The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Rumah Baca Nania


__ADS_3

💖


💖


Nania tampak sumringah setelah semua orang berdatangan. Apalagi anak-anak di sekitar rumah lamanya yang memang sudah bersemangat begitu mereka mengetahui keberadaan rumah baca yang dibukanya pagi ini.


Sebagian dari teman sekelasnya juga hadir dan kembali membawa barang-barang sumbangan dan bingkisan untuk anak-anak tersebut.


Tidak lupa Dimitri dan Rania yang ikut hadir sebagai perwakilan dari keluarga untuk mendampingi ipar termuda mereka itu, bersama dengan Satria dan Sofia. Sementara yang lain terpaksa tidak ikut karena ada kepentingan yang tidak dapat ditunda.


"Tempat ini terbuka untuk umum, siapa pun bisa datang dan belajar, juga meminjam buku atau yang lainnya. Tapi mohon dijaga dengan baik ya, temen-temen?" Nania berbicara di depan mereka.


"Sama Ibu dan Bapaknya juga, tolong dibantu untuk menjaga dan merawat tempat ini agar bisa lebih bermanfaat untuk semua orang ya?"


Semua orang mengangguk-anggukkan kepala.


"Mulai Senin depan kita adain belajar bersama ya? Bisa les bahasa, les matematika, atau belajar musik. Kakak-kakak ini yang akan membantu kalian. Doakan semuanya lancar, jadi apa pun yang kita niatkan bisa tercapai. Oke?" Dia dengan wajahnya yang penuh dengan kegembiraan.


"Oke, Kak."


"Nah, dengan ini kami nyatakan Rumah Baca Nania dibuka untuk umum." katanya, yang menarik sebuah tali yang terhubung dengan kain di tembok samping rumah bertuliskan RUMAH BACA NANIA.


"Aaa … cantik sekali!!" Sofia terkagum-kagum dengan lukisan yang melingkari tulisan itu. Yang disebutkan merupakan hasil karya anak-anak sekitar rumah baca bersama Nania dan teman-temannya.


Dan semua anak pun dengan bersemangatnya segera masuk kedalam rumah di mana terdapat banyak buku dan objek ilmu pengetahuan.


"Terima kasih Nania, Bapak dan Ibu. Juga teman-teman karena sudah berkenan memberikan rumah ini sebagai tempat belajarnya anak-anak. Semoga apa yang Anda lakukan akan Tuhan balas dengan hal yang lebih baik."


Semua yang ada di tempat itu mengamini.


Lalu perhatian sebagian besar orang-orang beralih ketika sebuah mobil dan beberapa motor berhenti di depan pagar, dan dua wajah yang Nania kenali melambaikan tangan.


Arkhan dan Anandita yang tiba bersama teman-teman sekolah mereka juga sengaja datang untuk ikut berpartisispasi dalam acara tersebut.


Beberapa box berisi buku bacaan dan alat tulis mereka bawa dan diberikan kepada Nania.


"Kalian juga datang?" Perempuan itu menyambut mereka.


"Iya dong  kan biar lebih pasti." Anandita menjawab.


"Kereeeenn!" Dan Arkhan segera masuk untuk melihat keadaan di dalam.


"Kalian juga bawa temen? Tapi maaf, tempatnya sempit. Mungkin nanti kalau udah ada bisa ditambah luasnya …." Nania menyapa yang lainnya.


"Ini khusus untuk anak-anak sini aja Kak?" Salah satu dari mereka bertanya.


"Nggak. Siapa aja yang mau pinjem buku atau ikut belajar bisa datang kok. Kitanya buka dari jam delapan pagi sampai jam empat sore. Kalau untuk les gratis nanti kita mulai di jam satu siang sampai jam tiga. Bisa diatur jadwal untuk pelajaran apa aja."


"Gitu ya? Berarti kalau misal ada anak yang dari luar mau ikut boleh?"


"Boleh dong, asal amanah dan bisa jaga tempatnya dengan baik. Siapa aja boleh."


"Cool." 


"Mungkin nanti juga ada beberapa kegiatan lah biar lebih positif lagi ke depannya, jadi kita nggak cuma gini aja. Semoga bisa ya?"


"Iya, iya Kak."


"Hey, sini lihat! Ada buku sastra yang nggak kita temukan di sekolah!" Arkhan memanggil teman-temannya.


"Scients juga ada, bahasa daerah juga ada."


"Dongeng-dongeng? Novel! Semuanya ada!!" Mereka hampir semua masuk ke dalam sana.


"Lah, kan kita tujuannya mau bantu? Malah ikutan baca buku? Ini kan untuk temen-temen yang ada di sini, kalian kan udah punya di sekolah. " Anandita menatap teman-temannya.


Dan Nania, juga yang lainnya tertawa dengan kelakuan anak-anak sekolah itu.


"Nggak apa-apa, sama-sama butuh belajar juga kan?" katanya.

__ADS_1


"Tapi ininya belum di beresin kan?" Anandita menunjuk kotak-kotak di lantai.


"Nggak apa-apa, nanti di beresin."


"Hmm …."


"Regan di mana ya? Bisa bantu kita nggak?" Nania mengedarkan pandangan.


"Saya di sini." Pria yang dimaksud pun muncul dan melambaikan tangan dari balik rak buku di ujung.


