
💖
💖
Nania menatap pria itu yang masih terlelap padahal hari sudah pagi. Dia pasti sangat kelelahan karena sepertinya semalaman terus memeriksanya setiap setengah jam sekali untuk memastikan jika dirinya baik-baik saja.
Anak seorang Nikolai tidur di kasur udara yang dibawakan oleh orang suruhannya, di area kasir Amara's Love sepertinya akan menjadi sejarah bagi kedai itu.
Nania tersenyum samar. Bahkan orang lain bisa sepeduli itu kepadanya.Â
Dia yang tidak tahu dirinya bagaimana atau apa saja yang dialaminya. Hanya melihat yang sedang terjadi sekarang saja membuatnya tidak mau pergi, malah tetap berada di sana untuk menemaninya.
Kepala Daryl tampak bergerak perlahan. Dia menggeliat seraya membuka matanya perlahan. Lalu mengerjap untuk menyesuaikan cahaya yang masuk lewat celah tirai yang terbuka sedikit.
Dia tercenung sebentar sebelum akhirnya menyadari kehadiran Nania di sana.
"Sejak kapan kamu di sana? Melihat aku tidur ya?" Pria itu bangkit seraya menarik selimut untuk menutupi dadanya yang terbuka. Dia memang terbiasa tidur tanpa pakaian bagian atas karena itu membuatnya merasa nyaman.
Nania mengerutkan dahi. Dia bahkan tidak menyadari tentang hal itu.
"Kirain Bapak pulang?" Gadis itu melenggang ke pantry.
"Tadinya, tapi tadi subuh aku lihat kamu nyenyak sekali jadinya tidak tega untuk meninggalkanmu." Daryl beranjak dari tempat tidur seraya mangenakan kausnya, lalu dia melakukan panggilan telfon.
"Bapak mau kopi?" tawar Nania yang sudah menyalakan kompor.
"Boleh." Pria itu berjalan ke arah toilet di bawah tangga sambil menyugar rambutnya yang berantakan.
Seorang pria berstelan jas hitam masuk ke dalam kedai dengan menenteng dua paperbag berukuran besar, ditambah sebuah jas yang terbungkus plastik khusus.
"Maaf, kedai belum buka." Nania berbicara dari dalam pantry.
"Saya datang untuk Pak Daryl, Bu." jawab pria itu bersamaan dengan Daryl yang keluar dari dalam toilet.
"Hey, bisakah aku menggunakan kamar mandi di atas? Di sini tidak ada shower. Aku sedikit kesulitan." ujar pria itu.
Nania hampir membuka mulutnya untuk menjawab, namun Daryl sudah berlari ke lantai atas di mana kamarnya berada. Diikuti pria yang baru saja masuk yang tak berapa lama segera keluar dan pergi meninggalkan mereka.
***
Nania meletakkan cangkir keramik berisi kopi hitam yang mengepulkan uap panas beserta krimer cair di sebelahnya. Sementara cangkir miliknya dia isi dengan teh kental bercampur su*u dan sedikit gula. Yang merupakan minuman favoritnya dengan sang ayah semasa pria itu masih ada.
Dua porsi roti bakar dengan isian selai blueberry dan keju menjadi pendamping sarapan mereka pagi itu. Dan Nania sudah menatanya juga di meja.
Lalu terdengar suara dari lantai atas di mana Daryl yang sepertinya sedang berpakaian.
"Ah, kenapa dia tidak mendengarkan aku? Bukanya sudah aku katakan untuk tidak membawakan pakaian semacam ini!"
Lalu terdengar lagi ocehan yang bahasanya tak Nania mengerti.
"Dasar! Bespoleznyy idiot!! (orang bodoh tidak berguna!)"
"Apa sih ini orang pagi-pagi berisik amat?" Gadis itu menaiki tangga ke lantai dua untuk memeriksa.
Dari celah pintu, Daryl terlihat duduk di tempat tidur dengan pakaian berantakan dan ponsel menempel di telinga. Kemejanya belum terkancing dan celananya bahkan tidak tertaut dengan benar. Jangan lupakan juga sepatunya yang berserakan di lantai.
"Ah, sialan!" Dia melemparkan ponselnya ke belakang tubuh.
Kemudian perhatiannya beralih ketika ada pergerakan bayangan di celah pintu, dan dia tahu itu siapa.
"Nania!!" teriaknya, seraya bangkit.
"Maaf Pak, saya nggak ngintip!" Gadis itu mundur.
"Kemarilah!"
__ADS_1
"Nggak Pak, saya cuma periksa aja kenapa Bapak marah-marah? Bukan mau ngintip." katanya lagi.
Daryl lantas melesat ke arah pintu dan membukanya lebar-lebar.
"Hey, aku butuh bantuanmu!" katanya, yang menghentikan langkah Nania.
"Nania!"
"Maaf Pak, saya …."
"Cepatlah! Aku membutuhkanmu untuk mengancingkan kemejaku!"
"Ap-apa?"
