The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Demam


__ADS_3

💖


💖


"Kenapa Der?" Sofia keluar setelah beberapa saat mendengar sedikit ribut-ribut diluar kamarnya pada hampir dini hari.


"Nania sepertinya demam." jawab sang putra yang diikuti Mima dengan satu wadah berisi air hangat di tangannya.


"Demam?" Satria muncul kemudian.


Mereka pun mengikuti Daryl yang masuk ke kamarnya dan mendapati Nania yang menggigil di bawah selimut.


"Dingin." Perempuan itu menggumam.


Wajahnya memerah dan berkeringat tapi giginya bergemeletuk keras.


"Kenapa?" Sofia duduk di pinggiran tempat tidur lalu menyentuh kening sang menantu dengan punggung tangannya.


"Astaga!" Dia bereaksi saat merasakan hawa panas yang menguar dari kulit perempuan itu.


"Sudah pakai termometer?" tanyanya kepada Daryl.


"Baru mau." Lalu putranya itu meraih termometer dari tangan Mima, sementara sang asisten rumah tangga yang dibangunkannya itu berniat mengompres Nania.


"Buka mulutmu sayang!" ujar Sofia, dan Nania menurut. Dia menahan benda kecil itu di dalam mulutnya.


"Sejak kapan dia begini?" Lalu sang ibu bertanya.


"Dari mau tidur dia sudah tidak enak badan, tapi panasnya sejak tengah malam tadi." Daryl pun naik ke tempat tidur dan memeriksa keadaan istrinya.


"Sudah diberi obat?"


"Baru paracetamol, Mom."


"Kenapa?" Kemudian beberapa anggota keluarga lainnya muncul setelah mereka mendengar keributan yang sama.


"Nania demam." Satria yang menjawab.


"39 derajat! Mima, cepat telfon dokter Syahril!" ucap Sofia setelah melihat termometer yang dia cabut dari mulut menantunya.


"Kenapa kamu tidak memanggil Mama?" Kemudian dia beralih kepada putranya.


"Aku kira panasnya akan turun setelah diberi obat." Daryl pun menjawab.


"Tidak bisa, ini terlalu tinggi."


"Mmm … dingin!!" Nania mulai terisak dan dia semakin menggigil.


Satu selimut lainnya Daryl berikan setelah dua selimut sebelumnya tidak mampu membuat Nania merasa hangat.


"Sudah Bu, dokter sedang dalam perjalanan." Mima kembali setelah melakukan apa yang majikannya perintahkan.


"Minta kantong air panas, Mima!" titah Sofia, dan asisten rumah tangganya tersebut segera mengerjakannya.


Daryl memeluk Nania ketika dia tak kunjung mereda.


"Kenapa kamu membiarkannya begini, Der? Apa sejak dari Moscow dia begini?" Sofia berbicara lagi.


"Tidak, Mom. Dari pesawat saja dia tidak apa-apa."


"Mual!" Nania berusaha menyingkirkan selimut kemudian turun dan berlari ke kamar mandi. Dan segera, dia muntah-muntah di dalam sana.


Perempuan itu hampir ambruk saat dia keluar jika saja Daryl tak menahan tubuhnya. Yang kemudian membawanya kembali ke tempat tidur.


"Ah, kamu membuatku khawatir, Nna!" Pria itu mengusap keningnya yang berkeringat lalu dia kembali menyelimutinya.

__ADS_1


Tak berapa lama, dokter pun datang dan segera melakukan pemeriksaan.


***


"Bagaimana, Dokter?" Sofia mencegat pria itu yang turun dari lantai dua setelah memriksa keadaan menantunya.


"Tidak apa-apa, Bu. Hanya demam." Dokter Syahril menjawab.


"Demam?" Perempuan itu membeo.


"Ya. Mungkin penyesuaian tubuh. Hal itu biasa terjadi karena perpindahan dari tempat yang berudara dingin ke tempat dengan cuaca panas seperti kita."


"Kenapa bisa begitu?"


"Mungkin karena tidak terbiasa? Bukankah mereka baru pulang dari Moscow yang sedang mengalami musim dingin?"


"Iya, tapi …."


"Padahal waktu tiba di Swiss dia baik-baik saja?" Daryl muncul beberapa saat kemudian.


"Tidak mengalami flu atau semacamnya?" Dokter Syahril bertanya.


"Tidak sama sekali."


"Tidak apa. Hal itu memang sering terjadi pada sebagian orang dan mereka membutuhkan penyesuaian yang lebih lama." Dokter Syahril menerangkan.


"Tidak berbahaya?"


