The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Si Pemaksa


__ADS_3

💖


💖


"Catatannya udah di kamu kan?" Ardi menjadi orang terakhir yang pergi setelah kedai tutup pada malam hari.


"Iya, udah aku simpan." Nania mengikutinya sampai di depan pintu.


"Yakin mau belanja sendiri? Itu kan banyak?"


"Udah biasa kan? Gampang lah."


"Ya udah. Kalau butuh bantuan telfon aja, aku pasti datang." ucap pemuda itu yang mengenakan helmnya.


"Pergi dulu ya Nna? Jangan lupa pintu sama jendelanya diperiksa lagi." Lalu dia menghidupkan mesin motornya dan segera pergi.


"Iya, Di." Gadis itu mengangguk.


Nania mundur dan hampir menutup pintu ketika Rubicon hitam yang dia kenal berhenti tepat di depan kedai. Lalu pengemudinya turun dan segera menghampiri.


"Kedainya udah tutup." ucap Nania ketika Daryl sudah berada di depannya.


"I don't care." jawab pria itu yang merangsek masuk lalu menyeret pintu dengan bagian belakang kakinya.


"Dasar tukang maksa!" Nania mendelik kemudian mundur.


"I'm sorry!" ucapan itu kembali terlontar dari mulut Daryl.


Hari ini setidaknya sudah empat kali dia mengucapkan kata itu, namun perasaannya tak kunjung membaik. Apalagi terakhir kali mereka tak bicara dengan benar seperti sebelum-sebelumnya.


"Minta maaf terus." Nania menggumam kemudian mengambil dua kaleng minuman dingin di dalam showcase, lalu meletakkannya di meja.


"Maaf, aku tidak bisa seperti ini. Keadaan ini membuat perasaanku nggak enak." Daryl kembali mendekat.


"Kalau nggak enak ya kasih kucing." Nania membuka salah satu kaleng lalu meneguk isinya.


"Hah?"


"Ucapanmu tadi siang membuatku merasa nggak enak." ulang Daryl ketika mengingat apa yang Nania lontarkan.


"Tumben merasa nggak enak? Biasanya juga nggak peduli sama perasaan orang lain?" Nania membalikkan kata-katanya.


"Nna?" Lalu pria itu meraih tangannya.


"Lets talk!" pintanya, lalu dia semakin mendekat.


"Kan ini juga lagi ngomong?" jawab Nania yang berusaha melepaskan genggaman tangannya meski akhirnya tidak berhasil.


Kemudian mereka pindah ke rooftop setelah Nania memastikan pintu dan jendela terkunci rapat.


"Selain takut air, apa lagi yang kamu takuti?" Daryl meletakkan ponselnya setelah mengirimkan pesan kepada sang ibu.


Nania tak langsung menjawab. Dia sedang mengingat hal apa saja yang sering membuatnya ragu dan tak berani melangkah jauh.


"Jadi aku tahu dan menghindari hal-hal semacam itu agar tak menyakitimu." lanjut Daryl seraya memiringkan kepalanya.


"Ada di sekitar kolam renang, atau air dalam jumlah yang besar itu rasanya seperti kamu sedang mengantarkan nyawa ke tempat yang paling menakutkan." Nania menatap langit malam Jakarta yang kelam.


"Berada di dalamnya seperti ada sesuatu yang menarik tubuhmu secara perlahan dan menyakitimu dengan cara yang paling menakutkan." lanjutnya, dan suaranya terdengar bergetar.


"Tapi yang paling menakutkan dari itu adalah tempat gelap dan sempit."


Daryl mengerutkan dahi.


"Aku nggak suka tempat yang gelap, makanya kalau tidur lampunya harus selalu menyala."


"Apa yang terjadi? Karena bagiku kegelapan bukan apa-apa. Aku bisa tidur di manapun dan dalam keadaan apa pun."


Nania mengingat lagi.


"Waktu itu … toilet sekolah lagi sepi. Semua orang udah pulang tapi aku merasa nggak tahan." Puluhan bayangan kembali muncul dalam ingatan.


"Toiletnya ada di ujung bangunan, jadi tempatnya gelap karena lampunya mati."


"Seseorang mengunci pintunya dari luar dan nggak ada yang datang walau aku sudah berteriak.


Daryl mendengarkan dalam diam.


"Dan nggak ada siapa pun yang datang sampai pagi." Gadis itu terdiam.


"Sumpah, itu menakutkan." Lalu dia menoleh ke arah Daryl.

