
💖
💖
"Lanjut pulang?" Regan meraih kantong kresek di tangan Nania lalu menggulungnya seperti biasa. Yang kemudian dia masukkan ke dalam laci dashboard di mana kresek yang sama berada.
Mereka kali ini berada di taman kota tempat terakhir membagikan makanan untuk anak-anak seperti yang selalu dilakukan oleh Nania setiap hari.
"Sebenernya sih mau ke tempat lain dulu." Perempuan itu masuk ke dalam mobil setelah Regan membukakan pintu.Â
"Ke mana?" Sang sopir menoleh setelah dia berada dibalik kemudi sambil menyalakan mesin.
"Ketemu ibu."
"Tidak mungkin." Lalu Regan segera berbalik dan melajukan mobil yang dikendarainya dengan kencang.
"Ayolah, sebentar aja. Cuma mau lihat ibu."
"Negatif."
"Cuma mau tahu keadaan ibu, soalnya belum ngasih kabar."
"Tetap tidak bisa. Tugas saya mengantar dan menjemputmu sekolah atau ke rumah baca. Lalu ke tempat yang memungkinkan dan aman, tapi tidak ke tempat ibumu."
"Emangnya tempat ibu nggak aman ya?" Nania mencondongkan tubuhnya.
"Tidak untukmu."
"Kan bisa manggil temen-temen kamu kayak waktu itu?"
"Tetap saja."
"Aku yakin nggak akan ada yang berani macam-macam kalau gitu?" Nania terus membujuk pria itu.
"Masalahnya saya tidak diizinkan mengantarmu ke sana apalagi tanpa Pak Daryl. Itu menyalahi aturan."
"Aku nggak akan bilang."
Regan tertawa.
"Malah ketawa?"
"Kamu pikir suamimu itu siapa? Hanya pemegang perusahan ibunya yang tidak tahu apa-apa? Meskipun dia tidak di Nikolai Grup tapi kekuasaannya sama seperti Pak Dimitri."Â
"Kan kalau nggak ada yang lapor dia nggak akan tahu?"
"Dan kamu pikir, kami ini pegawai biasa yang hanya melakukan perintah biasa?" Regan melirik Nania lewat kaca spion.
"Ya apalagi?"
"Kamu salah, Nona. Kami ini bekerja seperti detektif swasta, berjaga seperti tentara dan melakukan tugas seperti eksekutif pada umumnya. Jadi kamu salah kalau pekerjaan kami seringan itu. Dan punya resiko yang sama besarnya setara nyawa yang kami punya."
"Masa seberat itu?"
"Coba saja kalau misal sekarang saya melanggar aturan dari Pak Daryl, dan suami kamu tahu, kira-kira apa yang akan dia lakukan?"
"Ya marah, apa lagi?"
"Selain marah?"
"Kamu dipecat?"
"Apa lagi?"
"Emang apa lagi? Masa dihajar … eh … pernah ya?" Nania ingat beberapa kejadian ketika Regan gagal menyelesaikan misi dan dia mendapatkan pukulan yang cukup keras dari suaminya.
"Lebih parah dari itu."
"Dipecat?"Â
"Jika berhenti dari Nikolai Grup dengan alasan yang buruk, maka kamu tidak akan diterima di manapun lagi. Meski perusahaan kecil sekalipun."
"Masa?"
"Kamu tahu, diluar sana ribuan orang berlomba-lomba untuk masuk ke perusahaan ini meski belum tahu mereka akan ditempatkan di mana dan bekerja sebagai apa. Lulusan SMA hingga sarjana mengantri setiap tahun di perekrutan untuk mewujudkan harapan mereka meski tidak ada bayangan sama sekali soal apa yang akan mereka kerjakan. Hanya sudah masuk saja ke perusahaan ini sudah menjadi jalan mereka mewujudkan mimpi. Jadi jika ada yang tiba-tiba keluar dan pindah kerja apalagi dipecat, sudah pasti karena dia pekerja yang buruk."
__ADS_1
"Duh? Masa sejauh itu?" Nania seakan tidak percaya.
"Kamu pikir bagaimana perusahaan milik mertuamu ini? Perusahaan biasa? Bukan. Dan itulah mengapa nenek saya tetap bekerja hingga usia senja karena dia dapat menghidupi kami sekeluarga dan membantu sekolah saya hingga lulus kuliah tanpa dipusingkan oleh masalah biaya. Semua orang dapat kesempatan yang sama asal mereka mau berjuang."
"Jadi nggak bisa ya?"
"Sudah pasti tidak bisa, apalagi dibawah pengawasan saya. Dua kali saya gagal menjagamu dan jika yang ini gagal lagi, maka bukan hanya kamu yang akan Pak Daryl kurung selamanya, tapi keselamatan dan masa depan saya juga."
