The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Gara-gara Kaktus #2


__ADS_3

πŸ’–


πŸ’–


"Kamu sudah pulang!" Nania meletakkan makanan yang baru saja dimasaknya, lalu dia berlari ke arah Daryl dan segera melompat ke pelukannya.


"Ugh!! Easy!!" Pria itu menyambutnya dengan kekehan kecil. Dia tahu ada sesuatu yang sedang Nania berusaha tutupi, tapi tidak menyangka jika usahanya akan semanis ini.


"Aku kirain nggak pulang sekarang?" ucap Nania yang melingkarkan kedua kakinya di pinggang suaminya.


"Tadinya, tapi setelah aku pikir-pikir lebih baik aku bawa saja pekerjaannya ke rumah." jawab Daryl yang melepaskan sepatunya tanpa menurunkan Nania.


"Kamu masak?" Lalu dia melirik ke arah meja makan di mana ada dua wadah hasil kreasi perempuan itu.


"Hu'um." Nania pun menganggukkan kepala.


"Bukannya kita selalu makan di rumah besar?"


"Iya, tapi aku mau bawa lauknya dari sini sebagian."


"Begitu?"


Dia mengangguk lagi.


"Baiklah, itu juga bagus."


"Memang. Ada manfaatnya juga kan belanjaan kita? Bukan cuma jadi makanan kalau lagi lapar pas tengah malam."


Pria itu tersenyum.


"Ayo Daddy, kita ke atas!!"


"Kenapa? Kamu juga belum mandi?"


"Iya, kan sengaja nungguin kamu?"


Daryl sedikit tertawa.


Mulai pintar merayu untuk mengalihkan perhatian ya? Batinnya, namun dia senang juga dengan hal itu.


Dan dia pun bergegas membawa Nania ke kamar mereka di lantai dua.


***


"Kalau begini setiap hari, pekerjaan Mima bisa berkurang." Sofia meraup makanan yang dibawakan Nania untuk makan malam mereka.


Meski asisten rumah tangganya juga sudah membuatkan mereka makanan, tapi apa yang dibawa nenantunya juga menggugah selera.


Satu wadah berisi potongan daging berbumbu pekat, dan wadah lainnya berupa olahan tahu bercampur sayuran yang digoreng.


"Cuma makanan, Ma."


"Iya, kamu membuat orang-orang merasa senang saja." Perempuan itu mengunyah makan malamnya dengan semangat.


"Udah lama aku nggak masak, tahunya masih bisa." Sang menantu tertawa.


"Hmm … masak itu masalah naluri sepertinya, dan sebagian dari kita akan selalu ingat." ucap Sofia yang memberikan Satria makanan yang sama. "Ini enak, Sayang. Nania memang pintar memasak."


Lalu pria itu mencobanya, dan reaksinya memang sama seperti istrinya.


"Sepertinya kalau kamu buka restoran akan sangat laku." Pembicaraan mereka terus berlanjut.


"Ah, lebih baik jangan." Namun Daryl menginterupsi.


"Kenapa?"


"Nanti kedainya Ara punya saingan. Kan tidak enak?" Pria itu tertawa.


"Saingan apanya? Kan buka restorannya tidak di dekat Ara? Kita cari di tempat lain." Sofia dengan ide cemerlangnya.


"Jangan, Mom! Nania kan masih sekolah, belum lagi nanti kalau lanjut kuliah. Fokus dulu satu-satu lah."


"Alah, bilang saja kamu takut kekurangan waktu. Pakai bilang sekolah dan kuliah segala? Perempuan itu bisa melakukan banyak pekerjaan dalam waktu yang bersamaan. Mengurus rumah tangga, sekolah, juga bekerja."


"Yeah, whatever. Lagipula kenapa sih mama selalu punya ide? Bisa disain, langsung bikin produk pakaian. Suka fashion, langsung bikin majalah. Sekarang Nania pintar masak, mama beri ide untuk buka restoran? Apa kita akan kekurangan kalau seandainya tidak punya satu jenis usaha saja? Rasa-rasanya kita sudah punya terlalu banyak."Β 


"Justru karena kita bisa, maka kita harus memanfaatkannya sehingga bisa menghasilkan. Agar masa depanmu dan penerus kita aman."


