
💖
💖
"Kamu udah siap kan, Nna?" Suara Amara terdengar pada saat panggilan telah berlangsung.
"Udah, Kak. Ini barangnya lagi diberesin ke mobil." Nania berdiri di dekat mobil box yang akan membawa makanan dari kedai ke kediaman Nikolai.
Sekitar lima orang pria mengenakan kaus hitam menaikkan beberapa wadah berisi makanan yang telah mereka masak ke dalam mobil tersebut.
"Kamu sama yang lainnya cepet nyusul ya? Aku udah sampai kok." ucap Amara lagi dari seberang sana.
"Iya Kak, sekarang aku mau siap-siap."
"Hmm … ya udah, aku tutup dulu. Orang-orang mulai datang."
"Oke." Lalu percakapan pun berakhir.
"Oke, Mas. Langsung ke rumah Nikolai aja dan barangnya bisa langsung diberesin ya? Nanti saya nyusul sama anak-anak."
"Baik." Regan, yang sudah dia kenali sejak kegiatan belanja ke pasar kemarin pagi menjawab.
Kemudian pria-pria itu pergi setelah menyelesaikan pekerjaannya. Dua orang mengendarai mobil box, sementara tiga orang lainnya mengikuti dengan mobil hitam di belakang.
"Oke, apa kalian siap?" Nania kembali ke dalam kedai di mana ketiga temannya sudah rapi dengan celana hitam dan kemeja putih dilapisi rompi berwana senada dengan celananya.
"Kita kayak pegawai hotel bintang lima ya?" celetuk Raka.
"Ya anggap aja gitu. Kita catering prifesional!!" Nania denga semangatnya.
"Cieee … semangat yang mau ketemu ayang?" Ardi tertawa.
"Ah, jangan ingetin soal itu. Kamu bikin aku down!" Namun tiba-tiba semangat gadis itu menurun.
"Kenapa?"
"Ngebayangin kamu lagi kerja, terus di sama bakal ketemu pacar sama keluarganya yang udah tahu kalau kalian pacaran."
"Terus masalahnya di mana?" Nindy ikut berbicara.
"Aku malu!!!" Nania berjingkok di depan mereka.
Tiga temanya saling pandang.
Memang bukan hal mudah menjalani hubungan dengan orang yang status sosialnya dirasa lebih tinggi. Karena kesenjangan itu sangatlah jelas.Â
Meski berkali-kali meyakinkan diri jika itu bukanlah masalah penting, tapi pada kenyataannya hal tersebut cukup mengganggu. Setidaknya bagi Nania.
"Udah, jangan pikirin soal itu dulu. Sekarang kita kerja aja. Yang tahu kan keluarganya Pak Daryl doang." Ardi seperti biasa, menyemangati.
"Tapi tetep aja."
"Ya mau gimana lagi, masa kamu nggak pergi?"
"Ya, nanti Kak Ara kecewa."
"Justru itu …."
"Ya makanya. Masa iya di pesta nanti Pak Daryl bakal gangguin kamu? Nggak mungkinlah."
"Hmm …."
"Ya udah, ayo …."
Kemudian mereka pergi setelah yakin kedai aman dengan masing-masing mengendarai motor. Ardi dengan Nania, dan Raka membonceng Nindy.
***
Rumah keluarga Nikolai sudah ramai pada sore itu. Kerabat dan sanak saudar sudah berdatangan baik yang dekat maupun yang jauh.Â
Dan beberapa di antaranya merupakan kerabat dari Moscow yang sengaja datang untuk menghadiri pesta pernikahan anak bungsu dari pemimpin keturunan keluarga besar itu.
Suasana sudah riuh bahkan sejak pagi ketika satu persatu dari mereka hadir. Saling menyapa dan berbaur di antara kerabat dan segera menjadi satu kesatuan yang tak dapat dibedakan.
Ini semacam acara yang sangat penting bagi keluarga karena bersamaan dengan Pengukuhan posisi pemegang kekuasaan tertinggi di perusahaan keluarga, yang kini telah resmi dipegang oleh Dimitri sebagai putra pertama, dan pewaris utama dari Satria Nikolai.Â
Meski tak mengesampingkan juga atas peran kedua adiknya yang sama besarnya di perusahaan itu, namun Dimitri diberi tanggung jawab lebih sebagai pemimpin keluarganya.
