
💖
💖
"Nania? Ayo kita pergi ke rumah sakit?" Sofia datang menghampiri Nanis yang baru saja menyelesaikan sekolah online nya.
"Rumah sakit?" Perempuan itu memutar kursi kerja yang tengah didudukinya. Dia melanjutkan apa yang sudah dilakukan sejak jam pelajaran dimulai hingga akhirnya selesai pada hampir tengah hari.
"Ya, rumah sakit."
"Mau ngapain?" Nania sedikit menjengit.
"Kamu belum cek up, kan? Seharusnya sudah dari kemarin, lupa ya? Sama Mama juga lupa." Sofia menjelaskan.
Sementara Nania terdiam menatap wajah mertuanya.
"Nggak usah, aku udah nggak apa-apa." Lalu dia kembali pada buku dan alat tulisnya untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru pada saat sebelum sesi pertemuan hari itu berakhir.
"Jangan bilang nggak usah, itu kan harus." Sofia menyentuh bahunya dengan hati-hati.
"Kalau nggak cek up dokternya marah nggak?" Nania fokus pada tugas, sedangkan Sofia sedikit mengerutkan dahi saat mendengar nada suaranya yang sedikit berbeda. Dia cenderung berbicara seperti anak kecil.
"Tidak akan, hanya saja …."
"Ya udah, nggak usah. Lagian aku kan udah baikan." katanya lagi, dan dia benar-benar fokus pada bukunya.
Sofia terdiam memperhatikan.
"Nania?" Perempuan itu lebih mendekat lagi dan dia melihat apa yang tengah menantunya buat.
Rupanya sketsa pakaian dengan berbagai bentuk dan model, yang ternyata sudah berlembar-lembar dia hasilkan.
"Akutuh lagi belajar, Mama. Biar makin pinter, skill aku makin bagus. Dan guru aku nyuruh aku bikin apa aja yang aku bisa. Kayaknya ini deh, lihat?" Lalu dia memamerkan gambarnya kepada Sofia.
"Bagus, Nak." Dia lalu menatap wajahnya. Bukan rasa senang yang ada, namun malah sedih dan sesak di dada.
Perempuan ini seperti bukan menantunya yang dia kenal sebelumnya.
"Nna?"
"Hum?"
"Ayo kita ke dokter? Kamu mau kalau Mama ajak ke psikiater?" bujuk Sofia lagi.
__ADS_1
"Psikiater?" Nania mengangkat kepalanya. "Aku nggak gila." ujarnya kemudian.
"Tidaaaakk! Kamu memang tidak gila, tapi kita harus pergi ke sana untuk …."
"Nggak mau." Lagi-lagi Nania membuat gambar baru dengan cepat. "Nanti kalau keluar dari rumah aku nggak bisa balik lagi ke sini." katanya ketika ucaoan Daryl selalu terngiang-ngiang di kepalanya.
"Tidak, siapa bilang?"
"Daddy."
"Daddy?"
Nania menganggukkan kepala. "Daddy ngelarang aku keluar, kalau aku nekat, nanti nggak bisa balik lagi." katanya lagi.
Sebuah sketsa lama-lama terbentuk menjadi gambar pakaian yang indah dengan garis-garis dan detail yang sempurna. Dan nania dapat menyelesaikannya dalam hitungan menit saja.
"Kalau nggak balik lagi ke sini, terus nanti aku pulangnya ke mana?" katanya lagi, lalu dia kembali memperlihatkan gambarnya kepada Sofia.
"Apa ini bagus?" tanyanya dengan senyum yang tampak dipaksakan.
Perempuan itu menelan ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa seperti tercekat dan kedua matanya mulai memanas.
"Bagus, mungkin kita bisa masukkan ke Fia's Secret atau …."
"Oke, Daddy pasti bangga sama aku. Kalau udah gini mungkin marahnya akan hilang, terus nggak teriak-teriak lagi. Pusing akutuh, Mah." Dia menepuk kepalanya beberapa kali.
"Oh tunggu! Aku harus masak, Mama." Nania kemudian bangkit, "Mungkin Daddy sebentar lagi akan pulang." Dia melirik jam dinding di atas lemari.Â
"Nanti bisa marah kalau nggak ada makanan." Perempuan itu setengah berbisik.
"Nania …." Lalu Sofia mengikutinya hingga ke area masak.
"Aku … nggak ngerti kenapa Daddy marah-marah terus. Padahal aku kan udah minta maaf. Aku juga nggak sengaja ngelakuinnya." Nania terus mengoceh disela kegiatannya mengolah makanan.
