
💖
💖
"Bye Tante, nanti aku kesini lagi hari Jum'at ya?" Anya dan Zenya melambaikan tangannya.
"Oke."
"Tidak usah, sebaiknya kamu mudik lagi saja ke Bandung, kasihan Anomnya kangen?" Daryl menyahut.
"Dih, nyamber aja kayak bensin?" Nania menggumam.
"Kemarin kan udah dua kali ke Bandung terus, minggu ini mau nginep sama Tante Nna, ya Mommy?" jawab Anya yang melirik ke arah ibunya.
"Iya." Dan Rania menganggukkan kepala.
"Mana ada? Tidak bisa. Kalau mau menginap ya menginap saja, tapi tidak dengan Tante Nna." Daryl menjawab lagi seraya merangkul pundak perempuan itu.
"Kenapa?"
"Ya tidak boleh, masa mau dengan Tante Nna."
"Hadeh … bocah TK!" Rania pun bereaksi.
"Ayo Anya, Zen kita cepetan pulang. Papi udah di rumah." katanya, kepada dua anaknya.
"Kenapa sih nggak jemput kita? Emang Mommy nggak bilang?"Â
"Bilang, tapi kan Papi tadi ada meeting dulu di hotel yang deket rumah. Jadi ya udah langsung pulang. Ayo?" Rania menggiring dua anaknya ke arah mobil mereka yang sudah siap di depan teras.
"Pergi dulu ya?" pamitnya kepada mertua yang mengantar.
Mereka bertiga masuk ke dalam mobil yang kemudian segera pergi.
"Aku duluan ah, pr masih banyak." Nania melenggang ke arah tangga menuju kemarnya di lantai dua.
"Aku juga." Lalu Daryl mengikutinya.
"Pr apa? Emang Kak Dinna ngirim kamu kerjaan ya? Bukannya dikerjain dari tadi malah ngikutin aku sama anak-anak melulu?"
"Bukan." Daryl menjawab.
"Terus pr apa?"
"Ngerjain kamu." bisiknya, yang membuat perempuan itu berhenti tepat di ujung tangga paling atas.
Daryl tertawa melewatinya. Namun kemudian dia berhenti setelah beberapa langkah.
"Eh … kayaknya nggak jadi deh, nanti aja. Soalnya aku …." Nania hampir memutar tubuh dan bermaksud kembali ke bawah ketika pria itu meraih tangannya.
"Tidak bisa, ini harus diselesaikan." Daryl kemudian menariknya hingga dia kembali ke atas. Dan tanpa pikir panjang dia segera mengangkat perempuan itu di pundak dan membawanya ke dalam kamar.
Meski Nania sempat memekik dan meronta namun dia segera membungkamnya begitu menjatuhkannya ke atas tempat tidur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Papi?" Rania sudah berada di tempat tidur setelah berhasil menidurkan kedua anaknya.
"Hmm …." Sementara Dimitri baru saja keluar dari ruang ganti sambil mengenakan kaus tidurnya.a
"Menurut kamu aku Mommy yang buruk?" Tiba-tiba saja perempun itu berucap.
"What? Kenapa kamu bicara begitu?" Pri itu segera mendatanginya di tempat tidur.
"Aku cuma ngerasa kalau aku ini mommy yang nggak baik untuk anak-anak." Rania terus berpikir.
"Why?"
"Aku jarang sama mereka."
"Terus?"
"Aku merasa kalau mereka nggak butuh aku."
Dimitri sedikit tertawa.
__ADS_1
"Kamu bercanda ya? Tidak ingat Zenya selalu menangis setiap kali kamu mau pergi balapan? Atau Anya yang terus meminta ikut? Bagaimana kamu berpikir jika mereka tidak membutuhkanmu?" Pria itu mengingatkannya beberapa hal.
"Tapi akhir-akhir ini nggak."
"Really?"
"Ya, apalagi sejak ada Nania. Apa-apa ingatnya Tante Nna."
Dimitri menatap wajahnya.
"Aku merasa tersisihkan tahu nggak?" Perempuan itu tergelak. "Aneh nggak sih, aku merasa tersisihkan cuma karena anak-anak kelihatan deket banget sama Nania?"
"Itu wajar karena mereka sering bertemu. Kalau menginap di rumah Papi kan mereka seringnya dengan Nania. Mungkin kalau kamu sudah pensiun mereka juga akan begitu padamu."
Rania terdiam sebentar.
"Jangan merasa iri, Nania bisa lebih dekat dengan ana-anak karena dia juga masih lebih muda dari kita. Lihat saja sifatnya, dia lebih mirip Anya dari pada istrinya Daryl." Dimitri pun tertawa.
"Aku nggak iri, aku seneng ada dia di rumah besar. Apa lagi mama sama papi juga kayaknya lebih seneng ada mereka. Cuma akunya aja yang merasa gimana ya …."
"Insecure?"
"Mungkin."
"Itu wajar. Tapi nanti mungkin tidak."
"Kamu pikir aku harus pensiun sekarang?" Rania kemudian berpikir lagi.
"Apa?"
"Iya, gimana menurut kamu? Aku kehilangan banyak momen penting sama kalian, terutama sama anak-anak. Hari pertama sekolah SD mereka aja kamu yang antar."
"Kamu memang harus pergi karena balapan penting kan? Kalau tidak ya pasti kamu juga ikut antar?"
"Tetep aja."
