
💖
💖
"Kamu bersenang-senang hari ini?" Daryl membiarkan Nania mengeringkan rambutnya sementara dia duduk di tepi ranjang.
"Lumayan."
"Pergi ke mana saja?"
"Setelah ke toko kain Mama ngajak aku ke pantai."
"Pantai mana?"
"Ke resort yang itu, kan tadi udah aku kasih tahu?" Nania kemudian menyisir rambutnya.
"Hmm …." Daryl tersenyum.
"Nggak percayaan banget sih jadi suami? Padahal aku perginya juga sama Mama kamu lho, bukan sendiri apalagi sama orang lain?" Nania turun dari tempat tidur kemudian menyampirkan handuk di gantungan.
"Kan aku cuma tanya, kenapa kamu jawabnya begitu?" Dia tertawa sambil menyugar rambutnya sehingga menjadi sedikit berantakan.
"Ya kamu kayak yang nggak percaya aja sama aku gitu?" Lalu Nania kembali ke sisinya.
"Ish! Udah disisir juga, kenapa diberantakin lagi?" protesnya yang melihat rambut suaminya.
"Terlalu rapi."
"Ya bagus kan, jadi kelihatan bener udah mandinya." Kemudian dia kembali merapikan ketika di saat yang bersamaan Daryl menariknya hingga dia terjatuh di pangkuan.
"Kamu mengatakan kepadaku untuk tidak marah-marah tapi kamu sendiri yang begitu?" katanya, dan Daryl memeluknya dengan erat.
"Aku nggak marah, cuma kesel aja. Habisnya kamu gitu."
Daryl tersenyum.
"Senyum kamu nyebelin!"
"Nyebelin-nyebelin begini juga suami kamu." Daryl menelusuri punggungnya.
"Iya, untung sayang. Kalau nggak akunya udah kabur kali. Dulu hidup sama keluarga bikin aku tertekan, eh sekarang punya suami curigaan." Nania berujar.
"What?"
"Bisa nggak sih kamu tuh jangan gini-gini amat?" Nania memeluknya dengan erat. "Akutuh nggak punya siapa-siapa lagi selain kamu. Selain di rumah ini aku bisa ke mana lagi coba?"
Daryl terdiam.
"Mana tadi aku udah bohongin Mama lagi." katanya kemudian.
"Bohong soal apa?" Daryl sedikit memundurkan kepalanya.
"Soal tali sepatu."
"Hubungannya dengan Mama?" Pria itu sedikit menjengit.
"Mama tanya kenapa aku sering ikatin tali sepatu kamu? Mama ngiranya kamu nggak memperlakukan aku dengan baik. Apalagi kamu sering teriak-teriak dan bentak aku."
"Terus kamu jawab apa?"
"Aku bilang itu bentuk kewajiban aku sebagai istri."
"Kamu nggak ada niatan gitu bilang soal dyspraxia ini sama Mama?" Nania menyusupkan jari-jarinya ke sela rambut pria itu.
"Tidak, untuk apa?" Daryl menggendikkan bahu.
"Ya biar Mama tahu kesulitan kamu."
"Aku tidak sedang kesulitan. Aku baik-baik saja selama ini, lalu apa masalahnya?"
"Kalau orang lihat kamu nggak bisa ngikat tali sepatu kan mereka jadi bertanya-tanya."
"Sebelum ini tidak ada yang pernah melihat, Darren selalu mengurusku dengan baik."
"Kalau gitu aku nggak bisa ngurus kamu dong?"
"Bukan begitu maksudnya."
"Terus apa sih salahnya sampai kamu nggak mau orang-orang tahu soal ini? Dyspraxia kan bukan aib. Itu kayak orang disleksia atau orang kidal dan semacamnya. Nggak memalukan."
"Menurutmu begitu?"
Nania menganggukkan kepala.
"Kamu tidak malu memiliki suami seperti aku?"
"Nggak, kenapa harus malu? Kamu juga nggak malu punya istri kayak aku."
"Apa hubungannya? Jangan membandingkan soal status dan gelar, hal itu tidak berlaku untukku."
"Tapi konsepnya sama. Dan itu sebabnya aku mau sekolah lagi. Biar kita nggak terlalu jauh bedanya."
