The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Rumah Baru #2


__ADS_3

💖


💖


Tiga bulan kemudian ….


"Nenek minta maaf karena tidak bisa datang. Kondisi Abah sedang tidak terlalu baik." Sofia meletakkan ponselnya setelah menelfon kedua orang tuanya yang berada di Bandung.


"Kita jemput saja, Mom." Daryl muncul dari belakang setelah memeriksa beberapa hal di rumah barunya yang telah selesai dibangun, dan hari ini akan diadakan selamatan sederhana.


"Tetap tidak mau. Mungkin nanti kita saja yang ke Bandung untuk berkunjung." jawabnya kemudian.


"Baiklah." Kemudian Daryl beralih menghampiri istrinya yang sedang memeriksa makanan.


"Sudah selesai, Sayang?" Pria itu bertanya.


"Udah, tinggal nunggu tamunya kan?" Nania menyodorkan sepotong kecil ayam panggang kepada suaminya.


"Enak seperti biasa." puji Daryl. "Oh, apakah itu nasi kuning?" Lalu dia menunjuk sebuah wadah dengan nasi yang ditumpuk sedemikian rupa sehingga menyerupai undakan.


Di sekelilingnya diletakkan beberapa jenis lauk, dari mulai rendang, ayam panggang, tumisan dan sambal goreng kentang dan telur berbumbu merah.


"Tumpeng, Dadd. Kalau selamatan biasanya bikin ini." jelas Nania.


"Aku tahu, rajin sekali dibentuk seperti itu?" Dia tertawa.


"Biar bagus."


"Aku jadi ingat nasi kuning yang di pasar itu. Apa sekarang masih ada ya?" Daryl tertawa mengingat hari-hari sebelum menikah.


"Masih lah, kan mereka jualannya memang di sana."


"Hmm … sudah lama kita tidak ke sana."


"Mau ngapain? Belanja nggak, masa mau sengaja gitu subuh-subuh ke sana cuma buat jajan nasi kuning doang?"


"Ide yang bagus, nanti ya kapan-kapan kita joggingnya ke pasar? Sekalian beli makanan apa itu namanya, yang waktu itu kamu beli?"


"Apaan?"


"Yang bulat-bulat ada gula cairnya?"


Nania mengerutkan dahi.


"Ada taburan kelapa, warnanya merah hijau …."


"Klepon?"


"Iya, klepon. Aku lupa namanya, hahaha." Daryl tertawa.


"Nggak usah beli, kita bikin aja nanti."


"Memangnya kamu bisa?"


"Bisa. Makanan apa yang nggak bisa aku bikin? Stroganof aja aku bisa apalagi cuma klepon?"


"Duh, istriku ini memang pintar ya?" Daryl memuji lagi.


"Hmm …." Nania menggendikkan bahunya.


"Lalu bagaimana dengan bahasa Rusianya? Apa sudah lancar?"


"Nggak tahu, menurut kamu gimana?"


"Belum ujian ya?"


"Emang harus ada ujian?"


"Harus. Agar tahu kamu sudah lancar atau belum. Nanti aku berikan soql ujiannya ya?"


"Emang ada?"


"Nanti setelah acara ini selesai aku buatkan." 


"Oke."


"Tante Nna, aku mau nasi kuningnya!!" Anya muncul diikuti Zenya dan kedua orang tuanya.


"Hey? Nanti ya, sebentar lagi kalau udah berdoa di rumah belakang?"

__ADS_1


"Nggak boleh sekarang?" Zen menimpali.


"Belum, nanti kalau semua orang udah dateng ya?"


"Hmm … oke."


Lalu beberapa orang pun mulai berdatangan. Darren bersama Kirana, Galang dengan Amara dan kedua bayi mereka, dan tentu saja keluarga Arfan bersama Dygta dan keempat anak remajanya. Yang seketika membuat suasana menjadi begitu ramai tanpa mengundang banyak orang.


