
💖
💖
"I'm sorry." Gadis berambut merah itu menyeka matanya yang basah.
"Aku sudah memikirkan ini matang-matang, dan tetap saja kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini lebih lama lagi." katanya.
"Kau memutuskan aku?" Daryl menanggapi.
Buliran bening kembali menyeruak dari mata indah Grusha dan dia lagi-lagi mengusapnya dengan cepat.
"Apa salahku?" Daryl kemudian bertanya. Dia maju dua langkah hingga kini jaraknya hanya setengah meter saja.
"Tidak ada, kau tidak salah. Hanya aku."
Pria itu menatapnya dengan dahi berkerut.
"Apa ada orang lain? Katakan saja, aku tidak apa-apa. Seandainya memang itu yang terjadi."
"Tidak, Daryl!"
"Lalu kenapa? Tiga bulan kau menghilang dan tiba-tiba saja muncul dengan mengucapkan hal seperti ini? Di mana akalmu?"
"Aku hanya …."
"Kau tidak tahu apa yang sudah aku lakukan. Mencarimu ke mana-mana dan mempersiapkan diri untuk mengenalkanmu kepada keluargaku. Bukankah sudah aku katakan jika aku serius dengan hubungan ini?"
Grusha menganggukkan kepala, namun dia kembali terisak. Rasanya berat untuk membuat keputusan namun ini harus dia lakukan untuk menghindari rasa sakit yang lebih besar terutama untuk Daryl.
Dia tahu pria itu begitu mencintainya sehingga tak pernah ada satu hal pun yang tak dilakukannya sejak mereka menjalin asmara. Dan mempertemukannya dengan keluarga menjadi rencananya yang paling besar.
"Lalu mengapa kau malah mau mengakhiri hubungan kita? Apa?" Daryl berteriak sambil mengguncangkan tubuh Grusha.
Kemarahan tentu saja segera mengisi rongga dadanya sehingga dia tak tahu apa yang harus dilakukan.
"Maafkan aku." ucap perempuan itu lagi.
"Kau hanya meminta maaf tapi tidak menjelaskan apa-apa. Sebenarnya apa maumu?" teriaknya lagi.
"Aku … hanya tidak ingin membuatmu kecewa dan sedih."
"Kau sudah melakukanya!"
"Maaf, Daryl!"
"Lalu mengapa kau kembali jika niatmu hanya ingin mengakhiri hubungan ini? Mengapa kau tidak mati saja dan membuatku tetap mengingatmu sebagai Grushaku? Bukannya gadis lemah seperti ini?"
Grusha mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Dia ingin mengatakan yang sebenarnya tapi takut pria itu akan lebih merasa tersakiti. Dan terlebih, Daryl akan merasa sangat sedih.
"Putus katamu? Baik. Setelah ini aku tidak akan mencarimu lagi apa pun yang terjadi. Pergilah sesukamu!!" ucap pria itu yang melepaskan cengkraman tangannya dari Grusha, kemudian pergi.
***
"Kau sudah dapat kabar?" Darren mendatangi saudara kembarnya di lorong perpustakaan.
Pria itu baru saja mendapatkan buku yang diperlukannya untuk mengerjakan thesis pada tugas semester ini.
"Kabar apa?" Daryl mengerutkan dahi.
"Grusha."
"Hah! Aku sudah tidak ada urusan dengannya. Dan aku tidak ingin ada urusan lagi dengannya. Kami sudah putus kau ingat?" Dia tertawa.
"No, this is different!"
"Tidak, sama saja. Aku sudah membebaskannya dan dia malah melakukannya lebih dulu kepadaku. Tiga bulan menghilang dan tiba-tiba saja sebulan yang lalu muncul dan dia memutuskan hubungan. Kau tahu bagaimana perasaanku?"
"Yeah, tapi ada sesuatu …."
"Stop, aku tidak ingin mendengar apa pun lagi soal Grusha, kami orang lain sekarang. Dan aku tidak akan membiarkan diriku mendengar apa pun lagi tentangnya. Kau juga tahu cukup sulit bagiku untuk bangkit."
"No, Daryl. Biarkan aku bicara terlebih dahulu!"
"Sudah aku katakan aku tidak ingin mendengar apa pun lagi, jadi pergilah!"
__ADS_1
"Kau akan menyesal setelah ini."