"Kapan kau menyusul, Der?" Beberapa kerabat menanyakan hal yang sama setiap kali Daryl menyapa.
"Nanti kalau sudah waktunya." Seperti biasa, jawaban tersebut yang pria itu lontarkan.
"Seharusnya kau dulu, kenapa malah adikmu?"
"Sama saja." Pria itu tertawa.
Lalu perhatiannya teralihkan ketika dua motor tiba di pekarangan rumah, dan dia sangat hafal siapa mereka.
Nania yang mengenakan seragam hitam putih dengan rambut diikat ke belakang tampak manis hari itu.
Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman, dan Nania pun sama. Namun gadis itu menggelengkan kepala ketika Daryl hampir saja mendekat.
Dia mengerutkan dahi.
"Nanti malu." Nania menggerakkan bibirnya.
"What?"
"Aku lagi kerja, jangan mendekat." Katanya, kemudian dia segera beralih ke arah meja prasmanan dan memeriksa keadaan.
"Udah sip!!" Amara datang menghampiri.
Nania tersenyum puas sementara Daryl memperhatikan dari sisi lainnya.
Acara segera dimulai tak lama setelah yakin semua orang telah hadir. Tang dibuka dengan sambutan sang tuan rumah, yakni Satria Nikolai sendiri. Didampingi istrinya Sofia Anna, anak perempuannya Dygta, juga ketiga anak laki-lakinya yang hari itu mengenakan pakaian senada.
Doa dan ucapan kebaikan terus mengalir di setiap detiknya membuat siapa pun tak melewatkannya sedikitpun.Â
"Terima kasih kepada kerabat dan keluarga yang sudah hadir. Keberadaan kalian menjadi doa kebaikan bagi kami, dan terutama Darren yang akan menikah lusa. Semoga kamu selalu bahagia, Nak. Dan kalian juga." ucap Satria kepada anak-anaknya.
Kemudian segalanya berlangsung dengan meriah setelah tuan rumah mengakhiri pidato singkatnya, dan musik segera mengalun dari mini stage di belakang rumah yang disulap menjadi area pesta.
"Nania!!" Rania muncul da menarik lengan gadis itu.
"Ya Bu? Eh, apa kabar? Sudah pulang dari Argentina?" Dia menyapa perempuan itu.
"Uda dari Senin." Rania menjawab.
"Oh iya? Maaf nggak tahu."
"Ah, nggak penting!" Dia berujar.
"Ayo ikut!" katanya, seyara menarik gadis itu menjauh dari area prasmanan.
"Ke mana Bu? Saya lagi kerja."
"Ikut aja! Mama udah nunggu di atas." Rania menariknya ke lantai dua.
"Mau apa?"
"Nurut aja." jawab Rania lagi.
Mereka sudah tiba di kamar yang sudah pernah digunakannya untuk menginap. Dan Nania menemukan dua perempuan sudah berada di dalam sana.
"Bu?" Nania mengangguk kepada Sofia dan Dygta.
"Apa kamu siap?" Nyonya rumah bertanya.
"Si-siap? Siap untuk apa?" Gadis itu menatap ketiga perempuan tersebut secara bergantian.
"Rania!" Sofia memberi isyarat kepada menantunya untuk membawa gadis itu lebih dekat.
"Mau apa Bu?" Nania sedikit panik ketika juara dunia balap motor itu menyeretnya ke tengah ruangan dan mendudukkannya di kursi yang sudah tersedia.
"Udah, nurut aja."Â
"Tapi saya lagi kerja Bu." Nania mengulangi ucapannya.
"Jangan khawatir, ada yang gantiin." ucap Rania lagi.
"Dygta, apa kamu siap?" ujar Sofia kepada putrinya.
"Siap, Mom." Ibu empat anak remaja itu menjawab.
