aku bisa sabar, tapi ini? Ibu benar-benar keterlaluan, Nek!"


Nenek mengusap-usap punggung cucunya.


Gadis itu bangkit.


"Mau sampai kapan kita di sini? Lama-lama aku beneran mati. Apa-apa main pukul, main tendang. Gimana bisa hidup tenang kalau gini?" Nania kembali memegangi kepalanya yang terasa sakit.


Tampaknya benturan itu cukup keras sehingga menyebabkan luka di ujung alis dekat pelipis dan harus ditutup dengan perban.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nania mengintip lewat celah pintu yang dia buka. Rumah pagi itu cukup sepi dan tak ada siapa pun yang terlihat meski matahari sudah menampakkan diri. Biasanya Mirna sudah siap di dapur atau setidaknya dia sudah beraktifitas. Mungkin efek pertengkaran kemarin membuat seisi rumah menjadi enggan untuk berinteraksi.


Dia bergegas ke kamar mandi yang terletak di sudut dapur untuk membersihkan diri, dan kembali setelah beberapa menit.


"Kamu hari ini masuk kerja, Nduk?" Nenek merapikan tempat tidurnya.


"Iya." Sementara Nania berpakaian.


Dia mengenakan jeans dan kaos kedodoran berlogo Amara's Love dilapisi hoodie berwarna abu-abu. Tidak lupa kaus kaki putih dan sepatu ketsnya seperti biasa.


"Tidak sebaiknya kamu libur sehari lagi? Lihat, pelipismu berdarah lagi." Nenek menyentuh perban di pelipis cucunya.


"Kalau ambil libur lagi nanti kita yang susah, Nek." Nania merogoh sesuatu dari dalam tasnya.


Amplop yang dia dapat dari Daryl teampo hari yang masih tertutup rapat.


"Nenek pegang uangnya ya? Aku nggak sempet masak." Lalu dia menyodorkannya kepada sang Nenek.


"Kamu masih punya uang?" Perempuan tua itu tak langsung menerimanya.


"Itu dari Pak Daryl." Nania menjawab.

__ADS_1


"Dikasih?"


"Iya."


Nenek terdiam.


"Bayaran karena setiap hari nganterin makan siang buat dia, Nek. Bukan karena jual diri." Gadis itu ingat tuduhan ibunya.


"Bukan begitu, maksud Nenek …."


"Nggak apa-apa, ambil Nek!" ucap Nania dengan posisi tangan masih seperti itu.


"Kamu bagaimana?" Ragu-ragu nenek mengambilnya.


"Untuk ongkos hari ini aku masih ada. Lagian nanti juga suka dapat tip dari tamu. Nenek nggak usah khawatir. Beli lauk untuk makan ya?"


"Iya."


"Jangan lupa beli ayam, jangan cuma sayur doang. Biar Nenek sehat."


Sang nenek tertawa.


"Aku pergi ya?"


Perempuan itu mengantarnya hingga ke teras.


Nania melirik motor baru milik Kakaknya yang terparkir di teras.


Itu pasti duit ayah! Batinnya, dan rasanya dia ingin menjerit sekencang-kencangnya karena hal itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu kenapa?" Ketiga temannya datang menghampiri begitu dia tiba.


"Nggak kenapa-kenapa." Nania melepaskan hoodie lalu menggantinya dengan affron hitam seperti biasa.


"Kening kamu …." Nindy menunjuk perban yang menempel di pelipis kanan temannya tersebut.


"Kejedot di tangga." Nania menjawab.


"Kejedot di tangga?"


Gadis itu menganggukkan kepala.


"Habis ngapain?"


"Kemarin seharian beres-beres, nggak sadar malah lari-lari, jadinya ya gini." Dia mengecek beberapa hal.


"Iya, kan udah aku bilang jatuh." Nania menjawab.


"Jatuh atau kejedot?" Ardi ikut bicara.


Gadis itu terdiam.


