
💖
💖
"Papa!" Anandita berlari ke arah Arfan yang memang sudah menunggu di teras kediaman Satria seperti biasa. Dan Regan mengikutinya di belakang setelah menutup pintu mobilnya terlebih dahulu.
"Bagaimana rekreasinya hari ini? Senang?" Dan pria itu segera menyambut putrinya dengan senyum yang dia buat semanis mungkin.
"Seneng." Anandita menjawab dengan semangat, lalu dia menyadari sesuatu. "Eh, maksud aku anak-anak seneng banget. Kayaknya jarang banget mereka pergi-pergi gitu?" katanya lagi yang mengingat ucapan Regan soal mata-mata sang ayah yang cukup banyak dan sering digunakan untuk mengawasi banyak hal.
Dasar Arfan Sanjaya! Batin Anandita.
"Hmm …."
"Pak?" Sedangkan Regan menyapanya sambil mengangguk.
"Ya Regan, terima kasih." ucap Arfan tanpa mendengar kalimat lain yang mungkin akan pria itu katakan.
"Sama-sama Pak. Mm … kalau begitu saya langsung pamit?" Dan Regan pun mundur beberapa langkah setelah memastikan gadis itu sampai ke pelukan ayahnya.
"Kenapa buru-buru sekali? Kau tidak ingin istirahat dulu? Seharian kau menjaga putriku apa tidak membuatmu lelah?" ujar Arfan, dan hal itu membuat Regan tertegun sebentar.Â
Kenapa dia berkata begitu? Keningnya sedikit menjengit.
"Umm … terima kasih, Pak. Saya harus cepat pulang." tolaknya kemudian.
"Benarkah? Kau sibuk?" Namun Arfan masih menahannya di sana.
"Eee … tidak juga, hanya ada janji dengan ibu." jawab Regan, diplomatis.
"Ah … ibu?" Arfan mengangguk-anggukkan kepala.
"Ya Pak. Permisi?" ucap Regan lagi yang kemudian buru-buru pergi.
"Papa ih, kenapa gitu amat?" protes Anandita kepada sang ayah ketika menyadari cara bicaranya yang berbeda kepada Regan.
"Apa?"
"Ngomongnya nggak usah gitu."
"Begitu bagaimana?"
"Kayak barusan."
"Barusan apa? Papa hanya mencoba untuk lebih ramah kepadanya karena dia sudah menjagamu. Apa itu salah?"
"Tapi nggak gitu juga. Papa bukannya ramah, malah mengintimidasi."
"Mengintimidasi apanya?" Arfan tertawa.
"Ah, Papa nyebelin." Gadis itu berlari ke dalam rumah.
"Kenapa itu jadi masalah bagimu?" Lalu Arfan mengejarnya sambil tertawa.
***
__ADS_1
"Nania masih belum bisa pulang?" Sofia memulai percakapan pada makan malam mereka saat itu.
"Sebenarnya sudah bisa." Daryl menjawab.
"Lalu kenapa kamu tidak membawanya pulang?"
"Dia belum mau."
"Belum mau?" Beberapa orang di antara mereka menyahut.
"Belum mau kenapa?" Sofia bertanya lagi.
"Tidak tahu. Hanya saja dia memohon kepada dokter untuk tak memulangkannya sekarang-sekarang."
"Bercanda ya? Dia pikir itu di mana? Betah sekali di klinik?" Darren buka suara.
"Jangan bicara sembarangan kau ya? Kau pikir itu rumah bisa membuatnya betah?" Daryl menjawab, dan membuat adiknya tertawa.
"Apa dia ragu untuk pulang? Kenapa?"
"Entahlah, aku tidak mau banyak bertanya apalagi memintanya untuk pulang. Aku Tidak mau Nania merasa terpaksa dan akhirnya membuatnya tidak nyaman. Jadi, biarkan sajalah." Daryl melanjutkan kegiatan makannya, sementara orang-orang tampak saling melirik.
"Aku selesai. Dan aku pamit duluan ya? mau istirahat. Selamat malam semuanya?" Lalu pria itu beranjak dari tempat duduknya dan melenggang menuju rumahnya yang sepi di belakang.
"Kalian pikir, Mama perlu bertindak?" Sofia memulai kembali pembicaraan setelah beberapa saat.
"Bertindak soal apa?" Satria meresponnya terlebih dahulu.
"Soal apa lagi? Ya soal Nania lah."