"Hmm …."


"Itu yang Dedushka katakan dulu. Selagi kita bisa dan ada kesempatan, sebaiknya dijalankan saja. Kita tidak tahu usaha mana yang akan menjadi penopang kehidupan di kemudian hari." Sofia terus saja berbicara.


"Huh, dasar Nikolai!" gumam Daryl kepada sang ibu.


"Kamu lebih Nikolai dari pada Mama."


"Yeah, dan sekarang aku tahu dari mana ini semua berasal." Lalu ibu dan anak itu melirik kepada Satria.


"Apa? Ya memang kalian berdua Nikolai. Aneh saja kalau tidak punya pikiran seperti itu." ujarnya kepada anak dan istrinya, "Dan aku curiga sebentar lagi Nania juga." lalu mereka semua tertawa.


"Oh iya, tadi satpam bilang ibumu ke sini, Nna." Sofia mengalihkan topik pembicaraan.


"Eee …." Nania sedikit terkejut mendengar perkataan mertuanya.


"Sudah Mama suruh masuk tapi tidak mau, padahal kalau menunggu sebentar pasti kalian ketemu kamu ya?"


"Umm …."


"Yeah, kenapa ibumu selalu tidak mau kalau disuruh masuk?" Daryl menanggapi obrolan.


"Mm … sebenarnya udah ketemu sih tadi dijalan waktu aku pulang." Sekalian saja dia bicara, karena Daryl pasti sudah tahu mengenai pertemuannya bersama Mirna.


"Benarkah?"


"Hey, kamu tidak mengatakannya kepadaku?" Daryl pura-pura bereaksi meski sebenarnya dia sudah tahu.


"Iya, emang mau aku bilang kan?"


"Terus?"


"Nggak ada terus-terusnya, udah gitu aja."


"Maksudku mau apa dia menemuimu?"


"Nggak mau apa-apa, cuma mau ketemu aja."

__ADS_1


"Hmm …."


"Kalian memang belum pernah berkunjung setelah menikah ya?" Sofia bertanya.


Anak dan menantunya sama-sama menggelengkan kepala.


"Ya kenapa tidak berkunjung? Jelas Bu Mirna ke sini karena mau menemui anaknya kan?"


"Ck!" Daryl berdecak.


"Kenapa? Kan wajar kalau orang tua ingin bertemu anak, apalagi kalau sudah lama? Jangan karena sudah berumah tangga malah melupakan orang tua. Tidak baik." Sofia berujar.


"Tidak mau." Daryl tanpa basa-basi.


"Kenapa? Dia kan mertuamu?"


"Mama seperti tidak tahu saja kejadiannya? Masa aku harus ceritakan lagi?" Daryl menjawab setelah dia menghabiskan makanannya.


"Namanya juga orang tua. Walau bagaimana pun harus tetap diperhatikan."


"Ah, aku suka marah kalau ingat kelakuan dia. Rasanya ingin sekali membalas perbuatannya kepada Nania." Pria itu memang tidak bisa menutupi perasaannya, dan benar adanya jika dia mungkin tak akan bisa menahan diri jika hal itu terjadi.


"Kamu menikahi anaknya lho?" Namun Sofia mengingatkan.


"Memang, terus kenapa? Nania juga tahu kalau aku tidak menyukai keluarganya, dan dia tidak ada masalah dengan itu. Iyakan, Sayang?" Daryl meminta pembelaan kepada istrinya.


"Umm …."


"Ya tidak ada masalah, orang kamu suaminya? Memangnya harus bagaimana? Bagi perempuan orang yang harus ditaati setelah menikah ya suami. Mau perlakuannya terhadap keluarga tidak baik pun tetap harus mengutamakan suami." Sofia tidak mau kalah berdebat.


"Ini kita sebenarnya mau mengobrol atau berdebat sih? Kok aku merasanya Mama sedang mengintimidasi aku ya?" protes Daryl kepada sang ibu.


"Ah, tidak juga. Mama hanya memposisikan sebagai mertua yang dibenci menantunya sendiri." Namun perempuan itu malah tertawa.