"Udah diobatin belum?" Nindy menyela.


"Udah semalam."


"Emang jatuhnya kapan? Malam? Kok beres-beres rumah sampai malam? Beresin apa aja?" Raka juga ikut bicara.


"Umm … itu … aku …."


Lalu terdengar suara lonceng yang berada di bagian atas pintu, dan Amara tiba bersama Galang seperti biasanya.


"Hey, kalian sudah siap." Perempuan itu segera duduk di bagian kasir, sementara Galang meletakkan tasnya di meja di belakang.


"Aku langsung pergi ya?" katanya kemudian.


"Nggak minum dulu?"


Galang menggelengkan kepala sambil tersenyum, lalu dia mengecup puncak kepala perempuan itu. Dan beberapa detik mengusap-usap perut buncitnya yang kehamilannya sudah memasuki usia tujuh bulan.


"Nanti siang makan di sini kan?" tanya Amara sebelum suaminya pergi.


"Iya, memangnya mau ke mana lagi?" Galang menjawab.


"Ya siapa tahu habis meeting makan diluar kan?"


"Iya, makannya di sini." pria itu tertawa.


"Ya udah."


"Oke. Pamit ya?" ucap Galang lagi, kemudian segera pergi setelah melambai kepada pegawai istrinya.


***


"Kamu kenapa?" Pertanyaan yang sama Amara lontarkan ketika melihat keadaan Nania.


"Habis jatuh di tangga Kak." jawab gadis itu.


"Kemarin?"

__ADS_1


Nania menganggukkan kepala.


"Kok bisa?"


"Iya, seharian kemarin beres-beres rumah, terus jatuh di tangga."


"Pipi kamu juga?"


"Iya Kak."


"Beresin apa kamu sampai segitunya?"


"Maklum Kak, baru aku beresin."


"Memangnya di rumah cuma ada kamu apa? Heran."


"Umm …."


"Oh iya, bulan ini kayaknya kita bakalan tambah sibuk karena aku nerima order catering untuk pernikahan." Amara mengalihkan topik pembicaraan.


"Nikahan?"


"Ya. Kak Darren yang nikah, jadi harus bener-bener serius nih."


"Pak Darren?"


"Iya."


"Pak Darren itu … adiknya Pak Darryl kan?"


"Iya, bener."


"Udah mau nikah aja? Kakaknya masih jomblo?"


"Ya karena udah ada jodohnya, tunggu apa lagi? Kalau Kak Daryl masih nunggu hilal."


"Emang nggak apa-apa ya kalau gitu?"


"Nggak apa-apa, emangnya kenapa?"


"Maksud aku Pak Darylnya di duluin adiknya?"


"Nggak apa-apa."


Nania mengangguk-anggukkan kepala.


"Kamu mau daftar?" Amara terkekeh.


"Daftar apaan?"


"Jadi jodohnya Kak Daryl?" Perempuan itu berkelakar.


"Umm … Kakak ngaco."


"Ya siapa tahu mau daftar. Dia kan jomblo."


"Mm … mana berani?"


"Kenapa bilang begitu? Gitu-gitu dia baik tahu? Cassingnya aja galak, tapi kalau udah deket dia baik banget."


"Kakak bilang gitu kayak yang dia orang biasa aja?" Nania berujar.


"Lho? Kak Daryl emang orang biasa? Apa masalahnya?"


"Umm … selain umurnya yang jauh, statusnya juga nggak memungkinkan untuk aku jangkau."


"Maksudnya?"


"Terlalu tinggi, Kak."


"Pakai tangga."


"Aku nggak punya tangganya."


"Pakai kursi." 


"Kursinya sebentar lagi penuh sama pengunjung."


Amara tertawa.


"Udah ah, Kakak bikin aku kegeeran." Nania kembali ke pantry untuk menyiapkan beberapa hal.


💖


💖


💖


Bersambung ...


Votenya udah ada?😂

__ADS_1


__ADS_2