
💖
💖
Nania kembali lagi ke lantai atas untuk mengambil ponselnya, dan berniat menghubungi Daryl yang tak kunjung kembali setelah mengatakan kepadanya untuk menunggu sementara pria itu malah pergi entah ke mana.
"Awas aja, udah capek-capek mandi plus-plus, eh malah nggak jadi. Aku biarin tidur diluar nanti!" Dia menggerutu.
Dan Nania hampir saja melakukan panggilan telepon ketika mendengar suara berisik dari luar.
"Ish, siapa itu bawa-bawa motor ke sini?" gumamnya seraya melihat lewat jendela.
Seseorang yang mengendarai motor besar berwarna hitam berhenti di pekarangan rumahnya, lalu dia membuka helm.
"Duh?" Perempuan itu bereaksi.
"Hey, Malyshka! Ayo kita berkencan!" Daryl menatap ke arah jendela di mana istrinya berada.
Dia yang mengenakan pakaian serba hitam dengan jaket kulit yang resletingnya yang tak dirapatkan.
"Kamu habis dari mana?" Nania berteriak dari jendela.
"Cepatlah, mau pergi atau tidak?" Pria itu malah bertanya.
Seulas senyum terbit di sudut bibir Nania, ketika merasa jika suaminya seperti seorang pemuda yang sedang mengajaknya untuk pergi berkencan.
"Pakai jaket dan celana panjang juga sepatu, Malyshka!!" Daryl berteriak lagi.
Nania segers menjauhi jendela, kemudian menyambar hoodie miliknya dan bergegas mengenakan sepatu seperti yang pria itu katakan.
"Kamu kok bawa motor? Ini punya siapa? Kok aku nggak tahu kamu bisa bawa motor?" Nania setengah berlari menghampiri suaminya.
"Aku pinjam punya Kak Dim." jawab Daryl sambil memasangkan helm di kepalanya.
"Terus kita mau ke mana?" Perempuan itu bertanya lagi.
"Naik sajalah, bukannya kamu mau keliling Jakarta?"
Nania mengangguk, kemudian dia segera naik di belakang Daryl.
"Ready?" Pria itu menoleh ke belakang.
"Ready." Nania mengangguk lagi dengan semangat.
"Alright." Pria itu menghidupkan mesin beroda dua tersebut kemudian melajukannya keluar dari area rumah.
Nania melingkarkan kedua tangannya dengan erat di pinggang Daryl selama mereka menyusuri jalanan kota yang cukup ramai pada malam itu.
Ducati hitam itu membawa keduanya mengelilingi kota Jakarta. Dan Nania menikmati saat-saat itu dengan rasa suka cita.
Gemerlap lampu menerangi sepanjang jalanan yang mereka lewati, dan hingar bingar dunia malam mulai bergeliat. Kafe dan restoran disesaki pengunjung, juga hotel-hotel yang membuka pintunya lebar-lebar bagi siapa saja yang membutuhkan tempat untuk bermalam.
"Kamu mau ke mana dulu?" Daryl memelankan laju motor yang dikendarainya, kemudian dia menegakkan tubuh sambil membuka kaca pada helmnya.
"Apa?" Nania mendekat lalu melakukan hal yang sama.
"Mau ke mana dulu?" Daryl mengulangi pertanyaan.
"Nggak tahu, enaknya ke mana?" Nania balik bertanya.
"Pasangan yang kencan malam Mingguan biasanya ke mana?"
"Makan, nonton, terus …."
"Makannya di mana?" Daryl kini mengendarai motornya lebih santai.
"Nggak tahu, mungkin makan bakso?" jawab Nania.
"Makan bakso?"
"Ya."
"Aneh sekali kencan makam bakso?"
Nania tertawa.
"Di sini kalau yang kencan suka begitu ya?"
"Ya nggak tahu, kan aku belum pernah kencan. Yang aku tahu bisa aja makan di kafe, main ke taman, jalan ke mall … bisa ke mana aja."
"Jadi, kamu maunya ke mana?" Daryl bertanya lagi.
Namun Nania terdiam sebentar untuk membangun imajinasi di dalam kepalanya.
"Aku yang nentuin boleh?" katanya kemudian.
"Boleh, aku kan sedang mengantarmu jalan-jalan kali ini?" Daryl menjawab.
"Kalau makan bakso boleh?"
"Mmm … boleh. Di mana restoran bakso yang enak di sekitar sini?"
"Bukan restoran." Nania tertawa.
"Terus?"
Nania mengenali jalan yang tengah mereka lewati, dan dia ingat satu tempat yang dulu pernah dikunjunginya semasa belum bekerja di kedainya Amara.