"Salah dia sendiri berbuat buruk kepada anaknya. Kalau seandainya baik ya aku tidak akan seperti ini? Enak saja!"


"Sudah, kenapa malah terus berdebat? Kita kan sedang makan?" Satria buka suara saat dia menangkap raut wajah menantunya yang sedikit berubah.


"Mama yang mengajakku berdebat." Daryl menjawab.


"Mama hanya mengingatkan bagaimana seharusnya kamu bersikap. Jangan karena amarah malah membuatmu berbuat salah."


"Amarahku pada tempat yang tepat lho, Mom."


Sofia kembali membuka mulutnya untuk menjawab namun Satria segera menghentikannya.


"Oke, Stop! Kalian bisa bertengkar setelah ini." Pria itu tertawa.


"Iya ih udah, jangan diperpanjang. Kan udah ketemu sama ibu." Nania juga akhirnya ikut berbicara.


"Tadi cuma ngobrol sebentar, terus aku pulang setelah kamu nelfon kan? Nggak ada lagi."


"Yeah, right."


"Aku juga beliin ibu makanan sama minuman."


"Hmm …."


"Terus ada uang sisa beli bunga tadi ya aku kasih."


"Nggak ada apa-apa, jangan khawatir. Kalau ada apa-apa juga kamu pasti tahu duluan kan? Orang Regan pasti langsung laporan?" Nania menyentuh tangan suaminya.


"Udah, nggak usah diperpanjang. Jadi nggak enak ah kalau gitu." lanjut perempuan itu yang kembali mengunyah makanannya.


***


"Udah beres?" Nania melirik ketika ekor matanya menangkap pergerakan dari samping. Di mana suaminya yang bangkit dari meja kerjanya di sisi lain ruang tengah.


Mereka sudah kembali ke rumah setelah mengobrol lagi begitu usai makan malam seperti biasanya.


"Sudah." Daryl duduk di dekatnya yang menonton acara di televisi.


"Hey, benar ibumu tidak mengatakan apa-apa tadi?" Dia memulai percakapan.


"Nggak." Nania menjawab.Β 


"Aku hanya khawatir kalau dia akan menyulitkanmu lagi."


"Mana berani? Dia kan tahu gimana kamu?"


"Ya tetap saja. Namanya juga manusia pasti akan terus mencari akal."


Perempuan itu merubah posisi duduknya hingga kini mereka berhadapan.


"Aku cuma ngasih ibu cemilan tadi, sama uang sisa beli bunga. Salah nggak sih?"


"Uang?"


Nania mengangguk.


"Berapa?"


"Dua ratus ribu. Kasihan, kayaknya lagi nggak punya uang."


Daryl menjengit.


"Aku balikin deh ke kamu kalau nggak boleh." Lalu Nania meraih ponselnya di meja.


"Mau kirim ke rekening atau ke e wallet? Aku transfer sekarang." katanya.


"Shut up!! Kenapa kamu bilang begitu? Ini bukan soal uang!"


"Terus?"


"Aku cuma tidak senang karena mungkin dia akan memanfaatkanmu lagi. Lupa ya perbuatannya kepadamu?"


"Dia tetep ibu aku."


"I know. Tapi jangan membuka celah baginya untuk memanfaatkanmu lagi."


"Nggak."


"I'm not sure. Kamu ini penurut dan selalu ingin membuat orang lain bahagia meski tahu mungkin sedang dimanfaatkan."


Nania mengatupkan mulutnya. Dia tak ingin menjawab karena tidak mau ada pertengkaran di antara mereka.

__ADS_1


"Not about the money, tapi cara mereka memanfaatkanmu untuk dapat uang."


Perempuan itu berpikir.


"Semoga ibumu tidak melakukannya lagi, dan semoga kamu mengerti apa yang aku maksud."


"Maaf." Nania buka suara.


"No, kamu nggak salah. Hanya terkadang terlalu baik kepada orang. Dan itu yang membuat mereka memanfaatkanmu."


Perempuan itu tidak menjawab lagi.


