
π
π
Sofia memeriksa ke ruang keluarga setelah dia mendengar kegaduhan. Tampak putra keduanya tengah asyik menonton pertandingan bola yang ditayangkan oleh salah satu statsiun televisi internasional. Dan Daryl duduk di depan tivi dengan camilan dan minuman kaleng di meja.
Sesekali dia berteriak ketika pertandingan terlihat cukup seru dan menegangkan. Atau terkadang berdiri karena tidak puas dengan apa yang terjadi.
"Apa yang kamu lihat?" Satria memperhatikan istrinya.
"Ini hari apa?" Sofia balik bertanya.
"Sabtu malam Minggu. Kenapa?" Satria mengikuti pandangan perempuan itu.
"Tumben sekali Daryl ada di rumah. Biasanya dia pergi sejak sore dan bilang kalau tidak akan pulang?"
"Memangnya buruk ya?"
"Tidak juga. Malah, itu bagus sekali!" Perempuan itu tertawa pelan.
"Apa dia sudah tidak berhubungan dengan Bella ya?" Lalu dia menatap suaminya.
"Entahlah, mungkin tidak." Satria tampak menggendikkan bahu.
"Ah, masa kamu tidak tahu. Biasanya kamu mengawasinya kan? Kamu pasti tahu!" Perempuan itu memicingkan mata.
Satria hanya tersenyum.
"Apa benar?"
"Mmm β¦ sepertinya begitu. Bukankah dia pulang tepat waktu akhir-akhir ini? Dan jarang keluar lagi setelah makan malam dan masuk kamar. Bukankah itu bagus?"
"Ah, aku lega sekali mendengarnya." Sofia mengatupkan kedua tangan di dada.
"Kamu tahu, sebenarnya aku berharap dia dan Darren menikah bersamaan saja. Tapi sepertinya anakmu yang satu itu sangat sulit untuk mengambil langkah. Dia lambat kalau soal perempuan." Sofia sedikit berbisik.
"Hey, Darren dan Daryl itu dua orang yang berbeda, tidak bisa kita samakan seperti itu. Mereka memiliki pikiran dan cara masing-masing untuk berbuat sesuatu dan tidak bisa kita atur." Satria berujar.
"Tapi Darren bisa. Dia mengerti setelah kita beri tahu dan menunjukkan caranya. Buktinya dia langsung mendekati Kirana setelah kita izinkan, dan lihat sekarang? Mereka sebentar lagi menikah." Sofia mengingatkan. Dan rasanya dia sudah tidak sabar menunggu hari dimana anaknya akan melangsungkan pernikahan.
"Sudah aku katakan β¦."
"Coba saja Daryl bergerak cepat seperti itu ya? Pasti kebahagiaan ini akan benar-benar lengkap. Dan kita tenang karena sudah menunaikan tanggung jawab kepada anak-anak."
"Belum tentu." sergah Satria. "Hal yang terburu-buru itu kadang tidak baik, apalagi tidak didasari dengan niat yang tidak kuat. Dan aku rasa Daryl memang cukup santai dengan hal ini, jadi sebaiknya kita biarkan saja seperti itu. Lagi pula memang belum ada jodohnya juga kan?"
"Eh, sembarangan kamu bilang anak kita belum ada jodohnya? Lalu yang dia lakukan kepada Nania itu apa? Mengawasinya setiap hari, memeriksanya ketika sedang bekerja, dan selalu mencari alasan untuk bertemu dengannya? Kamu pikir itu apa?" Sofia mengingat laporan yang setiap hari mereka terima.
"Masalahnya anak kita belum mau mendeklarasikan diri kalau sebenarnya dia punya perasaan kepada Nania." jelas Satria.
"Ah, gengsinya memang tinggi. Apa sih yang dia pikirkan? Padahal sudah aku katakan kalau kita tidak mengharapkan perempuan dengan segudang prestasi atau gelar. Aku hanya ingin melihat anak-anakku bahagia dengan siapa saja. Nania pun tidak apa-apa, iya kan?"Β
"Kamu sepertinya sangat menyukai anak itu ya?"
__ADS_1
"Aku tidak terlalu mengenalnya, tapi jika anakku menyukainya pasti ada sesuatu yang spesial padanya. Feeling kami jarang meleset kalau soal seseorang."
"Masa?"
"Ya, contohnya aku."
"Apa?"
"Mencintaimu. Lihat kita bersama sampai selama ini, punya anak-anak yang hebat dengan keluarga mereka yang luar biasa."
Satria tergelak.
