
💖
💖
Nania masuk ke ruang ganti untuk mencari keberadaan suaminya yang ternyata tengah berpakaian. Pagi ini Daryl memilih dan mengenakan pakaiannya sendiri, padahal biasanya dia selalu menunggunya untuk diambilkan.
"Kirain masih di kamar mandi?" Perempuan itu masuk dan mendekat.
"Hmm … aku rasa harus membiasakan diri mulai sekarang kan?" Sementara Daryl mengenakan kemejanya.
"Mau pakai yang lain nggak? Aku cari yang nggak ada kancingnya?" tawarnya kemudian.
"Tidak usah, Nna. Aku sudah memilih yang ini." Dia berdiam diri sebentar menatap cermin.
"Udah nggak susah emang?" Nania lebih mendekat dan dia berjinjit agar dapat melihat cermin dari balik bahu lebar suaminya.
"Susah sih, tapi … harus aku coba kan?" Dan Daryl mencoba mengancingkan kemejanya meski lambat dan dengan tangan gemetar. Hal ini masih saja membuatnya mengalami kesulitan.
Tapi semua proses harus dijalani agar bisa mengatasinya dengan baik, bukan?
"Bisa?" Nania berpegangan pada pinggang Daryl dan menempelkan dagu di pundaknya.Â
Dia menatap pria itu yang sedang berusaha menautkan kancing, dan setelah beberapa saat dia berhasil.
"Yes!!" gumamnya, yang merasa telah memenangkan sesuatu.
"Ih, bisa?!!" Membuat Nania bereaksi setelahnya.
"See?"
"Hu'um. Terusin, Daddy!" Perempuan itu lantas menepuk pantat suaminya beberapa kali.
"Hey!! Kenapa kamu lakukan itu?!!" Daryl memprotes hal tersebut.
"Apa? Ini?" Lalu Nania mengulanginya dan kini menepuknya lebih keras seperti yang biasa pria itu lakukan kepadanya.
"Aww!!" Namun dia meringis ketika telapak tangannya terasa sakit.
"Stop it!!" ujar pria itu yang memutar tubuh.
"Kenapa pantat kamu sekeras itu? Tangan aku sampai sakit!!" Dan Nania mengibas-ngibaskan tangannya.
"Yang lain lebih keras kamu tidak mengeluh? Malah meminta aku melakukannya lagi?" Dia kembali menghadap cermin untuk menyelesaikan kegiatan berpakaiannya yang memang pasti akan berlangsung lama.
"Umm … masa?" Lalu Nania kembali menepuk-nepuk lagi bokong dibalik boxer hitam itu. Namun kali ini lebih pelan.
"Malyshka!!!" protes Daryl lagi, dan dia tampak kesal.
"Huh, curang. Sama aku tiap hari malah lebih dari ini? Giliran aku yang begitu nggak boleh?" Kemudian Nania mengambil seragam miliknya sendiri dan mengenakannya di belakang Daryl.
Dan pria itu hanya tertawa.
"Ayo Daddy, lebih cepat pakai bajunya." Sekejap saja dia sudah rapi lalu kembali ke dekat suaminya yang masih berjuang dengan kancing kemejanya sendiri.
"Mau aku bantu nggak?" Dan Nania menempelkan tubuhnya pada punggung Daryl dengan kedua tangan kecilnya yang menyelinap ke depan sehingga dia menyentuh kedua sisi kemeja yang tengah pria itu tautkan.
"Tidak usah, kan aku sedang berusaha. Kamu cepat pakai seragammu saja lah!" jawab Daryl yang berusaha menjauhkan diri.
"Aku udah selesai." Nania masih berusaha membantunyaÂ
"Masa? Kok cepat sekali?"
"Iyalah, i'm the expert." ujar perempuan itu, yang menempelkan wajahnya di punghung Daryl.
"Malyshka!!"
"Eh lupa, kan kamu lagi belajar ya? Jadi nggak boleh dibantu?" Nania terkekeh, dan dia hampir saja melepaskan tangannya.Â
Namun dia menyeringai saat sebuah ide muncul di otaknya.
__ADS_1
"Daddy?" panggilnya kemudian.
"Ya?"
"Kamu kalau megang dada aku rasanya gimana?" Pertanyaan konyol itu meluncur dari mulutnya.
"Kenapa kamu tanya soal itu?" Daryl balik bertanya.
"Mau tahu aja soalnya kamu seneng banget megang-megang dada aku."
"Hehe …." Pria itu hanya tertawa.
"Rasanya gimana?" ulang Nania.
"Kamu sendiri rasanya bagaimana waktu aku sentuh?"
"Eh, malah nanya balik? Kan kamu yang suka megang-megang?"
"It feels good." jawab Daryl kemudian. "Mau aku pegang lagi?" Dan dia hampir saja berbalik ketika Nania malah menahannya.
