The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Wangi Bayi


__ADS_3

💖


💖


Nania mengusak rambut di kepala Daryl setelah membubuhkan shampo bayi milik Zenya, kemudian dia menyabuni seluruh tubuh pria itu dengan sabun milik anak-anak sehingga tak ada satupun yang terlewat kecuali ar*a prib*dinya, di mana senjata milik pria itu yang sudah menegang. Dan dia membiarkan Daryl yang melakukannya meski suaminya tersebut berusaha untuk membuat dirinya menyentuh benda itu.


Mereka berdua berada di dalam bak mandi tanpa air dengan Nania yang menduduki pahanya.


"Kan udah aku bilang cuma mandi doang!" Perempuan itu menepuk kedua tangan Daryl yang juga merayapi tubuh basahnya yang masih berbalut piyama.


"Mau lebih juga tidak apa-apa." Sedangkan dia hanya tertawa.


"Udah pagi, mana banyak orang lagi. Mungkin mereka lagi nunggu kita untuk makan sama-sama?"


"Hmm …." Daryl mengerucutkan mulutnya.


Namun hal tersebut membuat Nania mengecupnya sekilas yang membuat pria itu terdiam.


"Jangan gitu, kamu jadi jelek." katanya, yang meraih shower di belakang suaminya, kemudian menyalakan airnya untuk membersihkan busa dari kepala hingga kakinya.


"Kamu benar-benar tidak mual?" Daryl bertanya.


"Nggak."


"Pusing?"


"Sedikit kalau lagi nggak ada kegiaan doang."


"Kenapa bisa begitu?"


"Nggak tahu, mungkin kalau ada kegiatan bikin lupa."


"Maksudku …." Daryl mengusap air di wajah. "Kenapa kamu tidak merasa mual ketika mencium bau sabun bayi dan perlengkapan punya anak-anak?" Dia bertanya lagi.


"Nggak tahu. Mungkin karena itu khusus bayi?"


"Hmm … bisa begitu ya, aneh sekali?"


Nania terkekeh.


Lalu Daryl memeluk pinggangnya sehingga tubuh mereka saling menempel satu sama lain.


"I miss you." katanya, kemudian dia meraih bibir perempuan itu yang tampak menggiurkan. Sementara tangannya sudah menyelinap di balik pakaian Nania yang basah.


"Mandi aja, Dadd … kan di rumah Mama ada … ahh …." Nania mendes*h dengan mulutnya yang terbuka dan kedua matanya mengerjap-ngerjap perlahan ketika jari-jari pria itu sudah menyentuh pusat tubuhnya.


"Mmm …." Dia mengatupkan bibirnya rapat-rapat saat Daryl berhasil menerobos masuk dan mempermainkan dirinya.


"Hmm … Daddy!!" des*hnya, seiring hasratnya yang mulai meningkat sementara Daryl menyeringai. Dia merasa senang karena berhasil menggoda perempuan itu.


"Ini … mandinya … belum sele … aahhh …." Dia mendes*h lagi ketika Daryl semakin mempermainkan inti tubuhnya, dan tiba-tiba saja Nania menginginkan lebih.


"Mm … Daddy!!" Nania merasa kecewa ketika pria itu menghentikan permainan dan menarik tangannya.


"What?" Dan Daryl segera mendorongnya sehingga dia turun dan berpindah ke sisi lain bathtub. 


Lalu pria itu melucuti pakaian basahnya, dan membuat Nania berbalik sehingga dia membelakanginya, untuk kemudian diterjangnya perempuan itu.


"Jangan … aahh … keras-keras …." Nania meremat bokong Daryl yang mulai bergerak setelah milik mereka bertautan.


"What?" Pria itu mendekatkan wajahnya.


"Jangan keras-keras, ingat babynya." Nania berusaha mengingatkan.


"As you wish, Ma'am." Daryl berbisik kemudian menggigit pelan ujung telinga Nania sehingga tubuh perempuan itu menegang.


"Hmm …." Nania menahan des*han saat suaminya bergerak di belakang dan dia berpegangan pada pinggiran bathtub untuk menahan hentakan yang tidak terlalu cepat itu.


