The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
The Opposite


__ADS_3

💖


💖


~ Flashback On ~


Nania tengah beristirahat di pinggir kolam jauh dari teman-teman sekelasnya yang berkumpul di sisi lainnya, membuka bekal mereka yang bermacam-macam. Sengaja untuk menghindari banyak celotehan tidak menyenangkan mengenai dirinya yang selalu berbeda dari mereka.


Hari ini kelasnya, juga beberapa kelas lainnya sedang menjalani kegiatan sekolah di kolam renang untuk melengkapi nilai di akhir tahun.


"Nania, awas jangan sampai masuk ke kolam ya? Itu untuk orang dewasa." Gurunya berteriak dari seberang.


"Iya Pak." jawab gadis itu yang mulai menikmati bekalnya yang hanya sepotong roti dan sebotol air dari rumah.


Namun tiba-tiba beberapa orang teman mengejutkannya dengan mendorong Nania hingga tanpa sengaja dia tercebur ke dalam kolam sedalam dua meter tersebut. Dan salah satu dari mereka menarik kakinya hingga ia mengalami kesulitan untuk bergerak. 


Nania meronta dan berusha menggerakkan tangannya untuk naik ke permukaan, namun tak berhasil. Satu orang anak laki-laki yang memang sering menjahilinya di kelas memegang kedua kakinya.


Gadis itu hampir saja kehabisan napas, dan dengan banyaknya air yang masuk ke paru-paru hampir membuatnya tak sadarkan diri. Hingga akhirnya seseorang menariknya dari dasar.


~ Flashback Off ~


"Bukan hal besar, tapi itu menakutkan!" Gadis itu menangis sejadi-jadinya.


Dia memeluk kedua kakinya dengan erat dan wajahnya menempel pada lutut, berusaha menyembunyikan dirinya sendiri dari rasa takut yang selalu menghantui.


***


Daryl menghentikan mobilnya di depan kedai yang sudah buka, dan pengunjung mulai berdatangan. Namun mereka masih tak bersuara sejak kepergian dari rumah.


Apalagi setelah Sofia mengomeli pria itu habis-habisan atas apa yang telah dilakukannya.


"Aku hanya bercanda, Mom!" Daryl mengingat jawabannya kepada sang ibu.


"Candaanmu tidak lucu! Dan itu bisa membuat rasa takut seseorang menjadi semakin parah." Sofia berujar.


"But i don't know!!"


"Maka jangan sok tahu! Kamu pikir kamu tahu segalanya? Dan kamu pikir kamu bisa menangani banyak hal? Tidak! Karena setiap orang hanya mampu menangani satu atau dua hal saja, sementara yang lainnya belum tentu. Jadi jangan berlagak seolah kamu mampu melakukan segalanya!!"


"Mama tidak pernah mengajarkanmu untuk berbuat begitu kepada orang lain, dan itulah sebabnya Mama selalu mengatakan kepadamu untuk mengalah jika seseorang menyerangmu. Agar kamu faham dan tahu bagaimana harus menempatkan diri dan bagaimana menghargai orang lebih dari dirimu sendiri."


Pria itu bungkam. Baru kali ini dia melihat sikap sang ibu yang begitu keras padahal sejak kecil dirinya sering berbuat seenaknya.


"Kamu ini bukan anak remaja yang harus Mama tunjukan bagaimana caranya menghormati keadaan orang lain. Kamu ini sudah dewasa, berpendidikan pula. Lalu mengapa sikapmu keterlaluan seperti ini?"


"Aku bilang aku hanya bercanda." Daryl dengan suara pelan. Rasanya menakutkan juga melihat sikap ibunya yang seperti itu.


"Dan sudah Mama katakan bahwa candaanmu tidak lucu!"


Lalu tidak ada yang bicara lagi setelahnya.


"I'm sorry." Daryl menahan Nania yang hampir saja turun.


Gerakan gadis itu terhenti dan dia baru berani menoleh.


"Aku ini nggak punya siapa-siapa, nggak punya apa-apa dan banyak hal yang membuatku lemah. Jadi tolong pikirkan lagi untuk memilih aku sebagai pasangan." katanya, lalu dia menarik lengannya sehingga benar-benar bisa keluar dari mobil tersebut.