"Maaf, Non?" Mima menginterupsi percakapan tersebut.


"Ya?"


"Teman-teman sekolah Non sudah datang." Dia memberi tahu.


"Oh ya? Suruh masuk aja, langsung ke belakang ya? Nanti aku ke sana." Nania menjawab dan dia bergegas menyelesaikan pekerjaannya.


"Baik." Mima pun pergi untuk melakukan apa yang diperintahkan.


***


"Silahkan, Non Nania meminta saya membawa Anda ke rumah belakang." Mima kembali ke depan setelah memberitahukan kepada majikannya perihal kedatangan teman-teman sekelasnya itu.


Kemudian dia menunjukkan kepada orang-orang tersebut tempat yang sudah tersedia. Yang semakin menambah kekaguman dan keterkejutan mereka sejak pertama kali menginjakan kaki di kediaman keluarga Nikolai yang tak pernah disangka-sangka.


"Aku pikir dia bohong soal keluarga Nikolai ini?" Seseorang diantara mereka berbisik.


"Iya, aku pikir juga begitu?"


"Aku kira dia cuma mengada-ada tahunya …." 


Semua orang beralih ke area belakang di mana rumah Nania berada. Yang tentu saja membuat semua orang lebih dibuat terpana lagi.


Mereka disuguhkan pemandangan yang cukup memanjakan mata oleh keadaannya yang tidak kalah indahnya dari rumah besar milik Satria.


Bangunan tingkat dua yang tampak nyaman dengan gaya minimalis namun indah. Dengan taman yang tertata apik di dihiasi bunga-bunga yang indah di sekitarnya. Tidak lupa dengan greenhouse yang berdiri di dampingnya.


"Selamat datang?" Sambutan sang tuan rumah segera mengalihkan perhatian mereka.


"Selamat datang di kediaman kami, silahkan?" Nania yang berdiri bersisian dengan suaminya menyambut semua orang yang telah hadir.


Pria itu bahkan merangkulnya seperti ingin menunjukkan kepemilikannya kepada semua orang, padahal mereka juga sudah tahu keadaan yang sebenarnya.


Selanjutnya Nania memotong nasi tumpeng dan meraup ujung paling atasnya, yang kemudian dia serahkan kepada suaminya.


"Terima kasih ya? Rumahnya bagus banget, semoga kamu selalu sehat dan kita semua bahagia terus." katanya, yang menghadirkan senyuman di bibir Daryl.


"Terima kasih juga Mama, dan Papi yang sudah mendukung kami. Dan semuanya yang datang hari ini. Sangat membahagiakan karena kita semua bisa berkumpul di sini." katanya lagi yang menatap mereka yang sudah hadir.


Kemudian semuanya berjalan seperti semestinya. Acara makan-makan segera dimulai dan mereka berbaur dengan cukup baik.


"Lihat Dadd?" Nania membawa salah satu bayi kembar Amara.


"Iya, aku melihatnya. Kamu menggendong bayinya Ara?"


"Hu'um." Nania menganggukkan kepala.


"Terus apa istimewanya?"


"Dia lucu, namanya Azura. Dia perempuan. Yang laki-laki namanya Angkasa."


"So? Semua bayi memang lucu kan? Namanya bagus, keluarga A. Sepertinya hanya kak Dygta saja yang awalannya dari huruf lain? Hahaha …."


"Mau gendong? Aku mau bawa Angkasa dulu." tawar Nania dan dia langsung memberikan bayi itu tanpa menunggu jawaban suaminya terlebih dahulu.


"Eee …."


"Lihat kan? Di ganteng? Ya, Angkasa?" Nania kembali dengan bayi laki-laki itu dalam dekapannya.


"Hey, bagaimana ini aku menggendongnya? Sulit sekali? Apa dia tidak akan jatuh?" Daryl sedikit panik ketika bayi Azura mulai menangis.