"Nania! Cepat!" Pria itu sedikit membentak, membuat Nania terhenyak dan dengan refleks dia kembali ke atas. Mendekat kepadanya yang berada di ambang pintu.
Dayl mengerutkan dahi, namun sedetik kemudian satu sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman samar.
"Cepat!" bentaknya lagi, dan dengan kedua tangan bergetar gadis itu mulai menautkan kancing-kancing pada kemejanya.
Dia menutup mulutnya rapat-rapat dan tampak tak bernapas dengan pandangan tertuju pada tubuh bagian atas pria itu.Â
Tidak! Maksudnya, pada kancing kemejanya, tapi pada apa yang ada dibaliknya yang tak dapat dia hindari.
"Su-sudah Pak." Nania tergagap.
"Celananya belum." jawab Daryl yang menunjuk pengait pada celana bagian atasnya.
Nania menelan ludahnya keras-keras.
"Mm … masa itu juga?" Gadis itu dengan suara bergetar.
"Memangnya kenapa?"
"Ee … "
"Udah kan, nggak ada lagi?" Nania memastikan.
"Memangnya kamu mau membantuku memakai yang lain?" Daryl menyeringai.
"Apa? Mm … nggak!" jawab Nania yang segera turun ke lantai bawah, sementara Daryl hanya tertawa.
Namun kemudian dia tertegun setelah menyadari kejadian tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya dia tidak merasa malu ketika meminta orang lain selain Darren untuk mengancingkan kemejanya.
***
"Nanti tidak usah mengantar makan siang." Daryl melahap habis roti bakarnya.
"Kenapa?"
"Aku beri kamu libur karena sedang masa berkabung."Â
"Beneran?"
"Iya, tapi cuma seminggu ya? Setelah itu antar lagi seperti biasa."
Nania menganggukkan kepala.
"Terus kalau Bapak mau makan?"
"Gampang. Nanti aku yang ke sini." jawab pria itu yang menyesap habis kopinya yang sudah dingin.
"Tapi kan jauh?"
"Tidak apa-apa, masih di Jakarta kan, bukan ke Bangkok." Dia bangkit dari kursi seraya mengenakan jasnya.
__ADS_1
"Hum?" Nania tampak menjengit, namun hal itu membuat Daryl tertawa.
"Aku … kerja dulu ya, Malyshka. Jangan terlalu banyak melamun. Kasihan nenekmu kalau kamu sedih." Pria itu menepuk puncak kepala Nania pelan-pelan.
"Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Aku akan memastikan itu." katanya lagi, yang kemudian segera pergi.
***
"Duh? Semalam ada pesta piyama kah? Tempat tidurnya belum diberesin." Nindy yang selalu datang lebih pagi dari yang lainnya, seperti biasa.
"Apaan?" Nania menghampiri area di dalam kasir yang kasur udara dan selimut bekas tidurnya Daryl belum dibereskan.
"Siapa yang bobok di sini? Pak Daryl atau kamu? Atau malah kalian bobok bareng?" Gadis itu memicingkan mata sambil mengarahkan telunjuknya kepada Nania.
"Sembarangan!" Dia menepis telunjuk teman kerjanya, lalu segera membereskan kekacauan itu sebelum orang berikutnya tiba dan mengatakan hal yang sama.
"Haaaa … ada sesuatu …."
"Nggak! Kamu ngaco!" Nania dengan wajah memerah. Dia mencabut penyumbat udara di bawah kasur.
"Iya juga nggak apa-apa, itu berarti …."
"Sssttt! Jangan ngomong sembarangan, nanti fitnah!" tukas Nania yang menginjak-injak kasur agar udara di dalamnya keluar dan dia bisa merapikannya.
"Bobo bareng, sarapan sama-sama, terus apa lagi?" Nindy melirik salah satu meja yang berantakan.
"Nggak bobo bareng juga!" Nania memekik kesal.
"Ya bareng lah. Bobo di kedai."
"Aku di atas, Pak Daryl di bawah."
"Duh?"
"Maksud aku … aku di kamar, Pak Daryl di sini."
"Sama aja, itu namaya bobok bareng."
"Bukan! Jangan bilang gitu, nanti yag lain salah mengartikan!"
"Soal apa?" Ardi dan Raka tiba hampir bersamaan.
"Itu, yang bobok bareng." Nindy menjawab.
"Siapa yang bobok bareng?" Salah satu dari mereka bertanya.
"Nania sama Pak Daryl."
"Apa?" Amara dan Galang yang tiba berikutnya.
"Bukan gitu!! Kalian salah paham kan!" Ninia dengan frustasi.
"Masa begitu? Nggak boleh tahu! Harus nikah dulu. Aku tawarin daftar dari kemarin berlagak nggak mau, tapi giliran ditinggal berdua langsung bobok bareng aja?" Amara dengan pikirannya.
"Nggak ihhh!!!" Nania menghentakkan kakinya di lantai.
"Kalian salah faham!" rengeknya dengan nada kesal campur frustasi.
💖
💖
💖
Bersambung ...
__ADS_1
Nah lu, ketahuam bobok bareng 😜😜