Nania kembali menempelkan punggungnya pada sandaran kursi. Memang tidak ada celah untuk yang satu ini, dan Regan tidak mungkin bisa diajak kompromi.
"Tapi ibu aku …."
"Bukanlah Bu Mirna sudah mengatakan akan menghubungimu jika dia sudah membuat keputusan? Dan ini baru satu hari. Mungkin dia butuh lebih banyak waktu untuk berpikir, atau untuk membuat suaminya puas menyiksa untuk yang terakhir kalinya sebelum berpisah?" ucapan Regan terdengar sinis.
"Kamu jangan ngomong gitu ih, kan aku jadinya overthingking?" Namun Nania segera memprotesnya.
"Ya, sebenarnya jadi ibumu itu sangat mudah. Dia hanya tinggal menurut apa yang kamu katakan demi kebaikannya tanpa harus berpikir ulang. Dan hidupnya akan baik-baik saja. Dia kembali ke rumah dan apa pun yang dibutuhkan sudah pasti didapatkan. Semuanya aman tanpa rasa khawatir karena pengamanan sudah pasti dikerahkan untuk menjaganya."
"Masa?"
"Dia ibumu, dan kamu menginginkan keselamatannya. Maka itu sudah jadi tanggung jawab Pak Daryl untuk menjaganya lewat kami, jadi sudah pasti akan dilakukan."
"Masa? Emang suami aku bilang gitu ya? Dia kan benci sama ibu."
"Benci bukan berarti tidak peduli. Walau bagaimanapun Bu Mirna itu adalah ibumu, sedangkan Pak Daryl sangat mencintaimu. Maka dia akan menjaga siapa pun yang menurutnya berarti untukmu. Dan untuk kita, orang tua itu sangat berarti, bukan?"
Nania terdiam.
"Mungkin watak suamimu keras, dan dia jujur dalam segala hal apalagi menyangkut perasaannya. Dia tidak akan berpura-pura baik kepada siapa pun yang tak disukainya, terutama jika orang itu telah berbuat salah kepadanya. Terlebih, dia tahu keluargamu sudah menyakitimu begitu hebat. Dan saya rasa kamu tidak akan pernah lupa bagaimana perlakuan mereka selama kamu di sana. Tapi keluarga tetap keluarga, bukan? Semarah apa pun, kasih sayangmu tetap lebih besar dari kebencian. Dan itu fitrahnya manusia, meski pada kenyataannya tidak semua orang begitu."
"Dan untuk beberapa hal, Pak Daryl tidak bisa diajak kompromi, terutama soal keselamatanmu dan anaknya. Jika itu terjadi, kami tidak tahu kiamat macam apa yang mungkin akan timbul setelahnya."
"Omongan kamu serem pakai bawa-bawa kiamat segala?" Nania dengan raut tidak suka.
"Ya itu untuk menggambarkan apa yang akan terjadi jika saja sesuatu terjadi kepadamu."
"Ya nggak akan. Kan ada kamu yang jagain aku?"
"Tetap saja kalau kamu tidak menurut dan susah diatur semuanya sulit dilakukan. Jadi saya mohon, menurutlah karena ini bukan hanya untukmu tapi untuk kami juga."
Nania terkekeh.
"Iya, Om Regan!" Perempuan itu tertawa sambil menutup mulut dengan tangannya.
"Hey!! Jangan panggil saya Om! Itu menjengkelkan!" Pria itu memprotes ucapannya.
"Tapi lucu kalau kamu dipanggil Om. Aku berasa kayak masih abege deh? Hahaha."Â
"Hah, umur kita tidak jauh berbeda, jadi jangan mengada-ada ya?"
"Canda Om." Nania tertawa lagi. "Aku suka pengen ketawa kalau ingat Ann yang manggil kamu om. Soalnya lucu."
"Hah …." Pria itu memutar bola matanya, dan dia pun tiba-tiba ingat kepada Anandita.
Sudah pulang sekolah belum ya? Siapa yang menjemput? Pasti Pak Arfan. Batinnya, kemudian dia menggelengkan kepala sambil mengerjap.
"Kenapa aku memikirkannya?" Lalu dia bermonolog.
"Apaan?" Tanpa sadar Nania mendengar ucapannya.
"Eee … tidak. Kamu mau mampir ke rumah baca?" tawarnya, untuk mengalihkan perhatian perempuan itu.
"Kayaknya nggak deh, soalnya aku harus ke rumah sakit." Nania menjawab.
"Rumah sakit?"
Nania mengangguk.
"Kenapa?" Regan menahan pintu sambil menatap wajah istri atasannya itu.
"Check up kandungan."Â
"Kenapa tidak dengan Pak Daryl?"
