
💖
💖
Wajah Daryl merengut begitu dia turun dari mobilnya. Mereka berada di sebuah pasar induk terbesar se Jakarta pada hampir subuh itu.
Dingin, kantuk dan rasa pusing mendominasi dirinya. Kalau saja bukan karena janjinya kepada Nania semalam, bahwa dirinya akan mengantar gadis itu berbelanja ke pasar, maka sudah bisa dipastikan Daryl akan pulang sekarang juga.
"Aku pikir belanjanya ke supermarket?" Pria itu bergumam.
"Mana ada supermarket buka jam tiga pagi? Bapak suka ngaco deh?"
"Memang tidak ada ya, supermarket yang buka 24 jam?" Pria itu bertanya.
"Setahu aku nggak ada. Aku tahunya pasar."
Daryl mendengus keras.
"Kenapa? Nggak mau nganter? Kan udah aku bilangin tadi nggak usah, bobo aja di kedai. Padahal Ardi udah mau ke sini."
"Hah? Eee … tidak! Aku hanya kedinginan. Huuffthh … aku nggak tahu Jakarta kalau subuh begini ternyata dingin juga ya? Hahaha." Daryl mengalihkan topik pembicaraan sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.
"Hmm … ya udah, tunggu aja di sini, aku nggak akan lama kok. Paling dua jam an."
"What? Dua jam?"
"Iya."
"Memangnya apa saja yang mau kamu beli?"
"Banyak lah. Sayuran, daging-dagingan, buah-buahan. Segala macam bumbu … lama kalau dijelasin."
"Kenapa tidak order saja dari suplyer langsung? Kan gampang tinggal kirim catatan, terus barang diantar ke tempat kita. Tidak perlu capek-capek begini?" protes Daryl.
"Kak Ara nggak percaya sama suplyer, percayanya aku yang belanja. Katanya kalau belanja sendiri bisa milih barang yang bener-bener bagus."
"Di suplyer juga kan kualitasnya super. Kamu tinggal pilih bahan yang grade A, pasti dapatnya yang bagus."
"Tapi harganya mahal, nggak kayak belanja sendiri. Kan bisa menghemat pengeluaran?"
"Ah, mahal juga nggak seberapa, tapi kualitasnya bagus."
"Intinya, ada kepuasan tersendiri kalau kita belanja ke pasar." Nania terus menjawab.
"Bilang saja mau shopping, kenapa malah menyebut kepuasan tersendiri?"
"Beda Pak."
"Sama saja, sama-sama belanja."
"Beda lah. Belanja itu ke pasar. Beli kebutuhan, dan apa yang kita pakai."
"Kalau shoping?"
"Shopping ya ke mall. Beli pakaian, makan-makan, sama cuci mata. Hahaha …. Eh, bener nggak sih? Nggak tahu ah, aku belum pernah masuk mall untuk shopping."
"Masa?"
"Iya. Masuk mall nya kalau bos aku jalan-jalan aja."Â
"Kenapa begitu?"
"Ya kan aku ngasuh anaknya bos, makanya kalau mereka jalan-jalan aku ikut."
"Baby sitter?"
"Ya. Ngasuh bocah." Nania tertawa.
"Kamu juga pernah jadi pengasuh?"
"Pernah. Pengasuh, jaga toko, waiter kayak di kedai, cleaning service, jualan di jalan, sebutin aja."
Daryl tertegun.
"Udah ah, aku masuk ya? Bapak tunggu aja di sini." Gadis itu melenggang ke pintu masuk pasar.
"Eh, tunggu!! Aku ikut."
"Jangan, nanti pusing!"
"Aku mau merasakan bagaimana belanja versimu." katanya, seraya menggenggam tangannya.
"Duh? Anak Nikolai masuk pasar." Nania bergumam.
Mereka melewati lorong-lorong toko yang sudah ramai padahal itu masih sekitar jam tiga pagi. Tapi pasar sudah bergeliat bahkan sejak tengah malam.
