The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Nyamuk Raksasa


__ADS_3

💖


💖


"Anya, kamu kalau ngomong itu jangan suka sembarangan dong!" Mereka bertiga berada di rumah bermain. 


Nania duduk merapatkan kakinya di sofa sementara dua bocah di depannya asyik dengan hewan peliharaan mereka.


"I'm not. Aku kan cuma tanya?" Anya memasukkan potongan sayuran yang dimintanya kepada asisten rumah tangga.


"Tapi pertanyaan kamu menjebak semua orang!"


Anya terdiam, kemudian menoleh.


"Are you mad at me?" Lalu dia bertanya.


"Nggak, bukan marah. Cuma mau ngingetin kamu kalau terkadang ucapan atau pertanyaan kamu itu bikin orang pusing."


"Tante Nna pusing?" Anya bertanya.


Nania menganggukkan kepalanya yang bersandar pada pegangan sofa.


"Minum obat, Tante. Nanti tambah sakit." Zenya duduk di dekatnya sambil memegang tangan perempuan itu.


Nania tertawa.


"Why are you laughing?" Anak laki-laki berambut kecoklatan itu bertanya.


"Kamu bikin gemes deh!" Nania merangkul Zenya, lalu mendekapnya dengan erat.


"Aku nggak?" Anya ikut mendekat.


"Kalian sama-sama nggemesin sampai Tante pengen gigit!!" Nania juga menarik anak perempuan itu.


"No! You can't do that!! Nanti Papi marah."


Nania tertawa hingga kepalanya mendongak ke atas dan memperlihatkan leher jenjangnya yang terdapat beberapa bercak merah yang semula tertutupi rambut.


"Umm … what is that?" Zenya menunjuk hal tersebut.


"Apa?"


"Your neck." Anak itu menyentuh leher Nania.


"Apa itu darah?" Anya juga menata hal yang sama.


"Mana?" Nania mengusap bagian leher yang ditunjuk oleh dua keponakannya.


"Oh no! Ini kayak yang waktu itu habis dipukulin Om Der?" Anya mengingat dengan jelas.


"Tapi ini merah. Yang waktu itu kan biru-biru?"


Nania membulatkan kedua bola matanya saat memahami maksud anak itu.


"Tante, kata Mommy kalau ada yang galak jangan diam aja. Tante harus lawan!" Anya berujar, seolah dia tengah berbicara kepada yang seumuran.


"Tante Na takut? Kalau takut nanti aku bilang Mommy, biar Om Der Mommy pukul sekalian! Nanti aku bantuin." Anak itu terus saja mengoceh.


"Bukan ih, ini bukan karena dipukul. Om Der kan nggak segalak itu?" Nania melakukan pembelaan.


"Lagian yang waktu itu juga nggak dipukul sama Om Der, tapi orang lain."  lanjutnya.


"Orang lain?"


"Iya, orang jahat."


"Ooo … aku kirain Om Der?"


"Bukan."


"Terus ini kenapa? Merah-merah. Are you sick?" Zenya juga bertanya lagi.


"Bukan, cuma di gigit nyamuk." Nania menjawab asal.


"Digigit nyamuk?" Anya dan Zenya saling pandang.


"Iya." Perempuan itu mengangguk dengan penuh kepercayaan diri. Dia mengira hal itu akan membuat dua anak kecil di depannya diam.


"Kok bekasnya segede itu? Nyamuknya segede apa?" ucap Anya yang tampak berpikir keras.


"It's a tiny little mosquitos, but you have a very big mark on your neck. How that could be? ( nyamuknya kan kecil, tapi bekasnya di lehermu kok besar ya? Kok bisa?)."


"Eee …."


"Pasti itu nyamuk raksasa!" celetuk Zenya. 


Dan dalam bayangannya ada seekor nyamuk yang sangat besar menghinggapi Nania kemudian menggigitnya sehingga meninggalkan bekas kemerahan yang cukup besar pula.