Daryl bahkan bergerak dengan perlahan dan dia berusaha melakukannya selembut mungkin untuk menjaga calon bayi mereka yang baru saja diketahui keberadaannya.


"Mmhh … Daddy." Namun Nania mulai merengek. Hasratnya semakin meningkat dan dia mulai merasa frustasi.


"Too hard?" Pria itu bertanya, namun Nania tak sempat menjawab.


Dia sedang mencoba mempertahankan kesadarannya yang mulai memudar ketika gairah di dalam tubuhnya terus berkobar. Hal ini menjadi semakin menyenangkan saja dan dia hampir tak mampu menahannya.


"Ohh … Daddy!!" des*hnya lagi ketika Daryl kembali menyentuh tubuhnya.


Tak ada yang luput dari tangan pria itu dan hal tersebut membuat hasratnya semakin tersulut. Apalagi ketika dia meremat dadanya dan mempermainkan puncaknya, sementara bagian bawah tubuhnya menghentak pelan.


Nania mendes*ah lagi. Kali ini tangannya menggapai pinggul Daryl dan merematnya sambil mendorong agar pria itu menambah tempo hentakannya.


"Daddy …." Dia terus meracau dengan napasnya yang menderu-deru.


Hasrat sudah di ujung namun pria di belakang sepertinya sangat menikmati hal ini. Ketika dirinya merasa frustasi dan menginginkan hal lebih yang terjadi, namun Daryl malah tetap melambatkan gerakannya.


"Uuhhh … Daddy, lebih cepat!!" pintanya yang terdengar merengek, namun Daryl tampak tak mau mendengar.


Dan ya, dia sedang menikmati saat-saat ini. Ketika perempuan yang sedang digumulinya tampak frustasi, dan dia terlihat tidak sabar. Sementara benda di bawah terus berdenyut kencang, membuatnya merasakan kenikmatan yang tak dapat dijabarkan dengan kata-kata paling erotis sekalipun.


"Oohh … Daddy!!" Nania mengerang dan dia kembali meremat pinggul pria itu sebagai isyarat jika dirinya menginginkan hal lebih.


"Do you want more?" Daryl berbisik lagi, sementara tangannya tidak pernah tinggal diam.


"Hmm …." Nania menganggukkan kepala.


"Say it!" bisiknya lagi.


"I-iya." Nania dengan napas yang menderu-deru.


"Say it!" Daryl menggeram dan bibirnya masih menempel di telinga perempuan itu.


"Yes. I want more, Daddy!" ucap Nania yang napasnya menjadi semakin cepat ketika pelepasan hampir tiba.


Lalu Daryl segera mempercepat hentakannya seperti yang perempuan itu inginkan. Dan dalam waktu yang tidak terlalu lama dia pun merasakan hal yang sama.


Segalanya berkumpul di titik utama dan berputar seiring semakin menggeloranya hasrat pada dua tubuh telanjang itu. Dan membuat mereka merasakan hal luar biasa lainnya ketika ledakan klim*ks menghantam secara bersamaan.


"Arrgghhh, Baby!!" Dayl menghujam keras ketika semburan dari dalam tubuhnya terjadi, dan kedua tangannya memeluk erat Nania yang mengalami hal sama seperti dirinya. Dengan kedutan keras yang intens di bawah dan kemudian berangsur melemah setelah beberapa saat.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ada yang sakit?" Daryl membiarkannya meringkuk di tempat tidur dengan hanya menggunakan bathrobe setelah pergumulan singkat mereka.


"Nggak." 


"Sungguh?" Pria itu memastikan keadaan.


"Hu'um." Nania menganggukan kepala.


"Baiklah." Pria itu melepaskan handuk dari pinggangnya, kemudian mengenakan boxer yang sudah tersedia di ujung ranjang sambil menghadap ke arah lain sehingga dia membelakangi Nania.


Dia lantas mengenakan jogger pants lalu meraih deodorant di meja rias untuk digunakannya juga seperti biasa.


