The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Perasaan Nania


__ADS_3

πŸ’–


πŸ’–


Nania menjatuhkan tubuhnya di atas sofa dengan tas gendongnya masih di punggung dan tumbler dalam dekapan.Β 


Hari itu mereka langsung pulang ke rumah tanpa ada drama jajan di minimarket atau pun membagi-bagikan makanan untuk anak-anak yang biasa ditemui di sepanjang perjalanan, apalagi pergi ke rumah baca. Lagipula, Nania tampak tidak bersemangat.


"Kenapa kamu ini?" Daryl menghampirinya setelah meletakkan kunci mobil di meja lalu merangkulnya.


"Aku bete." Sementara Nania menyurukkan kepala pada bantal di sudut sofa.


"Bete?" Daryl melepaskan tas dan mengambil tumbler dalam dekapannya, untuk kemudian dia letakkan pula di meja.


"Kenapa? Bicaralah kepadaku, Malyshka!" Pria itu menyingkirkan rambut yang menghalangi wajahnya, lalu dia melepaskan sepatu yang masih melekat di kaki kecilnya.


Nania terdiam namun matanya tampak berkaca-kaca. Dan bibirnya berkedut seolah dia memiliki banyak hal untuk dikatakan.


"What's wrong? Tell me!!" Daryl kemudian menunduk untuk menatap wajahnya lebih jelas.


Lalu Nania malah terisak.


"Hey, kenapa sih? Aku ada salah? Katakan! Seingatku, aku belum membentakmu hari ini? Aku juga belum mengomel, jadi apa sebenarnya yang terjadi?" Pria itu terus bertanya.


"Ada yang mau merebut kamu dari aku." Nania pun buka suara, dan tangisnya pecah begitu Daryl membingkai wajahnya.


"What?"


"Ada yang mau hidup kayak aku, punya suami kayak kamu, dan dia tanya apa yang bikin kamu memilih aku?" Perempuan itu sesenggukkan seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya.


"Apa maksudnya itu?"


"Kenapa kamu waktu itu suka sama aku? Kenapa juga mau nikahin aku? Kasihan? Aku ini punya banyak masalah kan?"


"Eee …." Daryl memutar otaknya untuk mencari kata-kata yang tepat. Bisa-bisa dia mengacaukan semuanya jika salah memberikan jawaban.


"Aku juga baru kepikiran sekarang, kenapa kamu nikahin aku? Sedangkan kata ibu aku ini jelek. Nggak mungkin ada orang yang suka sama aku." Nania teringat ucapan ibunya.


"Astaga!"


"Serius, ibu pernah bilang kayak gitu."


"Just don't believe that! What's wrong with you?" Daryl memegang pundak Nania lalu mengguncangnya agak kencang.


"Mulai besok aku tidak mengizinkanmu bicara dengan siapa pun di sekolah sekalipun itu temanmu. Membuat pusing saja!"


Nania masih terisak.

__ADS_1


"Look, i love you. That's why i marry you. Dan ibumu bilang kamu jelek? Dia pasti buta. Selain matanya, hatinya juga sama butanya maka dia mengatakan hal buruk seperti itu. Dan menurutku, kamu cantik." Daryl mengusap pipi merah Nania dengan punggung tangannya.


"Dan temanmu bertanya apa yang membuatku memilihmu? Well, aku rasa dia tidak tahu soal keberadaan hati dan perasaan pada seseorang?"


Nania berhenti menangis.


"Apakah dia juga tahu tentang yang namanya jodoh? Seperti kata Mama dan Papi, jika sudah jodoh lalu kita bisa apa?"


Perempuan itu menatap wajah suaminya.


"Jika bukan jodoh kenapa kita sering bertemu dan berdebat?"


"Karena kamu sering datang ke tempat kerja aku yang punya keponakan kamu. Ya jelas sering ketemu."


"Lalu dari sekian banyak kedai, kafe, atau restoran, lantas kenapa kamu memilih kedainya Ara untuk bekerja?"


"Karena cuma kedainya Ara yang nggak pakai persyaratan berat untuk kerja. Cuma modal rajin sama serius aja."


"So? Apa itu kebetulan? Aku rasa tidak. Semuanya memang sudah ditentukan untuk terjadi seperti itu, lalu mengapa kamu mempermasalahkannya?"


Nania terdiam lagi.


"Itu semua tidak penting, Malyshka. Tidak harus ada alasan untuk mencintaimu, karena bagiku kamu sangat mudah dicintai. Contohnya keluargaku menerimamu dengan segala apa yang ada padamu. Mama bahkan menyayangimu sama seperti kepadaku dan saudara-saudaraku. Isn't that enough for you?"