__ADS_1


"Satu malam yang paling menakutkan dalam hidup aku. Gelap, sepi, dan aku sendirian. Mungkin sepele buat orang-orang, tapi untuk aku … itu menakutkan."


"Belum lagi kejadian setelahnya yang sama menakutkannya. Waktu ibu nggak percaya apapun yang aku bilang setelah pulang ke rumah. Yang ada hanya makian dan pukulan karena semalaman aku menghilang. Lagi-lagi aku dikurung di kamar mandi. Dan selanjutnya Bapak tahu apa yang terjadi." Ada buliran bening yang menyeruak dari sudut matanya yang segera dia seka.


"Lihatkan? Banyak hal yang membuat aku lemah dan nggak senormal orang lain. Yang dianggap biasa aja, bisa sangat menakutkan untuk aku. Jadi …."


Daryl meraih tangan gadis itu kemudian menautkan jari-jari mereka. Terlalu banyak kata menakutkan yang dia sebut dan sepertinya dia tidak baik-baik saja.


"It's not change anything." katanya.


"Aku maunya percaya, tapi ini kayak nggak nyata. Ini kayak cerita yang cuma ada di dalam buku atau di film romantis aja yang semua tokohnya berakhir bahagia selamanya."


"Tapi aku tahu kalau dunia nggak sebaik itu. Karena ada banyak hal yang nggak bisa berakhir bahagia selamanya. Contohnya aku."


"Perceraian ayah sama ibu adalah hal menyakitkan karena aku kehilangan salah satu sosok yang aku butuhkan. Tapi kebersamaan mereka juga nggak lebih baik. Banyak pertengkaran dan kekerasan yang terjadi membuat aku bingung gimana harus menghadapi dunia yang sebenarnya."


"Aku nggak tahu aku pantasnya ada di mana, karena kayaknya semua hal nggak cocok dengan aku."


Daryl menggelengkan kepala.


"Kamu hanya belum terbiasa." katanya.


"Gimana kalau misalnya … sebenarnya aku nggak pantas ada di situ? Dan aku takut kalau memaksakan diri malah membuat keadaan menjadi kacau, jadi sebaiknya …."


"No no no!! Jangan mengatakan hal konyol seperti itu. Apa pun bisa terjadi kalau kita mau mengusahakannya, dan tidak ada hal semacam itu di duniaku."


"Itu karena Bapak mampu, tapi aku?"


"You will! I promise!"


"Aku hanya takut ini akan lebih menyakitkan dari apa pun yang pernah aku alami. Karena perasaan kadang membuat orang jadi sangat lemah. Jadi sebaiknya …."


"No!! I said no!! Tidak mungkin! Aku tidak mau mendengarnya! Tidak!!" Pria itu meracau sambil menutup telinga dengan kedua tangannya.


"Pak?"


"Just listen to me! Listen!" Daryl menyentakkan kedua tangannya.


"Tidak ada yang menghalangiku untuk memiliki hubungan dengan siapa pun, dari kalangan mana pun dan dengan latar belakang apa pun jika itu yang kamu maksud."


"Semua orang mendukung dan aku rasa tidak ada satu pun dari mereka yang tidak menghargai apa yang menjadi kebahagiaanku, jika itu yang kamu takutkan. No one! Itu semua urusanku, bahkan kedua orang tuaku mendukung apa pun yang aku lakukan. Can you see it?"


"Justru itu …."


"Mama menyukaimu, dan keponakanku apa lagi. Mereka tidak pernah bisa jauh-jauh kalau tahu kamu ada disekitar, dan itu tidak pernah terjadi kepada siapa pun. Lalu di mana masalahnya? Hanya karena kamu selalu diperlakukan tidak baik oleh keluargamu bukan berarti orang lain akan berbuat sama kepadamu."


"Believe me, kebaikan akan kamu temukan bukan hanya dari orang yang memiliki pertalian darah. Karena kasih sayang tidak ada hubungannya dengan itu. Tidak sama sekali!"


"So stop membandingkan keadaanmu dengan keadaan orang lain yang menurutmu lebih baik. Yang akhirnya akan membuatmu merasa rendah diri. Karena apa yang kamu lihat belum tentu benar."


"Just focus on yourself and what we do. Focus on me!!" Daryl membingkai wajahnya dengan perasaan gemas.


"Focus on me, Malyshka!!


"Pak, ish!!" Nania melepaskan tangan pria itu dari wajahnya.


"Lets make our own world, and be happy together! Karena kita pantas mendapatkannya, kamu pantas mendapatkannya." ucap pria itu, yang entah mengapa membuat Nania merasa lebih baik.


