The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Keadaan #2


__ADS_3

💖


💖


"Sekarang istrimu yang bermasalah." Dokter Syahril menutup percakapan telfon yang diterimanya begitu selesai menangani luka pada tangan Daryl.


"Kenapa?"


"Sebentar, saya harus menghubungkannya dengan dokter obgyn dulu." Pria itu mengutak-atik ponselnya lalu mengirim sebuah nomor pada kontak Mima yang menelfon.


"Nania mengalami pendarahan." Dokter Syahril meletakkan ponselnya di meja kemudian memastikan perban yang dibalutkannya pada tangan Daryl melekat dengan benar 


"Apa?" Membuat pria itu bangkit dengan wajah memucat. "Kenapa dia menelfonmu? Bukankah seharusnya menghubungi rumah sakit, dokter obgyn atau ... aku?" Daryl panik.


"Sudah saya hubungkan dengan dokter obgyn disini dan mungkin asisten rumah tanggamu sedang berkonsultasi." Pria itu menjelaskan.


"Asisten rumah tangga?"


"Ya, Mima?"


Daryl baru ingat jika hari ini seluruh anggota keluarganya tengah menghadiri pembukaan klinik kecantikan milik Kirana di Fia's Secret House.


Astaga, Daryl! Dia sendirian! Batinnya dan hal itu cukup membuatnya khawatir.


"Kenapa Mima yang menghubungimu?" Lalu dia bertanya.


"Nania bersikeras tidak mau dibawa ke rumah sakit, jadi mereka memilih meminta resep obat untuk menghentikan darah saja."


"Memang bisa begitu? Apa tidak bahaya?"


"Sebenarnya agak berbahaya karena tanpa pemeriksaan yang benar kita tidak tahu pasti apa yang menjadi penyebabnya. Tapi kemungkinan ini karena stress pasca kuretase jadi … dia hanya butuh obat dan perhatian orang terdekat."


Daryl mendengus pelan.


"Dan saya yakin sekarang dia sudah mendapatkan penanganan dari konsultasinya, jadi kita lihat saja besok  jika pendarahannya tidak berhenti maka sudah pasti Nania harus mendapatkan perawatan intensif."


"Dasar perempuam keras kepala!" Daryl menggeram lalu setelahnya dia berpamitan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nania menelan beberapa butir obat yang diberikan Mima untuknya, setelah perempuan itu menelfon dokter Syahril dan bertanya soal penanganan atas kondisinya beberapa saat yang lalu.


Lalu dia mencoba untuk mengistirahatkan tubuhnya di tempat tidur ketika terdengar suara anak-anak memanggil.


"Tante Nna!!!" Dan Anya menjadi yang pertama kali menerobos pintu sehingga dia bisa menemui tantenya.


"Hey?" sapa Nania pada dua keponakannya yang naik ke tempat tidur.


"Tante Nna masih sakit?" Zenya lebih mendekat dan dia menyentuh kening perempuan itu dengan hati-hati.


"Hey? Awas, nanti kena Tante Nna!" Rania kemudian masuk mengikuti anak-anaknya disusul Dimitri.

__ADS_1


"Nggak, cuma lihat sedikit." Zenya bergeser mundur.


"Hai Kak? Openingnya udah selesai?" Nania menyapa suami istri tersebut.


"Udah. Kalau pembukaan klinik nggak ada party nya kan?" Rania tertawa lalu duduk di pinggiran tempat tidur.


"Cuma sebentar ya?"


"Ya. Tapi kalau yang lain masih di sana sih, sekalian coba produk sama pelayanannya. Mungkin pulangnya malam."


"Kok Kakak malah pulang?"


"Pulang aja, yang penting hadir pas openingnya." Dua perempuan itu tertawa.


"Bagaimana keadaanmu?" Dimitri kemudian bertanya.


"Lebih baik, Kak."


"Syukurlah. Tapi Daryl masih belum pulang?"


"Tadi dia pulang, tapi … pergi lagi." Nania berdeham untuk melegakkan tenggorokkannya yang terasa tercekat. "Memang di pembukaan nggak ketemu ya, kan Daryl juga datang ke sana?"


"Benarkah? Kami tidak melihatnya."


"Umm …."


Apa dia datang ke sana ya, kan tangannya terluka? Batinnya saat Nania ingat kembali peristiwa tadi siang.


"Kamu habis bebenah ya? Kamar berasa lebih luas. Apa yang nggak ada ya?" Rania menatap sekeliling kamar yang tampak lengang.


"Ah, iya meja rias. Dipindah ke mana?" Rania kembali menatap berkeliling tapi dia tak menemukan benda yang dimaksud.


