
π
π
"Daddy!" Nania berbisik sambil melilitkan kedua tangannya pada leher Daryl yang tengah fokus pada game di komputernya. Membuat pria itu terlonjak karena terkejut.
"What are you doing? Mau membuatku kena serangan jantung ya?" katanya seraya melepaskan headphone yang menutupi kedua telinganya.
Nania tertawa. Dia melepaskan rangkulan kemudian beralih duduk di pangkuan suaminya.
"Habisnya dipanggil-panggil dari tadi nggak nyahut. Tahunya di sini lagi main game?" katanya.
"Yeah, just killing time. Kamu tahu, hari ini aku merasa sangat bosan." Pria itu mematikan komputer di meja kerjanya yang berada di dekat jendela.
"Karena nggak ada aku ya?" Nania tertawa.
"Benar sekali. Ugh! Aku sangat merindukanmu, kenapa lama sekali?" Pria itu memeluk tubuhnya erat-erat.
"Siapa suruh nggak ikut? Kan aku udah bilang kalau hari ini ada diskusi sama temen-temen, jadi pasti pulangnya sore."
"Umm β¦ that's why β¦." Daryl menggantung kata-katanya.
"Apa?"
"Eee β¦ aku ingin memberimu kesempatan untuk berdiskusi. Ya, itu. Bukankah konsentrasimu akan terbagi jika aku ikut? Nanti aku malah mengganggumu lagi, ahahaha." Dia melontarkan jawaban aman.
"Umm β¦."
"Apa diskusinya selesai?" Daryl kemudian bertanya.
"Iya."
"Menghasilkan sesuatu?"
"Hu'um." Nania mengangguk.
"Apa?" Lalu Daryl mendongak.
"Paket sekolahnya minggu depan ditambah, makanan juga, terus ada daftar anak yang kemarin jadi korban bullying di sekolahnya. Jadi, relawan mau ikut mediasi sama pihak pelaku dan sekolah." Nania menjelaskan.
"Wow, banyak sekali pekerjaanmu ya? Kamu sangat sibuk rupanya?"
"Iya."
Pria itu menatap wajahnya lekat-lekat.
"Tapi kan ada banyak yang bantuin, jadi aku nggak akan turun langsung karena ada temen-temen. Sekolah nggak akan terganggu dan aku masih bisa ngurusin kamu." Nania tersenyum lebar memamerkan gigi putihnya yang berjejer rapi.
"Bukan itu yang aku pikirkan." Daryl menjawab.
"Terus apa?"
"Kandunganmu." Pria itu menyentuh perutnya.
"Ingat kalau kamu sedang hamil, jadi jangan terlalu keras mengurusi banyak hal," lanjutnya, dan dia mengusap-usap perut perempuan itu dengan lembut.
Nania tertawa.
"Aku serius, Malyshka." Dia kembali memeluknya dengan gemas.
"Iya, Dadd. Aku tahu."
"Sebenarnya aku ingin sekali melarangmu untuk sementara waktu. Tapi aku yakin jika itu merupakan ide yang buruk, dan kamu pasti akan marah kepadaku, jadi β¦."
"Nggak akan marah, cuma kasihan anak-anak kalau aku nggak gini. Kan mereka β¦."
"I know. Tapi ingat untuk selalu hati-hati, okay? Karena ada anakku yang kamu bawa di dalam sini." Tangannya kembali mengusap perut perempuan itu.
"Okay." Nania mengangguk lagi.
"Promise?"
"Promise." Perempuan itu berujar.
"Good girl." Daryl mengusap wajah Nania dengan punggung tangannya, kemudian dia menariknya untuk mendapatkan ciuman. Dan mereka memang bercumbu untuk beberapa saat.
"Umm β¦ bentar." Namun Nania mendorong dadanya untuk menghentikan hal tersebut.
"What?"
"Aku mau mandi dulu ah, gerah." jawabnya yang turun dari pangkuan pria itu.
__ADS_1
"Hmm β¦." Daryl menggumam kecewa.