"Tanggung, lagian dia lagi banyak kerjaan. Kasihan nanti kerepotan."
__ADS_1
"Tapi Pak Daryl tahu hari ini kamu cek up?"
"Aku lupa bilang, tapi udah aku chat kok barusan."
"Baiklah." Lalu Regan membelokkan mobilnya ke arah jalan menuju Nikolai Medical Center.
***
"Usia kandungannya pas ya, sepuluh minggu. Dan tahapan pertumbuhannya cukup baik." Dokter menatap layar monitor, sedangkan stetoskop yang menempel pada perut Nania.
"Kita periksa apa sudah ada detak jantungnya?" Lanjutnya, dan perempuan itu meresponnya dengan anggukkan.
Dokter itu menempelkan alat pendeteksi detak jantung pada perut Nania yang sudah diolesi semacam jel bening, lalu menggesernya pada sekeliling area itu.
"Emangnya kalau umur segini udah ada detak jantungnya, Dokter?" Nania bertanya.
"Sudah ada yang terdeteksi, tapi ada juga yang belum. Tergantung kondisi ibu hamil." Perempuan itu menjawab.
"Jadi nggak sama ya?"
"Betul sekali. Juga terkadang ada semacam getaran halus di perut, jadi ibu jangan kaget kalau nanti merasakan ya? Itu tandanya janin sedang bereaksi."
Nania mengangguk lagi, sementara dokter terdiam sambil terus menggeser benda di permukaan perut Nania.Â
"Agak lemah ya?" katanya sambil menajamkan pendengaran.
Lalu dia sedikit menekan yang membuat timbulnya suara detakan samar.
"Bisa dengar?" tanya nya, namun Nania menggeleng.
"Sebentar." Dia mencari lagi titik yang memungkinkan untuk mendapatkan suara detak jantung yang lebih jelas.
Lalu perempuan itu berhenti ketika dia menemukannya. Dan ya, sekarang suara detakan itu benar-benar terdengar jelas.
"Dengar?" ucap dokter lagi yang menatap wajah pasiennya.
Nania tak menjawab, namun dia terdiam sambil mendengarkan dengan seksama.
Detakan itu terasa seirama dengan jantung miliknya, namun dia seakan tak percaya bahwa di dalam tubuhnya saat ini tengah tumbuh janin yang merupakan hasil pergumulan antara dia dan suaminya. Yang meski tanpa direncanakan, namun membuat mereka bahagia.
Lalu Nania tersenyum, namun ada buliran bening yang meluncur dari sudut matanya. Perasaan haru memenuhi dada dan dia tahu bahwa dirinya bahagia. Bahkan saking bahagianya, sampai-sampai membuatnya ingin menangis.
Rupanya, beginilah rasanya mengetahui bahwa dirinya akan menjadi orang tua. Mengetahui bahwa dirinya mampu memberikan keturunan bagi suaminya, dan sekaligus tidak percaya bahwa di usia semuda ini dia akan menjadi seorang ibu.
Bukankah ini luar biasa?Â
Bukankah ini sangat membahagiakan?
Dan sepertinya saat ini semua hal indah di dunia sedang menaunginya.Â
Suami yang sangat mencintainya, keluarga yang menerima dan mendukungnya, juga keadaan yang lebih baik dari sebelumnya. Dan sekarang bahkan dirinya akan memberi salah satu penerus keturunan bagi mereka.
Bukankah ini sebuah keajaiban?
Dirinya hanyalah orang biasa yang tumbuh di duania biasa denga kehidupan biasa pula. Tapi takdir yang tak terduga membawanya pada apa yang mungkin kebanyakan orang menyebutnya sebagai sebuah dongeng.
Sebuah cerita khayalan yang mustahil terjadi kepada orang sepertinya, dan mungkin hanya ada di cerita-cerita fiktif belaka. Namun nyatanya, dia mengalaminya juga.
"Bagus sekali, Bu Nania." Dokter membersihkan perutnya dengan tisu setelah sesi pemeriksaan itu selesai.
"Dijaga baik-baik ya, selalu berhati-hati melakukan segala hal karena sekarang anda tidak sendirian."Â
Nania menganggukkan kepala.
"Satu hal pesan saya, jangan memikirkan apa pun yang akan menimbulkan stress karena itu akan berpengaruh terhadap janin. Karena kondisi psikologi ibu akan menentukan baik buruknya pertumbuhan di dalam. Jadi harus bisa menjaga pola hidup ya? Jadilah ibu hamil yang bahagia!"
"Baik Dokter."
"Saya akan memberikan vitamin dan beberapa obat yang harus diminum sampai habis ya?"Â
"Baik." Nania pun bangkit dan merapikan dirinya.
💖
💖
__ADS_1
💖
Bersambung ....