The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Gosip #2


__ADS_3

💖


💖


Beberapa hari kemudian ….


"Daddy, kenapa ini banyak celana baru?" Nania menarik beberapa helai celana dengan berbagai warna gelap dari rak pakaian Daryl.


"Benarkah? Sudah Mima bereskan ternyata?" 


"Memang kamu minta Mbak Mima beli?" Nania membantunya mengenakan kemeja seperti biasa.


"Aku yang beli."


"Kan yang ini juga banyak? Mana dipakainya jarang lagi? Setiap hari kan ganti?" Lalu Nania menyerahkan satu dari celana baru itu.


"Kok nggak ada resletingnya? Pengaitnya juga nggak ada?" Kemudian dia memeriksanya sebentar. Bagian pinggang pada celana itu bahkan bisa direnggangkan meski kelihatannya sama seperti model celana untuk stelan jas pada umumnya.


"Yeah, memang sengaja pesan yang seperti ini. Dan seharusnya dari dulu aku begitu."


"Kenapa?"


"Agar lebih memudahkanku." Dia lantas mengenakan celana tersebut dengan mudah dan kini tanpa bantuan Nania untuk menautkan pengaitnya.


Perempuan itu terdiam menatapnya.


"Tahu sendiri aku mengalami kesulitan dalam hal per kancingan atau kait mengaitkan." Daryl tertawa namun hal tersebut membuat hatinya terasa ngilu.


"Kan ada aku." Nania mendekat kemudian menautkan kancing pada kemejanya seperti yang selalu dia lakukan setiap hari.


"Kalau aku sedang di tempat lain bagaimana? Dan saat itu tidak ada kamu? Seperti bekerja misalnya?"


"Ya, terus selama ini kamu gimana? Kalau misal lagi kerja terus mau ke air? Apa bisa?"


"Itulah kenapa aku dan Darren tidak bisa berpisah. Kemana pun aku pergi dia selalu ikut karena dia yang merawatku. Dia melakukan semuanya untukku, dan dalam arti segala hal. Termasuk untuk urusan pribadi di toilet." Daryl tertawa lagi mengingat selama kurang lebih tiga belas tahun hidup dalam pengawasan saudara kembarnya.


Darren yang tak hanya membantunya ketika berpakaian, namun dalam keadaan darurat pun sang adik tidak pernah absen untuk melakukan apa yang diperlukan. Sehingga itu menyebabkan mereka tak terpisahkan antara satu sama lainnya.


"Tapi beberapa bulan ini kamu kan kerja di Fia's Secret. Terus …."


"It's hard. Aku berusaha melakukannya sendiri dengan caraku."


"Gimana?" Nania menatap curiga.


"Ya aku tarik celananya sampai lepas lah, kamu pikir bagaimana? Aku suruh Dinna yang membukanya? Yang benar saja!"


"Serius?"


"Ya."


"Pas udah selesai ditarik lagi gitu ke atas?"


Daryl menganggukkan kepala.


"Emang bisa?"


"Bisa, kan aku paksa. Hahaha."


"Ih, dasar tukang maksa! Apa-apa dipaksa?"


"Dari pada aku menyuruh Dinna yang melakukannya?" Dia tertawa lagi.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Aku tidak turun ya? Tim sudah menunggu di kantor." Mereka tiba di depan bangunan sekolah.


"Hari ini sepertinya aku akan sangat sibuk. Hasil penyelidikan sudah didapatkan dan aku akan mengurus semuanya dulu." 


"Oh ya? Cepet juga?"


"Ini terbilang lambat. Seharusnya dalam dua puluh empat jam saja sudah dapat disimpulkan. Tapi untuk mendapatkan fakta yang akurat jadinya membutuhkan waktu sampai empat hari. Agar yakin dan tidak salah target."


"Kayak detektif ya?"


"Hmm …."


"Oke kalau gitu, aku turun?" Nania meraih tumbler kemudian mendorong pintu yang kuncinya sudah terbuka secara otomatis.


"Ya, hati-hati. Aku mungkin tidak akan bisa mengangkat telfon atau membalas pesanmu."


"Saking sibuknya ya?"


"Ya."


"Nggak apa-apa."


"Tapi Regan tetap akan menjemputmu."


"Iya aku tahu." Perempuan itu hampir saja turun.


"Wait!!" Namun Daryl meraih tangannya.


"Apa lagi?"


"Kamu selalu lupa untuk menciumku?" Daryl dengan cengiran khasnya.


"Masih di dalam mobil."


"Katanya kamu buru-buru?"


"Cuma lima detik?"


Nania mencebikkan mulutnya.


"Come on!!"


"Tapi …."


"Just once!"


"Hmm …." Namun Nania melakukan apa yang diminta. Dia mencium sudut bibir pria itu kemudian mereka berpelukan sejenak.


"Daddy udah, aku harus masuk." Nania mendorongnya menjauh, dan Daryl hanya tertawa.


"Baiklah sayang, sana belajar agar kamu pintar!!" katanya, dan setelah itu Nania pun turun dari mobil dan menutup pintu. 