Daryl memejamkan mata sejenak sambil mendengus keras. Dia tahu mungkin saja dirinya keterlaluan kali ini, tapi gadis itu memang selalu membuatnya tak bisa diam. Dia tak ingin berhenti berinteraksi dengannya setiap Nania berada di sekitar.


"Tumben nggak ikut masuk?" Nindy menatap keluar di mana mobil Daryl berada. Sementara teman kerjanya masuk dengan wajah murung.


"Lagi marahan ya?" Raka menimpali.


"Bukan urusan kalian!" gumam Nania yang melepaskan hoodienya lalu menggantinya dengan affron.


"Duh? Kayaknya serius nih?" Ardi menatap ke arah Nindy dan Raka. Lalu mereka tak lagi bicara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu yakin dengan suvenirnya?" Darren kembali meyakinkan calon istrinya. Saat ini mereka tengah berada di sebuah outlet bertema pernikahan untuk memilih suvenir yang Kirana inginkan.


"Ya, gelas ini sangat lucu." Perempuan itu masih memegang sebuah gelas kristal yang dia inginkan sebagai kenang-kenangan untuk pesta pernikahan mereka minggu depan.


"Baiklah. Berapa banyak yang akan kita pesan?" tanya Darren.


"Entahlah, undangan keluargaku sekitar seribu lima ratus, dan berapa undangan keluargamu?"


"Dari undangan yang disebar hanya seribu. Papi tidak mengundang banyak orang, sebagian besar kerabat dan beberapa lainnya kolega. Tapi tidak tahu kalau keluarga dari Moskow mungkin akan datang."

__ADS_1


"Begitu ya?"


"Hmm …." Pria itu mengangguk.


"Bagaimana kalau pesan tiga ribu saja? Apa tidak kebanyakan?" Kirana meminta pendapat.


"Aku rasa tidak. Bahkan jika kamu ingin memesan lebih juga tidak apa-apa."


"Ah, tidak usah. Tiga ribu juga cukup." Perempuan itu terkekeh.


"Serius."


"Tidak usah, Sayang. Tiga ribu saja."


"Umm … apa?" Darren sedikit terhenyak mendengar panggilan perempuan itu kepadanya.


"Eee … tidak. Aku salah bicara." Kirana sedikit menghindar dengan meletakkan gelas kembali ke tempatnya, dan dia berlagak melihat benda lainnya.


"No. Aku mendengarnya dengan jelas." Pria itu meraih tangannya.


Kirana tertawa pelan, dan dia segera beralih kepada penjaga outlet untuk memesan barang yang dimaksud.


***


Mereka tiba di rumah orang tua Kirana pada malam hari setelah menghabiskan waktu berjam-jam mencari hal-hal lain yang perempuan itu inginkan di hari pernikahannya.


"Sudah semakin ramai ya?" Darren mengintip ke dalam rumah yang beberapa hari ini memang sering didatangi kerabat mereka.


"Ya, begitulah kalau mau ada pernikahan. Apalagi aku ini anak tunggal. Semuanya serba disiapkan secara khusus. Di rumahmu memangnya tidak ya?"


"Sebentar lagi. Mungkin nanti kalau ada pesta." jawab Darren yang duduk di sofa teras, seperti biasa.


"Di rumahmu mau ada pesta?"


"Hanya mengumpulkan keluarga. Dari Bandung, dari Moscow."


"Apakah keluargamu sangat banyak?"


"Keluarga Papi ya. Sepupunya dari pihak Ded juga kan?"


"Oh …." Kirana mengangguk-anggukkan kepala.


"Ya, dia baik. Untungnya Daryl langsung menjawab seperti itu. Kalau tidak, dia bisa berharap." Kirana menjawab.


"Berharap?"


"Ya. Waktu melihat Daryl pertama kali di kunjungan kalian dan tahu dia jomblo sempat membuatnya sedikit tertarik. Makanya mama punya inisiatif memperkenalkannya semalam. Tahunya kan …."