"Lalu setelah aku memberi tahu orang-orang, kira-kira apa yang selanjutnya akan mereka lakukan? Paling hanya bisa bersedih dan mengasihaniku. Sikap semua orang akan berubah karena mereka akan menyesuaikan beberapa hal dalam memperlakukanku."
Nania mengerutkan dahi.
"Lalu mereka akan berlomba-lomba mencari ahli yang akan membantuku terapi agar aku bisa normal."
"Apa itu buruk?"
"Tidak, tapi itu akan membuatku merasa lemah."
"Nggak ada istilahnya lemah ketika orang menolong kita. Mereka menolong karena kita perlu ditolong. Dan apa yang kamu alami memang butuh penanganan khusus."
Kini Daryl yang terdiam.
"Kita bilang Mama ya, biar nggak salah faham. Kan kasihan pikirannya jadi jelek sama kamu. Ngiranya kamu menindas aku. Padahal kalau misalnya kamu nggak punya masalah dyspraxia pun dan aku tetap bantu pasang kancing sama ikat tali sepatu, itu memang yang lumrah dilakukan istri ke suami kan?"
Pria itu menatap wajahnya lekat-lekat.
"Ya, se nggaknya kita bilang Mama. Kalau yang lain nggak usah." bujuk Nania kepada suaminya.
"Kamu mengatakan sesuatu kepada Mama itu berarti memberi tahu semua orang. Karena Mama jelas akan segera mencari bantuan untuk menangani aku. Nanti papi tahu, Om Arfan dan Kak Dygta tahu, kak Dim dan Rania juga tahu. Akhirnya semua orang tetap tahu kan?"
"Ya nggak ada salahnya, kan masih keluarga sendiri?"
"Mama akan sedih punya anak bodoh seperti aku." ucap Daryl yang membuat Nania merasa tenggorokkannya seperti tercekat.
"Kamu nggak bodoh, astaga! Banyak hal yang udah kamu lakukan. Sekolah tinggi sampai punya gelar S2, taekwondo, dan kamu bisa menerbangkan heli kopter. Belum lagi yang lainnya. Ini hanya hal kecil."
"Right, itulah maksudku. Dyspraxia hanyalah hal kecil, jadi kenapa harus dibesar-besarkan? Dan tidak perlu juga semua orang harus tahu."
"Maksud aku …."
"Stop, i don't wanna talk about it! Nanti kita malah bertengkar, dan perasaanku tidak akan enak selama berhari-hari. You are the only person than could make me feel better even in my worst time!( kamu satu-satunya orang yang bisa membuatku merasa lebih baik bahkan di saat-saat terburuk.)"
__ADS_1
Nania menarik dan menghembuskan napasnya pelan-pelan.
"So please jangan bahas ini lagi, Mayshka! Aku malas menjawab pertanyaan semua orang." Daryl merapatkan wajahnya di dada perempuan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hari ini nggak joging?" Nania turun lebih dulu pada pagi harinya.
Menemukan ayah mertuanya yang tengah berkumpul dengan ke empat cucunya di teras belakang.
"Nggak, opa mau santai-santai." jawab Asha yang duduk di samping pria itu dengan buku yang mereka baca.
"Oma ke mana?"
"Oma lagi sibuk sama kain dan gambarnya di rumah bermain."
"Oh … pantes." Nania mengangguk-anggukkan kepala. "Eh, berasa sepi ya nggak ada Anya sama Zen? Katanya mereka ke Bandung ya?" Perempuan itu ikut duduk di dekat mereka.
"Iya, Anya lagi mudik." Asha menjawab lagi.
"Tenang, telinga aku rasanya damai." sahut Arkhan yang hari itu berada di sana seperti adik-adiknya.
"Dih, seru tahu kalau ada Anya. Rumah kan jadi rame?"
"Sesekali sepi kan bagus juga, Tante." ucap Arkhan lagi. "Duh, berasa aneh aku sebut tante." katanya kemudian.
"Memangnya kenapa? Aku kan istri Om kamu tahu?"
"Aku berasa ketemu kakak kelas kalau ketemu kamu, eh Tante." Remaja tampan itu tertawa.
"Emangnya kamu kelas berapa?"
"Kelas sebelas."
"Huh, baru kelas sebelas. Aku kan udah 20 tahun. Ya jelas jauh beda sama kakak kelas kamu."
"Kelihatannya sama aja. Om Der kayak nikah sama anak SMA. Hahaha." jawab anak itu lagi.
