The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Tugas


__ADS_3

πŸ’–


πŸ’–


"Permisi, Pak?" Regan berpamitan setelah menurunkan Anandita. Dibawah tatapan tajam dan menusuk mata milik Arfan Sanjaya yang seperti biasa menunggu putrinya di teras depan rumah. Meskipun itu di kediaman Satria.


"Ya. Terimakasih " jawab pria itu yang juga menatap jam di pergelangan tangannya, sementara Anandita hanya menatapnya tanpa banyak berkata-kata.


"Kenapa tidak bilang kalau Nania tidak pergi ke rumah baca?" Ayah dan anak itu masuk beriringan ke dalam rumah besar.


"Orang aku juga nggak tahu. Tante Nna bilangnya pas aku udah sampai sana."


"Lalu kenapa kamu malah tetap pergi?"


"Tanggung, Pah. Kan emang udah jadi kegiatan aku, dan Papa udah izinin kok. Nggak konsisten banget sih?" Anandita menjatuhkan tubuhnya di sofa.


"Hampir saja papamu menyusul ke rumah baca begitu tahu Nania tidak pergi ke sana." Dygta menyela percakapan anak dan suaminya.


"Lagian kenapa sih kalau aku pergi sendiri? Nggak akan ada yang gangguin ini? Ada Om Regan juga kan?" Gadis itu menyalakan ponselnya dan dia melihat story whats app orang-orang.


"Masalahnya Papa terbiasa mengantarmu ke manapun kamu pergi. Sekarang tiba-tiba kamu pergi dengan orang lain." Arfan menjawab.


"Lah, kan itu emang udah tugasnya Om Regan. Buka cuma aku, tapi Tante Nna juga. Masalahnya di mana sih?"


"Tidak ada masalah, hanya papamu saja yang belum terbiasa." Sofia muncul setelah memeriksa keadaan Nania.


"Belum terbiasa apaan? Lah Arkhan aja udah bebas." sindir Anandita sambil melirik sang ayah.


"Bagaimana Nania?" Dygta bertanya kepada ibunya.


"Sudah lebih baik." jawab perempuan itu.


"Tante Nna kenapa? Sakit?"


"Iya, mungkin kelelahan. Barusan dia muntah-muntah parah. Mungkin karena shock juga." Sofia bercerita.


"Shock kenapa?"


"Ibunya menghilang waktu mereka mau berkunjung. Sekarang masih dicari."


"Duh, hilang ke mana?"


"Mommy, namanya juga hilang ya mana ada yang tahu? Makanya mau dicari, gimana sih?" ujar Anandita yang kemudian tertawa.


"Omaaaaaaa!!!" Dua bocah berlarian begitu masuk ke dalam rumah. Siapa lagi kalau buka Anya dan Zenya yang datang bersama kedua orang tua mereka.


"Aduh, kalian sudah ke sini. Oma kangen!!" Sofia menyambut dua cucunya itu yang menghambur ke pelukan.


"Hallo Mommy, hallo Papa Arfan. Hallo Kak Ann?" Anya menyapa orang-orang yang berada di sana.


"Hallo sayang? Mommy kira kalian ke Bandung?" Dygta menjawab sapaan keponakannya.


"Nggak. Kata Mommy nanti Anom ke Jakarta mau nonton Om Ega sepak bola." jelas Anya.

__ADS_1


"Oh ya?"


"Hu'um. Sepak bolanya nanti malam, aku mau ikut Anom ke stadion." Anak itu dengan bangganya.


"Wah, pasti seru. Zen juga ikut?"


"Tadinya Zen nggak mau ikut, tapi kata Anom Zen harus ikut biar lihat Om Ega. Keren loh, Om Ega nyanyi mainnya lawan orang Australia. Iyakan, Mommy?"


"Hmm …."


"Benar?" Dygta beralih kepada adik iparnya.


"Ya, Timnas U23." Rania menjawab.


"Wow, hebat ya adik kamu?"


"Gitu deh." Rania tertawa.


"Kamu minggu ini tidak pergi balapan?"


"Nggak Kak, mulai ngurang-ngurangin jadwal lah. Mau pensiun ini." jawab Rania lagi.


"Jadi pensiun?"


"Jadi, Kak. Habis tahun ini kayaknya."


"Tidak sayang? Sepertinya potensi kamu masih bagus? Masih bisa di lima besar kan?"


"Hmm …."


"Huh, sepertinya ada yang senang dengan rencana pensiunnya kamu?" Sofia menyahut setelah melihat raut wajah putranya. Dan membuat semua orang yang berada di ruangan itu menatap Dimitri hampir bersamaan.