"Bapak sadar nggak, kalau Bapak itu tukang maksa?" Gadis itu mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.


"Sadar, aku memang begitu."


"Dan Bapak nggak merasa aneh gitu?"


"Kenapa merasa aneh? Aku memang begitu."


"Selain tukang maksa Bapak juga nyebelin."


"Itu benar, hahahaha." Daryl tergelak.


"Dih, dia bangga disebut nyebelin?"


"Itu yang akan menghindarkanmu dari orang-orang bermuka dua, Malyshka. Dan mereka akan berpikir dua kali jika punya niat untuk memanfaatkanmu. Jadi, jika tidak bisa jadi kuat, maka jadilah menyebalkan. Karena dua-duanya sama-sama menjauhkan orang munafik dari hidupmu."


"Ide dari mana itu?"


"Ideku." Lalu pria itu tersenyum.


"Pak?" Nania kembali berbicara setelah terdiam cukup lama.


"Apa?"

__ADS_1


"Calon bidan yang kemarin cantik." Nania teringat pertemuan di rumah besar semalam.


"Memang."


"Nggak minat emang?"


"Minat apa?"


"Pacaran sama calon bidan?"


"Nggak."


"Kenapa? Kan bagus, pemilik majalah terkenal pacarnya bidan."


Daryl terdiam sebentar sambil mengutak-atik ponselnya.


"No."


"Kenapa?"


"Karena aku sudah punya pelayan kedai." jawab pria itu tanpa memalingkan pandangan dari ponsel yang menyala.


"Apa bagusnya pelayan kedai? Nggak keren. Nggak punya gelar."


"What you say?" Daryl menoleh.


"Pelayan kedai kan nggak keren. Cuma melayani orang yang beli makanan, terus habis itu …."


Daryl meletakan ponselnya di samping kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Nania. Dengan sebelah tangannya yang meraih pinggang gadis itu untuk kemudian menariknya hingga sedikit jarak di antara mereka menghilang.


"Kamu sangat cerewet. Mau membuatku kesal ya?" Wajah mereka hanya berjarak lima senti saja.


"Umm …."


"Bidan ataupun pelayan kedai tidak ada bedanya untukku. Masalahnya, hatiku memilih pelayan kedai menyebalkan sepertimu! Lalu apa yang harus aku lakukan dengan hatiku ini?" Dia mengeratkan rangkulan tangannya di pinggang Nania.


"Kamu masih tidak mempercayaiku ya?" Lalu dia bertanya. "Kamu pikir aku tidak sungguh-sungguh?"


"Kalau begitu keadaannya, bagaimana kalau kita menikah saja?"


"Apa?" Nania membelalakan matanya.


"Jika hanya pacaran tak mampu membuatmu percaya kepadaku, maka kita menikah saja!"


"Nggak mungkin!"


"Mungkin saja. Nanti aku akan membicarakannya dengan orang tuaku setelah pernikahan Darren selesai."


"Mana bisa kayak gitu?"


"Bisa saja. Aku ini kan pemaksa, seperti katamu."


"Tapi nggak gitu juga, Pak."


"Kenapa? Karena kita baru pacaran? Aku pikir aku nggak peduli soal itu."


"Te-tapi …."


Lalu pria itu mendaratkan ciuman di bibir Nania dan memagutnya untuk beberapa saat.


"Tidur sana! Bukankah besok kamu mau ke pasar?" Kemudian dia melepasnya secara tiba-tiba, di saat Nania mulai membiasakan diri.


Napasnya menderu cepat dan tubuh mereka memanas.


"Aku akan tidur di sini, jadi bisa mengantarmu besok. Dan kamu tidak usah memanggil orang lain untuk menemanimu!"


"Sana! Atau mau menemaniku tidur di sini?" ucapnya yang kembali menarik tubuh gadis itu ke dekatnya.


"Umm … nggak!!" Namun Nania segera menjauhkan diri.


Dia lantas bangkit dan menjauh dengan cepat. Sementara Daryl berusaha menenangkan diri dan sesuatu yang terbangun setelahnya.


"Ah, sial!!" Dia lantas menjatuhkan tubuhnya di lantai gazebo yang beralaskan matras.


💖


💖


💖


Bersambung ...

__ADS_1


Nyerah deh, nyerah. Nggak aka menang lawan tukang maksa mah😜😜


Kuyyy dilike dan dikasih hadiah yang banyak. Seribu like aku up lagi.


__ADS_2