Beberapa saat kemudian Nania bangkit lalu menghampirinya, dan segera memeluknya dari belakang. Dia menempelkan wajahnya pada punggung kokoh pria itu dan menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang terasa menyenangkan.


Perpaduan aroma sabun dan shampo bayi yang tadi Daryl gunakan dan membuatnya merasa sangat nyaman.


"Aku sudah tidak bau lagi ya?" Pria itu menjeda kegiatannya.


"Hu'um … sedikit." jawab Nania.


"Masih ada baunya? Kan aku sudah menggunakan sabun dan shamponya Anya?"


"Tapi ketek kamu masih pakai deo …." Nania mulai merasa sedikit mual karena mencium aroma maskulin dari deodoran yang suaminya pakai.


"Ahh … kalau yang satu itu aku tidak bisa tidak memakainya."


"Nanti ketek kamu jadi bau ya?" Perempuan itu tertawa.


"Ya, mungkin. Lagipula aku sudah terbiasa memakainya jadi terasa ada yang aneh kalau tidak. Seperti halnya body cream dan parfum itu, tapi masih bisa aku  tinggalkan lah jika di rumah."


Nania tampak menganggukkan kepala.


"Sudah aku turuti kemauanmu, dan kamu baik-baik saja. Berarti hanya perlu mengganti sabun dan shampo saja ya?" Daryl sedikit menoleh.


"Umm … kalau pakai yang lainnya mau nggak?" Lagi-lagi satu ide muncul dalam kotak imajinasi di dalam otaknya, dan Nania membayangkan jika hal itu akan lebih menyenangkan lagi. 


"Yang lainnya apa?" Daryl bertanya.


Kemudian Nania melepaskan lilitan tangannya, dan menarik pria itu ke tempat tidur.


"Hey, jangan bilang kalau kamu mau lagi melakukannya ya? Ingat ada bayi kita yang masih sangat muda di dalam sana?" Daryl memgarahkan pandangannya pada perut perempuan itu.


"Dasar mes*m!" Nania bergumam sambil mendorongnya hingga Daryl jatuh terduduk di pinggiran tempat tidur.


"Lalu?" 


"Biar kamu makin wangi dan bau deodorannya hilang, pakai ini gimana?" Dia menarik sesuatu dari pouch milik Anya dan Zenya.


"Apa itu?" Daryl menatap botol berwarna oranye dengan gambar perempuan bersanggul.


"Minyak telon." jawab Nania yang membuka tutup dari botol tersebut.


"Minyak telon?"


"Iya, minyak telon." Nania mengangguk lagi.


"Ya untuk kamu pakai lah."


"No way!! Itu untuk bayi!!" Namun Daryl menolak.


"Ya emang, kan biar wangi bayi?"


"Aku sudah memakai sabun dan shampo bayi, masa harus pakai minyak telon juga?"


"Iya. Tapi bukan cuma minyak telon sih."


"Lalu?"


Nania mengambil pouch lalu menunjukkan isinya kepada pria itu.


"Ada hair lotion, baby cream, baby lotion sama baby cologne?" Dia tersenyum lebar.


"Jangan katakan kalau aku harus memakai semuanya?" Kedua bola mata Daryl membulat sempurna.


"Daddy pinter banget deh, tahu aja yang lagi aku pikirin." Perempuan itu mendekat.


"What?" Dan jawabannya membuat Daryl setengah berteriak. "Tapi aku wangi bayi nantinya!!"


"Emang. Dan aku suka wangi bayi, kayak Anya sama Zenya. Mereka wangi banget." Nania menghirup ujung botol minyak telon yang membuatnya tampak gembira. "Ahh … wangi banget. Nggak bikin aku mual." katanya dengan suara riang.


"Astaga! Yang benar saja, Nna. Masa aku sudah gagah begini malah wangi bayi? Aku lebih baik tidak memakai apa-apa dari pada harus menggunakan semua perawatan bayi itu! Menggelikan!" Daryl tetap menolak.


"Kan biar kamu wangi, Dadd?"


"Apa kata orang-orang kalau mencium bauku?"