"Eee … ya … apalagi? Setelah itu tidak akan ditinggal-tinggal lagi kan? Bukankah bagus?" Dimitri terkekeh.


"Ah, itu sih maunya." Dan Rania menyentuh wajah suaminya sambil tertawa juga.


"Eh, kalian mau ke mana?" Sofia mengalihkan perhatian pada kedua cucunya yang hampir beranjak dari hadapan mereka.


"Mau ke rumah Tante Nna." Anya menjawab.


"Tidak boleh, Tante Nna sedang sakit."


"Sakit?" Zenya bereaksi.


"Iya, sakit. Jadi tidak boleh digang … gu." Namun terlambat, dua anak itu terlebih dulu berlari ke arah belakang di mana rumah Daryl berada.


"Mau lihat Tante Nnaaaa!!!!!" Dan Zenya terdengar berteriak.


"Nania sakit apa?" Rania menatap ke arah rumah tempat tinggal adik iparnya.


"Mungkin cuma kelelahan, dari pagi pergi mau berkunjung ke rumah ibunya. Tapi yang mau dikunjungi tidak ada."


"Hmm … harus dijenguk nggak nih?"

__ADS_1


"Tidak usah, barusan dia tidur. Lagipula Anya dan Zen sudah ke sana kan?"


Namun kemudian teriakan dua anak itu terdengar dan mereka kembali ke dalam rumah.


"Ampun Om!! Cuma mau lihat Tante Nna!!!" Anya dan Zenya bersembunyi di balik sofa.


"Jangan kembali!! Kalian berisik!" Daryl berteriak dari teras rumahnya.


"Kenapa?" Sofia menatap kedua cucunya tersebut.


"Om Der nya marah, Oma." Anya masih menyembunyikan dirinya di balik sofa.


"Kenapa marah?"


"Aku sama Zen tadi lihat Tante Nna yang lagi bobok, eh Tante Nna nya malah bangun. Padahal aku nggak ganggu lho. Cuma benerin selimutnya doang. Kan kasihan nanti kedinginan." Anya menjelaskan.


"Astaga!!"


"Kadang dia berlebihan." Dimitri menggumam sambil menggelengkan kepalanya.


***


Regan menghela napasnya dalam-dalam dan menempelkan punggungnya pada sandaran kursi, sambil menatap layar ponselnya yang menampilkan story whatsapp mantan kekasihnya.


Mia yang berfoto di salah satu tempat rekreasi di Jakarta dengan senyum mengembang ceria. Dengan caption "Sendiri tapi bahagia" menghiasi layar bagian bawahnya.


Hal itu menerangkan jika dia baik-baik saja, dan Regan merasa lega karenanya. Dia tak perlu khawatir dan merasa bersalah karena perpisahan ini nyatanya tak meninggalkan luka berarti untuk perempuan itu.


Malah sebaliknya, dirinyalah yang merasa tidak baik-baik saja.Β 


Ada rindu yang bergelayut di dada dan itu jelas untuk Mia. Bertahun-tahun menjalani hubungan membuatnya merasa terbiasa dan tidak tahu apa bisa memiliki perasaan seperti ini kepada orang lain.


Dan ini sepertinya akan sulit. Itulah sebabnya dia tak bisa melepaskan perhatian begitu saja dari perempuan itu. Dan akhir pekan adalah waktu terbaik untuk membuntutinya. Maka, sore ini dia harus kembali mematikan ponsel agar kegiatan akhir minggunya mengikuti ke mana Mia pergi tak akan terganggu.


Tapi sebuah pesan masuk di ponselnya, dari siapa lagi kalau bukan Daryl yang sepertinya tak puas jika dirinya bersantai walau hanya sebentar saja.


"Cari tahu keberadaan mertuaku. Terakhir dia menemui Nania kemarin siang, tapi hari ini kami mengunjungi rumahnya ternyata sudah jadi milik orang lain. Sebulan yang lalu dia di usir rentenir dan kami tak ada bayangan soal keberadaannya. Dia bekerja di losmen ujung blok dekat rumah baca, dan aku rasa kau bisa mulai mencari dari sana."


Regan menghela napas lagi, kemudian meletakan ponselnya di kursi penumpang setelah membalas pesan atasannya.


"Sepertinya akhir pekan ini akan lain dari biasanya." gumamnya, dan dia mengurungkan niat untuk mematikan benda pipih tersebut karena tugas menunggunya untuk dikerjakan. Sedangkan Mia, dia akan tidak akanΒ  membuntutinya dulu minggu ini.


πŸ’–


πŸ’–


πŸ’–


Bersambung ....


Oh iya, ada cerita keren dari author kece nih. Mampir dan ramaika lapaknya ya?


__ADS_1


__ADS_2