"Bisa bantu Ann nggak? Cuma bawa aja box nya ke sana. Diberesin ke raknya nanti aja." pinta Nania.


"Baik." Dan Regan pun datang menghampiri.


Anandita terdiam sambil mengatupkan mulutnya rapat-rapat saat pria itu mendekat. Seketika saja dja teringat interaksi terakhir mereka beberapa minggu sebelumnya di depan rumah Daryl.


"Hey, cepat bereskan! Kenapa malah diam saja?" Daryl bereaksi ketika keponakannya tidak melakukan apa-apa.


"Eee …."


"Tidak apa, biar saya saja." Namun Regan sudah lebih dahulu mengambil box itu dan memindahkannya ke sisi lain ruangan.


"Umm … aku juga …." Dan gadis itu ikut membantu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kenapa?" Daryl naik ke tempat tidur setelah memastikan semuanya pintu dan jendela rumahnya terkunci rapat. 


Meski tempat tinggalnya terbukti aman, namun dia ingin meyakinkan jika tak akan ada  yang masuk ke sana, tidak terkecuali serangga sekecil sekalipun.


"Media sosial aku kok tiba-tiba banyak followernya? Banyak yang dm sama ngetagg lagi?" Nania menunjukkan layar ponselnya.


"Masa?" Dan Daryl memeriksanya.


"Memangnya sebelum ini sedikit?" Lalu dia bertanya.


"Iya. Nggak lebih dari tiga ratus." Nania tertawa.


"Lihat sendiri kan?"


"Iya." Lalu pria itu menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.


"Curiga ini gara-gara iklan parfum?" Nania meletakkan ponselnya di atas nakas.


"Bisa jadi." Daryl bergumam. "Vitamin dan obatnya sudah kamu minum?" Lalu dia mengingatkan.


"Udah barusan."


"Su*unya masih belum mau?"


"Nggak ah, baru bayangin aja rasanya udah mual." Nania bergidik.


"Hmm …."


Perempuan itu kemudian menurunkan tubuhnya sehingga dia berbaring dan menghadap suaminya.


"Makasih ya, hari ini udah mau nemenin aku di rumah baca? Seneng deh kamu juga ikut terlibat." katanya yang sudah membenamkan tubuhnya di bawah selimut.


"Hmm … memang seharusnya begitu kan?"


Nania menganggukkan kepala.


"Are you happy?" Daryl pun merebahkan kepalanya di atas bantal.


"Happy."


"Dan aku bangga kepadamu karena berhasil mengumpulkan orang-orang untuk berbuat hal yang sama." Dia bergeser hingga ruang kosong di antara mereka hampir menghilang.


Perempuan itu tersenyum.

__ADS_1


"Besok aku terapi?" Daryl mengusap perut Nania.


"Emangnya mau? Bukannya kamu nggak mau ketemu dokter?"


"Sepertinya sekarang harus."


"Masa? Kenapa?" Nania terkekeh lalu menahan tangan suaminya yang menyelinap ke dalam pakaian tidurnya sambil menggelitik.


"Tidak kenapa-kenapa, hanya ingin saja." Daryl menjawab.


"Hmm …." Nania meremat tangan yang sudah menggenggam pay**aranya agar dia berhenti.


"Nanti marah-marah?"


"Tidak akan." Namun dia tetap menyentuhnya karena menginginkan sesuatu, sementara Daryl terus mendekatkan wajahnya.


"Umm …." Dia mampu meraih bibirnya dan memagutnya dengan penuh kelembutan.


"Mau sendiri?" Perempuan itu mendorong wajahnya sehingga kembali tercipta jarak di antara mereka.


"Masa aku melakukannya sendirian? Memangnya kamu tidak mau ya?"


"Apa?"


Pria itu bangkit kemudian mengungkung tubuh Nania di bawahnya.


"Bukan itu, maksud aku …." Nania terkekeh saat Daryl mulai mengecupi lehernya.


Rasa geli menjalar dan sengatan-sengatan hebat seketika menyebar menguasai tubuhnya.


"Terus apa?" Daryl berhenti sejenak lalu menatap wajahnya.


"Terapinya." Nania tertawa lagi.


"No."


"Harus sama aku?" Nania menahan des*han saat tangan nakal pria itu kembali menyentuhnya.


Dan kali ini dia menyusuri paha dan merayap ke inti tubuhnya.


"Daddy?"


"Yes, Baby?"


"Aku pikir … kayaknya … ahhh …." Dia mende*ah lagi ketika di saat yang bersamaan pria itu kembali mencumbunya.


Lalu Daryl bangkit seraya melepaskan pakaiannya, dan hal yang sama pun dia lakukan kepada Nania. Lalu tak lama kemudian, dia membenamkan miliknya pada pusat tubuh perempuan itu.


"Daddy!" Nania mengerang.


"Hum?" Lalu hentakan pun dimulai dan seketika pertautan itupun berlangsung begitu intens. Diiringi des*han dan erangan yang memenuhi langit-langit kamar pada hampir larut malam itu.


💖


💖


💖


Bersambung ....


Hati-hati Om Der, dedek bayi masih kecil 🙈🙈


Ayo gaess, like komen hadiahnya dikirim lagi. Aku nunguin terus lho.


Alopyu sekebon😘😘


Meet Mas Regan sama Kak Ann😂


__ADS_1



__ADS_2