"Belok kiri, Dadd." katanya, dan Daryl segera menurutinya.
__ADS_1
Tak berapa lama Nania memintanya berhenti di depan sebuah kios kecil di pinggir jalan, di mana di bagian depannya terdapat sebuah gerobak penuh dengan jenis makanan yang dimaksud oleh perempuan itu. Yang di bagian kacanya terdapat tulisan Mie Bakso yang sangat mencolok.
"Kamu serius?" Daryl melepaskan helmnya bersamaan dengan Nania yang turun dari boncengannya da dia melepaskan helmnya pula.
"Ternyata tempat ini masih ada?" ujarnya dengan suara girang.
"What?"
"Aku kira udah nggak ada, terakhir kali ke sini waktu … sebelum ayah sakit." Perempuan itu sedang mengingat-ingat lagi.
"Apa kita akan makan di sini?" Daryl setengah tak percaya.
"Iya!" Nania dengan mata berbinar. "Nggak apa-apa kan?" Namun dia sedikit ragu karena melihat raut wajah suaminya.
Pria itu menatap tempat tersebut yang terlihat tidak terlalu besar, dan terletak di satu area yang cukup ramai dengan keadaan ramai pula.
Di dalamnya terdapat meja kayu dan kursi plastik seperti yang diingatnya pernah dia lihat juga waktu mengantar istrinya itu ke pasar.
"Kalau nggak bisa ya nggak apa-apa, kita cari tempat lain yang sesuai sama kamu …." Nania hampir mengurungkan niatnya.
Namun tiba-tiba saja Daryl turun dari motor dan meletakkan helm mereka.
"Tukang nasi kuning di pasar saja cocok denganku, apalagi bakso di pinggir jalan. Sudah pasti tak akan ada masalah, kan?" katanya seraya menggiring perempuan itu masuk ke dalam ketika beberapa orang yang sudah selesai makan keluar.
"Yakin?" Nania seakan tidak percaya ucapan seperti itu keluar dari mulut Daryl Stanislav.
"Yakin." Kemudian mereka berdua duduk di kursi yang telah kosong.
"Sebentar, kamu bawa uang tunai? Di sini kayaknya nggak pakai QR Code atau kartu lho? Soalnya aku juga lupa nggak bawa." Nania memastikan keadaan mereka terlebih dahulu.
"Sejak menikah denganmu dompetku selalu terisi uang tunai." jawab pria itu.
"Masa?" Nania hampir tersenyum.
"Iya. Kamu kan hobinya jajan di tempat seperti ini?" Daryl merogoh dompetnya dari saku jaket kemudian menunjukkannya kepada perempuan itu.
"Ahahaha, beneran." Nania pun tertawa setelah melihat isi dompet suaminya yang memang terisi lembaran uang.
Bukan hanya yang berwarna merah dan biru, pria itu bahkan memiliki lembaran hijau dan ungu seperti yang dimiliki orang-orang pada umumnya. Dan bagi Nania, itu merupakan hal yang cukup lucu.
"Lihat, kamu punya uang dua puluh sama sepuluh ribu?" katanya sambil tertawa.
"Ya, Dinna memberikannya kepadaku kemarin sore."
"Tapi lima ribu sama dua ribunya nggak ada."
"Memangnya perlu ya?"
"Perlu dong, buat bayar kang parkir."
"Memangnya di tempat seperti ini harus bayar parkir juga?" Pria itu menatap seisi kios tersebut yang memperhatikan mereka.
"Oh ya?"
"Hu'um." Nania mengangguk.
"Kok bisa begitu?"
"Ya kalau di tempat kayak gini memang begitu."
"Hmm …."
"Nggak mahal, cuma dua ribu kok."
"Aduh?"
"Nggak apa-apa, nanti bisa kita bayar kalau dapat kembalian dan abang baksonya." Nania bangkit kemudian menghampiri pria di dekat gerobak yag sibuk dengan pesanan sebelumnya.
"Kamu makan apa aja oke kan, nggak ada masalah?" Kemudian dia kembali setelah memesan untuk mereka.
"Tidak ada, aku kan omnivora seperti katamu?" Daryl mejawab.
"Ahahaha … masih ingat aja, Pak?"
"Tentu saja, banyak hal yang aku ingat dulu."
"Iya iya, maksud aku kamu makan apa aja oke, termasuk mie kan?"
Pria itu mengangguk.
"Baiklah."
Lalu setelah menunggu beberapa saat akhirnya pesanan mereka pun tiba.
Dua porsi makanan berkuah bening dengan bola-bola daging, yang masing-masingnya berisi dua macam mie dan sayuran bertabur bawang goreng juga sledri itu siap dimakan.
