
💖
💖
"Jangan diambil semua!!" Terlambat, karena Hendrik sudah mengambil semua uang yang Mirna simpan dalam tasnya yang adalah gaji hasilnya bekerja sebagai tukang cuci di losmen selama seminggu terakhir.
"Sudah aku katakan aku membutuhkan uang ini. Kau pikun ya?" Pria itu mengangkat tangannya ketika dia hampir merebut kembali uang di dalam amplop yang tidak seberapa itu.
"Tapi aku juga membutuhkanya, Hendrik. Kebutuhan kita banyak, belum lagi aku harus mengunjungi Sandi di penjara. Bisa babak belur nanti dia jika tak membayar uang keamanan." ucap perempuan itu.
"Alah, Sandi saja yang kau pikirkan! Sudah seharusnya dia bisa menjaga dirinya sendiri di dalam sana, bukannya mengandalkanmu. Dia itu sudah dewasa."
"Tapi di penjara sana tidak seperti itu! Terakhir dia dipukuli karena terlambat membayar keamanan."
"Itulah akibatnya jika dia ceroboh. Dasar anak bodoh! Menyusahkan saja." Pria itu cepat-cepat pergi meninggalkannya yang berniat pergi jika saja semua uangnya tak dia ambil.
***
"Baby, aku harus bertemu seseorang terlebih dahulu. Bisakah kamu menungguku sebentar di sekolah?" Pesan Daryl masuk ketika Nania baru saja keluar dari kelasnya dan menyelesaikan ujian semesternya pada hari itu.
"Lama nggak?"
"Hanya sebentar."
"Ketemu siapa?"
"Orang dari brand pakaian. Dia mau mengiklankan dan memasukkan produknya ke Fia's Secret." Daryl membalas.
"Kenapa kamu yang menemui dia? Apa nggak bisa orang lain?"
"Untuk urusan seperti ini memang harus langsung denganku."
"Oh …."
"Tidak apa menunggu sebentar?"
"Oke."
"Jangan ke mana-mana ya? Tunggu aku sampai datang. Ingat, jangan bicara dengan orang asing apalagi pergi."Â
Dia pikir aku ini anak TK apa? Batin Nania.
"Baby?"
"Iya, Dadd aku ngerti." Nania membalas.
"Baiklah, tunggu saja di pos satpam agar kamu tetap aman, oke?" Namun peia itu kembali mengirimkan pesan.
"Iya."
"Good girl." Yang diikuti emot senyum.
Dan setelah setengah jam lamanya pria itu tak kunjung datang, membuat Nania dilanda kebosanan. Dia hanya mondar-mandir di depan pos penjagaan meski petugas di dalamnya menyuruhnya untuk masuk karena gerimis mulai turun.
Tapi Nania tetap menolak karena jika dia masuk ke dalam takut menimbulkan ketidaksukaan dari suaminya. Perempuan itu tentu saja ingat jika Daryl sangat pencemburu, dan dia tak ingin membuat masalah untuk sekarang ini.
"Nania?" Suara perempuan menginterupsi lamunannya.
Dia mendongak dan sosok Mirna tengah berdiri dibawah gerimis yang mulai menebal.
"Ibu?"
"Oh, Nania! Bersyukur kamu masih ada di sini!" Dia segera menghampiri dan tiba-tiba saja memeluknya.
Tentu saja Nania merasa terkejut. Ini pertama kalinya sang ibu melakukan hal tersebut.
"I-ibu dari mana? Ibu nggak kerja?" Nania segera bertanya.
"Hari ini ibu dapat libur." Mirna mengikuti ketika putrinya itu menariknya ke tempat duduk.
"Oh … terus kenapa ibu ke sini? Sengaja cari aku?"
Mirna tak segera menjawab, namun dia menatap sekitar. Tak ditemukan siapa pun selain penjaga keamanan yang mondar-mandir di depan gerbang.
"Kamu … belum pulang?" Dan dia malah balik bertanya.
"Ini lagi nunggu suami aku, katanya ada keperluan dulu." Nania menatap keadaan Mirna yang sepertinya tidak terlalu baik.
"Ibu sehat?" Akhirnya dia bertanya lagi.
"Sehat, hanya sedikit kelelahan." Mirna pun menjawab.
"Kerjaan ibu capek?"
"Lumayan. Memangnya di mana ada pekerjaan yang tidak capek?" Perempuan itu terkekeh getir.
Dia mengira mungkin hal inilah yang Nania rasakan ketika anak perempuannya itu masih tinggal bersamanya.
"Ibu mau mengunjungi Sandi." Dan akhirnya dia pun kembali berbicara.
"Ke rumah tahanan?" Nania menatap wajah sendu sang ibu.
"Iya. Ini sudah satu bulan dan ibu belum berkunjung lagi. Dia pasti menunggu."
"Terus kenapa ibu ke sini?"
__ADS_1
"Ibu tidak tahu harus ke mana lagi karena …." Mirna menggantung kata-katanya.
