
💖
💖
"Anak-anak udah pada pulang ya?" Nania mengeringkan rambutnya di depan cermin.
"Sepertinya iya." Sementara Daryl duduk memperhatikannya di sofa.
"Kita pulangnya kemalaman kali ya?" Perempuan itu melirik jam yang menunjukkan pukul delapan malam.
"Hmm …."
"Kamu lapar nggak?" Nania menyisir rambut panjangnya sambil menatap cermin di depan. Sementara Daryl mengintip bagian belakang tubuhnya ketika gaun tidur sepaha yang dikenakannya sesekali tertarik ke atas karena pergerakannya. Membuat bokongnya yang ausah membesar sesekali terlihat.
"Daddy?" Kemudian perempuan itu menoleh.
"Umm … ya?" Lamunannya buyar seketika.
"Lapar nggak? Kalau lapar aku mau bikin makanan." tanya Nania lagi.
"Umm …."
"Tapi kalau makanan berat kayaknya ngga deh. Bikin apa ya?" katanya.
Daryl merebahkan kepalanya pada sandaran sofa lalu dia menepuk pahanya memberi isyarat kepada Nania untuk mendatanginya. Dan perempuan itu menurut.
Dia duduk di pangkuan Daryl dan sebelah tangannya merangkul pundak suaminya.
"Kata dokter jangan sering-sering ML dulu, Dadd. Takut babynya kenapa-kenapa. Kan masih muda?" ujarnya ketika dia mengira suaminya menginginkan sesuatu.
"I know."
"Terus?"
"Hanya mau begini saja." Pria itu merangkul tubuh Nania dan mengusap-usap punggungnya. Lalu dia menyurukkan wajah di dadanya yang mulai terlihat membesar jiga karena efek kehamilannya.
"Check up lagi kapan?" Dia bertanya.
"Tiga mingguan lagi."
"Umurnya sudah dua bulan?" Daryl menyentuh perutnya di mana ada janin yang sedang tumbuh.
"Ya, nanti dua bulan lebih." Nania menjawab.
"Setelah itu, tiga, empat … tujuh … sembilan … lalu lahir?"
Nania menganggukkan kepala.
"And we're both being a parent."
"Ya."
"Apa aku bisa ya? Hahaha." Daryl tertawa.
"Nanti juga bisa. Kita akan belajar, iya kan?"
"Hmm …." Pria itu menganggukkan kepala, lalu dia mendongak.
Daryl meraih wajah Nania untuk kemudian dicumbunya bibir semerah cherry itu dengan penuh perasaan. Hatinya memang selalu berdebar kencang setiap kali mereka berdekatan seperti saat pertama kali bertemu. Dan semakin hari dirinya semakin mencintai perempuan itu.
Tangannya mengusap-usap paha Nania. Dan bahkan merayapi kulit dibalik pakaian tidurnya yang tipis nan lembut itu.
"Umm …." Namun perempuan itu segera menghentikan ketika tangannya masuk lebih jauh.
"Aku lapar, Dadd." katanya, yang segera menghentikan cumbuan.
__ADS_1
"Ck!" Daryl berdecak kesal. Dia merasa kesal karena kesenangannya terganggu.
"Minta Mimma saja untuk mengantar makanan?" ujarnya seraya melepaskan perempuan itu.
"Nggak usah, aku mau bikin cemilan aja ah." Nania pun bangkit lalu melenggang ke arah pintu.
***
"Kamu lapar juga ya? Belum matang lho." Nania mendapati suaminya yang menyusul ke dapur, dan dia berdiri menyandarkan tubuhnya pada meja makan.
"Memangnya apa yang sedang kamu buat?" Pria itu bertanya.
"Cireng." Nania memasukkan seuatu ke dalam minyak panas di wajan.
"Cireng?" Daryl membeo.
"Aci digoreng?" jawab Nania.
"Aku tahu apa itu cireng."
"Aku kira nggak tahu. Hahaha."
"Ck! Berapa lama sih kita menikah? Makan-makanan itu kan yang sering kamu buat?" Dia pun melenggang ke dekat counter di mana Nania berada.
"Terus kamu mau ngapain ke sini? Kan aku …."
PLAAKK!
Tiba-tiba saja Nania terdiam setelah pria itu menampar bokongnha dengan keras.
"Aku mau kopi. Hehehe." Daryl terkekeh.
Dia mengambil cangkir dan kopi instant di kotak penyimpanan kemudian menyeduhnya sendiri.
"Nanti kamu susah tidur lho." ujar Nania yang kembali fokus pada apa yang sedang dimasaknya.
"Dadd! Itu sakit tahu?" katanya dengan kesal.
"Pant*tmu sekarang besar, Malyshka!" Sedangkan dirinya melenggang ke arah ruang tengah sambil tertawa.
"Besar juga gara-gara kamu kan!" Perempuan itu menggumam.
***
"Makan beginian kamu semangat, tapi makan nasi malah muntah-muntah?" Daryl menatap piring yang hampir kosong yang hanya tersisa tiga buah makanan yang Nania sebut dengan cireng itu.
"Ini sama nasi beda tahu." Perempuan itu menjawab.
"Apa bedanya? Di dalamnya juga isi ayam?" Pria itu mengambil satu kemudian menggigitnya hingga tampaklah isi di dalamnya. Semacam suiran ayam berbumbu pedas yang sangat kuat.