Nania masuk ke beberapa tempat orang berjualan bahan yang dia perlukan, dan tanpa ragu bertanya, melihat barang kemudian melakukan tawar menawar dengan pedagang.
Daging, beberapa jenis ikan, sayuran, dan bahkan buah-buahan dengan kualitas bagus dia dapat dengan mudah di sana. Dan bahan-bahan lainnya yang entah, Daryl tidak mengetahui namanya, dan bahkan dia tidak pernah tahu sebelumnya jika nama bahan seperti itu ada di dunia.
"Are we done yet? (apa kita sudah selesai?)." Beberapa kali pria itu berucap demikian sepanjang kegiatan belanja tersebut.
"Belum, Pak. Masih banyak." Nania menjawab dengan kalimat yang sama.
"Berapa banyak lagi? Kaki ku sudah lelah." Pria itu merengek.
"Dan tanganku …." Dia mengangkat kedua tangannya yang menenteng beberapa kantong belanjaan berisi beberapa jenis barang.
Nania terkekeh.
"Lagipula kenapa sih belanjanya sebanyak ini?" protes pria itu.
"Kan untuk keperluan pesta Pak Darren lusa?"
"Belanjanya dari sekarang?"
"Kan biar santai dan semuanya udah harus diolah mulai besok."
"Hmm …."
"Kalau gitu keluar aja, balik lagi ke mobil gih?" ucap Nania.Â
Dia tahu orang seperti Daryl tidak akan tahan mengikuti kegiatan semacam ini. Tapi konyol juga dia malah memaksa ikut masuk.
"Aku nggak tahu jalannya. Kalau aku tersesat gimana?" Pria itu berbisik.
"Ikuti jalan itu, lurus terus belok kanan. Nanti ada semacam pertigaan belok kiri. Lurus lagi, belok kiri lagi. Nanti Bapak sampai di pintu depan." Nania menunjuk lorong yang sudah dilewatinya.
Daryl mengerutkan dahi.
"Bisa?" Gadis itu bertanya.
"Nggak." Namun Daryl menggeleng.
"Astaga!"
"Nanti aku tersesat, kamu mau tanggung jawab? Apalagi ketemu orang nggak dikenal, bisa-bisa aku diculik! Look? Banyak orang yang memperhatikan kita?" Daryl melihat sekeliling.
"Ya Tuhan! Jelas mereka liatin kita orang Bapak ngomel-ngomel dari tadi? Kali mikirnya kenapa ada bule nyasar di sini terus ngoceh aja?"
"Hey, aku ini bukan bule! Aku lahir di Jakarta, dan tinggal di sini juga. Sejak kapan aku jadi bule?"
__ADS_1
"Terserah deh!" Nania meletakkan barang belanjaan di tangannya.
"Gini aja deh, Bapak tunggu di sini. Jaga semua belanjaan kita, aku mau beli yang lainnya, sambil bawa daging yang tadi aku pesan. Nanti aku ke sini lagi kalau udah selesai dan kita pulang."
"Terus aku?" Daryl menunjuk wajahnya sendiri.
"Udah aku bilang tunggu di sini. Katanya capek?"
"Wait! I'm just here?"
"Ya."
"Apa akan lama?" Lalu dia bertanya.
"Ngga, tinggal beli bahan untuk bumbu sama tambahan lainnya. Dikit kok."
"Are you sure?"
"Iya. Tunggu aja di sini. Jangan ke mana-mana, jangan ngobrol sama yang nggak kenal, jangan juga percaya siapa-siapa. Jadilah menyebalkan, ingat?
"What are you talking about?"
"Inget aja yang aku bilang! Nanti Bapa diculik!!"
"Aku kan laki-laki dewasa? Masa diculik?"
"Tadi pas aku suruh keluar Bapak bilang takut diculik? Gimana sih?"
"Umm … benarkah?"
"Iya, barusan."
"Hmm …."
"Oke? Apa jelas?" tanya Nania.
"Oke."
"Aku titip Bapak ke tukang kerupuk ya?"
"Hah? Apa?"