"You right. It's a giant mosquitos!!" Anya pun membulatkan matanya.


"Astaga!! Salah lagi!" Nania menepuk kepalanya sendiri.


"Ada nyamuk raksasa di rumah Oma? It's a danger!! Nanti Tante Nna kena demam berdarah."


"Yeah it's very danger. Nanti bilang Opa ya, Anya?"


"Hu'um. I'll tell Opa later."


"Eee … bukan! Bukan nyamuk raksasa!" Nania menyela.


"Terus apa?" Dua anak itu kembali lagi menatapnya.


"Umm … tante nggak tahu. Mungkin semut?"

__ADS_1


"No way! Masa ada semut raksasa juga?"


"Ya Tuhan!" Nania menggaruk kepaanya yang tak gatal.


"Oh, nanti kita tangkap ya Anya? Kita minta kandang sama Opa?"


"Good idea!!"


"Ngomong-ngomong soal tangkap menangkap, apa kalian nggak mau lepasin Heimlich?" Nania mengalihkan topik pembicaraan.


"Hum?"


"Ayo kita lepasin Heilmlich?"


"No! Why?" Zenya beralih mendekap toples miliknya yang berisi kupu-kupu dengan warna yang cukup cantik telah keluar dari kepompongnya.


"Ya biar dia bebas?"


"No! He save here!!" Zenya mendekapnya dengan erat.


"Tapi dia harus bebas."


"I said no!!"


"Kamu juga harus lepasin Joe sama Shine. Mereka harus bebas di alam liar. Masa hidup di toples?"


"Nggak mungkin! Di sini mereka makan banyak. Kalau dilepas nanti makan apa?" jawab Anya.


"Di tanah kan ada makanannya. Cacing kecil, serangga. Banyak. Nggak kayak disini cuma kamu kasih makan sayuran?"


"Joe itu vegetarian. Masa dikasih cacing?"


"Dari mana kamu tahu Joe vegetarian?"


"I made him!!"


Nania tertawa terbahak-bahak.


"Ayo lepasin mereka!!"


"Nggak mau!!" Dua anak itu berlari keluar dengan toples mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ann lagi apa?" Nania mendekati keponakan yang lainnya.


"Baca buku, Kak. Eh Tante." jawab Anandita yang memegang buku tebal berwarna biru.


Nania terkekeh. 


"Novel?" tanyanya, dan dia berusaha mendekat. 


Berada di sekitar anak-anak sepertinya membuat dia merasa aman. Meski mertua dan kakak iparnya bersikap baik, tetap saja Nania masih agak canggung ketika sedang bersama mereka. 


"Ya."


"Bukan."


"Terus?"


"Adventure Fantassy." Remaja itu menunjukkan isi buku yang tengah dia baca di ayunan teras belakang tersebut.


"Wow?"


"Kakak suka baca buku? Eh, Tante?" Anandita pun tertawa. 


Ini rasanya aneh karena seorang perempuan yang usianya terpaut tidak terlalu jauh dengannya tiba-tiba saja menjadi istri dari sang paman.


"Dulu suka, tapi sekarang belum sempet lagi." Nania menjawab.


"Hmm …."


"Kamu … kelas 2 SMA sekarang?" Lalu dia melanjutkan percakapan.


"Iya. Kemarin baru kenaikan kelas."


"Gimana … rasanya sekolah?"


"Hum?" Anandita mengerutkan dahi.


"Maksud aku rasanya sekolah sekarang."


"Oh, biasa aja. Tapi seru." Kemudian dia bercerita tentang hari-harinya di sekolah.


Apa yang dialami, dan semua yang dilakulan. Dan segera saja mereka menjadi akrab.


"Dulu, aku melarang Arfan menikahi Mytha karena dia baru lulus SMA. Tapi sekarang lihat, aku membiarkan putraku menikahi perempuan yang setara anak baru lulus SMA." Satria memperhatikan dari balik jendela ruang tengah.