"Kamu gendongnya salah, gini nih." Nania menunjukkan caranya mendekap Angkasa.


"Ini pertama kalinya aku menggendong bayi. Anya dan Zen saja aku belum pernah?"


"Belajar Kak, nanti bakal punya anak!" Amara menghampiri mereka.


"Halah, repot sekali." Daryl membiarkan perempuan itu mengambil bayinya.


"Mau gendong lagi? Gini nih …."

__ADS_1


"No! Aku tidak bisa!" Daryl menolak.


"Dicoba biar bisa."


"Nanti saja! Aku takut dia jatuh, mengerikan!" katanya lagi.


"Ah, dasar!" ujar Amara yang berusaha mendiamkan bayinya, sedangkan Nania hanya tertawa.


"Senang sekali kamu ya, dapat bayi?" Mereka duduk di kursi seperti yang lainnya.


"Oh iya dong, apalagi bayinya lucu dan ganteng kayak Angkasa ya?" Perempuan itu menciumi pipinya yang menggemaskan.


Daryl menatapnya dalam diam.


"Punya kita kok belum jadi-jadi ya? Padahal sudah rajin?" Pria itu sedikit terkekeh, merasa geli juga dengan pikirannya sendiri.


"Hmm … iya. Kenapa? Padahal modusnya sering?" Nania menanggapinya dengan tawa juga.


"Tidak tahu, mungkin belum?"


"Hu'um … belum. Baru juga empat bulan kan?"


"Iya." Daryl mengangguk.


"Tapi kalau lihat yang begini suka jadi nggak sabar." Nania kembali menciumi bayi itu dengan gemas.


"Berarti waktu kita masih banyak untuk pacaran." ucap Daryl yang membuat mereka berdua tertawa.


***


Sebagian tamu yang merupakan teman sekolah Nania berpamitan pada lewat tengah hari setelah acara makan dan ramah tamah lainnya selesai. 


Dengan membawa bingkisan berisi makanan dan cinderamata pemberian sang tuan rumah yang memang khusus dibuat untuk mereka.


"Bye Nna, terima kasih ya undangannya?" Lisa, salah satu dari mereka mewakili untuk berpamitan.


"Iya sama-sama, jangan kapok ya? Lain kali main-main lagi ke sini?" Nania menjawab.


"Itu sih pasti."


"Oke."


Dan mereka pun segera pergi, kecuali anggota keluarga yang memutuskan untuk tetap di sana.


"Setelah dari sini mungkin besok acara pindah ke rumah kami?" Darren membuka percakapan di antara mereka.


"Ada acara apa?" Dygta menyahut.


"Empat bulanan Kirana." Pria itu menjawab.


"Oh iya? Sudah empat bulan ya? Tidak terasa."


Perempuan yang dimaksud mengangguk sambil tersenyum.


"Wah … udah nggak sabar ya? Setelah ini tujuh bulan, sembilan bulan, terus lahiran deh? Nambah lagi keluarganya ya?" ujar Nania, dan semua orang mengamini.


"Apa bayi kalian kembar?" Rania bertanya.


"Hasil USG kemarin tidak, sepertinya hanya satu."


"Wah … bisa begitu ya? Padahal aku sama kak Dygta langsung kembar?"


"Tidak semua kan? Bisa di anak kedua atau selanjutnya." Kirana menjawab.


"Ah, iya benar."


"Tidak apa-apa, setelah lahir yang ini langsung program lagi sampai berhasil dapat kembar ya?" Arfan menyambung percakapan.


"Yeah, seolah itu mudah." Daryl bergumam.


"Memang mudah kalau sudah waktunya, tapi untuk yang belum bisa, ya santai saja." Galang menepuk pundak pria itu, kemudian mereka semua tertawa.


💖


💖


💖


Bersambung ....

__ADS_1


Duh, seru ya kalau udah pada ngumpul? Cuss kirim hadiah dulu buat mereka biar makin harmonis. 😂😂


__ADS_2