"Mereka yang ingin merebut apapun yang kamu punya, atau hidupmu saat ini hanya tidak tahu apa saja yang sudah kamu lewati untuk tiba di titik ini. Mereka tidak tahu kamu jadi korban keserakahan keluargamu, kehilangan banyak hal dan berjuang sendirian padahal seharusnya anak perempuan seusiamu mendapatkan perlindungan dari keluarganya. Dan setelah tahu itu semua, apa kamu bisa menjamin jika mereka masih menginginkan hidupmu? Atau bahkan menginginkan aku?" Daryl menyeka sisa air mata di pipi perempuan itu.


"Mereka yang tidak mengenalku sudah pasti mengira bahwa aku ini pria baik, manis dan penyayang, bukan?"


"Lisa kayaknya mikir begitu." Nania buka suara.


"Lisa? Apa dia yang mengatakan ingin merebutku?"


Perempuan itu mengangguk.


"Eh bukan, maksud aku dia mau hidupnya kayak aku. Yang dapet suami kayak kamu."


Daryl tampak mendengus.


"Anak pemilik perusahaan asuransi banyak tingkah."


"Kamu tahu Lisa?"


"Tahu. Semua yang mendekatimu aku tahu."


"Masa?"


"Ya, tentu saja. Itu penting untuk menghindarkanmu dari bahaya. Kamu kan sembrono dan sering mudah percaya kepada orang-orang. Dan itu cukup mengkhawatirkan."

__ADS_1


"Dan aku yakin jika saja mereka tahu bagaimana aku yang sebenarnya, maka sudah bisa dipastikan tidak akan ada yang mau hidup denganku." katanya lagi, seraya meraup tubuh perempuan itu sehingga jarak diantara mereka menghilang.


Nania terkekeh pelan.


"Tukang ngomel, suka teriak-teriak dan emosian."


"See?" Daryl pun tertawa. "Jangan memikirkan hal negatif karena itu akan menghancurkan dirimu sendiri. Dan itu sangat berbahaya."


"Aku cuma kepikiran ucapannya Lisa. Gimana kalau dia …."


"Sssttt!" Daryl menempelkan ibu jari di bibir perempuan itu sehingga dia kembali berhenti berbicara.


"Mulai besok, jangan lagi bicara kepadanya atau siapa pun di sekolah. Aku melarangmu!"


"Hah?"


"Jangan bicara atau mendengarkan siapa pun. Sekolah, belajar, lalu pulang. Berbicara dengan mereka membuatmu berpikiran negatif." ucap Daryl yang menatap wajah Nania lekat-lekat.


"Malyshka!!"


Lalu perempuan itu menganggukkan kepala.


"Good girl." Daryl mendekatkan wajah kemudian dia mengecup bibir Nania dengan lembut.


"Jadilah orang yang masa bodoh, maka kamu akan terhindar dari orang-orang yang seperti itu." Dia melepaskan Nania lalu bangkit.


"Aku harus memeriksa data yang Dinna kirimkan." Katanya.


Namun perempuan itu memeluk pinggang untuk menahannya. Dan kedua tangannya merangkul pundak kokohnya sehingga Daryl kembali kepadanya.


"Malyshka?" Lalu Nania membungkamnya dengan ciuman yang menggebu-gebu, dan tentu saja Daryl tak mampu menolaknya. Jadi, dia membiarkannya saja Nania melakukan apa yang diinginkan.


"Baby?" Namun setelah beberapa saat Daryl menghentikannya karena dia merasa bahwa Nania sudah menyentuhnya terlalu jauh. Dan itu akan sangat berbahaya.


"Aku harus memeriksa pekerjaan dulu sebentar, ini penting." Dia melepaskan lilitan tangan Nania dari pundaknya, dan kedua kaki perempuan itu dari pinggangnya.


"Aaaa … Daddy!!" Nania merengek.


Namun pria itu hanya tertawa. Dan dia pun benar-benar bangkit dan bergegas ke ruang kerjanya di lantai atas. Sementara Nania beralih memeluk bantal dengan gemas karena perasaannya mulai tak mampu dia kendalikan.


πŸ’–


πŸ’–


πŸ’–


Bersambung ...

__ADS_1


Lembang lagi dingin gaess. Kirimin aku kopo dong biar angetπŸ˜‰πŸ€£πŸ€£


__ADS_2