Dia tampak normal saja, seperti perempuan yang masak pada umumnya, tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya sungguh membuat Sofia merasa sedih. Karena sekali lagi, ini seperti bukan Nania yang dia kenal.
"Nania, berhentilah!" Sofia mematikan kompor kemudian memegang kedua tangan menantunya.
"Kenapa?" Tiba-tiba saja Daryl muncul, dan hal tersebut tentu saja membuat Nania terkejut.
Dia menutup mulutnya lalu kembali menyalakan kompor yang baru saja mertuanya matikan.
"Nggak apa-apa, aku cuma lagi masak. Sebentar lagi selesai kok. Tadi aku ngerjain tugas sekolah dulu, tapi udah selesai. Cuma sebentar lagi …." Tangannya gemetar dan dia berusaha untuk melakukan banyak hal.
__ADS_1
Menuangkan air, menyeduhkan kopi, lalu menyiapkan meja makan dengan segala peralatannya.
"Berhenti, Nania." Pria itu segera menghampiri, namun Nania fokus pada apa yang sedang dia kerjakan. Meski sebenarnya dia mulai mengacaukannya.
"Sebentar lagi, Dadd. Cuma sebentar lagi. Kamu pasti lapar ya? Tunggu dulu, oke? Aku cuma sebentar …."
"Stop, stop!!" Dan Daryl mematikan kompor lalu menarik Nania menjauh semetara Sofia bersiap untuk melerai kalau-kalau putranya akan berbuat kasar.
"Hentikan!" Dia berusaha untuk bicara selembut mungkin meski akhirnya tetap saja membuat Nania panik dan memalingkan wajah sambil berusaha menutup telinganya.
"Nggak, aku nggak bilang apa-apa kok, aku nggak ngelakuin apa-apa. Seharian ini aku cuma belajar sama menggambar. Aku sekolah, aku nggak ke mana-mana. Aku nggak keluar rumah. Aku …." Kalimat itu berulang-ulang dia ucapkan, yang membuat Daryl akhirnya menarik Nania ke pelukan.
"Aku tahu, aku tahu. Sudah!!" Pria itu memeluknya dengan erat.
Meski pada awalnya Nania sempat berontak, namun setelah beberapa saat dia akhirnya terdiam. Meski tubuhnya masih gemetaran dan dia tetap menutupi kedua telinganya dengan tangan.
***
"Anxiety dan gerd." Daryl dan Dokter Syahril keluar dari kamar setelah memeriksa keadaan Nania.
"Itu yang menyebabkannya mengalami serangan panik berlebihan. Riwayat trauma dan yang tidak ditangani dari awal membuatnya mengalami hal tersebut. Belum lagi asam lambung parah membuat tubuhnya tak bisa menerima makanan seperti biasanya, dan terkadang malah menolak. Dan itu terjadi karena perasaan tertekan yang berlebihan." Dokter itu menjelaskan.
"Saran saya memang Nania harus dibawa ke psikiater untuk menangani gejala kejiwaannya, yang jika dibiarkan akan bertambah parah."
Daryl menyandarkan punggungnya pada dinding. Kepalanya terdongak ke atas dan dia menatap langit-langit rumahnya dengan perasaan sesak.
"Kebiasaannya memendam segala hal sendirian membuat apa yang seharusnya bisa ditangani dengan cara sederhana malah menjadikannya sedikit sulit. Jadi … ya, dia butuh penanganan ahli. Mentalnya harus benar-benar dipulihkan terlebih dahulu."
Daryl, Sofia dan Satria sama-sama terdiam.
"Dan soal kandungannya pasca keguguran memang menjadi penyebab yang paling besar dalam hal ini. Tapi saya sudah menghubungi dokter obgyn untuk bisa datang berkunjung agar Nania bisa diperiksa lebih lanjut di sini. Dan setelah itu kita bisa mengetahui bagaimana keadaannya dengan pasti. Selanjutnya anda bisa meminta bantuan psikiater dari mana pun. Kenalan saya di rumah sakit, atau dari NMC juga bisa."
Sofia menganggukkan kepala.
"Baik, mungkin sebentar lagi dokter obgyn akan datang, dan sebaiknya saya pamit. Setelah ini ada pasien di bagian umum yang menunggu." Dokter Syahril menyudahi kunjungannya hari itu.
💖
💖
💖
Bersambung ....
__ADS_1
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Semoga semuanya lancar sampai hari kemenangan. jangan lupa dukung terus novel ini ya.
Alopyu sekebon😘😘