"Dipindah ke kamar sebelah, Kak." bohong Nania. Tidak mungkin dia mengatakan jika benda itu dibuang karena Daryl menghancurkannya. Bisa gaduh lagi keluarga suaminya jika itu terjadi.


"Oh …."


"Tadinya mau buat box bayi kan? Tapi …."


Perempuan itu menyentuh lengannya lalu menggelengkan kepala.


"Nggak usah dibahas, nanti malah bikin sedih lagi, jadi …."


Namun Nania tersenyum, " Ngga kok, aku udah nggak apa-apa." 


"Hmm … syukurlah." Rania dan Dimitri tampak menghela napas lega.


"Nggak apa-apa, kamu masih muda. Masih punya kesempatan untuk dapat anak lagi berapapun banyaknya. Asal kamunya sehat ya?" ujar Rania, menghibur istri dari iparnya tersebut.


Dan Nania menganggukkan kepala sambil tersenyum.


"Dedek bayinya kok malah keluar sih, kan masih kecil? Jadinya meninggal kan?" celetuk Anya yang bersama Zenya masih duduk di dekat Nania.

__ADS_1


"Jangan ngomong gitu, kalau kata Tuhan harus keluar ya keluar. Mana bisa kita nawar?" Rania menjawab ucapan anaknya.


"Kok Tuhan tega sih ngebiarin dedek bayinya keluar? Apa Tuhan nggak sayang sama Tante Nna?" Anya kembali melontarkan pertanyaan.


"Eh, mana ada Tuhan begitu? Justru karena sayang makanya diambil." Dan Rania kembali menjawab.


"Tapi kan Tante Nna, Om Der sama kita semua jadi sedih?"


Rania menghenla napas sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Tapi dedek bayi ada di tempat paling baik, paling aman dan paling indah." Nania menatap keluar jendela di mana halaman belakang yang luas dan hutan buatan berada.


Langit diatasnya berwarna abu-abu dengan sedikit jingga kemerahan, yang membuat suasana menjadi sedikit terasa sendu.


"Nggak mendengar keributan yang terjadi di dunia luar. Jadinya dia nggak akan pernah merasa sedih." lanjutnya, kemudian dia kembali pada mereka yang ada di sana.


"Anya sama Zen mau nginep di sini nggak?" Lalu dia bertanya kepada dua anak itu.


"Ini kan bukan Sabtu Minggu. Masa mau nginep?"


Nania terkekeh. "Memangnya ada aturan nginep di Sabtu Minggu juga?"


"Mana ada? Aneh deh." Dan Rania yang menjawab.


"Terus kenapa nggak bisa nginep? Tante kesepian tahu?"


"Kan mereka sekolah. Nanti repot ah kalau harus bolak-balik bawa seragam. Belum lagi pengasuh mereka juga harus ikut. Makin ramai aja rumah ini."


"Kan seru, Kak?"


"Tapi kamu jadi nggak bisa istirahat. Nanti aja ya kalau kamu udah bener-bener pulih, baru Anya sama Zen aku izinin nginep lagi."


Nania menganggukkan kepala.


"Ya udah, kalau gitu kita tinggal ya? Kamu kan harus istirahat?" Rania mengisyaratkan pada kedua anaknya untuk turun dari tempat tidur.


"Dadah tante, besok aku tengok lagi ya?" Anya melambaikan tangan, namun Zenya terlebih dulu mendekat kemudian mengecup pipi Nania.


"Tante Nna, cepet sembuh ya biar nanti bisa nemenin aku nyari Heimlich lagi." katanya.


Dan hal tersebut membuat Nania memeluk tubuh anak itu dengan erat. Rasanya dia ingin menangis tapi berusaha keras menahannya karena tak ingin terlihat cengeng lagi yang mungkin akan membuat orang-orang mulai muak kepadanya.


"Kamu habis ini istirahat ya?" ucap Rania lagi yang kemudian menggiring suami dan kedua anaknya keluar dari ruangan tersebut. 


Dan mereka melewati Daryl yang berdiri menyandarkan punggungnya pada dinding di dekat pintu. Rania bahkan sempat menggelengkan kepala ke arah adik iparnya tersebut dengan rasa kecewa yang cukup besar.


Daryl kemudian masuk dan menemukan perempuan itu sudah berbaring dengan wajah menghadap ke arah lain. Dan Nania bahkan menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuh untuk menutupi semua yang ada pada dirinya ketika dia pun mengetahui kedatangan suaminya.


💖


💖

__ADS_1


💖


Bersambung ....


__ADS_2