"Menurut saya tidak. Tapi jika dalam tiga hari Nania masih seperti ini, saya sarankan untuk dirawat di rumah sakit. Kemungkinan terpapar virus bisa saja terjadi, tapi sepertinya itu mustahil jika penerbangan dilakukan dengan pesawat pribadi. Tapi apa pun bisa terjadi, bukan?" ujar dokter itu dengan jelas.


"Dokter yakin hanya itu?" Sofia bertanya lagi.


"Saya yakin, Bu."


"Maksud Mama, Nania nggak hamil gitu?" Namun Rania menyela tanpa ragu, membuat Dokter Syahril tertawa.


"Ohh …." orang-orang di ruangan itu bereaksi serentak.


"Selain obat yang sudah saya resepkan, barusan juga sudah saya beri suntikan. Jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan. Kita lihat pagi nanti, jika kondisinya masih sama, Anda bisa hubungi saya lagi." Setelah itu, Dokter Syahril kemudian berpamitan.


"Uh, kirain hamil?" Rania terkikik sambil menutup mulutnya dengan tangan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Are you okay?" Daryl sedang menatapnya begitu Nania membuka mata.


Dia tak langsung menjawab namun menyingkirkan tiga buah selimut dari menutupinya sejak semalam. Pakaian tidurnya saja sampai basah saking banyaknya keringat yang keluar dari tubuhnya.


"Pelan-pelan!" Dan Daryl segera membantunya.


"Pusing." Nania memijit kepalanya yang masih terasa berputar saat dia bangkit.


"Maka berbaringlah! Jangan dulu bangun." 


Lalu Nania kembali merebahkan kepalanya di atas bantal.


"Aku mimpi aneh tadi." Perempuan itu mulai berbicara.


"Mimpi apa?"


"Aku ada di puncak gunung sendirian."


"Terus?"


"Aku jatuh ke bawah. Kayak melayang gitu, terus sampai di jurang. Eh tahunya bangun." Nania tertawa pelan.

__ADS_1


"Dasar kamu! Itu halusinasi. Dari semalaman saja kamu mengigau terus. Segala hal kamu sebutkan." Daryl menyingkirkan helaian rambut ke belakang telinganya.


"Masa?"


"Iya, sampai-sampai aku nggak bisa tidur."


"Hmm …." Lalu perempuan itu bergeser ke dekatnya.


"Ya udah, sekarang bobo. Aku udah agak baikan kok." Dan dia mengulurkan tangan untuk memeluk suaminya.


"Sudah siang, dan aku tidak bisa tidur." Daryl berujar.


"Iya kah? Memangnya udah jam berapa?" Nania melirik jam digital di atas nakas yang menunjukkan pukul satu siang.


"Ini lewat tengah hari." katanya kemudian.


"Memang." Lalu mereka tertawa.


"Tante Nnaaa!!" terdengar panggilan dari luar kamar.


"Oh astaga, mereka lagi!!!" Daryl menghempaskan kepalanya pada bantal.


"Why they just can't leve us alone!" Pria itu bergumam.


"Keponakan kamu tuh …." 


"Yeah, benar. They're so annoying!"


Nania tertawa, lalu dia bangkit.


"Stop! Mau ke mana?" Namum Daryl segera menahannya.


"Mau lihat mereka, apa lagi?"


"Jangan!"


"Tapi kan …."


"Aku bilang jangan!"


"Tapi mereka ada di depan pintu." Nania masih mendengar bocah-bocah itu memanggilnya diluar.


"Biarkan saja lah, astaga!! Nanti juga mereka pergi sendiri."


Nania terdiam menatap suaminya.


"Dari tadi juga begitu, tapi aku abaikan. Kamu sedang sakit." lanjut Daryl sambil memijat pangkal hidungnya dengan raut frustasi.


"Tante Nnaaaaa!" Suara Anya terdengar lagi.


Namun Nania kembali ke dekapan suaminya, dan kali ini dia memutuskan untuk mengabaikan keponakan mereka.


"Oke, Daddy!" Perempuan itu menyurukkan kepalanya dia dada bidang Daryl dan dia kembali memeluknya.


"Memang sebaiknya kita segera pindah ke rumah baru. Lihat saja, begitu dapat yang sesuai aku pastikan akan segera membawamu pergi!" Daryl memeluknya kuat-kuat.


"Kamu dengar itu, Malyshka? Hum? Aku akan segera membawamu pergi dari sini!" ulangnya seraya menciumi wajah perempuan itu.


Sementara Nania hanya tertawa mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya.


💖


💖


💖

__ADS_1


Bersambung ...


Hadeh, kirain kenapa ya🙈🙈


__ADS_2