The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Ayah Dan Anaknya


__ADS_3

πŸ’–


πŸ’–


"Serius, Pah. Pokoknya nanti Kak Ann harus dihukum. Uang jajannya dikurangin terus kasih ke aku." Asha sedang mengadu begitu orang tuanya tiba.


"Yaelah, dia ngadu?" Orang yang dimaksud memutar bola matanya.


"Papa udah baca kan chat aku? Tadi udah aku telpon tapi nggak diangkat." Asha masih saja berbicara sementara Anandita melenggang ke belakang. Dia tahu sang ayah akan memenangkan adik bungsunya setelah ini.


"Asha kok begitu? papa dan Mommy kan baru saja datang dari Bogor. Masih capek, setidaknya biarkan istirahat dulu baru bisa berbicara." Satria bereaksi setelah menyimak ocehan cucu sambungan itu.


"Iya, apa tidak lihat Papanya lelah? Perjalanan Bogor-Jakarta itu jauh lho, kan Asha juga merasakan jauh dan capeknya, makanya kalian tidak mau ikut?" sambung Sofia yang seketika membuat remaja perempuan itu terdiam.


"Sini." Lalu Dygta mengulurkan tangannya, sehingga anak bungsunya itu duduk di sampingnya. "Nanti bicaranya ya? Biarkan Papa mandi, makan, dan istirahat sebentar. Baru kamu bisa bicara apa saja. Mau menangis, mengadu atau apa pun. Oke?"


Asha menganggukkan kepala.


Lalu tanpa banyak bicara, pasangan yang baru saja kembali itu melenggang ke kamar yang memang tersedia untuk mereka jika menginap. Membersihkan tubuh dan beristirahat dari kepenatan selama perjalanan pulang dari Bogor yang cukup membuat frustasi.


***


"Baik, aku rasa setelah ini hanya menunggu mereka mendapatkan parfum yang sesuai saja, lalu bisa kita sepakati untuk meminta produknya dibuat sebanyak mungkin. Baru setelahnya bisa diadakan peluncuran." Daryl dan Regan berjalan memasuki area belakang rumah besar.


Melewati taman yang dipenuhi bunga-bunga yang sedang bermekaran. Di mana Anandita memilih mengasingkan diri dengan ponselnya yang menyala.


"Baik, Pak. Saya rasa tidak akan terlalu lama. Dalam satu minggu botol sudah siap, dan mungkin parfumnya juga. Jadi sudah bisa dipastikan semua akan berjalan sesuai dengan jadwalnya." Regan menjawab.


"Bagus. Lalu bagaimana dengan gedung untuk Fia's Secret House? Apa sudah selesai finishing? Terakhir kali kau laporkan finishingnya sudah 50 persen?" Mereka berhenti di teras depan.


"Sudah Pak, apa launchingnya mau sekalian dengan parfum? Karena barang-barang utama mulai dimasukkan besok. " Regan menjawab.


"Bagaimana menurutmu?" Daryl meminta pendapat.


"Kalau saran saya mungkin launching parfum sekalian di pembukaannya Fia's Secret House saja. Selain menghemat biaya promosi, juga pekerjaan kita tidak akan terlalu banyak. Jadi dua acara besar di adakan di satu tempat. Bagaimana?"


"Bisa juga. Tapi aku mau berunding dulu dengan keluargaku ya? Nanti kita bicara lagi."


"Baik, Pak. Kalau tidak ada lagi yang mau Bapak bicarakan, saya pamit?"


"Ya, sepertinya cukup untuk hari ini. Jadi besok kau bisa libur."


"Terima kasih, Pak." Regan mengangguk sopan.


Dan dia hampir saja pergi ketika Nania, Kirana dan Rania keluar dari rumah dengan membawa beberapa wadah makanan.


"Eh, mau ke mana? Regan nggak diajak makan dulu?" ujar Nania yang berhenti dulu tak seperti dua iparnya.