"Kamu udah mandi?" tanya Nania sebelum keluar dari ruang kerja suaminya.
"Sudah tadi. Memangnya kamu tidak mencium bau minyak telonnya ya? Tadi aku pakainya banyak lho," ujar pria itu.
"Masa?" Nania tersenyum sumringah. "Pantesan kamu wangiiiii banget." Lalu dia kembali ke pangkuan Daryl dan memeluknya erat-erat.
Nania menciumi rambutnya yang wangi shampo bayi, kulit lehernya yang wangi sabun bayi berpadu dengan minyak telon yang dia suka, lalu tidak lupa aroma baby cologne pada pakaiannya yang membuat wanginya menjadi sangat khas.
"Wangi baget deh bayinya aku!" Dan dia mengusap-usap wajah suaminya. "Ganteng lagi." katanya, yang membuat hidung pria itu kembang kempis dengan pipinya yang mulai merona.
Nania tertawa melihat hal tersebut.
"Udah ah, aku mau mandi." Lalu dia kembali turun.
"Ann pulang ke sini?" Daryl bertanya sebelum perempuan itu keluar.
"Nggak, barusan dia pulang sama Regan." Nania berhenti di ambang pintu.
"Memangnya Om Arfan tidak ke sini?"
"TadiΒ Ann sendiri udah nelfon kalau dia nggak akan nginep di sini, jadi kayaknya Pak Arfan sama Kak Dygta juga nggak akan ke sini deh." jelasnya.
"Begitu?"
Nania mengangguk.
"Baiklah." Lalu dia berbalik lagi untuk menyalakan komputernya.
"Daddy?" panggil Nania.
"Hum."
"Mau mandi lagi nggak?" tanya nya.
"Tidak, kan sudah tadi?" Pria itu menjawab.
"Yakin?"
"Hmm β¦." Dia fokus pada komputernya.
"Ah, padahal tadinya aku mau ngajak mandi bareng." ucap Nania yang membuat kening Daryl berkerut, kemudian dia menoleh.
Dada indahnya terbungkus bra merah berenda kecil sehingga membuatnya terlihat menggemaskan.
Dan dia hampir saja melepaskan celananya ketika menatap ke arah suaminya yang masih duduk bersandar pada kepala kursi.
Nania menyeringai. Dia tahu Daryl mudah tergoda sehingga membuatnya ingin menjahilinya. Lagipula, rasanya sudah beberapa hari ini mereka tidak melakukan sesuatu yang menyenangkan, padahal biasanya tak ada malam yang terlewat tanpa bercinta. Dan sepertinya, Daryl layak mendapatkan imbalan atas kesabarannya menunggu dan mengalah demi kondisi kandungannya yang masih muda.
"Mau nemenin aku mandi?" tawar Nania untuk kedua kalinya.
"Nanti bisa lebih." Daryl menjawab.
"Nggak apa-apa, aku juga mau yang lebih." ucap perempuan itu yang benar-benar melepaskan celana panjangnya sehingga kini hanya sepasang paka*an da*am seksi berwarna merah menyala itu saja yang membungkus dua bagian tubuhnya.
Daryl menelan ludahnya dengan susah payah, dan degupan jantungnya mulai tak beraturan. Godaan ini benar-benar meruntuhkan imannya yang setipis tissue.
"Umm β¦."
"Nggak mau ya? Ya udah, aku mandi sendiri aja." Perempuan itu mundur perlahan sehingga dia menjauh dari pintu.
Namun Daryl segera bangkit dan dia melesat ke arahnya sambil melepaskan kaus yang dipakainya.
"Kenapa kamu suka sekali menggodaku, hum?" Dia meraup tubuh Nania yang sedikit lebih berisi dari sebelumnya.
Oerempuan itu hanya tertawa sambil merangkul pundaknya yang menyeretnya ke kamar. Dan dengan mudah Daryl mengangkatnya hingga mereka tiba di kamar mandi.
Dia menurunkan nania di dalam bathtub yang masih kosong lalu menyalakan shower yang kemudian dia arahkan ke tubuh sintalnya.