"Memangnya kenapa kalau anak SMA? Sudah dewasa ini?" Pria itu tiba-tiba saja muncul dari dalam rumah. Membuat semua orang seketika saja terdiam.
"Ee … nggak apa-apa, tapi bikin aku kayak ketemu kakak kelas kan." Arkhan menjawab.
"Sembarangan kamu!" Daryl menepuk belakang kepala keponakannya yang satu itu.
"Om ih! Aku bilangin papa lho!" protes Arkhan sambil mengusap-usap bekas tepukan pamannya.
"Bilang sana, dasar anak papa!" Pria itu pun berlalu.
"Der?" Satria menyela percakapan tersebut, dan sang putra hanya memutar bola matanya.
"Malyshka, ayo kita joging?" ajak Daryl kepada Nania.
"Joging?"
"Iya, dari pada kamu berkumpul dengan anak-anak nanti malah membuatmu seperti mereka." Pria itu sudah siap di ujung teras.
"Dih? Padahal yang dia nikahin juga anak-anak?" Arkhan bergumam.
"Tunggu aku ganti baju sama pakai sepatu ya?" Nania pun bangkit lalu berlari ke kamarnya.
***
"Pantesan cepet, kamu pakai sepatu itu ya?" Mereka berjalan santai menyusuri jalan di sepanjang halaman belakang. Semacam track lari yang mengelilingi tempat itu hingga ke hutan buatan di ujung sana.
"Hu'um." Nania mengangguk sambil tersenyum.Â
"So come on, kejar aku!" Pria itu mulai berlari mendahului Nania.
"Eh, kamu curang!!" Lalu dia mengejarnya.
"Tunggu!! Kaki aku kan kecil jadi susah ngejar kamu!!" Nania berteriak setelah beberapa saat.
"Makanya hadir waktu Tuhan membagikan kaki, jadinya begini kan?" ejek pria itu.
"Ish, sembarangan!!" Nania menambah kecepatan larinya.
Daryl tertawa, lalu dia kembali berlari.
"Tunggu, kaki aku sakit!!" Kemudian perempuan itu berhenti.
"Hey, cepat Malyshka!!"
"Kaki aku sakit!!"
Akhirnya Daryl berhenti. Dia menunggu hingga Nania berhasil mencapainya dengan langkah lunglai.
"Sakit sama capek." Nania merengek.
"Baru lari segini kamu sudah kelelahan? Makanya, olah raga!" ujar pria itu.
"Setiap malam juga olah raga, ini karena datang bulan aja jadinya nggak." Dia menjawab asal.
"Sudah bisa menjawab?"
"Kan kamu yang ajarin?"Â
"Kapan aku mengajarimu bicara begitu?"
Nania hanya tertawa lalu memegang tangannya ketika mereka sudah berdekatan.
"Lari lagi?" Pria itu hampir saja menggerakkan kaki ketika Nania menahannya.
"Gendong." ucapnya.
"Apa?"
"Gendong, kaki aku kan sakit." Nania setengah merengek.
"Jalan sendiri lah. Hutannya sudah dekat." Daryl menunjuk hutan kecil di depan sana.
"Tapi kaki aku sakit, Daddy. Gendong!" Nania mengulang kata-katanya.
"Daddy!!" katanya lagi, dengan suara menggoda.
"Hadeh …." Daryl memutar bola mata, namun akhirnya dia menyerah juga.
Nania tertawa kegirangan ketika pria itu membungkuk dan membiarkannya naik di punggung.
"Aku rasa Arkhan benar kalau sebenarnya aku menikahi anak-anak?" gumamnya dan dia mulai melangkah.
"Mungkin. Tapi gini-gini juga aku udah bisa bikin anak lho."
"Tidak, kamu salah."
"Beneran. Cuma kalau sekarang belum aja."
__ADS_1
"Ya salah lah. Yang bisa itu ya aku. Tanpa aku kamu nggak akan bisa bikin anak."
"Oh, maksudnya gitu. Hahaha."
"Aku rasa Mima harus lebih sering memberimu daging." Mereka hampir sampai.
"Emangnya kenapa? Orang masak daging juga sering kok?"
"Biar badanmu membesar."
"Ini juga udah besar. Nggak sadar ya dada aku sekarang lebih besar dari sebelumnya? ****** aku juga."