"Aku udah masak banyak, lho." Dia menunjukkan bowl besar berisi daging berkuah kental dengan warna merah kecoklatan.


Daryl menoleh kepada suruhannya tersebut.


"Kau mau ikut makan bersama kami?" tawarnya kemudian.


"Oh, tidak usah Pak, saya benar-benar harus segera pergi." Regan pun menolak tawarannya.


Akan aneh rasanya jika dia ikut makan dengan keluarga atasannya tersebut.


"Dengar kan?" ucap Daryl kepada istrinya.


"Serius ih, seru lho banyak orang." Namun Nania membujuk.


"Ee … tidak usah, terima kasih. Saya ada janji." Dan Regan pun tetap menolak. "Permisi?" Kemudian dia pun memutuskan untuk pergi, meski lagi-lagi melirik sekilas ketika ekor matanya menangkap sosok Anandita yang terdiam di kursi taman.

__ADS_1


"Apa itu barusan?" Daryl terdengar memprotes perempuan itu.


"Apaan?"


"Sebegitu pentingnya ya mengajak Regan makan? Sampai memaksa seperti itu?" katanya dengan nada tidak suka.


"Apaan ih kamu aku cuma ngajakin dia makan. Maksa sebelah mananya?" Nania tertawa.


"Ish, menyebalkan sekali mendengar istriku mengajak pria lain untuk makan?" Pria itu menggerutu.


"Kamu lebay, kayak lagi lihat istrinya mau selingkuh." Lalu Nania menggiring suaminya ke arah rumah besar.


"Serius, itu kedengarannya seperti kamu sedang merayu pria lain."


"Ahahah, dasar! Mana berani aku begitu? Du depan suami aku lagi?" Dan Nania menyerahkan bowl di tangannya untuk Daryl bawa.


"Tentu saja, awas kalau berani." ancamnya sambil mengacungkan kepalan tangan kepada istrinya sebelum dia menerima barang yang diberikan oleh perempuan itu.


"Ampuun, nggak berani Dadd." Nania berlagak ketakutan, kemudian mereka berdua tertawa.


***


"Ann?" Suara bariton milik sang ayah menginterupsi lamunan Anandita sehingga gadis itu mendongak. Lalu tampaklah wajah Arfan dalam keremangan petang di antara lampu-lampu taman yang mulai dinyalakan pada petang itu.


"Dipanggil tidak menjawab?" Pria itu duduk di samping anak gadisnya.


"Oh ya? Emang Papa manggil?" Anandita malah bertanya.


"Ya. Kita makan?" jawab Arfan.


"Aku lagi nggak nafsu makan ah, sana Papa aja." Sang putri kembali menatap layar ponselnya di mana banyak video dia lihat di media sosial miliknya.


"Kok begitu? Kamu sakit?" Arfan menatap wajah Anandita lebih dekat.


"Terus kenapa tidak nafsu makan? Biasanya kamu semangat."


"Nggak apa-apa." Pandanganya masih tertuju pada layar ponsel.


"Ucapan Asha jangan dimasukkan ke hati, dia kan memang pengadu begitu." Arfan mengerti apa yang membuat putrinya sedikit murung.


"Kamu juga kan kadang suka bertindak sembarangan kepada Asha. Jadi sebenarnya ya sama saja kan?"


"Nggak ih, aku kan cuma bercanda. Tapi Asha suka nanggepinnya serius. Ka nyebelin Pah!" Anak itu membela diri.


"Kamu harus tahu kalau kadar keseriusan dan bercandanya orang itu berbeda-beda. Bisa saja kamu anggap apa yang kamu lakukan itu hanyalah candaan sehingga kamu pikir orang lain tidak akan merasa tersinggung. Tapi nyatanya orang mengira kamu serius dengan perbuatan itu. Jadi jangan sama ratakan perasaan orang lain dengan perasaanmu. Kan sudah sering Papa katakan?" Arfan mengulurkan tangannya di belakang pundak sang putri.


