
💖
💖
"Memangnya kemarin mereka tidak libur ya?" Kediaman Nikolai selalu hangat di pagi hari seperti biasa.
"Mereka memilih bekerja, dan itu cukup bagus tentunya. Rumahnya akan cepat selesai dan bisa segera ditinggali." Satria menikmati sarapannya seperti anggota keluarga lainnya.
"Nanti tamannya aku benerin ya Ma? Aku tambahin bunganya dan yang rusak aku ganti juga." Nania ikut berbicara.
"Ah, jangan pikirkan itu. Santai saja, yang penting rumah kalian selesai." Sang ibu mertua menjawab.
"Atau tamannya mau dibikin greenhouse aja biar kita bisa ngembangin macam-macam bunga? Kita bikin varian baru." Nania mulai berimajinasi.
"Memangnya kamu bisa apa?" Daryl menyesap habis kopinya.
"Ya bisa lah. Tinggal banyakin pot sama media tanamnya. Nanti beli bibit terus dikembangin deh jadi banyak."
"Oh iya, tidak perlu sering-sering keluar membeli bunga karena dirumah sudah banyak ya?"
"Iya gitu."
"Oke."
"Hah, apa?"
"Buat lah greenhousenya sekalian." Pria itu menyelesaikan kegiatan sarapannya.
"Serius boleh?"
"Boleh." Daryl menganggukkan kepala.
"Beneran?"
"Ya, bukankah kamu sangat suka bunga?"
"Aku suka banyak hal."
"Yeah, right. Memangnya apa yang tidak kamu suka? Tanaman berduri seperti kaktus saja kamu suka."
"Dih? Kan emang bagus?"
"Hmm … tanaman berduri begitu apa bagusnya?"
"Ya bagus lah, it's cute Om Der!!" Nania menirukan suara Anya.
"Stop! Kamu terdengar seperti anya kalau begitu."
"Nggak apa-apa, Anya kan lucu?"
"Hadeh, lucu-lucu menyebalkan."
"Ish, kamu mana ngerti sama yang lucu-lucu?"
"Diamlah, apa kamu sudah selesai?" Daryl mengakhiri perdebatan sementara kedua orang tuanya hanya tertawa.
"Udah." Nania menganggukkan kepala.
"Kalau begitu ayo? Jangan lupa tumblermu." Daryl bangkit dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Pergi dulu, Mom." Mereka berpamitan pada dua orang tua seperti biasa.
***
"Udah aku bilang nggak usah kan?" Nania kembali mencegah suaminya yang berniat ikut masuk ke dalam gedung tempatnya mengikuti persamaan.
"No, aku memaksa." Pria itu membenahi jasnya.
"Aku berasa kayak anak TK yang diantar bapaknya deh?" protes Nania.
"Ya anggap saja begitu."
"Serius, nggak usah. Nggak perlu juga kita nunjukin segala hal sama orang-orang kan? Nggak akan ada manfaatnya."
"Kamu pikir begitu?"
"Ya."
"Well, you know … i don't care. Aku hanya ingin melihat keadaan kelasmu dan peserta lain yang berani bergosip tentangmu." Pria itu meraih tangannya kemudian menuntunnya masuk ke dalam gedung tersebut.
"Tapi Dadd?"
"Shut up!!"
Semua orang tentu saja mengalihkan perhatian kepada mereka berdua. Bayangkan saja, salah satu peserta di tempat tersebut masuk di gandeng seorang pria yang sempat menjadi buah bibir pada minggu sebelumnya.
Dan semua orang tahu itu apalagi mengenai kabar ditangkapnya Zayn oleh seseorang karena menyebarkan rumor tersebut telah sampai kepada mereka.
"Saya suaminya Nania, Bu Guru. Minta izin untuk membuat dokumentasi di sini." Daryl menyapa guru yang baru saja masuk.
"Oh … ba-baik Pak, silahkan." Tak ada yang bisa guru tersebut lakukan selain mengiyakan.
"Nania sudah baikan? Bisa mengikuti pelajaran hari ini?" Perempuan itu bertanya.
"Sudah, Bu." Nania menjawab.
"Baiklah kalau begitu, silahkan?"
"Terima kasih." Mereka melewati orang-orang yang sudah siap belajar tanpa menghiraukan pandangan siapa pun.
Daryl kemudian duduk di sisi kiri Nania yang sebelumnya merupakan tempat duduknya Zayn. Sementara perempuan itu hanya terdiam.Â
Ah, pria ini tidak bisa dihentikan. Batinnya, lalu memindai seluruh ruangan yang tampak berbisik-bisik.
Jam pelajaran berlangsung seperti biasa dan kelas hari ini terasa hening selain suara guru yang menerangkan didepan. Semua orang hanya menyimak tanpa ada interaksi lain kecuali sesekali melirik kepada Nania atau mungkin Daryl yang duduk tenang di kursinya.
"Baik, teman-teman. Pelajaran hari ini selesai. Terimakasih untuk atensinya. Jangan lupa tugasnya, dan sampai bertemu lagi besok." Guru mengakhiri sesi hari itu setelah tiga jam berlalu, kemudian dia segera pergi.