"Oke, ayo kita mulai!"Â
"Bu!! Mau apain saya? Jangan Bu!!" Nania menolak, namun keadaanya tak seimbang. Dia sendiri sementara mereka bertiga.
__ADS_1
Rania membantu melepaskan pakaiannya, Dygta membantu menggantinya dengan yang lain sementara Sofia mendandaninya sedemikian rupa. Hingga berubahlah dia menjadi sosok yang berbeda.
"Aaa … benarkan, dia cocok dengan baju itu?" Sofia menepukkan kedua tangannya dengan perasaan senang setelah mereka selesai mendandani gadis itu.
Sebuah gaun selutut berwarna coklat keemasan dengan punggung dan pundak terbuka menempel di tubuh mungil Nania. Rambutnya ditata terurai dan make upnya membuat gadis itu tampak sangat cantik.
"Pilihan Mama nggak pernah salah." Rania menyahut, dan Dygta menganggukkan kepalanya.
"Ayo, sepatunya dipakai?" katanya, yang menyodorkan sepasang sepatu hak tinggi kepada Nania.
"Umm … kenapa … saya dipakaikan baju ini, Bu? Saya kan lagi kerja." Gadis itu menunduk.Â
Rasanya malu sekali dengan apa yang mereka lakukan kepadanya, tapi dia tak mampu menolak. Apalagi kini dirinya mengenakan pakaian yang cukup terbuka.
"Udah dibilangin ada yang gantiin!" Rania menjawab.
"Lihatlah." Kemudian Dygta menariknya ke depan sebuah cermin di sisi lain kamar.
"Lihat? Tegakkan kepalamu!" katanya, dan dia mengangkat dagu Nania sehingga kepala gadis itu tegak dan dia menatap cermin di depannya.
Nania terdiam.
"Bukankah ini cantik?" ucap Dygta dengan senyum tersungging di bibirnya.
"Lihatkan? Kamu pas dengan pakaian ini."
Nania masih menatap dirinya sendiri yang tampak berbeda dari biasanya. Si Upik Abu yang sedang menjadi seorang putri.
"Bukankah kamu calon istrinya Daryl? Dan seharusnya kamu mendampingi dia." Sofia berujar.
"Tapi saya lagi kerja." Nania menjawab.
"Dampingi Daryl dulu, nanti orang-orang menyangka dia singel lagi?"
"Tapi Kak Ara …."
"Ara soal gampang. Kalau ada yang menggantikan semuanya beres." Dygta menyahut sambil merapikan rambut gadis itu.
"Sekarang ayo kita keluar?"Â
"Sudah siap?"
"Siaapp!" Ranja dengan semangat.
"Tunggu, Bu. Masa saya keluar pakai baju ini?" Nania bertahan ketika dua perempua itu menariknya.
"Tidak apa-apa."
"Nggak mau, Bu!!!"
"Harus mau!!"
"Tapi …."
"Nania, kamu harus mendampingi Daryl di bawa sana!!" Sofia sedikit meninggikan suaranya.
"Umm …."
"Jadi cepatlah!"
"Ba-baik, Bu." Seperti biasa, kalau sudah begitu dia tidak bisa menolak.
***
Semakin malam suasana kumpul keluarga itu semakin meriah. Semua orang menikmati waktu dan hidangan yang sudah tersedia, diiringi bincang-bincang dan gelak tawa di antara mereka.
Kemudian perhatian sebagian orang beralih ketika empat perempuan muncul di tangga paling atas yang salah satunya tampak canggung dengan pakaiannya yang malam itu cukup memukau.
"Hey!!!" Darren bergumam sambil tersenyum, sementara Dimitri menyentakkan dagunya. Membuat Daryl pun memalingkan wajah.
Matanya membulat seketika ketika dia mengenali perempuan lain di antara ibu dan kakaknya.
Nania yang saat itu mengenakan gaun selutut dengan pundak yang terbuka tampak canggung.
"Hell no!" Daryl bereaksi.
Wajahnya terlihat bersinar dan rambutnya terurai indah. Dan penampilannya? Jangan tanya. Gadis itu tampak mempesona.