"Mungkin Mama perlu berkunjung lagi ke klinik? Waktu itu hanya melihat Nania dari jauh saja kan karena dokter melarang."
"Mama mau mengajaknya pulang?" Dan Dimitri pun bertanya.
"Ya, kalau dokter bilang keadaannya sudah membaik tapi dia tak mau pulang mungkin ada sesuatu yang dia takutkan di rumah ini. Entah mungkin dia mengira bahwa kita tidak akan menerimanya lagi, atau merasa malu jika ingat apa yang terjadi terakhir kali, atau mungkin juga merasa tidak enak." Sofia berpikir.
"Dan Mama pikir dengan mengunjunginya akan membuat Nania mau pulang?" Darren menimpali.
"Ya siapa tahu kan?"
"Sebaiknya kamu bicara dulu dengan Daryl besok. Kalau dia mengizinkan pergilah." Dan Satria kembali berbicara.
"Ah, dia tidak akan mengizinkan seperti kemarin-kemarin. Putramu yang satu itu akan terus menolak jika kita bermaksud memberi mereka perhatian. Jadi, sepertinya aku akan bertindak sendiri saja besok." ujar Sofia.
"Kalau begitu, lalu mengapa Mama meminta pendapat kami?" Dimitri mempertanyakan sikap sang ibu.
"Hanya agar kita ada bahan pembicaraan. Selama hampir tiga minggu ini suasana rumah terasa hambar." Lalu dia tertawa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hari ini kamu tidak mengunjungi Nania, Der?" Sofia menghampiri putranya yang berada di belakang saat hari menjelang siang.
Dia tengah mengukur teras dan dinding bagian belakang rumahnya setelah pagi-pagi sekali seseorang mengirimkan beberapa barang.
"Sepertinya tidak." Daryl menjawab.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Mungkin hari ini Nania ingin istirahat tanpa aku ganggu. Dan lagi sepertinya dia bosan karena aku kunjungi setiap hari."
"Bukankah dokter memang menganjurkan begitu?"
"Tetap saja, dia pasti merasa bosan." Daryl sedikit tertawa.
"Hmm … lalu hari ini kamu tidak akan ke mana-mana?" Sofia bertanya lagi.
"Sepertinya tidak. Aku akan seharian ada di rumah, lagipula akan ada orang yang datang untuk membuatkanku sesuatu di sini." Pria itu masih sibuk dengan alat ukur dan catatannya.
"Mau membuat apa?"
"Entahlah, mungkin semacam ruang kerja untuk Nania. Siapa tahu setelah pulang nanti dia ada kegiatan."
"Ruang kerja? Memangnya dia mau bekerja?"
"Siapa tahu kan?" Daryl masuk ke dalam rumah dan cepat kembali ke hadapan ibunya sambil menyerahkan sebuah map.
"Apa ini?"
"Lihat saja sendiri."
Lalu Sofia membuka benda itu. Dan matanya segera membulat ketika dia melihat apa yang ada di dalam map tersebut. Yakni gambar-gambar desain pakaian yang Nania buat selama dia berada di klinik dokter Harsya.
"Nania membuat ini semua selama di sana?" Dia terlihat takjub.
"Ya."
"Lhat ini!" Perempuan itu menunjuk beberapa gambar yang cukup mengesankan.
"Bagus kan? Aku rasa Nania memang terlahir untuk itu. Tapi karena memiliki banyak keterbatasan, jadi semuanya hanya terjebak di dalam pikirannya saja."
"Setiap hari dia membuat ini?"
"Ya. Mama percaya itu? Mungkin suatu hari nanti dia akan menjadi desainer handal yang memiliki gayanya sendiri dalam membuat pakaian?"
"Ya, kamu benar." Sofia masih melihat-lihat gambar itu yang cukup banyak.Â
"Jadi aku hanya akan memberinya ruang di sini untuk berlatih. Sehingga dia dapat meningkatkan kemampuannya agar menjadi lebih baik." Daryl menunjuk Area yang akan dibuatnya sebagai galeri kecil untuk istrinya.
"Ooo baiklah, itu ide yang bagus." Sofia mengangguk-anggukkan kepala.
"Ya, memang."
"Baik, kalau begitu Mama akan membiarkanmu mengerjakannya saja." Perempuan itu pun memutuskan untuk pergi.
💖
💖
💖
Bersambung ....
__ADS_1
Masih puasa?ðŸ¤