Dia sempat melambai ketika Daryl melajukan mobilnya keluar dari area tersebut.


"Beneran kan? Makin gilasih tuh anak? Makin hari makin berani aja. Tadi mereka malah cium-ciuman di mobil." Nania baru sampai di ambang pintu ketika percakapan itu terdengar.


Lagi-lagi mereka tengah asyik bergosip seperti yang beberapa hari ini didengarnya, dan semakin hari menjadi semakin parah saja.


"Berarti memang benar kan?"

__ADS_1


"Aku sih kalau dia jual dirinya diem-diem gitu nggak apa-apa. Tapi ini terang-terangan. Mana cuek aja gitu padahal sering kita sindir."


"Emang jaman udah gila, banyak orang bangga dengan aib mereka."


"Iya iya. Enaknya gimana ya? Bikin malu lah kalau ketahuan."


Nania mengepalkan kedua tangannya. Sudah pasti ini adalah bahasan mengenai dirinya, tapi mereka memang sudah keterlaluan dan bahkan sudah merembet pada hal yang tidak ada hubungannya.


Sudah berhari-hari dia mencoba diam dengan tujuan tidak ingin memperkeruh suasana, apalagi Nania berpegang teguh pada prinsip tidak peduli, meski ternyata akhirnya dia tak tahan juga.


Perempuan itu melemparkan kartu identitas ke atas meja di mana para penggosip itu sebelumnya tidak menyadari keberadaannya.


"Bisa baca nggak sih? Di sana status aku udah nikah, dan laki-laki yang setiap pagi nganter tuh suami aku. Memangnya aku sejelek itu ya sampai-sampai kelihatan nggak pantes gitu sama dia?" Nania memutuskan untuk mengambil tindakan saja karena hal yang terjadi kali ini sudah sangat keterlaluan.


Salah satu di antara mereka berdiri.


"Status bisa di rekayasa, tapi kenyataan?"


"Masih nggak percaya?"


"Orang akan mengatakan apa pun untuk menutupi keburukan, tapi tetap tidak akan ada yang percaya."


Nania menarik dan menghembuskan napasnya dengan keras dan dia mulai merasa frustasi.


"Kalian ini orang dewasa lho, masa bisa kemakan sama kabar nggak bener? Se nggaknya kalau ada kabar yang belum jelas tuh tanya dulu sama orang yang bersangkutan. Bukannya malah bikin kesimpulan sepihak."


"Alah, sudahlah. Kamu nggak perlu melontarkan pembelaan. Sekali pel*cur ya tetep pel*cur, tidak akan berubah."


"Astaga!! Nih siapa sih yang nyebarin kabar nggak bener kayak gini?" Emosi Nania tersulut dan dia meninggikan suaranya. Sehingga mengalihkan perhatian semua orang.


"Aku pikir di sekolah kayak gini yang isinya orang dewasa semua nggak akan ada masalah konyol kayak gini! Meributkan urusan orang lain yang belum jelas kebenarannya." Dia menatap teman sekelasnya satu-satu.


"Siapa yang berani sebarin berita nggak bermutu kayak gitu? Apa sih salah aku sama kalian? Kita kenal juga karena sekolah di sini. Kita nggak pernah ketemu apalagi terlibat masalah. Kenapa?" Dia berteriak.


Sepertinya kebiasaan Daryl mulai menular kepadanya sehingga kini dirinya memiliki sedikit keberanian.


"Ada apa?" Suara di belakang yang Nania hafal sebagai suara gurunya menginterupsi. Namun semua orang menutup mulutnya rapat-rapat.


"Nania ada masalah apa?" Perempuan berkerudung itu kembali bertanya kepadanya.


"Sebaiknya ibu tanya sama teman-teman ini. Mereka yang lebih tahu." Nania memutar tubuh.


"Ada apa?" Guru itu bertanya kepada peserta lain yang berada di dekat Nania.


"Tidak ada Bu, hanya masalah sepele." jawabnya untuk meredam permasalahan.


"Ya, benar masalah sepele." Nania terkekeh, kemudian mundur ke belakang sambil meraih kartu identitasnya.


"Saking sepelenya bahkan nggak bisa membedakan mana kebohongan dan mana kenyataan." Dia menghlgelengkan kepala kemudian duduk di kursinya.


"Atau kalian mungkin bisa mencari berita tentang keluarga Nikolai untuk bahan gosip selanjutnya?" katanya lagi, dan kali ini dia benar-benar sudah tidak tahan.


Oh, pantas saja aku dipilihkan sekolah online, ternyata ini maksudnya. Batin Nania.


"Baiklah, kalau ada masalah pribadi lebih baik diselesaikan saja di luar. Saya minta tidak membawanya ke dalam kelas ya? Saya mohon demi ketertiban kegiatan belajar mengajar kita kali ini." Guru berujar sebelum akhirnya memulai pembahasan materi pada hari itu.


💖


💖


💖

__ADS_1


Bersambung ....


Ayo like komen hadihnya dulu. Kita crazy up hari ini


__ADS_2