"Papa pasti mau nyalahin aku!" Anandita mengerutu.


"Bukan soal salah dan benar. Tapi sikapmu kepada orang. Asha kan adikmu, lebih muda darimu. Dan kita sudah tau bagaimana wataknya, apa yang dia sukai atau tidak dia sukai. Apa yang akan membuatnya marah dan bagaimana dia ingin orang menghargai miliknya."


Anandita mengerucutkan mulutnya.


"Apa pernah dia mengambil milikmu? Mencoba makanan sebelum kamu sendiri menyentuhnya? Atau apakah dia pernah mengganggumu jika kamu berkata kepadanya untuk menjauh?"


Sang anak terdiam.


"Sejauh yang Papa tahu dia tidak pernah seperti itu. Meski dia cerewet dan kadang menyebalkan."


Anandita sedikit terkekeh.


"Benar kan, dia sangat menyebalkan. Banyak makan dan berisik." Arfan menatap wajah putrinya.


"Tapi walau begitu dia tetap adikmu. Tetap anak Papa. Kalian harus saling menjaga dan saling menghargai. Karena jika tidak, lalu siapa yang akan melakukannya? Papa tidak bisa selamanya menjaga kalian, bukan?"

__ADS_1


"Ish, Papa kok ngomong gitu sih?" protes Anandita.


"Karena kenyataannya seperti itu. Selain Kak Ara, kamu adalah anak Papa yang paling besar, jadi tanggung jawab untuk menjaga keluargamu ya ada padamu."


"Masa begitu? Kan ada Arkhan. Keluarga kan harusnya dipimpin laki-laki?"


"Ya, memang. Tapi tanggung jawab kalian sama. Kalau bukan kamu dan Arkhan, lalu siapa yang akan menjaga Asha dan Aksa?"


Anandita terdiam lagi.


"Di dalam keluarga, berselisih faham itu biasa. Dan di antara adik kakak, pertengkaran juga biasa. Tapi jangan terlalu diambil hati, dan jangan lupa untuk cepat-cepat berbaikan agar tidak timbul kejelekan nantinya."


"Aku nggak berantem lho sama Asha. Cuma sebel aja karena dia drama banget."Β 


"Papa tahu."


"Tadi juga aku cuma bercanda lho. Kenapa dia ngadunya sampai begitu?"


"Sekarang kita tahu apa yang membuat Asha marah. Jadi sebaiknya kita hindari untuk berbuat begitu. Menghargai saudaramu tidak ada salahnya kan? Kamu juga ingin dihargai sebagai kakak, bukan?"


Anandita menganggukkan kepala.


"Jadi, mau ikut makan sekarang?" Arfan kembali membujuknya.


"Tapi Papa nggak akan nahan uang jajan aku kan? Kan baru beberapa bulan dapat uang jajan masa udah ditahan lagi sih? Nggak asik banget deh?" Anak itu dengan rengekannya.


"Tidak akan."


"Masa?"


"Ya, tapi jangan bilang-bilang Asha. Kalau dia tanya jawab saja Papa tidak memberimu uang selama seminggu."


"Beneran?"


"Ya. Pokoknya iyakan saja apa yang dia mau, asal aman."


Gadis itu tertawa.


"Sudah jelas kan?" ujar Arfan.


"Soal apa?"


"Jangan ganggu adikmu."


"Iyalah iya, gampang soal itu mah."


"Awas nanti diulang lagi?"


"Nggak akan, Pah."


"Ya sudah. Ayo makan?" Lalu pria itu menarik anaknya masuk ke dalam rumah.


πŸ’–


πŸ’–


πŸ’–


Bersambung ...


Aih ... Ada Kang Jahe😍😍


Sok yang mau sowan waktu dan tempat dipersilahkan πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1



__ADS_2