Lalu gadis itu berbicara kepada seorang ibu di sebuah toko dengan tumpukan kerupuk yang begitu banyak. Dia menunjuk ke arah Daryl yang berdiri tak jauh dari mereka dengan barang belanjaannya.
"Aku pergi. Ingat yang aku bilang tadi, oke?" Nania kembali dengan membawa sebuah kursi untuk pria itu.
"Oke."
Gadis itu menjauh.
"Kamu yakin bisa sendiri?"
"Ya."
"Aku benar-benar nggak harus ikut?"
"Nggak usah."
"Are you sure?"
Nania mengangkat jempolnya ke atas.
"Oke, Then …." guman Daryl yang kemudian duduk di kursi plastik yang gadis itu berikan.
Sementara Nania bergegas menyelinap ke satu lorong dan mengintip untuk beberapa saat.
Dia kemudian tertawa saat melihat Daryl yang duduk tenang di kursi plastiknya, dan dia melakukan apa yang diucapkan. Diam dan menjaga barang belanjaan mereka yang sebegitu banyaknya.
"Ada-ada … aja itu bule?" Nania menggelengkan kepala, kemudian dia melanjutkan kegiatan belanjanya.
***
"Bapak nggak ke mana-mana?" Gadis itu kembali setelah satu jam lamanya dia berbelanja. Diikuti seorang pria yang memanggul sekantong besar berbagai macam sayuran di pundaknya.
"Ya, kan kamu bilang begitu? Apa sudah selesai?"
"Udah." Nania dengan menahan tawa.
"Oke, can we go home now? Aku lapar." Pria itu memegangi perutnya yang sudah keroncongan. Dia lupa jika semalam tak makan dulu sebelum tidur karena harus menenangkan dirinya sendiri.
"Iya, setelah beresin ini." Nania menganggukkan kepala.
Lalu mereka membereskan barang belanjaan itu dan segera menuju mobil di parkiran.
"Terima kasih, Pak udah dibantu!!" Nania memberikan selembar uang lima puluh ribu kepada pria yang membantu mereka membawa barang-barang yang dibelinya.
Beberapa karung plastik besar berisi stok sayuran, kentang dan daging yang diletakan di bagian belakang mobil. Kemudian beberapa kantong kresek besar berisi buah-buahan dan macam-macam bumbu juga bahan lainnya diletakan di bagian tengah. Dan Daryl menatap barang-barang itu dalam diam.
"Haha, banyak kan?" Nania tergelak.
"Rubicon ku berubah jadi mobil sayuran?" Pria itu bergumam.
"Maaf ya, salah sendiri bilang mau antar?" ucap Nania sambil tertawa.
"Nanti aku bantu cuci deh, nggak usah ke tempat cuci mobil."
Daryl menoleh sambil memicingkan mata.
"Serius."
"Benar ya?"
"Hmm … kalau ke tempat cuci sayang duitnya." Gadis itu menutup mulut dengan tangannya.
"Eh, bukannya tadi lapar? Ayo kita jajan dulu?" Dia lantas menarik Daryl ke sebuah sudut di mana tempat pedagang makanan berada.
"Pedagang sama yang belanja biasanya jajan di sini." Mereka duduk di sebuah kursi kayu dengan tenda sebagai atapnya.
"Ada juga sih di warung sana, tapi makanannya nggak seenak di sini. Percaya deh." Nanis menunjuk sebuah warung permanen di seberang.
"Bapak mau makan apa?"
Daryl masih menatap sekelilingnya yang tak biasa. Meja kayu, botol-botol minuman berjajar di atasnya, sendok garpu dan toples besar berisi benda yang dia kenali sebagai kerupuk.
"Pak?" Gadis itu menepuk pundaknya.
"Ya?"
"Mau makan apa? Ada nasi kuning, nasi uduk, bubur ayam, lontong …."
"Menurutmu yang enak apa?" Namun dia bertanya.
"Untuk aku sih semuanya enak, makanya sering jajan di sini kalau belanja kayak tadi."
"Kamu sering belanja sebanya tadi?"
"Lumayan."
"Sendiri?"
"Kadang-kadang sama Ardi."