"Untuk datang ke sana ibu harus membawa … sesuatu."
"Makanan?"
"Ya, dan … uang."
"Kenapa harus bawa uang?"
"Untuk membayar keamanan, Nna."
"Kenapa begitu? Bukannya di sana aman ya? Banyak petugas yang berjaga kan? Lagian kenapa harus bayar?"
"Kalau tidak kakakmu akan jadi sasaran pemukulan sesama napi."
"Kok begitu?"
"Ibu tidak tahu, tapi biasanya begitu kalau ibu telat berkunjung."
"Aneh deh, kenapa di penjara ada yang gitu juga?"
Mirna terdiam.
Sebenarnya dia malu untuk mengemis seperti ini, tapi apa boleh buat dirinya tak punya pilihan. Apalagi jika Hendrik tahu keberhasilannya mendekati Nania akan menyebabkan pria itu memaksanya melakukan pemerasan seperti yang dia inginkan.
"Ibu butuh uang, Nna." Dan akhirnya kalimat itu meluncur juga dari mulutnya. Sedangkan Nania sudah mengira apa yang akan perempuan itu ucapkan.
Dia menghela napas pelan.
"Sebenarnya ibu tidak ingin seperti ini, tapi ibu terpaksa. Ibu janji hanya sekali ini saja."
Nania belum menjawab.
"Nna, tolong ibu. Kali ini saja."
Perempuan itu mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
"Nna?" Mirna menyentuh tangan putrinya.
"Kalau misal posisi aku kayak Bang Sandi, ibu mau mengusahakan keselamatan aku kayak gini?" Dia lantas bertanya.
"Apa ibu akan melakukan hal yang sama kalau aku ada di penjara? Bahkan waktu aku mau dijual pun ibu nggak percaya." Nania mengingatkan apa yang menyebabkan sang kakak mengalami apa yang saat ini dia alami. Dan itu membuat Mirna kehilangan kata-kata.
"Dan apa ibu tahu gimana rasanya dibeda-bedakan padahal aku juga sama kayak Bang Sandi yang lahir dari rahim ibu?"Â
"Pernah nggak ibu berpikir kalau aku juga punya hak yang sama kayak anak laki-laki ibu? Disayang gitu, atau diperlakukan dengan baik? Atau karena aku anak perempuan jadi perlakuan ibu sama aku jadinya berbeda?" Semua kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Nania.
"Ibu tahu nggak, sebenarnya aku udah nggak mau peduli lagi sama keadaan ibu atau Bang Sandi kalau ingat perlakuan kalian selama ini. Akutuh suka sedih kalau ingat selama ini aku berjuang sendirian untuk kalian tapi nggak pernah ada yang peduli sama keadaan aku. Aku maunya biarin aja mau keadaan ibu kayak gimana juga. Apalagi suami aku udah melarang aku berbuat sesuatu untuk ibu."
Dan sepertinya kali ini dia harus berpasrah diri.
"Tapi sayangnya hati aku nggak kayak gitu." Namun Nania bangkit dari tempat duduknya.
"Tapi janji ya, uangnya dipakai untuk besuk Bang Sandi, jangan dikasih ke Om Hendrik? Aku nggak rela kalau ibu gitu."Â
Mirna terperangah.
"Ayo Bu, mumpung suami aku belum ke sini." katanya yang mengajak Mirna pergi ke swalayan terdekat.
***
Satu kantong kresek berukuran cukup besar berisi beberapa jenis makanan yang dia niatkan untuk bekal ibunya menjeguk sang kakak Nania berikan. Tentunya setelah dia membayar barang tersebut di kasir dan mengambil uang di ATM.
Tidak banyak, hanya sekedar untuk membantu sang ibu membayarkan apa yang dikatakannya beberapa saat yang lalu.
"Kalau soal makanan ibu bisa hubungi aku. Datang ke sekolah atau ke rumah baca, tapi kalau soal uang aku nggak bisa bantu banyak karena takut ketahuan suami aku. Segini juga aku nggak tahu nanti alasannya apa kalau dia tanya. Karena aku nggak sebebas yang ibu lihat. Ssmuanya pakai aturan dan aku nggak bisa seenaknya pakai apapun yang aku punya sekarang." Dia menyerahkah lembaran uang yang diambilnya barusan.
"Terima kasih, Nania. Ibu tidak akan melupakan hal ini." Mirna menerimanya dengan perasaan lega.
"Ibu masih sama Om Hendrik?" Lalu sang anak bertanya.
"Ya, memangnya dengan siapa lagi?"
"Terus apa yang dia usahakan untuk ibu? Masih santai-santai sementara ibu banting tulang kayak gini?"
Mirna hanya terdiam.
