
π
π
Nania merangkak ke kamar mandi saat merasakan perutnya bergejolak hebat. Rasa mual dan perih begitu mendominasi sehingga dia tak mampu lagi berdiri. Dan segera saja, dia memuntahkan isi perutnya begitu tiba di depan di closset.
"Non!" Mimma dan dua orang asisten rumah tangga lainnya datang menghampiri setelah yakin Daryl pergi.
Suara kegaduhan dari rumah di belakang memang terdengar ketika mereka sedang beraktifitas seperti biasa dan membuat ketiganya segera memeriksa.
Dan alangkah terkejutnya ketika lantai atas di rumah tersebut sudah porak poranda terutama kamar majikan mereka.
Beberapa pot bunga terguling di sepanjang tangga dan isinya berserakan. Sementara kamar utama tak ubahnya seperti kapal pecah.
Serpihan kaca dan perabotan yang hancur karena ulah Daryl membuat mereka sangat terkejut apalagi melihat keadaan Nania.
"Ada yang luka Non? Di mana? Apa yang sakit?" Mima memeriksa keadaan Nania yang sedang muntah hebat.
"Santi, bawa air hangat!" Dia berteriak kepada teman kerjanya yang segera kembali ke bawah untuk mengambil apa yang dia minta.
"Mbak Nur panggil Pak Nunu dan Pak Maman untuk membereskan barang-barang. Terus nanti kita bersihkan semuanya!" ucapnya pada rekannya yang lain.
Sementara dirinya menangani Nania yang belum berhenti muntah meski tak ada lagi yang keluar dari mulutnya.
"Minum Non?" Santi menyodorkan gelas berisi air hangat yang segera diterima oleh Nania. Dan perempuan itu meminumnya dengan keadaan tangan yang masih bergetar.
Tubuhnya menggigil hebat karena masih merasa terkejut sekaligus ketakutan. Dia bahkan tak kuasa bangun dari lantai kamar mandi karena kakinya terasa begitu lemas.
Nania menatap orang-orang yang berada bersamanya. Mima yang memastikan keadaannya, Santi dan Nur yang sedang membersihkan pecahan kaca, juga satpam dan tukang kebun yang mengangkat barang rusak dan memindahkannya ke luar.
"Maaf Mbak Mima, maaf Mbak Santi, maaf Mbak Nur." Dia mulai sesenggukkan. "Maaf Pa Nunu, Maaf Pak Maman. Udah ngerepotin β¦." Nania tergugu sebelum akhirnya Mima menariknya dalam pelukan.
"Maafin β¦." Tubuhnya kembali berguncang namun dia dalam keadaan lemah. Luka batin nampak kentara meski dia berusaha menyembunyikannya sekuat hati.
"Sudah Non, jangan dipikirkan. Kalau begini terus kapan sembuhnya?" Mimma tetap memeluknya, dan dua perempuan itu duduk bersimpuh di lantai kamar mandi.
"Aku udah sembuh kok, ini cuma kaget aja." Kedua tangannya masih gemetaran apalagi ketika dia mengingat teriakan Daryl di depan wajahnya.
"Ada yang luka atau sakit? Non kena pukulan nggak?" Mima kembali memeriksa, namun Nania menggelengkan kepala.
"Ya sudah β¦." Mima kemudian membantunya untuk bangun meski mengalami sedikit kesulitan.
Tubuh Nania masih gemetaran dan kakinya benar-benar lemas. Namun Santi cepat menghampiri mereka ketika dia melihat ada sesuatu yang aneh.
__ADS_1
"Tunggu!" katanya yang membungkuk untuk memeriksa kaki istri majikannya.
"Non luka? Ini ada darah." Dia menyentuh cairan di sekitar kaki Nania.
"Umm β¦."
Lalu lama kelamaan cairan itu bertambah banyak dan akhirnya memenuhi tempat Nania berpijak, sehingga mengalir perlahan ke area sekitarnya.
"Darah!" Mima kembali memeriksa namun yang dia temukan adalah cairan tersebut mengalir dari pangkal paha Nania yang kemungkinan merupakan darah dari kem*luannya.
"Non berdarah lagi?" Perempuan itu terus memeriksa dan darah tersebut memang berasal dari sana dan jumlahnya cukup banyak. Tentu saja membuat ketiga perempuan itu merasa panik.