"Daddy!!" Nania menjerit sambil tertawa. Dia membiarkan saja pria itu menyemprotkan air hingga tubuhnya basah kuyup.
Daryl menyalakan kran untuk mengisi bathub sementara dia juga melepaskan joggerpants dan boxer yang dikenakannya. Maka, tampak pula lah Eragon kebanggaannya yang sudah tegak berdiri sejak Nania menggodanya di ruang kerja tadi.
"Kamu tahu, dia sangat sulit untuk ditenangkan, apalagi kalau kamu yang menggoda." Daryl mendekat kepada Nania, namun masih diluar bathub.
"Emang Eragonnya aja yang baperan." jawab perempuan itu yang menatap senjata suaminya yang mengacung dengan angkuhnya.
"Baperan katamu?" Daryl semakin mendekat, sementara Nania mengangguk sambil tersenyum.
"Dan siapa yang membuat dia jadi begini?" Pria itu meraih tangan Nania lalu di dekatkannya pada alat tempurnya.
__ADS_1
"Aku." Dan tangan kecil istrinya segera meggenggam benda itu dengan lembut.
Dia merematnya perlahan dan merasakan bagaimana kokohnya benda itu dalam genggaman, lalu menggerakkan tangannya pelan-pelan.
"Ah β¦." Daryl mendes*h dengan mulut menganga. Dia merasakan sensasi gila yang sangat disukainya ketika sang istri melakukan hal itu.
Nania mencondongkan tubuhnya sambil tetap menatap wajah pria itu sama seperti yang dilakukan Daryl kepadanya. Lalu kepalanya semakin menunduk hingga akhirnya ujung Eragon bertemu dengan mulutnya.
Nania mengecupnya sambil memejamkan mata, lalu mulutnya terbuka. Dan dengan perlahan-lahan benda itu pun masuk.
Daryl mengerjap-ngerjapkan mata. Dadanya tentu saja bergemuruh begitu hebat dan jantungnya seperti mau meledak. Memang bukan pertama kali Nania melakukanya tapi kali ini rasanya lain dari biasanya.
Perempuan itu membuat dia merasa nyawanya bagai terlepas dari raga. Setiap sentuhan, setiap sesapan dan segala apa yang dilakukannya terasa luar biasa.
"Ah, Malyshka!" Daryl mengusap kepalanya. Lalu dia meremat rambut panjangnya yang basah.
Sedangkan Nania meneruskan apa yang kini tengah dilakukannya untuk menyenangkan suaminya.
Tangannya terus menyentuh dan meremat, sementara mulutnya terus menghisap. Dan lidahnya di dalam sana membelit sehingga Daryl merasakan hal ini menjadi semakin gila saja.
"Aaa β¦ Malyshka!!" rematannya di rambut Nania semakin kuat,Β namun beberapa saat berikutnya dia mendorong leher perempuan itu sehingga alat tempurnya terlepas. Kemudian dia masuk ke dalam bathtub yang sudah terisi air setengahnya seraya mematikan kran.
Daryl menarik Nania ke pangkuan sementara dirinya bersandar pada pinggiran bathtub lalu memulai kembali cumbuan. Tangannya tentu saja langsung bergerilya menyentuh apa saja yang dapat disentuh setelah dia melucuti kain terakhir yang masih menempel, dan hal tersebut membuat Nania mulai terbawa suasana.
Perempuan itu mulai mendes*h ketika Daryl meremat dada dan mempermainkan puncaknya secara bersamaan. Sehingga menghadirkan gelenyar indah di sekujur tubuhnya.
Kedua tangannya bertumpu pada pundak Daryl ketika dia mulai bergerak tak karuan. Apalagi saat pria itu yang meremat bokongnya sehingga Nania tidak bisa diam sama sekali.
Pinggulnya bergerak-gerak sehingga milik mereka saling bergeseakan, menghadirkan sensasi lain yang sangat menyenangkan.
"Umm β¦ Daddy!" Nania mengerang ketika merasakan tangan pria itu yang menelusup dari belakang lalu jari-jarinya menerobos inti tubuhnya.