"Kita sama dalam hal ini. Karena aku yang bisa maka aku yang melakukan. Berbagi tugas kan baik?"
"Uuhh kamu bikin aku merasa bersalah deh?" Rania menghambur ke pelukan suaminya.
"Karena nggak pernah meminta aku berhenti balapan dan malah tetep dukung aku."
"Lho, bukannya itu yang kamu perlukan sehingga bisa berhasil? Bukankah dukungan penuh dariku sangat penting?" jawab Dimitri.
"Iya sih."
"Tapi aku jadi merasa sedih dan bersalah. Aku kayak yang nggak tahu diri. Mementingkan balapan dari pada keluargaku sendiri."
"Kamu pikir begitu?"
Rania mengangguk lagi.
"I'm not. Bukankah itu yang sudah kamu lakukan jauh sebelum kita menikah? Dan sudah resikonya kamu pergi sesekali meninggalkan kami kan?"
"Iya."
"Lalu kenapa tiba-tiba jadi masalah? Bukankah selama ini kita baik-baik saja? Anak-anak juga tumbuh sehat dan mereka mengerti kalau Mommynya punya tanggung jawab."
"Nggak tahu, aku cuma merasa gitu aja."
"Mungkin kamu sedang pms. Perempuan kan biasanya begitu?"
Rania mengerutkan dahi.
"Kalau begitu, sebaiknya kita melakukannya sekarang sebelum kamu datang bulan." Pria itu menarik lepas kaus yang baru saja dikenakannya.
"Kamu mau anuan?" Rania terkekeh.
"Ya apa lagi? Mumpung masih bisa dan anak-anak sudah tidur kan? Besok kamu latihan dan aku banyak pekerjaan." Dia menarik perempuan itu lebih dekat.
"Ah, sibuk banget kita ini ya?" Rania pun melakukan hal yang sama.
"Iya, makanya harus bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya." Dan percintaan pada malam itu pun dimulai setelah diskusi panjang lebar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Yakin aku tidak perlu ikut masuk lagi?" Daryl menyerahkan tumbler milik Nania.
Mereka tiba di depan gedung bersamaan dengan peserta yang lainnya.
"Iya nggak usah. Yang kemarin juga cukup."
"Sure." Pria itu tertawa.
"Iya, aku yakin nggak akan ada yang berani lagi setelah tahu ada kamu di belakang aku."
"Yeah, hebat bukan?"
Nania menganggukkan kepala sambil merapikan jas suaminya.
"Ingat untuk selalu memberi tahu apa pun. Dan jangan biarkan aku menjadi yang terakhir tahu."
"Iya, Pak."
"Baiklah, aku juga akan pergi bekerja kalau begitu."
Nania mengangguk lagi sebelum akhirnya pria itu memeluk dan mengecup pelipisnya seperti biasa.
"Telfon aku kalau ada apa-apa oke?" katanya sebelum pergi.
"Oke."
"Aku pergi, bye." Dia kemudian melepaskannya dan segera pergi dari tempat itu.
"Nania?" Seseorang memanggil saat dia berjalan menuju kelas dan segera mensejajari langkahnya.
"Oh, hey? Ada apa?" Nania menjawab dan dia berusaha untuk bersikap biasa saja.
"Tidak."
"Oke."
Dan dia bergegas masuk ke dalam ruangan ketika teman sekelasnya itu kembali berbicara.
"Aku minta maaf." katanya yang membuat langkah Nania terhenti.
"Aku … minta maaf karena sudah bersikap tidak baik kepadamu." katanya lagi.
"Aku nggak tahu kalau ternyata Zayn berbohong dan menghasut kami karena dia merasa dendam setelah kamu menolaknya."
Nania tidak menyahut.
"Aku … nggak ngerti."
"Oke." jawab Nania kemudian tanpa ekspresi. Dan dia segera menuju ke kursinya yang tidak jauh dari tempat duduk perempuan itu.
"Segitu saja?"
"Memangnya apa yang kamu harapkan, Lisa? Aku marah-marah dan mengatakan banyak hal? Nggak penting."
"Setidaknya kamu mengatakan apa, gitu?"
"Aku nggak ada waktu. Aku datang ke sini untuk sekolah dan mendapatkan ijazah SMA biar nanti bisa lanjut kuliah, bukannya cuma ngabisin waktu doang. Jadi aku nggak akan peduli sama apa pun yang terjadi di sekeliling aku. Terserah." Dia menggendikan bahu.
"Tapi Nania …."
"Kalau alasan kamu minta maaf karena takut setelah tahu siapa suami aku, jangan khawatir. Kalian aman kok. Selama apa pun nggak sampai ke telinganya. Tapi nggak tahu kalau ada yang ngadu? Aku nggak jamin." Sekalian saja dia membual.
Yang membuat wajah Lisa memucat seketika, apalagi setelah dia dan beberapa orang di kelas tahu siapa pria yang Nania maksud. Tentu saja mereka dalam bahaya jika apa yang terjadi kepada Zayn juga mereka alami.
"It's oke. Kalian aman." Nania dengan wajah datar.
Menyenangkan juga rasanya bisa mengintimidasi orang seperti ini. Meski pada kenyataannya dadanya berdebar tak karuan, tapi menggunakan pengaruh suaminya sepertinya ide yang bagus?
💖
💖
💖
Bersambung ....
__ADS_1
Bagus, nggak apa sekali-kali😂😂