"Astaga!!"
"Kenapa?" Nania mendekatkan wajahnya sehingga napasnya berhembus menerpa telinga Daryl.
"Jangan bicarakan masalah itu sekarang ini."
"Emangnya kenapa?"
"Waktunya tidak tepat!"
"Dih, kamu baperan!!"
"Bukan soal baperan!"
"Emang iya kamu baperan, sama kayak Eragon."
Daryl mendengus keras.
"Ayo Pak, sedikit lagi sampai. Masa segini udah berat? Kan kamu bilang badan aku kecil?"
"Iya, cerewet!!"
Dan setelahnya mereka tiba juga di taman buatan yang dikelilingi oleh beberapa macam pohon. Sedangkan di tengahnya terdapat area berumput yang cukup luas yang sebagiannya ditanami bunga.
"Aku baru lho ke sini, padahal udah sebulan tinggal di sini kan?" Mereka duduk di tengah area.
"Ya kenapa? Makanya tidak perlu keluar. Cukup jalan-jalan di sini saja kan?"
"Hah, itu lagi. Kan nggak apa-apa sesekali keluar?"
"Iya iya, aku tahu. Jangan bahas itu lagi."
"Pantesan anak-anak betah di sini ya? Apalagi Anya?"
"Hmm … kami juga. Ini tempatku main bola dengan Darren kan dulu waktu kami masih kecil. Mama sampai sering marah-marah karena bunganya rusak." Pria itu tertawa.
"Tapi kalau cucunya yang merusak tidak bereaksi apa-apa. Paling hanya bilang tidak apa-apa, bunga bisa beli lagi." Daryl menirukan gaya ibunya berbicara.
Nania tertawa lagi.
"Iri Pak?" Lalu dia merangkul pundak suaminya. "Jangan heran, karena kebanyakan orang tua nggak bisa marah sama cucunya. Kayak nenek aku."
"Hmm … mereka lebih sayang cucu daripada anak."
"Nggak gitu lah."
"Serius. Lihat saja Papi yang selalu menuruti keinginan cucunya?"
"Ya apa lagi? Kan papi nggak ada kegiatan. Satu-satunya kegiatan ya nyenengin cucunya. Mungkin ke anak kita juga nanti gitu?"
"Hehe."
"Kenapa ketawa?"
"Senang juga kalau memang begitu."
"Ya pasti gitu, masa nggak?"
"Hmm …."Daryl mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ayo kita pindah?" katanya kemudian.
"Pindah?"
"Ya. Untuk memulai keluarga sendiri." Pria itu menoleh dan menatap wajahnya lekat-lekat.
Nania balik menatap dengan pikirannya yang mengingat banyak hal.
"Tinggal di rumah sendiri, mengurus hidup kita sendiri. Semuanya kita yang menentukan. Apa lagi?"
"Aku nggak ada pilihan lain ya?" Nania kemudian bertanya.
"Pilihan apa? Bukankah kamu bilang di mana pun tinggal sama saja asalkan kita tetap bersama?"
"Ya, memang."
"Lalu apa lagi yang kamu pikirkan?"
Nania terdiam sebentar. Dan dia menatap sekeliling area itu.
"Kamu mau kita tinggal terpisah dari Mama sama Papi?" Lalu sebuah ide muncul di kepalanyaÂ
"Tapi aku betah di sini lho."
Daryl mengerutkan dahi.
"Gimana kalau kita tinggalnya di sini aja."
"Kita tetap di rumah besar?"
"Nggak. Di sini."
Pria itu belum mengerti maksudnya.
"Ayo bikin rumah di sini?" ucap Nania yang kemudian bangkit.
"Aku betah tinggal sama Mama, kayak aku punya keluarga yang aku impikan sejak dulu. Jadi kenapa harus pindah kalau di sini kita bisa membangun keluarga sendiri?"
"Kamu serius?"
"Iya. Ayo kita bikin rumahnya di sini? Kan sama-sama terpisah. Tapi aku masih bisa deketan sama Mama?" Nania dengan semangatnya, sementara Daryl terdiam memperhitungkan banyak hal.
💖
💖
💖
Bersambung ...
Kuy Pak, bikin rumahnya😂😂
Ayooo yang udah ada votenya bisa dikirim dari sekarang, biar besok udah nangkring di puncak. Ini dua ribu kata lho.
__ADS_1