"Orang-orang yang mana? Kan cuma keluarga kamu?"


"Malyshka!!!"


"Kan cuma di rumah, Dadd. Kalau kamu kerja kan kita nggak ketemu seharian, jadi aku nggak akan mual biar kamu pakai parfum itu juga."


Daryl terdiam.


"Ayolah, Dadd. Kalau pakai ini, wangi kamu jadinya enak. Seger gitu, nggak kayak parfum kamu yang bikin aku jadi mual."


Daryl ingat bagaimana tersiksanya perempuan itu selama dua hari belakangan. Apalagi sejak dirinya diketahui sedang mengandung buah cinta mereka.


Bagaimana Nania tersiksa dan muntah-muntah setiap kali mencium aroma parfum yang meski menuritnya, wanginya enak.


"Itu parfum dari Paris. Khusus aku pesan agar sama seperti model-model internasional. Dan wanginya tidak sebau penciumanmu, tahu?" ujar Daryl.


"Jauh amat beli parfum aja dari Paris? Tukang parfum tapi pesen parfum punya orang? Aneh banget kamu ini?" Nania menjawab ucapan suaminya.


"Kami mengeluarkan produk parfumnya kan baru sekarang setelah aku masuk Fia's Secret. Dan tolong diingat ya, kalau aku ini bukan tukang parfum. Aku adalah pemimpin majalah fashion dan lifestyle yang mengeluarkan brand parfum." Pria itu menegaskan profesinya. Dia merasa tak terima karena Nania menyebutnya sebagai tukang parfum.


"Ya sama aja, intinya jualan parfum."

__ADS_1


"Beda, Malyshka!!"


"Menurut aku sama ah!"


"Ck!" Daryl berdecak kesal.


"Jadi, mau ya pakai ini? Kan biar wangi. Udah ganteng ditambah wangi, uuhh … makin sayang akunya." Lalu Nania segera menghambur memeluknya.


Daryl mendengus sambil memutar bola matanya. "Kamu merayu!!" katanya.


"Emang. Kan biar kamu mau aku dandanin." Nania tertawa.


"Jadi bayi." Daryl dengan nada kesal.


"Iya, kan bayi besarnya aku." Nania mendekap kepala pria itu di dadanya.


"Hah!! Terserah lah!" ucap Daryl yang terdengar frustasi.


"Mau?" Dan Nania pun bereaksi.


"Memangnya kalau aku menolak kamu tidak akan melakukannya?" Pria itu balik bertanya.


"Nggak, bakalan aku paksa."


"Tuh kan?"


"Ya, soalnya kamu juga suka maksa aku melakukan sesuatu. Jadi sekarang giliran aku dong." Nania tersenyum lebar.


"Ugghh! Kesal sekali aku rasanya. Untung sayang!" Namun Daryl mendelik.


"Ya harus sayang. Aku kan lagi mengandung anak kamu. Kalau nggak kan nggak gini juga? Dan ini karena siapa?" Nania sedikit membungkukkan tubuhnya, namun Daryl terdiam.


"Karena kamu kan?" Lalu dia kembali berdiri tegak dan segera mendekat, kemudian menuangkan minyak telon dari botol ke telapak tangannya dan membalurkannya ke tubuh Daryl.


Punggung, dada, leher dan sebagian tangannya Nania baluri dengan cairan beraroma khas bayi itu sehingga wangi yang kuat menguar di udara.  Sementara pria itu tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya diam dan membiarkan istrinya yang tengah mengandung itu berbuat semaunya.


"Hair lotion!!" Nania kini menuangkan cairan khusus untuk rambut yang juga memiliki wangi identik yang kemudian dia bubuhkan ke rambut suaminya. 


Dia mengusaknya sebentar kemudian  menyisirnya hingga rambut kecoklatan milik pria itu menjadi rapi.


Setelahnya Nania mengoleskan baby cream pada wajah, baby lotion pada tangan dan kaki, lalu terakhir menyemprotkan baby cologne pada leher dan belakang telinga, juga pakaian yang dikenakan oleh suaminya. 