"Non duduk!" Lalu Mima menariknya hingga Nania duduk di klosset setelah melepaskan celananya yang sudah basah bercampur air kencing dan darah. Dan benar saja, cairan merah itu terus keluar dari kem*luan Nania dengan derasnya.
"Harus panggil Ibu!" Dia lantas merogoh ponselnya di saku celana, bermaksud untuk melakukan panggilan kepada Sofia.Β
"Jangan!" Namun Nania segera menahannya.
"Tapi kita harus telfon ibu biar tahu!"
"Jangan Mbak! Mereka lagi sibuk." ujar Nania lagi dan dia tetap menahan sang asisten rumah tangga.
"Tapi Non?"
"Saya mohon! Ngga usah kasih tahu Mama, apalagi yang lain. Udah, nggak apa-apa." katanya.
"Saya mohon, jangan kasih tahu siapa-siapa. Kasihan mereka udah terlalu repot. Kasihan Mama udah khawatir. Saya malu!"
"Nggak gitu, Non!"
"Saya mohon, nggak usah kasih tahu siapa-siapa. Kasihani saya, Mbak. Saya nggak mau tambah merasa bersalah. Apalagi kalau orang-orang sampai tahu kejadian hari ini, saya semakin malu, Mbak!" Nania kembali menangis sambil memegangi tangan Mima.
Dan tak ada yang bisa mereka lakukan selain menuruti keinginannya.
"Baik, tapi Non harus janji." Perempuan itu berjongkok di depannya. "Setelah ini Non harus sehat. Harus pulih, nggak boleh begini terus." katanya yang mencoba untuk menguatkannya.
Nania berhenti menangis.
"Asal Non pulih, saya janji nggak akan memberitahu siapa-siapa soal kejadian hari ini." ucap Mima lagi yang balas memegang erat tangan majikannya.
Nania mendongak untuk menatap ketiga perempuan itu satu persatu.
"Mbak Nur dan Santi juga ya?" katanya dengan suara serak, dan dua asisten rumah tangga lainnya pun mengangguk. Setelah itu dia kembali kepada Mima.
__ADS_1
"Ya, Non? Harus sembuh!"Β
Dan akhirnya Nania pun mengangguk.
***
"Anak aku dikubur di mana, Mbak?" Mereka membiarkannya berbaring di tempat tidur setelah membantunya membersihkan diri.
"Setelah kejadiannya gini aku baru ingat dia. Ibu macam apa aku ini?"Β
Tiga orang perempuan di dekatnya saling melirik.
"Di hutan belakang, Non."
"Di hutan? Kenapa nggak di sini aja biar deket aku?" Nania bangkit dan Mima mendekat untuk membantunya.
"Bapak yang menguburnya di sana. Katanya kalau dekat rumah nggak baik." Nania menatap pepohonan yang berdiri di kejauhan. Tempat yang menjadi area favoritnya di rumah itu dan kini menjadi persemayaman janin yang pernah dikandungnya.
"Aku mau ke sana." Katanya yang dengan langkah gontai melenggang keluar dari kamar.
Namun dia berhenti di ambang pintu saatΒ teringat ancaman suaminya, dan Nania menarik kembali kakinya yang sudah terulur keluar.
Kata-kata pria itu terekam dengan kuat di ingatannya.
"Ayo Non kalau mau saya antar? Tapi pakai motor ya? Soalnya kalau jalan nanti Non kelelahan. Kebetulan juga matic punya Non Rania ada di sini." Mima meraih tangan Nania, namun perempuan itu menolak.
"Nggak jadi." katanya yang berbalik lalu duduk di sofa depan televisi.
"Lho?"
"Aku nggak boleh keluar rumah. Daryl lagi menghukum aku, Mbak." Nania duduk menekuk kakinya yang kemudian dia peluk dengan erat seolah tengah menciptakan ruang aman bagi dirinya sendiri.
"Nggak begitu, Non."
"Nanti kalau dia pulang dan tahu aku keluar rumah, bisa marah lagi." katanya yang kemudian memilih untuk diam saja di sana.
Sementara Mima menatapnya dengan rasa iba.
π
π
π
__ADS_1
Bersambung ...
Vote nya dulu gaess.