"Yeah, benar." Dia terkekeh.
"Aku serius." Darren dengan sungguh-sungguh.
"Ck!" Sang kakak berdecak sambil memutar bola matanya.
"Biarkan aku menyelesaikannya dulu, setelah itu baru kau putuskan sendiri."
Daryl mendengus keras.
"Baiklah, cepat katakan! Jangan sampai menyita waktuku terlalu banyak atau aku akan menghajarmu!" ancamnya kepada Darren.
Sang adik menatap wajahnya lekat-lekat dan dia bersiap untuk menyampaikan kabar buruk yang didengarnya.
"Grusha …. Meninggal." Darren dengan suara tercekat.
Daryl membeku. Mulutnya terkunci rapat dan dia tak mampu berkata-kata.
"Tadi pagi, di rumah sakit." lanjut Darren, seperti yang dia dengar dari seseorang yang mencari keberadaan kakaknya, dan secara kebetulan mereka bertemu di depan kampus.
"Komplikasi, leukimia stadium akhir."
Daryl merasakan otaknya tiba-tiba saja kosong dan tak dapat mengingat apapun selain nama gadis berambut merah yang mampu mencuri hatinya.
"Grusha?" gumamnya, dan dia berusaha menarik kesadarannya yang sempat berhamburan.
"Der, kalau kau mau aku bisa …."
"No, Grusha!!" Buku di tangannya berjatuhan ketika di saat yang bersamaan dia berlari keluar.
Tak ada hal yang dipikirkannya selain gadis itu dan semua yang mereka katakan saat terakhir kali bertemu sebulan yang lalu.
***
Pusaranya sudah tertutup rapat ketika Daryl dan Darren tiba di sebuah pemakaman umum di pinggiran kota Moscow. Bunga bahkan sudah ditaburkan sehingga dia tak dapat melihat tanah yang mengubur jasad Grusha di bawahnya.
Dan Daryl tak mampu menahan tangisnya meski Darren sudah berusaha keras menenangkannya.
"Tidak, aku sudah berjanji akan membawamu menemui keluargaku, kau tahu? Tapi mengapa kau lakukan ini kepadaku? Aku hanya asal bicara waktu itu!" racaunya, dan beberapa orang berusaha menariknya menjauh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Daryl membuka mata dalam keadaan pening tak terkira. Mimpi itu datang lagi setelah beberapa lama menghilang dan dia sudah baik-baik saja. Padahal dirinya sudah susah payah melupakannya dan berusaha bangkit sendirian.
"Ah, sial!" keluhnya, dan dia bangkit seraya meremat rambut di kepalanya.
"Hhh … Grusha, aku sudah merelakanmu. Dan aku minta maaf atas semua yang terjadi. Semua yang aku lakukan dan katakan. Tenanglah di sana." gumamnya pelan.
Masa cuma kaktus saja bisa membuatku ingat lagi kepadanya? Itu kan hanya tanaman favoritnya saja, dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan apa pun.
Daryl menjatuhkan kepalanya di atas tempat tidur, dan pikirannya kembali ke masa setelah kepergian Grusha.
Dia yang meninggal karena komplikasi akibat mengidap leukimia stadium akhir yang baru saja diketahuinya sesaat sebelum menghilang dan membuatnya kelimpungan mencari. Yang kemudian muncul hanya untuk mengakhiri hubungan mereka, yang kini difahaminya sebagai persiapan menjelang kematian. Dan Grusha melakukannya hanya karena takut membuatnya bersedih.
***
Daryl turun setelah membersihkan diri dan tanpa menunggu Nania untuk berpakaian. Dia tahu, perempuan itu mungkin saja sedang menghindarinya saat ini karena perdebatan semalam.
Namun Daryl tertegun ketika ia tiba di lantai bawah dan mendapati istrinya sedang memindahkan bunga dari tempat awal ke dalam sebuah kotak.
"Kamu sedang apa?" tanyanya, dan dia berjalan menghampiri.
"Lagi beresin ini." Nania menjawab.
"Kenapa dibereskan?" Dia menatap isi di dalam kardus yang sebagian besarnya adalah kaktus. Yang diingatnya menjadi pengisi ruang kecil pada bingkai jendela di sekeliling rumah.
"Mau dipindahkan ke greenhouse?" tanya nya lagi.