Bibir mereka saling memagut dan lidahnya segera saling membelit bertukar saliva. Keduanya benar-benar telah tenggelam dalam hasrat sehingga membuatnya tidak ingat apa pun lagi selain kesenangan.
"Mmm β¦ Dadd!" rengekan Nania mulai terdengar karena dia merasakan dirinya yang hampir meledak.
Dia kemudian menarik tangan Daryl dari sel***kang**nnya, sementara dirinya sendiri menyentuh senjata pria itu. Nania mengangkat pinggulnya sebentar seraya mengarahkan benda tersebut pada miliknya, lalu dia menekannya sehingga milik Daryl terbenam seluruhnya.Β
"Aaahh β¦." Dua-duanya mendes*h dan saling menatap.
Nania kemudian mulai bergerak perlahan sementara Daryl memegangi pinggulnya yang naik turun, atau sesekali memutar pelan.
Napas mereka menderu-deru diiringi hasrat yang menggebu-gebu. Dan keduanya tak mampu lagi memikirkan hal lain selain percintaan ini.
Nania terus bergerak sementara Daryl terus meremat pinggul dan bokongnya. Sambil sesekali menyesap bulatan indah di depan wajahnya.
Air beriak hingga terciprat ke mana-mana akibat pergerakan keduanya, dan suara erotis dari percintaan itu terus mengudara memenuhi ruangan.
Nania mendes*h dan merintih, sementara Daryl menggeram dan mendengus. Namun satu hal yang pasti, keduanya menikmati hal tersebut dengan segenap perasaan.
"Oh β¦ Daddyyyyy β¦." Nania terus mengerang dan gerakannya semakin lama menjadi semakin cepat.
Sesuatu di bawah dada terus berdenyut menghadirkan perasaan gila pada Daryl, dan dia pun terus meracau.
"Yes, Baby β¦ ohh β¦." Dia tak melepaskan pandangannya dari wajah Nania, dan justru menikmati pemandangan indah di depannya itu dengan dada yang terus bergemuruh.
Wajah Nania dan rambutnya yang basah menambah kesan seksi padanya. Ditambah dadanya yang semakin menggoda dengan puncaknya yang terus mencuat. Diikuti suara des*hannya yang terdengar semakin erotis sehingga membuat gairahnya semakin berkobar saja.
"Uuuhhh β¦ Daddy!!" Nania sudah merasa tidak tahan, dan dia hampir saja tiba di puncak ketika Daryl mendorong lepas pertautan milik mereka.
Dan perempuan itu sempat merasa kecewa karena kesenangannya terganggu. Namun itu tak berlangsung lama ketika Daryl membuatnya berbalik membelakanginya.
Dia menekan punggung Nania sehingga perempuan itu membungkuk, namun bokong seksinya mencuat, maka Daryl bisa dengan mudah memasukinya dari belakang.
"Daddyyyy!" Nania hampir menjerit merasakan hal itu. Apalagi ketika tanpa menunggu lama Daryl pun mulai menghentak.
Segala rasa yang ada bercampur menjadi satu, menghadirkan perasaan lain yang lebih mendominasi tatkala Daryl kembali menyentuh tubuh Nania.
Dia menarik tegak perempuan itu lalu meraih kedua dadanya dari belakang, sementara pinggulnya terus bergerak mengobrak abrik bagian terdalam dari Nania.
Erangannya menjadi semakin keras dan mereka hampir tidak bisa mengendalikan diri. Dan Daryl mempercepat hentakannya ketika dia merasa hampir tiba di pelepasan. Memang benar saja Nania sudah mengalaminya lebih dulu.
Dia merasakan tubuhnya mengejang dan miliknya berkedut kencang, dan tak berapa lama dirinya pun mengalami hal sama.
"Aaarrggghh, Malyshka!!" geram Daryl di tengkuk perempuan itu dan dia menekan pinggulnya keras-keras saat klim*ksnya menghantamnya sekaligus.
π
π
π
__ADS_1
Bersambung ....
Selamat hari vote!!ππ