"Nggak, aku yang mau." Dan perempuan itu menggelengkan kepala sambil mengeratkan pelukan.
"What?"
Nania hanya tertawa kemudian dia meremat dada suaminya dengan keras.
"Malyshka!" Membuat pria itu bereaksi karena terkejut.
"Gimana rasanya? Kan kamu juga suka begini sama aku?" Perempuan itu meneruskan kejahilannya.
"Stop it! Kamu mau membangunkan Eragon ya?!" Dan Daryl segera berusaha menghentikannya.
Perempuan itu tertawa.
"Eragon nggak usah digoda juga tetep aja bangun." Lalu akhirnya Nania melepaskan tangannya.
Dan perempuan itu kembali menepuk pantat suaminya sebelum akhirnya dia berlari keluar untuk menghindar.
"Oh iya, apa aku sudah mengatakan jika besok harus pergi ke Malang?" Daryl menghentikan mobilnya di depan gedung sekolah.
"Belum, mau ngapain?" Dan Nania hampir saja turun begitu pria itu membukakan pintu.
"Ada konferensi."
"Konferensi apa?"
"Konferensi pengusaha. Dan aku harus mewakili Fia's Secret bersama Darren yang akan menjadi wakil Nikolai Grup."
"Kenapa ke Malang? Jauh amat?"
"Memang di sana diadakannya."
"Kenapa nggak di Jakarta?"
"Mungkin untuk mendapatkan suasana lain?"
"Suasana apa?" Nania memicingkan mata.
"Suasana kerja."
"Dari mana aja yang datang?"
"Seluruh Asia."
"Banyak amat?"
"Ya makanya. Apalagi kalau nanti, bisa-bisa di luar negri."
"Emang suka ada acara gitu ya?"
__ADS_1
"Iya."
"Dan Nikolai Grup selalu ikut?"
"Hampir setiap tahun."
"Untuk apa?"
"Mencari relasi baru dan mendapatkan peluang usaha lebih banyak."
"Nikolai Grup kan perusahaan besar, kenapa masih ikut acara kayak gitu? Relasinya pasti udah banyak banget?"
"Hal besar kan dimulainya dari yang kecil. Dan menambah relasi adalah salah satu cara untuk mempertahankan bisnis agar bisa bertahan dengan lebih lama. Dari sana kita juga akan mendapatkan banyak keuntungan yang lebih besar. Jadi memang penting untuk di hadiri."
"Gitu ya?"
"Iya."
"Oke deh." Perempuan itu hempir pergu meninggalkannya.
"Hey!! Kamu melupakan sesuatu!"
"Apaan? Tumbler udah, makanan juga udah di tas." Lalu Nania kembali.
"You don't wanna hug me?"
"Oh, iya lupa." Kemudian Nania menghambur ke pelukannya.
"Mau aku bekali berapa hari ini?" Untuk beberapa saat mereka saling berpelukan di depan bangunan.Â
"Nggak usah, aku kan punya uang." Nania membiarkan saja pria itu untuk tetap mendekapnya dengan erat meski pandangan beberapa orang tertuju kepada mereka.
"What? Biasanya kamu minta bekal?" Membuat Daryl melepaskan rangkulannya lalu menatap wajah perempuan itu.
"Kan udah dari yang kamu transfer itu?"
"No. Itu uang bulanan. Ini bekal." Pria itu mengeluarkan dompet dari saku jas bagian dalamnya, lalu menarik beberapa lembar uang seratus ribuan yang kemudian dia jejalkan ke tangan Nania.
"Bedanya apa?" Dan perempuan itu menggumam.
"Tidak ada bedanya. Hanya saja aku sudah terbiasa kemu mintai uang sebelum sekolah, jadi seperti ada yang kurang jika tidak melakukannya."
"Hmm … ya udah kalau kamu maksa." Lalu dia memasukkan lembaran uang tersebut ke saku kemejanya.
"Baik-baik ya, Baby? Jangan berbuat yang aneh-aneh karena nanti aku akan khawatir?" Daryl mengecup pelipis perempuan itu seperti biasa.
"Hmm …."
"Dan jaga anakku juga." Terakhir dia mengusap-usap perut Nania yang mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Oke, dan siang nanti Regan yang menjemputmu karena ada banyak yang harus aku kerjakan. Tidak apa-apa?" Lalu Daryl melepaskannya.
"Nggak apa-apa, kan udah biasa?"
"Right, hehehe …." Pria itu tertawa.
"Aku masuk ya? Sana pergi." ucap Nania yang bersiap untuk memasuki gedung sekolah.
"Aku pergi setelah kamu masuk." Daryl yang mendorong perempuan itu perlahan.
"Ya udah." Dan Nania segera menurut.
💖
💖
💖
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa mampir di novel-novel aku yang lainnya ya bestie😘😘