"What are you doing?" ucap Daryl setelah mereka tiba di tangga terakhir.
"But …." Daryl menatapnya dari atas ke bawah.
"Kita harus memperkenalkannya kepada seluruh keluarga, bukan?" Sofia berujar.
"Yeah, but …."
"Sudah, simpan pujianmu untuk nanti, Mama melakukannya dengan senang hati." Perempuan itu berlalu.
"Mama mau memamerkan Nania kepada semua orang?" ucapan pria itu menghentikan langkah Sofia.
"Apa?" Dia berbalik.
"Mama mau menunjukkan bagaimana dia?"
"Bicara apa kamu?"
Daryl menatap gadis itu dengan raut tidak senang.
"Aku nggak suka Mama memperlakukan dia seperti ini." Daryl sedikit berbisik.
"Maksudmu?"
"Aku nggak suka Mama mendandani Nania seperti ini." Dia memperjelas kata-katanya.
"Memangnya kenapa? Dia cantik, dan pantas memakai baju itu."
"Bukan soal itu!" Daryl dengan kesal.
"Lalu apa?"
"Bajunya terlalu terbuka. Akun nggak suka!"
"Perkara baju!!" Rania memutar bola matanya.
"Dia sudah cantik tahu!" Dygta ikut bicara.
"Tapi Kak …."
"Mau bikin kacau ya?" Rania pun ikut bereaksi.
"Sudah, jangan banyak protes!" Sofia kembali mendampingi suaminya menyapa para tamu yang hadir.
Tak ada pilihan lain, sehingga Daryl akhirnya diam. Apalagi ketika Dygta dan Rania membawa Nania untuk mereka perkenalkan sebagai calon istrinya kepada kerabat yang hadir.
Dia hanya bisa mendelik dan memutar bola matanya ke arah sang ibu karena tidak senang dengan apa yang sudah perempuan itu lakukan.
***
Setelah beberapa lama akhirnya dia tak tahan juga. Menatap Nania yang dibawa berbaur dengan orang-orang yang tampak kagum dengan apa yang mereka lihat. Hatinya benar-benar merasa tidak senang.
"Ayo." Kemudian pria itu menariknya dari kerumunan dan membawanya keluar dari acara pesta.
"Pak?"
"Ada apa denganmu ini?" Dia membawanya ke sisi taman yang sepi.
"Apa?"
"Kenapa memakai pakaian seperti ini?"
"Bukan aku, tapi Bu Fia sama …."
"Kenapa tidak menolak?"
"Aku nggak bisa."
"Kenapa tidak bisa? Kamu bisa bilang tidak mau atau minta pakaian lain!"
"Nggak enak."
"Tidak enak?"
Nania menganggukkan kepala.
Daryl memejamkan mata dengan perasaan kesal. Kemudian dia melepaskan jasnya.
"Bapak mau apa?"
__ADS_1
"Menutupi tubuhmu, apa lagi?" jawabnya, yang menyampirkan jasnya di tubuh Nania.
"Umm …."
"Lain kali harus bisa menolak. Aku tidak suka orang lain melihatmu seperti ini." Pria itu berujar.
"Aku tidak suka tubuh Naniaku jadi pusat perhatian. Harus tetap terlindung." katanya, seraya merapatkam jasnya.
Dia menatap wajahnya yang sedikit berbeda. Sejak awal dia memang sudah cantik tapi sentuhan make up membuatnya tampak lebih mempesona.
"Meskipun kamu memang cantik, tapi bukan berarti hal lainnya bisa dipamerkan." Pria itu terkekeh.
"Bapak marah?"
"Tidak marah. Aku hanya kesal."
"Bapak bikin aku takut."
Pria itu tergelak.
"Aku hanya tidak suka orang-orang menatap milikku seperti itu. Pikiran mereka bisa saja lain kepadamu."
"Orang pikiran Bapak aja udah lain, kenapa …."
"Shut up! Itu masalahnya lain lagi."
"Sama aja tahu?"
Daryl terdiam.
"Bapak jangan berlebihan, nanti akunya nggak nyaman."
"Why? Love is to protect and thats what i do."