"Ayo Papi, sekarang kita bantu Daryl?" Sofia bergelayut di lengan suaminya.
"Bantu soal apa?"
"Soal Nania."
"Hmm β¦."
"Seperti yang kamu katakan waktu itu, jika kita sebaiknya memberi perhatian lebih kepada Daryl yang sedang menghadapi perasaannya. Dan sepertinya kamu benar bahwa dia mengalami kesulitan soal ini?"
Satria berpikir.
"Ayo β¦ kita lamarkan Nania untuk Daryl?" Sofia dengan semangatnya.
"Tunggu Mom, sabar dulu!" Namun pria itu segera menghentikannya.
"Bukan itu masalahnya, Sayang!"Β
"Lalu apa?"
"Daryl itu berbeda. Meski kelihatannya sama dengan Darren tapi sebenarnya dia sangat berbeda."
"Ah, dia pasti akan menurut dengan apa yang aku katakan. Dia itu, walaupun keras kepala tapi sangat penurut."
"Iya, tapi tetap saja ada beberapa hal yang harus kita hargai."
"Misalnya?"
"Soal urusan pribadi."
"Aku harus membiarkan dia memutuskan sendiri?'
"Salah satunya itu."
"Ck!" Sofia berdecak kesal.
"Kamu sudah tahu kalau gengsinya tinggi, jadi kita harus membiarkan Daryl memutuskan sendiri apa yang diinginkannya, sekedar untuk menjaga harga dirinya."
"Harga diri apanya? Kamu ini ada-ada saja?"
"Hanya β¦ biarkan saja dia melakukan dengan caranya sendiri. Dengan begitu dia akan yakin dengan perasaan dan pilihannya."
__ADS_1
Sofia terdiam.
"Anakmu sedang meyakinkan hati, Mom. Dan dia juga sedang mengumpulkan kepercayaan dirinya."
"Bukan karena kamu tidak setuju dengan Nania kan?" Sofia mengira-ngira.
Satria tertawa cukup keras mendengar ucapan istrinya itu.
"Sayang? Kenapa aku curiga kalau kamu mau melakukan sesuatu ya?"
"Kamu ngelantur! Memangnya apa hakku untuk setuju ataupun tidak setuju atas pilihan anak-anakku? Selama mereka bahagia dan melakukan hal yang benar, aku tidak akan membatasi soal apa pun, apalagi soal jodoh." jawab pria itu.
"Aku mengharapkan mereka menemukan orang yang tepat dan mau mendampingi dalam keadaan apa pun, sehingga kekhawatiran kita hilang begitu mereka menjalani hidupnya sendiri-sendiri. Jadi mengapa aku aku harus tidak setuju?"
"Entahlah, mungkin karena Nania β¦."
"Dia manusia. Sama seperti kita. Yang membedakan hanya takdirnya yang tidak memiliki apa yang kita miliki. Dan jika Tuhan sudah berkehendak, maka aku tidak akan bisa menghalangi. Terutama jika anakmu benar-benar memiliki perasaan kepadanya."
"Oh, β¦ aku lega sekali mendengarnya!" Sofia memeluk pundak suaminya.
"Ah, sekarang aku benar-benar merasa kalau kamu memang menyukai Nania ya? Dan perasaanku tidak enak soal itu."
"Ya, anggap saja begitu." Lalu mereka berdua tertawa.
"Ish! Kalian ini apa-apaan sih? Sudah tua juga?" Daryl tiba-tiba muncul di belakang orang tuanya yang sedang berpelukan.
"Lho, bukankah kamu sedang nonton bola tadi?" SofiaΒ melepas rangkulannya dari Satria.
"Aku bosan." Daryl mengenakan jaket kulitnya, lalu meraih kunci mobil di tempat penyimpanan.
"Terus mau pergi?" Sang ayah bertanya.
"Ya apa lagi? Darren saja pergi malam mingguan dengan Kirana, masa aku diam di rumah? Memangnya Mama dan Papi?" Pria itu menjawab.
"Mau pergi ke mana?" Sofia antusias.
"Mama kepo." Sang anak melenggang keluar di mana suasana memang sudah menggelap.
"Nanti kamu pulang?" Sang ibu masih bertanya.
"Pulang β¦." Daryl memutar tubuh, "Mungkin pagi." katanya, sambil tertawa.
"Daryl!!" Sofia berteriak sementara sang anak berlari ke arah mobil.
π
π
π
Bersambung ...
Tunggu Mom, belum apa-apa mau main lamar aja, nanti anak orang kaget. ππ
__ADS_1