"Dan ini pedas. Lama-lama asam lambungmu kumat kalau sering makan makana seperti ini." katanya yang sedikit terbatuk ketika sensasi terbakar menjalar di tenggorokkannya.
Nania hanya tertawa sambil memainkan ponselnya.
"Aku udah ngantuk ah, mau tidur." Lalu dia bangkit setelah merasa perutnya kenyang.
"Realy? Aku baru mulai makan lho?" Daryl mengunyah makanannya dengan cepat.
"Salah sendiri, dari tadi diem aja. Giliran aku udah selesai kamunya baru makan." Perempuan itu berjalan ke arah tangga.
"Okay, wait!!" Pria itu mengejarnya hingga mereka tiba di kamar dan dia terus menepuk-nepuk bokong Nania.
"Berhenti ih!" protesnya sambil menepis tangan suaminya yang mulai jahil.
"Tidak bisa, karena kamu melarangku untuk melakukam sesuatu maka pikiranku harus dialihkan." Namun Daryl tak mengindahkan gerutuan istrinya. Dia terus saja menyentuh bokong perempuan itu hingga mereka naik ke tempat tidur.
__ADS_1
"Itu tangan kamunya aja yang genit, megang-megang terus!"
"Biarkan saja, toh ini semua kan milikku?" Pria itu merapatkan tubuh mereka, dan dia memeluknya dengan erat. Tangannya bahkan sudah berada di dada Nania dan dia menggenggam salah satunya dengan gemas.
"Dadd!!" Perempuan itu protes lagi.
"Apa?"
"Jangan kenceng-kenceng megangnya. Kan sakit!!" Dia berusaha melepaskan tangan itu dari dadanya.Â
Dan begitu seterusnya hingga salah satu dari mereka tidur lebih dulu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Punggung Mirna membentur dinding begitu mereka berhasil masuk ke dalam unit tempat tinggalnya. Setelah perdebatan panjang selama perjalanan akhirnya mereka tiba dan keduanya masih saja bertengkar.
"Bukankah sudah kukatakan untuk minta apa saja darinya? Kau ini tuli ya?" Handrik setengah berteriak.
"Disana ada suaminya, dan aku tidak bisa berbuat lebih." Perempuan itu menjawab.
"Dasar kau bodoh!" Hendrik menghempaskan tas milik Mirna ke lantai hingga isinya berhamburan. Termasuk lembaran uang pecahan kecil yang tampak kusam.
"Perempuan tidak berguna!" katanya lagi yang memunguti uang tersebut.
"Yang tidak berguna itu kau! Mengapa tidak mencari kerja saja yang benar? Mengapa hanya judi saja yang kau lakukan padahal sudah jelas itu yang membuatmu hancur? Mengapa kau tidak mau berusaha?" Mirna menjawabnya dengan terang-terangan.
Namun mulutnya tiba-tiba saja tertutup ketika sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.
Bahunya bergetar dan napasnya memburu. Kedua matanya bahkan terasa panas, dan sesaat kemudian buliran bening meluncur bebas.
Mirna segera mendorongnya, lalu dia membereskan kekacauan tersebut.Â
"Jika memang aku sudah tidak berguna untukmu, maka ceraikanlah aku!" Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutnya, membuat Hendrik membelalakkan matanya lebar-lebar.
"Apa katamu?"
Mirna mengumpulkan segenap keberanian yang dia miliki. Dan dia berpikir, jika saja keputusan ini tak diambilnya, maka tak akan ada jalan lain lagi baginya untuk melepaskan diri dari lingkaran setan ini.
"Ceraikan aku sekarang juga, dan kita cari jalan masing-masing agar tidak ada yang merasa terbebani. Susah senang kita sendiri-sendiri mungkin akan lebih baik." katanya.
Sedangkan Hendrik membeku.
Mirna bergegas membereskan pakaiannya ke dalam tas dan dia bersiap untuk pergi ketika pria itu menerjangnya tanpa aba-aba.
Hendrik mendorongnya hingga perempuan itu terhempas ke atas tempat tidur lalu mencengkram lehernya dengan kuat.
"Hendrik!!" Mirna terbatuk-batuk. Dia berusaha melepaskan cengkraman suaminya meski tampaknya tidak akan membuahkan hasil.
Kakinya menendang-nendang di udara sementara tangannya menggapai-gapai wajah suaminya.
"Hendrik!"
"Selangkah saja kau berani pergi meninggalkanku, akan aku pastikan nyawamu melayang dengan mudah." geramnya di dekat telinga Mirna.
"Kau dengar itu? Hum? Tidak ada yang bisa kau lakukan selain tetap bersamaku. Dan jika saja kau berani pergi, maka aku akan memburumu sampai aku mendapatkanmu bagaimana pun caranya." ucap pria itu lagi sebelum akhirnya melepaskan cengkramannya dari leher Mirna.
Handrik turun kemudian pergi meninggalkannya sendirian. Terdengar kunci diputar sebanyak dua kali dari luar dan Mirna pun bisa bernapas lega.
Perempuan itu tertegun untuk beberapa saat kemudian membalikkan tubuh, dan menangis sejadi-jadinya.
💖
💖
💖
__ADS_1
Bersambung ....
Duh, ada nyesek-nyeseknya gitu ya? 😣