"Hanya segitu saja? Astaga sekolah macam apa ini?" Daryl bergumam di sela Nania yang tengah membereskan alat tulisnya.
"Memangnya apa yang kamu harapkan? Namanya juga sekolah persamaan, mana siswanya udah pada tua lagi?"
"Iya, tua di umur tapi pikiran seperti anak kecil. Mudah termakan bualan orang tidak jelas." Daryl menjawab, dan ucapannya cukup terdengar jelas oleh beberapa orang sehingga mereka menoleh.
"Sssttt!" Namun Nania segera menghentikan ocehannya.
"What? Itu benar kan? Tidak ingat minggu kemarin digosipkan lalu dipukuli di toilet sekolah dan hampir diperkosa karena menolak ajakan kencan? Dan jika masih ada yang percaya soal rumor itu setelah aku menangkap pelakunya, maka mereka keterlaluan sekali! Bibir kamu saja masih ada bekas lukanya? Lalu bagaimana dengan mereka? Pasti masih ingat kabar apa yang di dapat?" Pria itu memang tidak bisa dihentikan, dan Nania hanya bisa menarik napas perlahan.
"Masih untung aku tidak mengirimkan ekscavator untuk meratakan tempat ini karena Papi dan Om Arfan yang melarangku. Kalau tidak, kamu sudah pindah ke tempat lain." katanya lagi yang membuat hampir semua orang akhirnya menatap ke arah mereka.
__ADS_1
"Umm … iya iya, aku tahu. Sekarang ayo kita pulang? Sekolahnya udah selesai?" Nania menariknya bangkit dan buru-buru membawanya keluar dari kelas.
"Kamu bilang cuma mau nungguin aku, kenapa malah ngomong yang nggak-nggak." protes Nania.Â
Mereka sudah masuk ke dalam mobil dan bersiap untuk pergi.
"Ugh, habisnya aku kesal sekali kalau ingat mereka percaya begitu saja kepada baj*nga kecil itu dan malah menggosipkanmu."
"Tapi nggak harus ngoceh juga kan? Kamu norak deh!"
"Norak katamu?"
"Ya, nggak harus nyombongin diri kayak gitu, malu tahu!!"
"Malu? Mereka saja menggosipkanmu tidak malu padahal terbukti itu tidak benar. Aku yakin mereka juga tahu jika anak itu sudah mencelakaimu, dan apa yang dia katakan itu bohong tapi tidak ada yang meminta maaf. Kenapa kamu harus malu? Aku ini suamimu lho."
Nania mendengus keras. Dia percaya bahwa tidak semua hal buruk harus dibalas dan tidak semua kebohongan harus dibuktikan karena mungkin saja tidak akan ada gunanya.Â
Tapi Daryl tidak akan mengerti juga dengan hal itu. Karena selain perhitungan, ternyata dia pendendam juga. Maka kekesalannya tidak akan reda jika belum terbalaskan.
"Jadi apa yang akan kamu lakukan? Tetap diam saja?"
Nania terdiam sebentar untuk memikirkan apa yang harus dia lakukan.
"Aku yakin setelah ini mereka nggak akan berani macam-macam lagi. Kamu kan udah hajar Zayn sampai dia hampir sekarat, belum lagi kita datengin orang tuanya. Terus waktu itu Regan bawa orang untuk ngambil cctv dari sini. Apa itu nggak akan bikin mereka ketar-ketir? Dan kalau masih ada yang berani gitu sama Daryl Stanislav, aku rasa dia lagi bunuh diri." Akhirnya dia pun membual, walau pada kenyataannya mungkin itulah yang akan terjadi.
"Benarkah?" Daryl menanggapi. Entah kenapa dia merasa senang mendengar Nania mengatakan hal seperti itu.
"Iya dong. Mana ada yang berani sama kamu setelah ini?"
"Hmm …." Pria itu mengangguk-anggukkan kepala sambil menahan senyum.Â
"Jadi, udah ya? Setelah ini nggak usah ngapa-ngapain lagi. Aku yakin mereka tahu siapa kamu. Dan berpikir ribuan kali untuk macam-macam lagi." Nania menatap teman sekelasnya yang tampak sedang memperhatikan mereka sambil sesekali melihat layar ponsel.
"Oke. Karena kamu yang bilang begitu aku akan diam."
"Bagus Daddy, sekarang kita pulang?" Nania tersenyum lega.
"Baik, tidak mau jalan-jalan dulu?" Namun pria itu memberikan penawaran terlebih dahulu.
"Nggak ah, aku mau pulang aja." tolak Nania.
"Serius? Aku punya banyak waktu lho hari ini. Siapa tahu kamu mau ke kebun binatang, mungkin? Atau ke Dufan? Ayo?" Pria itu menaik turunkan alisnya.
Nania terdiam sebentar.
"Oke?"
"Nggak ah, aku mau pulang aja." tolak Nania lagi, dan dia memasang searbeltnya sendiri.
"Ayo Daddy, kita pulang?" ucapnya lagi sambil menepuk pundak suaminya.
💖
💖
💖
Bersambung ....
__ADS_1
Ayo Daddy, pulang aja. Anuannya di rumah🤣🤣🤣