"Hahahaha …." Darren tertawa terbahak-bahak.


"Saudaramu lucu, dia ekspresif sekali sebagai laki-laki dewasa."


"Lucu kamu bilang?"


"Ya."


"Coba saja mengobrol dengan dia setidaknya satu jam. Maka akan aku beri hadiah jika kamu tidak menangis."


"Memangnya kenapa?"


"Kelihatannya saja dia menyenangkan, tapi ucapannya sering kali membuat siapa pun tidak tahan. Mulutnya sepedas halapeno Meksiko."


"Masa?"


"Tidak percaya?"


"Kamu sedang menjelekkan saudara kembarmu?" Kirana tertawa sambil mengarahkan telunjuknya ke wajah calon suaminya.


"Tidak. Aku hanya sedang memberitahu apa yang kamu tidak tahu. Di Moscow banyak perempuan membencinya karena dia begitu."


"Aneh sekali, kenapa bisa begitu?"


"Entahlah, selain begitu dia juga emosian. Mungkin Dyspraxia mempengaruhi tingkat emosinya."


"Dyspraxia?"


"Ya."


"Kelainan syaraf motorik?"

__ADS_1


"Ya. Selain aku mungkin tidak akan ada yang tahan dengan sikapnya. Karena tidak ada yang tahu, bahkan Mama dan Papi."


"Begitu ya?"


"Ya. Eh, mungkin sekarang tambah satu orang."


"Siapa?"


"Nania." Darren tertawa lagi.


"Ya, benar." 


"Ah, kenapa jadi membicarakan Daryl sih?" Pria itu berujar.


"Bukan aku, kan kamu?" Kirana pun ikut tertawa.


"Mm … baiklah, ini sudah malam." Daryl melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam.


"Oke." jawab Kirana yang bangkit saat pria itu beranjak dari tempat duduknya.


"Mm … apa kita masih bisa bertemu seminggu ini?" Lalu dia berujar.


"Aku rasa masih. Kenapa memangnya?"


"Tidak ada acara pingitan dan larangan ketemu kan?"


"Tidak!" Perempuan itu tertawa. "Kenapa begitu?"


"Yang aku dengar pernikahan di sini begitu."


"Tidak. Keluargaku sudah tidak melakukannya."


"Baiklah, itu bagus." ucap Darren yang bersiap untuk pergi 


"Bagus?"


"Ya."


"Bagus kenapa?"


"Jadi aku tidak terlalu merindukanmu sampai tiba saatnya pernikahan." katanya, lalu dia tersenyum


"Umm …."


"Bolehkan .... Aku memelukmu?" ucap Darren tiba-tiba.


"Eeee …."


"Seminggu lagi kita menikah kan? Jadi mungkin …."


Lalu tanpa diduga perempuan itu menghambur untuk memeluknya. Dan hal tersebut tentu saja membuat anak bungsu keluarga Nikolai tersebut merasa terkejut. 


Belum lagi saat bibir Kirana mengecup pipinya dengan lembut menyebabkan jantung pria itu seakan berhenti berdetak untuk beberapa saat.


"Apa itu cukup?" Kirana melepaskan rangkulan tangannya.


"Eee …."


"Aku harap cukup, dan kamu bisa menunggu semuanya sampai sah ya?" Perempuan itu terkekeh dengan pipi merona. Ini memang interaksi paling intim yang mereka lakukan dalam beberapa bulan berhubungan.


"Umm …." Darren tidak bisa berkata-kata.


Ini juga pertama kalinya dia bersentuhan secara pribadi dengan seorang perempuan dan itu adalah calon istrinya.


"Sudah malam, apa kamu masih mau di sini?" ucap Kirana yang membuyarkan lamunan Darren.


"Mm .. Iya, aku … pamit." jawab pria itu, dan dia segera menuju ke mobilnya.


Darren melirik sebentar, dan Kirana masih di sana seraya melambaikan tangan sebelum akhirnya dia pergi.


💖


💖


💖


Bersambung ...


Adeuuhhh ... Nikolai satu ini masih suci. Mana hadiahnya dong?😁😁

__ADS_1



__ADS_2