"Nah, kamu sudah ganteng. Udah wangi lagi." Dia menghirup udara di sekitar Daryl dalam-dalam dan menemukan kebahagiaan di sana karena aroma suaminya yang sangat nyaman dan menenangkan. Lalu dia memeluknya sebentar.


"Tunggu aku juga mau pakai ya? Setelah itu pakai baju dan kita turun sama-sama, oke?" katanya yang melepaskan pelukan kemudian membawa pouch milik keponakan mereka ke dalam ruang ganti.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Orang-orang yang sudah berada di ruang makan serentak menoleh ketika pasangan yang sudah ditunggu sejak tadi itu akhirnya bergabung.


"Om Der sama Tante Nna lama! Bikin orang yang nunggu kelaparan." protes Asha menyambut dua orang itu yang segera duduk di kursi kosong dekat Darren dan Kirana.


"Iya maaf, tadi beresin dulu kamar." Nania menjawab.


"Kan ada Mbak Santi, kenapa nggak nyuruh aja?" ucap Asha lagi.


"Mbak Santi kan sibuk bantuin Mbak Mima sama Mbak Nur? Masa harus Tante repotin terus?"


"Ah, banyak alesan!" ucapan remaja itu membuat semua orang tertawa.


"Duh, wangi bayi nya kuat sekali ini." Kirana menghirup aroma segar yang menguar di sekitarnya.


"Anya sama Zenya pakai minyak telon kebanyakan ya? Wangi begini?" tanya perempuan itu.


"Nggak tahu, Tante Nna yang pake in." Anya menjawab.


"Iya nih, Anya sama Zen pakai telonnya banyak. Ruang makannya jadi wangiiiii banget." Anandita menambahi, sementara Daryl dan Nania saling lirik.


"Eh, aku menciumnya dari sini." Namun Darren mengendusi area di dekatnya, dan menemukan bahwa aroma kuat itu berasal dari samping, di mana Nania dan Daryl berada.


Pria itu menatap saudaranya yang kali ini duduk berdekatan dengan Nania. Padahal sejak kemarin mereka selalu berdebat soal bau parfumnya yang menyiksa sehingga membuat keduanya selalu berjauhan.


"Jangan dibahas." ucap Daryl yang memulai kegiatan makannya setelah Nania mengisi piringnya dengan makanan.


"What? Kau memakai produk perawatan bayi?" Saudara kembarnya itu hampir tertawa mengetahui hal tersebut.


"Shut up!!"


"Iya ih, wanginya bukan dari Anya sama Zen, tapi dari Om Der." Asha menimpali.


"Diam kamu! Cepat lanjutkan makannya!" Daryl menyahut.


"Om Der pakai minyak telon? Lagi berubah jadi bayi lagi? Aneh banget?" Anandita juga ikut berkomentar.


"Shut up! Ini gara-gara tante kalian!" Akhirnya pria itu menjawab.


"Kok Tante Nna?" Semua orang menatap ke arah Nania yang tersenyum.


"Sekarang wangi kan? Kayaknya semua skin care sama parfum harus diganti sama perawatan bayi deh. Soalnya nggak bikin aku mual lagi." Nania dengan suara riang gembira karena merasa dirinya baik-baik saja meski sedang berkumpul seperti ini.


Bau semua orang tersamarkan oleh aroma bayi yang menguar dari tubuh suaminya, dan itu rasanya menyenangkan.


"Apa?" Semua orang hampir serentak.


"Ehehe … suami aku wangiiiii." Dia merangkul pundak Daryl dengan wajah ceria dan binar penuh cinta.


"Duh?" Darren bereaksi.


"Om Der jadinya kayak bayi!" celetuk Anya yang membuat semua orang tertawa sambil bersamaan. Sementara orang yang dimaksud berusaha untuk tidak menggubrisnya sama sekali.


💖


💖


💖


Bersambung ....


kalau wanginya sampai begitu, curiga skin carenya Anya Zenya habis deh?😂

__ADS_1


Cuss like komen sama hadiahnya kirim.


Alopyu sekebon😘😘


__ADS_2