"Tapi jangan terlalu gitu."
"Kalau tidak begitu nanti kamu dalam bahaya. Sudah banyak buktinya."
Nania terkekeh.
"Jangan tertawa, dasar kamu anak nakal!" Daryl menepuk kening gadis itu, namun dia malah tertawa.
"Kamu harus bisa menolak walaupun itu bukan hal buruk. Tapi apa yang tidak sesuai dan apa yang tidak kamu inginkan tidak boleh kamu lakukan."
"Udah dibilangin aku nggak bisa." Nania menjawab.
"Kenapa nggak bisa?"
"Aku orangnya nggak enakan."
"Mana ada orang seperti itu?"
"Ada, ini aku buktinya." Nania menunjuk wajahnya sendiri.
"Jadi kalau misalnya seseorang memintamu melakukan sesuatu kamu akan melakukannya, begitu?"
"Biasanya ya."
"Disuruh masak?"
"Aku lakuin."
"Disuruh pergi?"
"Aku juga lakuin."
"Buka baju?" Daryl dengan kejahilanya.
"Hah?"
"Ah, nggak mungkin ya? Hahahaha." Pria itu tergelak.
"Jangan minta aku lakuin hal yang aneh-aneh."
"Tidak akan." Dia mendekat kemudian meraup tubuh gadis itu ke dalam pelukan.
"Jangan mesra-mesraan, nanti ketahuan orang-orang." Nania mendongak ketika Daryl menyentuh wajahnya.
"Tidak apa-apa, kan sekarang semua orang sudah tahu kalau kamu calon istriku."
"Tapi malu."
"Kenapa harus malu?"
"Mentang-mentang udah pada tahu."
"Biar saja lah." Daryl mengecup bibir menggoda gadis itu.
Padahal niatnya hanya mengecup sedikit, tapi pada kenyataannya malah terjadi lebih. Dia memagutnya dengan penuh perasaan dan memeluknya begitu erat.
"Hhhhh … aku sudah tidak tahan, Nna!" Daryl setengah berbisik. "Bagaimana kalau …."
"Nggak mau ih …." Nania mendorong dadanya sehingga tercipta jarak di antara mereka. Dan dia segera berbalik untuk menghindar ketika mengerti apa yah pria itu maksud.
"Wait!!" Namun Daryl segera menghentikannya.
"Bapak jangan minta macem-macem, aku nggak bisa!" ucap Nania.
"Tidak akan. Hanya satu macam saja."
"Nggak mau, aku nggak bisa. Maksudnya nggak sekarang!"
"Lalu kapan?"
"Nggak tahu. Masa baru aja pacaran udah mau … mm … itu …."
Daryl membuka mulutnya untuk menjawab.
"Aku nggak bisa. Biarpun Bapak udah bilang ke semua orang kalau aku ini calon istri tapi bukan berarti bisa gitu kan? Nggak mau."
"Maksud aku …."
"Bapak cari aja deh yang lain yang bisa di ajak gitu sebelum nikah. Aku kan nggak bisa."
Pria itu menguatkan rahang karena merasa begitu gemas.
"Aku nggak mau pokoknya."
"Kalau kita menikah, bagaimana?"
"Ya itu ceritanya lain lagi. Masa aku nolak suamiku sendiri? Kan nggak boleh."
Muncul seringaian di wajahnya ketika sebuah ide terlintas di kepala.
"Apaan?"
"Kalau begitu ayo kita menikah?"
"Hah?"
"Ayo kita bilang Mama!" Daryl kemudian menarik gadis itu kembali ke dalam rumah.
"Apa?"
"Mom!!" Mereka mendekat kepada Sofia yang sedang menemani Satria berbincang.
"Ya?"
"Aku juga mau menikah."
"Apa?"
"Aku juga mau menikah, lusa … sama dengan Darren!" ucap Daryl yang seketika membuat suasana pesta keluarga itu menjadi hening.
💖
💖
💖
Bersambung ...
Astojiiiimmm, Kang Maksa bener-bener ya? 🤣🤣
Kuy ... Diizinin atau nggak?
__ADS_1