"Sudah malam, ayo tidur?" Lalu Daryl menariknya bangkit dan menuntunnya ke lantai atas.


"Wait a minute!" Namun dia berhenti di dekat tangga ketika melihat sesuatu yang asing.


"Aku sepertinya baru lihat tanaman yang itu?" Dia menunjuk kedua sudut ruang tamu di mana tanaman baru diletakkan.


"Umm … itu baru aku beli tadi." Nania menjawab.


"Apa tidak cukup? Bukankah tanaman di sini sudah banyak?" Dia menatap sekeliling rumah yang memang sengaja Nania isi setiap sudutnya dengan tanaman.


Pot-pot besar berisi tumbuhan khas pulau tropis, baik yang berbunga atau tidak berjajar di pinggir dan diletakkan di atas meja.Β 


Bahkan beberapa di antaranya menjadi pengisi pinggiran tangga menuju lantai atas.


"Biar lebih bagus."


Pria itu memutar bola mata.


"Coba, belikan pakaian gitu, atau tas atau yang lainnya? Malah tanaman."


"Yang kayak gitu nunggu dari Mama aja lah."


"Ck!" Dan Daryl berdecak.


"Eh karena tadi aku belanjanya banyak jadi dapat diskon lho?" Nania dengan bangganya.


"Sudah seharusnya." Mereka meneruskan menaiki tangga.


"Dapat bonus juga."


"Benarkah?"


"Uh'umm …."


"Bonus apa? Pupuk atau penyubur?" Daryl tertawa.


"Bukan."


"Terus apa?" Mereka sudah memasuki kamar.


"Kaktus."


Daryl berhenti di dekat tempat tidur lalu berbalik ketika perempuan itu berhenti di belakang.


"Kaktus?"


"Ya, kaktus." Lalu dia melesat ke dekat jendela dan mengambil sesuatu dari sana.


Yakni sebuah pot kecil berisi tanaman berduri yang sangat tidak disukai oleh Daryl.


Pria itu menghembuskan napas keras dan raut tak suka pada wajahnya.


"Padahal bunga itu banyak macamnya. Aku pikir kamu bisa memilih mawar, krissan, daisy, atau mungkin dahlia? Tapi kenapa selalu kaktus?"


"kenapa nggak? Orang aku sukanya kaktus." Nania menjawab.


"Tidak suka bunga lain?"


"Suka, tapi aku sukanya kaktus." ulang Nania.


"Tapi aku tidak suka, bukankah sudah ku katakan?" Daryl meninggikan suaranya.


"Emang ada masalah apa sih sama kaktus? Nggak suka ya nggak suka aja tapi nggak sampai segitunya. Heran deh? Cuma kaktus doang bisa bikin marah? Punya dosa apa kaktus sama kamu?"


"Tidak perlu ada alasan untuk segala sesuatu, aku hanya tidak suka saja!"


"Reaksi kamu ini berlebihan, bikin curiga!"


"Apa maksudmu?"


"Selain punya dyspraxia, apa kamu juga punya trauma?" Nania mendekatkan kaktus ke wajah Daryl, namun suaminya itu bergeming.


"Nggak ya? Terus apa dong?" Perempuan itu bergumam.


"Kamu pernah sakit kena durinya? Alergi atau apa?" tanya nya lagi.


Daryl menatap wajahnya.


"Nothing." Katanya, yang kemudian naik ke tempat tidur setelah melepaskan kausnya.


"Pikiranku jadi jelek deh kalau begini?" Nania mengikutinya, namun dia tak menyahut.Β 


Daryl malah berbaring membelakanginya tak seperti biasa.


"Daddy?"


"Aku tidak mau membahasnya."


"Tapi?"


"Tidurlah, besok aku harus pergi pagi." ucap pria itu yang menarik selimut hingga menutupi sampai ke pundak. Sementara Nania hanya tertegun di belakangnya.


πŸ’–


πŸ’–


πŸ’–


Bersambung ...


Nah lu ... Malah ngambek kan?πŸ™ˆπŸ™ˆ


Ayooo gimana nyembuhinnya? πŸ˜‚

__ADS_1


Like komen hadiah dulu lah gaess😘😘


__ADS_2