"Aku sekarang tahunya kalau kita hidup dengan seseorang itu, minimal kita sama-sama berjuang untuk jadi lebih baik dan bukannya masing-masing kayak gini. Bukankah pasangan itu seharusnya menjalani semua sama-sama? Susah senangnya, bahagia sama sedihnya, punya dan nggak punya nya. Kalau kayak ibu begini, terus apa gunanya punya suami?" Nania masih berbicara mengenai keadaan sang ibu saat ini. Dan rasanya dia ingin sekali mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya.Â
Tapi kedatangan mobil Daryl di pelataran parkir tak lama setelah dirinya mengirimkan pesan tentu saja menghentikannya saat itu juga.
"Maaf aku nggak bisa antar besuk, suami aku pasti nggak bakalan ngasih izin." katanya kemudian. Dan Mirna mengerti akan hal itu.
"Kalau begitu ibu pamit?" ucapnya yang bersiap untuk pergi ketika di saat yang bersamaan menantunya turun dan datang menghampiri.
Nania menganggukkan kepala.
"Sudah selesai?" sapa pria itu segera setelah jarak mereka cukup dekat.
"Udah." Nania menjawab lalu kedua sudut bibirnya dia tarik sehingga membentuk sebuah senyuman.
"Ibu pergi, Nna." ucap Mirna lagi yang beranjak setelah mengangguk ke arah Daryl, meski pria itu tidak menghiraukannya sama sekali.
"Iya, Bu. Hati-hati." jawab Nania yang segera terbenam dalam pelukan Daryl ketika suaminya itu menariknya seperti sedang menyelamatkannya dari bahaya.
__ADS_1
"Rasanya aku kena petir di siang bolong waktu kamu mengirim pesan sedang bersama ibumu?" Pria itu berbisik di telinganya.
"Huu lebay." Nania tertawa.
"Serius, makanya aku buru-buru ke sini." Dan dia tak berniat melepaskanya sama sekali.
"Bukankah sudah aku katakan untuk tetap di sekolah? Kenapa malah ke sini?" Dia mengikatkan pesan sebelumnya.
"Kan udah aku bilang kalau aku haus?" Nania mencari alasan.
"Memangnya air minum yang kamu bawa habis?"
"Cuma satu tumbler. Dari tadi juga udah kemanaaaa …."
Pria itu tertawa pelan.
"Apa aku juga harus menyediakan air galon di sekolahmu? Tapi bukankah di sana juga ada kantin?"
"Nggak usah, dan aku malas masa harus ke kantin? Jadinya ya jalan aja ke sini. Eh tahunya ketemu ibu."
"Apa dia sendiri?" Daryl menatap jalan yang baru saja dilalui oleh Mirna.
"Kayaknya gitu."
"Kebetulan sekali ya kamu bertemu dengannya? Apa dia meminta sesuatu kepadamu?" Pria itu menatap curiga.
"Nggak. Tadi pas aku masuk ibu lagi belanja."
"Terus?"
"Nggak ada terusannya. Ya aku bayarin aja sekalian belanjaannya mumpung ketemu."
"Hmm …." Daryl tampak tak suka.
"Cuma sedikit, Dadd. Anggap aja sedekah."
"Bisa saja kamu ini." Dia mengusap puncak kepala istrinya.
"Ya kan kalau nggak ketemu mah nggak."
"Ya, aku harap tidak sering-sering bertemu dengannya lagi agar kamu tidak usah memberinya apa pun lagi."
"Ahahaha, kejam banget sih?"
"Pemberianmu kepadanya dulu sudah cukup, dan sekarang saatnya kamu memikirkan dirimu sendiri."
"Iya, Daddy."
"Terus mana sekarang minumannya? Apa yang kamu beli? Kok tidak bawa apa-apa?" Lalu Daryl menatap kedua tangan kosong Nania.
"Eee …." Dan otaknya berputar cepat untuk mencari jawaban. "Udah habis. Kan cuma beli jus?" jawabnya kemudian.
"Masa? Tidak membeli milk tea?" Daryl melirik pedagang minuman di sisi lain pelataran parkir.
"Nggak. Kan aku lagi nggak minum milk tea sekarang ini?"
"Benarkah?"
"Iya, aku mual kalau minum su*u, ingat?"
"Hmm …."
"Kamu meetingnya udah selesai?" Lalu Nania mengalihkan topik pembicaraan.
"Sudah, makanya aku bisa menjemputmu."
"Ya udah, kalau gitu kita pulang? Aku udah lapar." ajaknya, seraya meraih tangan suaminya dan menariknya ke arah mobil.
"Tidak mau membeli jajanan dulu untuk dibagikan?"
"Hari ini libur dulu kayaknya?"
"Ke rumah baca bagaimana?"
"Ada temen-temen yang pergi."
"Serius?"
"Iya. Kan udah ada banyak orang di sana."
"Yakin?" Pria itu membuka kan pintu mobil untuknya.
"Iya."
"Baiklah kalau begitu."
Kemudian mereka pun segera pergi dari tempat tersebut.
💖
💖
💖
Bersambung ....
__ADS_1