__ADS_1
"Eehhh!" Dia menggeram kesal.
"Kenapa?"
"Umm … nggak."
"Jadi Bapak mau makan apa?"
"Apa saja boleh."
"Aku yang pilih?"
"Hmm …." Pria itu menganggukkan kepala.
Tak berapa lama kemudian pesanan mereka datang. Satu porsi nasi uduk untuk Daryl dan porsi lainnya merupakan nasi kuning lengkap dengan lauknya untuk Nania.
"Kenapa warna nasinya berbeda dengan punyaku?"Â Daryl menatap makanan miliknya dan milik Nania secara bergantian.
"Ini nasi kuning Pak."
"Memangnya ada jenis padi yang warnanya kuning ya? Setahuku hanya warna hitam dan merah saja?"
"Diwarnain, Pak."
"Oh ya? Pakai apa?"
"Kunyit."
"Kunyit itu semacam sayuran? Atau buah-buahan?"
"Rempah."
"Like garlic?"
"Ya, kira-kira gitulah."
"Taste good?"
"Hmm … Bapak mau coba?" Nania menyodorkan piring miliknya.
"Boleh?"
"Boleh."Â
Lalu dia meraup nasi berwarna kuning lengkap dengan tempe oreg dan irisan telur itu.
"Mm … enak! Hampir sama seperti ini, tapi aromanya lebih kuat ya?"
Nania mengangguk.
"Kenapa banyak sekali jenis makanan? Aku tidak bisa mengingatnya kalau nggak lihat bentuknya."
"Nggak usah diingat, makan aja kalau ada."
"Hmm … kamu mau punyaku?" Daryl menyodorkan piring miliknya yang isinya hampir habis.
"Nggak usah, Bapak habisin aja."
"Oke."
"Mau tambah nggak?" Nania meneguk teh panas yang dia tuangkan sendiri.
"Mmm … sebenarnya aku masih mau tapi …." Pria itu menatap keluar yang sudah terang benderang. Lalu dia melihat jam tangannya yang sudah menunjukan pukul enam pagi.
"Udah siang ya?" Nania tergelak.
"Yes."
"Nanti kapan-kapan kita balik lagi ke sini aja. Sekarang harus kembali ke kedai."
"Kamu benar. But wait!" Daryl berdiri sambil merogoh saku celananya.
"Apa?"Â
"Dompetku ketinggalan di mobil."
"Nggak apa-apa, aku yang bayar." Nania kemudian mengeluarkan selembar lima puluh ribuan dan memberikannya kepada pedagang.
"Udah, ayo pulang?" Gadis itu menariknya keluar.
"Is that okay?" Mereka berjalan ke tempat parkir di mana mobil berada.
"Apaan?"
"Kamu yang membayar makananku?"
"Nggak apa-apa, sesekali."
"Aku nggak pernah begitu sebelumnya."
"Cuma nasi uduk, Pak. Aku masih mampu."
"Lain kali aku ganti."
"Nggak usah."
"Berapa itu tadi?"
"Cuma sepuluh ribu." Nania terkekeh.
"What?"
"Nggak usah kaget, hahaha." Lalu dia tertawa. "Mungkin Bapak satu-satunya anggota keluarga Nikolai yang masuk pasar. Bayangin itu kalau semua orang tahu, bisa heboh!!"
"Ahahaha, kamu berlebihan!"
"Nggak. Itu seriusan!"
"It's a new things for me."
"Sama."
"Bukankah kamu sering ke pasar?" Mereka berhenti tepat di dekat mobil.
"Iya. Tapi ini pertama kalinya juga aku ke pasar sama bule " Nania tertawa lagi kemudian masuk ke dalam mobil setelah Daryl membuka pintu untuknya.
"Hey, aku bukan bule!"
"Hu'um, terserah." Kemudian mereka meninggalkan tempat itu.
💖
💖
💖
Bersambung ....
Hanya Nania yang bawa anaknya Nikolai ke pasar subuh.😜😜
kuy, yang udah punya vote dikirim. Biar besok nangkring di pucuk.
__ADS_1