Melihat cucu dan menantunya yang sedang bercakap-cakap di teras belakang mereka. Sementara anak dan menantunya yang lain tengah menghabiskan waktu mereka di ruangan lain.


"Kamu tahu, Daryl tidak akan bisa dicegah.  Apa pun akan dia lakukan agar bisa mendapatkan apa yang dia mau." Sofia menyahut.


"Memang."


"Dia memang penurut seperti saudara-saudaranya, tapi jika ada keinginan siapapun tidak akan bisa menghentikanya."


"Hmm … begitulah."


"Coba, dari mana itu berasal?"


Satria tertawa.


"Mom, Pih kami pergi ke sekolah Anya dulu ya?" Dimitri muncul bersama Rania.

__ADS_1


"Sekarang?" Kedua suami istri itu memalingkan perhatian.


"Iya, sebentar lagi akan dimulai."


"Baiklah."


"Nanti aku ke sini lagi ya? Soalnya mau nangkap nyamuk sama semut raksasa." Anya menyelinap di antara kedua orang tuanya.


"Apa? Nyamuk raksasa?" Para orang dewasa bersamaan.


"Hu'um, sama semut raksasa." sahut Zenya.


"Di mana?"


"Di sini."


"Tidak ada nyamuk atau semut raksasa." ucap Sofia.


"Ada, Oma. Udah gigit tante Nna."


"Apa?"


"Serius. Nanti tante Nna bisa kena demam berdarah. Lehernya udah merah-merah." Anya tetap dengan pendapatnya.


Ke empat orang dewasa itu saling pandang.


"Nyamuk jadi-jadian." Nania bergumam. Namun kemudian dia menutup mulutnya dengan tangan saat menyadari sang anak menoleh.


"Maksud Mommy, ya nanti kita tangkap nyamuknya. Sekarang kita ke sekolah dulu ya, kan mau ambil raport sama wisudaan?"


"Nanti tangkapnya pakai apa?"


"Astaga!" Dimitri menggumam sambil menggelengkan kepala.


"Bisa pakai apa aja." Rania segera menarik anak-anaknya setelah mereka berpamitan.


"Minta Opa beli kandang yang besar ya?" Mereka berjalan ke arah pintu.


"Kandang untuk apa?" Dimitri ikut berbicara.


"Nanti nyamuknya dimasukin ke sana."


"Hmm …."


"Ya Papi?"


"Mau kamu pelihara?" Percakapan mereka masih terdengar hingga ke luar.


"Hu'um."


"Nanti nyamuknya mati kalau dimasukan kandang."


"Masa?"


"Ya. Wild animal have to be free."


"Really?"


"Yes."


"Kenapa?"


"Mereka akan lebih bahagia jika hidup bebas."


"Apa Joe sama Shine juga?"


"Ya."


"What about Heimlich? Kata Tante Nna, Heimlich juga harus dilepasin?" Zenya menambahi pertanyaan.


"Sama. Dia harus bebas agar bertemu pasangan sehingga bisa menikah dan punya anak."


"Kalau nggak gitu?"


"Dia akan mati di dalam toples, sendirian."


"Thats bad!"


"You right. Makanya nanti dilepas ya? Heimlich sudah bisa terbang jadi dia harus bebas."


"Heimlich sedih ya kalau di dalam toples terus?"


"Ya benar." Kemudian mereka segera pergi.


💖


💖


💖


Bersambung ....


Obrolan apa sih Anya?😂😂😂


Cuss bestie, like komen hadiah sama vote nya dikencengin. Biar makin anu.


Next bab kira-kira ada apa ya?


Uhh, jadi penasaran.


...----------------...


Buat yang suka genre K-Fiction atau Teenlit, bisa mampir ke novel ini ya. Pengalaman kalian akan bertambah dengan baca karya lain.😊😊

__ADS_1



__ADS_2