Aromanya yang sedap menguar di indra peciuman mereka, membuat air liur hampir saja menetes saking lezatnya.
"Ahh … aku kangen aromanya!" Nania mengibas-ngibaskan tagannya agar uap yang mengepul menerpa wajahnya, sementara Daryl hanya menatap sambil tersenyum.
"Kamu pernah makan bakso?" tanya Nania sebelum memakan bakso miliknya.
"Bercanda ya? Siapa yang tidak pernah? Ya pernah lah." Daryl mengaduk isi di dalam mangkok kemudian merasai sedikit kuahnya. "Enak." katanya.
"Serius? Aku kira belum pernah?" Nania seakan tidak percaya.
"Hey! Kamu pikir aku ini siapa sampai belum pernah makan makanan seperti ini?"
"Aku pikir nggak mungkin, soalnya kamu kan …." Nania menggantung kata-katanya.
__ADS_1
"What? Aku memang belum pernah makan di tempat seperti ini, tapi bukan berarti belum pernah memakan makanannya kan?"
"Masa?"
"Di rumah juga kadang disediakan."
"Iyakah?"
"Ya."
"Tapi kok aku belum pernah makan bakso di rumah?"
"Karena kamu nggak minta. Tapi kalau minta ya disediakan."
"Bisa gitu juga?"
"Bisalah, apa yang tidak bisa?" Pria itu menambahkan saus, kecap dan sedikit sambal pada makanannya, yang kemudian dia aduk lagi sampai tercampur rata.
"Makanlah, Malyshka. Kalau dingin tidak enak kan?" ucapnya, yang mulai menyuapkan makanan itu ke mulutnya.
Sedangkan Nania asyik menatapnya untuk beberapa saat.
***
"Terus kita ke mana lagi?" Mereka keluar setelah selesai dan merasa kenyang.
Nania terdiam sebentar untuk berpikir. Lalu dia tersenyum sumringah ketika melihat sebuah mini market yang berada di seberang jalan.
Namun bukan itu yang dia maksud, melainkan gerai minuman favoritnya yang menarik perhatian.
"Astaga, milktea. Kenapa mereka ada di mana-mana ya? Masih buka lagi padahal sudah malam?" Daryl bergumam.
Dan keduanya bergegas menuju tempat tersebut untuk membeli minuman yang paling disukai Nania.
"Kita kayak lagi kencan beneran." Pasangan itu duduk di pelataran minimarket dengan cup milk tea di tangan masing-masing.
"Kamu pikir kita kencannya bohongan?" Daryl menanggapi.
"Emang kalau udah nikah tetep disebut kencan ya?"
"Aku rasa ya."
"Bukannya kencan itu kalau sebelum nikah? Lagi pacaran gitu?" Perempuan itu tergelak.
"Kita sekarang kan lagi pacaran." Daryl menoleh kepadanya. "Pacaran halal." Kemudian dia mencondongkan tubuhnya sedikit.
Nania tertawa lagi.
"You happy?" tanya Daryl.
"Hu'um." Dia menganggukkan kepala.
"Kamu selalu mengikuti apa yang aku mau dan menyesuaikan sama apa yang bisa aku lakukan."
"Thats what marriage for."
"Hmm, makasih." ucap Nania.
"Apa malam ini sudah cukup?" Pria itu bertanya lagi.
"Belum." Kini Nania menggelengkan kepala.
"Belum mau pulang?" Daryl menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan hampir jam sepuluh malam.
"Kalau nggak pulang bisa nggak sih?"
"Hum?"
"Aku mau motor-motorannya semalaman, sampai jauuuuhhhhh. Kita kan belum ngelilingin Jakarta?"
"Kamu serius mau berkendara jauh?"
"Iya. Bisa nggak?"
Daryl berpikir sebentar.
"Bisa. Papi saja bisa membawa Mama pergi ke Belanda hanya untuk melihat bunga tulip bermekaran. Masa aku cuma bawa kamu keliling Jakarta tidak bisa?" Dia menyesap habis minuman dinginnya.
"Serius?"
"Ya. Kita kan sedang kencan?" Daryl bangkit dari duduknya.
Nania tersenyum.
"So, what are you waiting for?" Lalu Daryl mengulurkan tangannya untuk menarik perempuan itu kembali ke motor mereka.
"Ayo kita kencannya semalaman?" Dia memasangkan helm pada kepala Nania sebelum perempuan itu naik di belakang, dan dia pun memasangkan helm untuk dirinya sendiri. Dan akhirnya mereka meneruskan perjalanan seperti yang diinginkan Nania.
💖
💖
💖
Bersambung ....
Udah waktunya vote gaess, cus kirim abis ini semoga bisa up lagi. 😁
__ADS_1