"Nggak." jawab Nania, pendek.
"Terus?"
"Mau dibuang." katanya, bersamaan dengan datangnya seorang tukang kebun.
__ADS_1
"Mana Non yang mau dikeluarkan?"
"Sebentar, Pak."
"Kenapa dibuang?" Daryl bereaksi.
"Ya dibuang aja, dari pada bikin kamu marah-marah." Nania melirik suaminya sekilas.
"Lho? Tidak harus dibuang." Daryl mendekat.
"Lah, buat apa? Aku kan naruh bunga-bunga kayak gini terus disimpan di dalam rumah tuh biar kelihatannya cantik gitu. Eh tapi malah bikin penghuninya marah-marah, ya nggak mau lah. Tiap hari lihat kaktus jadinya berantem terus, kan sebel!" Nania dengan nada kesal.
"Eee … jangan dibuang." Pria itu mengambil beberapa pot kaktus kemudian meletakkannya kembali ke tempat semula.
"Buang aja lah!"
"Tidak usah. Sayang kan? Kamu bilang kaktusnya lucu." Dia meneruskan apa yang dilakukannya.
"Lucu tapi nyebelin, bikin kita berantem terus." Nania mengambil kaktus yang sudah dirapikan Daryl untuk kemudian dia memasukkannya kembali ke dalam kardus.
"Tidak, Malyshka!! Biarkan mereka di sana, membuat jendela rumah kita cantik kan?"
Nania terdiam, dan pria itu tetap mengembalikan kaktus-kaktus tersebut ke tempatnya.
"Katanya kamu nggak suka kaktus?" Dia bergumam.
"Memang."
"Terus kenapa malah dibalikin lagi ke sana? Kan bagusnya dibuang aja."
"Jangan apa-apa main buang, biarkan saja begitu. Tidak suka bukan berarti harus disingkirkan."
"Terus kamu marah-marah setiap aku bawa kaktus ke rumah. Kenapa?" Nania mulai bertanya.
"Tidak kenapa-kenapa. Hanya saja menurutku ini adalah tumbuhan yang aneh. Berduri, hidup di tempat gersang tapi bisa bertahan."
"Kaktus sekarang bagus-bagus tahu!"
"Iya aku tahu." Dia meletakkan kaktus terakhir di bingkai jendela sehingga tempat itu tampak cantik.
"Lihatkan? Jendela rumah kita jadi cantik." katanya, yang menyentakkan kepala ke arah tukang kebun sebagai isyarat agar pria itu pergi.
"Tapi kamu nggak suka."
"Mungkin kalau sudah terbiasa melihatnya aku akan suka?"
Nania menatap wajah suaminya lekat-lekat, yang kemudian tersenyum kepadanya.
"Banyak hal yang masih harus aku biasakan. Mungkin untuk orang lain hal sepele, tapi untukku cukup sulit. Seperti halnya dyspraxia. Tapi sekali lagi aku harus berkompromi bukan?"
Hati Nania yang semula merasa kesal kini berubah menghangat.
"Nggak apa-apa kok, kalau misalnya nggak suka kita pindahin aja kaktusnya. Aku nggak apa-apa." Suaranya tak seketus tadi.
"It's oke. Biarkan saja agar aku terbiasa."
"Yakin?"
"Ya."
"Uuuhhh, Daddy! Sweet banget sih, aku jadi terharu." Nania segera menghambur ke dalam pelukannya.
Daryl terkekeh dan dia merasa lega. Meski sebenarnya agak sulit karena benda yang tak disukainya itu akan selalu mengingatkannya pada rasa sedih karena meninggalnya Grusha, tapi dia harus berusaha mengesampingkan hal tersebut demi senyum di wajah istrinya.
Padahal bukan hal besar, tapi menjadi salah satu yang bisa membuat mata Nania berbinar dan tersenyum ceria. Seperti halnya ketika dia memakan makanan dan minuman favoritnya. Dan seharusnya ini menjadi hal yang mudah dan menyenangkan.
Grusha hanya masa lalu, dan dia sudah tak ada. Sementara Nania menjadi dunianya sekarang. Yang sudah seharusnya menjadi prioritas utamanya, bukan?
💖
💖
💖
Bersambung ....
__ADS_1
no caption ahhh ....
Like komen hadiahnya aja kirim yang banyak😁😁